Agrna, terimakasih.
“Lo tuh gimana? Udah dapet keputusannya?” tanya Agrna yang saat itu masih asyik menyesap es teh manis miliknya.
Dihadapannya, Mark seketika mematung. Pertanyaan yang seharusnya dihindari sejak pagi tapi kenapa harus ditanya lagi? Agrna pula yang bertanya, jadi makin malas untuk menjawab.
“Belum.”
“Lo beneran segalau itu ya buat milih antara pergi atau nggak?”
“Iya.” Mark menyudahi makannya, walaupun belum sepenuhnya kenyang tetapi semua lauk yang ada didepannya sudah habis. Biasanya, Mark akan kenyang kalau habis dua porsi nasi dan juga ayam. Tapi karena ada satu pertanyaan menganggur tepat jatuh kepadanya, nafsu makannya hilang seketika.
“Gue seminggu ini abis dikejer waktu, Ra, belum lagi ditagihin jawaban sama Pak Johan. Sebenernya gue bisa aja langsung jawab, ‘Iya saya mau Pak.’ tapi gak bisa, ada hal yang jadi pertimbangan gue. Dan gue gamau ninggalin itu.”
“Lo, Ra maksudnya.” batin Mark menunjuk Agrna saat itu juga.
Agrna mengangguk, selama ia mengenal Mark belum pernah sekalipun cowok itu terlihat segusar sekarang. Pasti memang berat baginya untuk pergi jauh ke negri orang, tapi apapun alasannya semoga Mark bisa berfikir dengan sangat matang.
“Tapi lo tuh ya, keliatannya kayak mau banget berangkat, iya kan? Atau perasaan gue aja?”
“Gue sebenernya mau, tapi masih belum siap aja buat jawab iya atau nggaknya. Berat, Ra, gue gatau kenapa. Dari kemarin tuh gue kayak minta ditahan dan diyakinin buat gak pergi, tapi disisi lain gue juga pingin berangkat dan buktiin ke semua orang, kalau pilihan gue untuk pergi tuh gak salah.”
Agrna menangkap semua poin yang Mark sebutkan tadi. Ada kegelisahan yang ikut merasukinya secara tiba-tiba. Mark menghembuskan nafasnya berat, seperti orang yang benar-benar lelah. Agrna tidak ikut berkomentar cepat walaupun ada sekelibat kata yang ingin ia sampaikan sekarang.
“Kalau gue beneran pergi, lo keberatan gak sih, Ra?”
Saat itu juga Agrna terkesiap. Oh iya, ya, pertanyaan Mark menyadarkan sisi hatinya yang disana, ada bagian kecil yang tidak ingin ditinggal meskipun belum tau alasannya yang mana. Tapi yang Agrna tau, dia tidak boleh egois, pilihan Mark untuk pergi ke Canada itu sepenuhnya milik Mark dan jika memang Mark memilih untuk tidak pergi, harusnya, rasa senang karena tidak jadi ditinggal itu cepat-cepat dibuang jauh.
“Gak kok, gue malah dukung lo pergi.” bohong. Agrna bohong tapi Mark tidak sadar.
“Beneran?”
“Mark coba lo bayangin, kalau lo jadi berangkat terus lakuin penelitian disana dan ternyata semua yang lo kerjain membuahkan hasil yang bagus, gimana? Apa gak sayang kalau lo tolak gitu aja? Setau gue ya, ikutan proyek gitu prospek kerja lo kedepannya terjamin. Mana gratis semua biaya lo ditanggung kampus, jadi alasan lo buat gak ikut apaan coba deh? Harusnya gak ada!”
Agrna benar, itu adalah saran yang paling manjur untuk membuat Mark tersadar. Bahkan, ucapan Agrna lebih pedih rasanya ketimbang harus digaplok pipinya empat kali.
“Iya juga ya, Ra?”
“Iya lah! Gue tuh ya kalau kemarin gak sibuk acara BEM, pasti join proyekan di jurusan gue. Lumayan banget bisa ke Jepang, kuliah disana 3 bulan sekalian penelitian.” Agrna menggeser piring kosong yang ada didepannya dan agak sedikit maju ke arah Mark untuk bisa mengobrol lebih serius lagi. “Udah deh, gak usah dipikirin lagi jawaban lo udah pasti berangkat. Gue yang dukung.”
“Emang dukungan dari lo yang gue tunggu dari kemarin, Ra. Cuma gue belum siap aja denger lo nyuruh gue pergi.”
“Ah, dangdut banget lo.” jawab Agrna cepat-cepat. “Lo pikirin bagian ini deh, kalau lo berangkat dan penelitian lo ternyata sukses, yang bangga bukan cuma tim lo aja. Tapi orang tua lo juga, keluarga lo, kampus ikut bangga, bahkan nih kalau sampe mengharumkan nama bangsa bisa-bisa satu Indonesia juga bangga!”
Mark lantas tersenyum, kali ini murni karena kemauannya sendiri, bukan sedang meledek Agrna atas ucapannya tadi. “Thanks ya, Ra.” Maka senyum tadi memang ditujukan untuk Agrna yang sekaligus ikut melega hatinya.
“Oke, berarti lo beneran berangkat kan?”
“Iya,” Mark mengangguk, “Berkat lo.”
Agrna tertawa puas, ternyata sarannya diterima dengan lapang dada oleh Mark.
“Jangan lama-lama kasih jawabannya, kasian Redo pusing nungguin lo doang.”
“Minggu depan udah gue kasih jawabannya.”
“Bagus. Soalnya kata abang, ngurus visa rada ribet jadi memang harus diurus dari sekarang biar pas mau berangkat nanti gak kelabakan. Terus itu sebelum berangkat lo pada harus pelatihan dulu kan? Mau ada pembekalannya juga kan? Makin repot tuh kedepannya, jadi jangan lama-lama gantungin orang.”
Jangan lama-lama gantungin orang kata Agrna dan Mark tertawa puas.
“Lo kenapa tiba-tiba ketawa?” tanya Agrna sedikit kaget. “Ada cabe ya di gigi gue?”
Mark masih tertawa meskipun matanya kini menatap ke arah Agrna yang cepat-cepat berkaca di kamera handphone-nya. Sialan buat Agrna kalau sudah serius ngobrol daritadi tapi harus berduer dengan cabai yang menyangkut.
“Agrna, setelah gue pergi dan penelitian gue beres disana, gue mau buat semua orang bangga kayak kata lo tadi. Orang tua gue, keluarga, kampus bahkan satu Indonesia mau gue buat bangga.”
Cewek cantik yang ternyata tidak menemukan cabai di giginya itu ikut tersenyum ke arah Mark. Satu acungan jempol dari Agrna tertuju ke arah Mark.
“Tapi lo jangan lupa Ra, gue pergi juga mau buat lo bangga. Jadi, thanks ya udah izinin gue pergi, walaupun lama nanti kita jauhan gue harap lo tetep nunggu gue sampe beneran kata ‘bangga’ bisa lo lihat di dahi gue.”
Rasanya begitu damai melihat Agrna tersenyum haru di malam tenang hari ini. Mark menatap wajah cantik itu, mengabadikannya di dalam kepala untuk bisa diingatnya suatu hari ketika rindu.