Boys Talk
“Gue bener-bener gak habis fikir sih,” Kaisan menggantung ucapannya agar dapat duduk terlebih dahulu di samping Raja yang sejak tadi masam raut wajahnya. “Temen sekelas lo berdua tuh solid banget anjir! Jadi ngiri gue.”
Sena yang duduk jauh dipojok dekat lemari berisikan alat musik tradisional menghembuskan nafasnya berat. Ekspresi wajahnya tidak kalah masam dari Raja. Ketiganya kini sedang berada di rumus (ruang musik) yang memang sudah menjadi tempat ngumpul paling asyik di Sekolah. Selain kantin pastinya.
Hari ini menjadi hari yang tidak menyenangkan bagi 12 IPA 3 terutama Raja dan Sena. Bagaimana tidak, teman sejoli satu kelas dan satu bangku sejak kelas 10 ini baru saja mengalami hari yang buruk. Wali murid Raja dan Sena dipanggil Bu Endah selaku guru BK yang memang menjadi penanggung jawab perilaku dan konseling murid di Bakti Pertiwi.
Semua ini bermula ketika Pak Budi yang menangkap basah seluruh murid 12 IPA 3 yang tengah asyik bernyanyi bersama diiringi irama gitar yang sangat apik Sena tunjukkan. Bak konser gratisan ditengah siang bolong, murid 12 IPA 3 benar-benar menikmati pertunjukkan iseng yang Sena dan Raja bawakan. Ada yang sampai naik ke atas meja, ada yang ikut bernyanyi hingga nafas terengah-engah hingga ada yang sampai pinjam peralatan sekolah teman sebangkunya untuk dijadikan properti konser. Satu kelas semua ambyar!
“Tapi kenapa Bu Endah tetap maunya lo berdua aja dah yang salah?” tanya Kaisan lagi ke Raja yang duduk paling dekat dengannya.
“Karena emang gue dan Sena yang mulai duluan. Sebenernya itu gak sengaja, Sena main gitar dan gue nyanyi pelan doang.”
“Nah tiba-tiba temen sekelas lo pada nyautin nyanyi?”
Raja mengangguk malas.
“Wajar anjir! Kita tuh emang udah takdirnya nyanyi dikit orang-orang latah ngikutin, di sekolah siapa yang gak pengen liat Magic tampil coba?”
Memang benar apa yang Kaisan ucapkan, kalau Magic yang tampil sudah pasti murid yang lain akan ikut bernyanyi. Karena Magic terbentuk untuk menghibur hati yang sedang gundah gulana. Asik.
“Ya udah gak usah pada cembetut gitu ah elah!” saran Kaisan yang lagi-lagi tetap tidak diperdulikan oleh Raja dan Sena.
“Raja, Sena! Lo berdua udah ngelewatin hal yang lebih parah dari hari ini, masih inget gak lo berdua? Waktu kak Keno dan kak Bima belum lulus, kita emang buronannya BK!”
Benar, cerita di masa lalu yang itu memang paling parah kalau diingat-ingat kembali. Jadi hal yang seperti ini memang bukan apa-apanya. Tapi tetap saja kalau sampai dipanggil Wali Murid itu parah juga kasusnya.
“Gue tetap kesel aja Kai, lo mau tau bu Endah ngomong apa?” Sena berbicara setelah berhasil bangkit dari duduknya yang lama dan kemudian berjalan mengarah kepada Kaisan dan Raja.
“Ngomong apaan emang?”
“Kalau mau ngamen di jalan aja, jangan dikelas!” Sena menirukan gaya bicara dan mimik bu Endah yang masih ia ingat sangat jelas.
“Di sekolah kita tuh, anak-anak yang tertarik ke seni kayak musik, tari, drama musikal bahkan sastra itu sangat di dukung. Tapi kenapa bu Endah selalu ngebuat gue berdosa dengan hanya megang si cakep!” protes Sena lagi sambil menjelaskan bahwa si ‘cakep’ yang ia maksud adalah gitar akustik kesayangannya dibagi dua setelah si ‘ganteng’ gitar elektrik hijau kado ulangtahunnya kemarin.
“Iya juga ya, kita kelas 10 dipaksa tampil drama musikal padahal mah gak ada bakat-bakatnya.” Kaisan setuju dengan apa yang Sena ucapkan tadi.
Berbeda dengan Raja yang sedikit mengoreksi arah jalan fikiran temannya. “Masalahnya kita nyanyi emang beneran berisik nyet, berasa ngegigs. Mana kelas IPA 2 dan IPA 4 pada ada guru.”
Benar. Hal yang akhirnya menyadarkan mereka diucapkan juga oleh Raja. Kasus selesai kalau begini caranya, hal yang harus mereka salahkan adalah pengambilan situasi bukan kebahagiaan dengan menyanyi diiringi alunan gitar.
“Iya juga ya.” Kaisan mengangguk.
“Ya tapi gue tetap kesal! Kesannya kita kayak abis ketahuan pesta sabu dikelas.” Sena kembali protes.
“Nah ini, iya juga.” Lagi dan lagi Kaisan mengangguk setuju.
Kemudian mereka bertiga membiarkan waktu berjalan dengan bermain alat musik yang mereka pegang secara asal. Berharap hari ini akan cepat berlalu.