AYAHKU PAHLAWANKU

Udara dingin dari angin malam ini dibiarkan masuk dan menyibak kasar rambut Sena yang sangat panjang. Sama halnya dengan sang Ayah yang berada tepat di sampingnya, jari telunjuk yang sarat akan perjuangan dalam mencari nafkah keluarga itu tengah asyik mengetuk pada stir mobil sesuai dengan ketukan irama lagu dari radio. Malam ini dj radio kesayangan tengah menyiarkan lagu dari penyanyi legendaris asal Inggris yaitu Queen dengan lagu Radio Ga Ga.

Keduanya menikmati gelap malam dengan caranya masing-masing, seakan terbentuk suatu jarak diantara keduanya yang sudah pasti Sena yang bangun. Karena sebenarnya Sena hapal dengan lagu Queen yang satu itu tapi sedang malas bernyanyi lepas dan membuat Ayahnya juga ikut malas bersenandung.

Mau kemana mereka pergi, Sena pun tidak tau, Ayah hanya mengajaknya keluar tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Dan Sena hanya mengiyakan meskipun ada sedikit rasa ingin tau. Tapi dia tahan, sejak tadi hal yang ia pikirkan hanya bagaimana cara memulai percakapan dengan sang Ayah? Ini bukan kali pertama sang Ayah pergi bekerja dengan rentang waktu yang lama baginya, tapi mengapa dinding antara keduanya sudah tercipta sangat tebal? Kalau begitu cuma Sena yang punya alasan.

“Kita mau kemana, Yah?” akhirnya Sena memukul satu kali dinding yang tidak sengaja ia bangun dnegan satu pertanyaan. Tapi Ayah hanya diam. Mungkin menurut Ayah, sudah ikut saja nanti juga Sena tau.

Tidak lama kemudian mobil yang mereka kendarai menepi pada salah satu tempat makan nasi uduk terkenal di daerah Antasari, Nasi Uduk Toha namanya. Itu adalah makanan kesukaan keluarga mereka, oh jadi alasan Ayah kesini adalah melebur rindu dengan nasi uduk dan ayam goreng yang enak disini.

“Kita makan nasi uduk ya? Makan di mobil aja, di dalam pasti ramai Ayah malas nunggu orang selesai makan.”

“Iya, Ayah.”

Kemudian sang Ayah turun dari mobil memesan makan untuk mereka berdua melalui salah seorang pelayan yang rupanya sudah hapal dengan Ayah. Selama memesan makan, Ayah sedikit melirik ke arah Sena yang duduk di dalam mobil dan tersenyum sedikit. Sena tidak membalas apa-apa hanya diam.

“Ayah kangen makan disini.”

Sena mengangguk kemudian diam lagi.

Malam ini adalah malam minggu jadi sudah wajar tempat makan ini ramai oleh pengunjung. Entah itu keluarga yang sengaja makan malam disini atau sepasang kekasih yang mencoba menu makan malam baru selain hanya roti bakar ala cafe terkenal.

“Sena lagi sibuk apa, sekarang?”

“Biasa, Sena masih ngeband.”

“Sekolah Sena lancar?”

Sena kembali mengangguk dan seketika menghadap ke arah Ayahnya yang tengah menatap Sena dalam-dalam. “Lancar, Yah. Ayah kerjanya gimana? Capek?”

Ayah terkekeh, lucu menurutnya pertanyaan yang Sena lontarkan. “Bukan kerja namanya kalau gak capek.”

“Hehe iya sih.”

“Tapi Ayah senang, soalnya Ayah pulang masih sehat dan bisa lihat Sena senyum kayak sekarang. Sena ingat dulu waktu masih umur 8 tahun makan disini pesan ayam goreng sampai 5 potong?”

“Lupa Yah. Sena makan selalu banyak.”

Di usap oleh Ayah rambut hitam dan panjang milik Sena, rambut Sena yang halus dan agak tipis itu persis seperti sang Ibu yang beda hanya aroma sampo yang dipakai. “Iya, Sena paling banyak makan beda sama Abangnya. Abang kalau makan gak habis yang omelin bukan Ayah atau Ibu lagi tapi Sena.”

“Haha iya, terus yang abisin nasi Abang juga Sena kan, Yah?”

“Iya, Sena yang makan nasi Abang. Sena sehat ya, Dek, Ayah senang lihat Sena sama abang sehat dan akur sampai besar. Sena tau kemarin Ayah kena badai besar ditengah laut Jawa?”

Sena menggeleng cepat dan berubah posisi menjadi menghadap sang Ayah seolah meminta penjelasan lebih lanjut. “Baru-baru ini?”

“Iya kemarin.”

“Cerita, Yah.”

“Itu tengah malam, sekitar pukul berapa Ayah kurang tau karena Ayah lagi dapat bagian tidur dan kru kapal lain yang jaga. Sebelum malam datang, memang sudah angin kencang dan langit menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Tapi hujan turun sekitar 5 atau 6 jam setelah itu, pas sekali itu Ayah kebagian jam tidur. Kemudian Ayah tiba-tiba mimpi Sena. Ada adek dalam mimpi Ayah, Sena masih kecil dan minta antar makan ke sini, Ayah jelas tolak karena Ayah ngantuk dan minta tidur dulu sebentar tapi Sena gak mau, harus makan nasi uduk toha sekarang. Dan kemudian Ayah dibangunkan oleh kenyataan bahwa kapal Ayah lagi diserang hujan badai. Serem, dek, Sena gak akan kuat kalau ikut di kapal Ayah malam itu. Mabok adek pasti.”

“Terus, Yah?”

“Terus Ayah berdoa ke Allah, pikiran Ayah udah gak paham lagi dek. Minta ampun pokoknya kalaupun itu hari terakhir Ayah bisa tidur nyenyak, tapi Ayah dijamin bakal menyesal seumur hidup karena gak bisa telpon Ibu dulu ucapin selamat tinggal. Gak ada sinyal disana.”

“Ayah jangan ngomong kayak gitu, serem!”

“Namanya Ayah panik. Dan Sena tau, saat itu nama yang Ayah sebut pertama siapa?”

“Nama Ibu, kan! Mau romantis-romantis nih pasti.”

“Bukan. Ayah udah cerita ini kemarin ke Ibu, gak ada niat mau romantis ini cerita jujur.”

“Haha Sena kira. Jadi Ayah panggil nama siapa? Oh Sena tau! Nama Allah kan? Ayah minta ampun katanya.”

“Bukan, adek salah. Nama yang Ayah sebut itu Sena. Antasena Syailendra, anak bungsu Ayah. Dada Ayah malam itu sesak gak tau kenapa, Ayah kepikiran mimpi yang Sena ajak makan kesini. Ayah jadi pingin tau saat itu juga Sena lagi ngapain, tidur enak kah atau mimpi indah kah, eh ternyata kata Ibu malam itu Sena kambuh ya Dek, asmanya?”

Dari raut wajah Ayah menunjukkan kekhawatiran yang amat dalam. Sena yang menafsirkan itu langsung berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja.

“Cuma kambuh biasa, Yah. Setelah itu Sena tidur nyenyak kok. Tanya ke Abang kalau gak percaya.”

“Percaya, Ayah juga udah tanya ke Abang. Sena itu dapat asma dari alm. Datuk, makanya Ayah was-was pas tau Sena kambuh lagi. Setelah malam itu Sena kapan kambuh lagi, dek?”

“Gak ada, cuma itu aja.”

“Sena sehat, kan?”

“Sehat, Ayah.”

“Sena kalau lagi banyak pikiran atau kegiatan, harus pinter-pinter bagi waktu, ya. Gimana kalau lagi sakit tapi Ayah lagi jauh di tengah laut? Itu kapalnya Ayah gak bisa langsung puter balik ke rumah, Dek.”

Keduanya terkekeh dan saling adu pandang haru setelah beberapa percakapan. Dan semoga setelah ini Sena tidak canggung lagi dengan sang Ayah walaupun jarang bertemu di rumah. Lewat mimpi pun keduanya bisa saling menyampaikan pesan meskipun secara gamblang.

Sudah hampir 15 menit tapi pesanan nasi uduk keduanya tak kunjung datang, Sena hampir protes ke dalam tapi ditahan dengan alasan wajar saja lama karena memang sedang ramai-ramainya. Maka dari itu Ayah kembali mengingatkan kembali perihal pesanan mereka melalui tukang parkir yang ada disana.

“Ayah kapan balik layar lagi?”

“Ayah sekarang libur satu bulan. Habis tahun baru balik lagi, tapi ini jadi lebih lama dek, Ayah pergi berlayar sekitar 3 bulan. Jadi mungkin Maret Ayah udah pulang.”

“Lamat amat, Yah?”

“Sebelum Sena ulang tahun Ayah janji udah dirumah. Ayah pulang.”

“Ayah jangan janji gitu nanti jadi beban di Ayah. Sena juga paham kalau Ayah kerja itu gak nentu kapan jadwal pulangnya.”

“Sena janji ya, dek, selama Ayah pergi tetap belajar yang benar. Ayah dukung Sena ngeband, apapun Sena mau Ayah coba turutin asal Sena jaga kesehatan.”

“Sena sehat, Ayah, kemarin aja lagi sial gak tau kenapa malah kambuh. Dan itu juga cuma sebentar gak lama Sena tidur lagi.”

“Iya, selagi Ayah disini, Ayah yang pantau Sena.”

“Hehe gak apa-apa, Yah, Sena seneng jadinya.”

Tak lama setelah itu pesanan nasi uduk pun datang lengkap dengan lauk ayam goreng yang Sena sangat sukai.

“Sena kata Ibu kemarin minta beliin motor? Vespa hijau yang digarasi itu yang Ibu belikan, kan?”

Sena berhenti menyuapi mulutnya yang tiba-tiba lapar itu. “Iya, Yah.”

“Tumben biasanya minta antar jemput Abang.”

“Kasian Abang udah semester akhir masa pusing antar jemput Sena mulu, Sena juga udah sering pulang malam karena tambahan GO terus, Yah. Jadi mending bawa motor aja.”

“Bagus. Sena udah dewasa pemikirannya, tapi heran motornya kok minta yang mahal ya, dek?”

Sena tertawa seketika, benar sih, harga motor vespa matic baru yang dia minta itu 2kali dari motor yang biasa Abang Arka gunakan sehari-hari. Tapi mau bagaimana lagi, motornya sudah ada dirumah dan kepemilikan surat atas nama Sena.

“Lagi zaman motor kayak gitu, Yah.”

“Abang mau ganti motor gak ya?”

“Gak usah Ayah! Mending uangnya buat yang lain.”

“Sena ada perlu uang gak dek?”

“Hm..” Sena menggantung ucapannya dan menimbang-nimbang barang apa ya kira-kira ia perlukan dalam waktu dekat ini.

“Jangan tiba-tiba diadain ya dek. Kalau gak ada ya udah uangnya Ayah kasih Ibu buat keperluan mendadak kalian ke depan waktu Ayah gak ada.”

“Ih, Ayah ngomongnya kayak gitu mulu!”

“Ayah sering gak ada dirumahnya, jadi banyak yang harus Ayah kasih ke Ibu buat kalian.”

“Ibu beruntung ya, punya suami kayak Ayah. Banyak duit.”

“Ayah yang beruntung punya Ibu, karena nikah sama Ibu, Ayah jadi punya anak yang ganteng-ganteng, gak banyak tingkahnya kayak Abang dan Sena. Liat aja ini wallpaper hp Ayah foto Abang sama Sena waktu masih kecil, kru kapal kalau liat minta dijodohin ke anaknya padahal anaknya masih SD semua!”

“Idih, Sena gak mau sama bocil, Yah. Lagian Sena udah punya calon pacar, cantik. Kayak Ibu deh cantiknya.”

“Oh iya? Siapa namanya?”

“Ini, Yah, Aruna namanya.” Sena menyodorkan foto Aruna yang ia ambil secara diam-diam waktu sedang berduaan di rumah Aruna malam itu. “Cantik, kan?”

“Cantikan ini, Dek. Kalah Ibu.”

“Iya kan? Sena juga mikir kalau Aruna lebih cantik dari Ibu.”

“Tapi ini rahasia kita aja, depan Ibu jangan bahas-bahas soal siapa paling cantik nanti cemburu.”

“Hahaha iya, Ayah!”

“Dikenalin dek Arunanya ke Ayah.”

“Jangan dulu, Yah, dia pemalu.”

“Kalau yang ini gak mirip kayak Ibu, Ibu dulu gak malu-malu. Yang tembak duluan kan Ibu, Ayah mah terima-terima aja karena cantik. Kasian ditolak nanti apa kata orang-orang.”

“Tapi kok sampe nikah?”

“Lama-lama cinta, dek. Ibu itu banyak kelakuannya, Ayah takjub bukan main. Tapi setelah lahiran Abang jadi berubah anggun sampai sekarang, Ayah kira Ibu kenapa ternyata katanya biar anaknya gak kayak dia pas muda.”

“HAHAHA KOK JADI IBU YANG BANYAK TINGKAH?”

“Iya, Ibu itu ajaib. Mirip Sena kelakuannya dulu, jahil banget. Ayah dari yang awalnya heran ini perempuan kenapa ya, sampe ke yang gak bisa heran karena udah maklum. Tapi pas beranak satu malah terheran-heran kenapa berubah 180 derajat dari Ibu yang Ayah kenal dari zaman sekolah dulu. Ibu jadi pintar masak, jadi pintar dandan, pintar jaga diri. Ayah jadi makin cinta.”

“Ya Allah lucu amat Ibu. Pulang nanti Sena mau peluk Ibu, deh.”

“Iya gak apa-apa dipeluk Ibunya asal Sena gak bilang kalau Ayah cerita kayak gini ya.”

“Hahaha iya Ayah, siap!”

Setelah malam ini, tidur Sena dipastikan akan nyenyak karena sudah tidak canggung lagi dengan sang Ayah. Perlahan, melalui beberapa cerita yang keduanya bagikan, tembok yang berjudul kecanggungan pun sirna. Tanpa tersisa. Menyisakan rasa rindu paling dalam hingga harus dibayarkan dengan satu pelukan hangat.

“Ayah, nanti sebelum Sena tidur, peluk dulu ya?”

“Boleh. Ayah juga punya permintaan, sebelum Sena tidur janji malam ini kalau bangun pagi besok sehat ya, dek. Sehat terus sama Ayah, Ibu dan Abang yang walaupun cuek tapi sayang sekali ke Sena itu.”

“Iya, Ayah. Sena janji walaupun Sena gak tau kapan tiba-tiba sakit.”

“Sena sakit, ada Ayah disamping Sena.”

“Ada Sena juga buat diri Sena!”