DRAMA MUSIKAL
Hilir mudik warga sekolah SMA Bakti Pertiwi kini mengisi gelapnya malam. Tidak biasanya ramai begini kalau bukan karena memang sedang ada acara pentas seni sejak pagi tadi hingga sekarang.
Agenda sejak pukul 7 pagi memang sudah diisi dengan acara Baper Run (Bakti Pertiwi Color Run) yang katanya sangat kekinian. Kemudian siangnya pondokan dekat lapangan upacara dipenuhi dengan booth-booth ekskul dan jajanan dari UMKM sekitar. Dan yang menjadi agenda penghujung acara adalah Drama Musikal.
Kalau urusan pentas seni sekolah yang bergengsi, Bakti Pertiwi memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Acara setiap tahunnya selalu beken dan meninggalkan kesan yang baik. Maka dari itu segala bentuk kegiatan siswa-siswi selalu didukung penuh oleh Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan.
Sekarang jam yang berdenting tepat di layar jam tangan Aruna sudah menunjukkan pukul 7 malam. Penonton drama musikal kini sedang mengantri untuk menukarkan tiket yang mereka beli dengan snack yang disediakan oleh panitia. Tahun ini dibuatkan dresscode untuk para penonton drama musikal, gunanya agar senada dengan tema drama yang dibawakan. Dresscode drama musikal malam ini adalah hitam casual, pilihan khusus dari Mister Jo selaku pembina ekstrakulikuler Drama Musikal. Berbeda dari tahun lalu yang mana dresscode para penonton adalah Maroon.
Aruna yang menjadi paling pusing kalau soal pakaian ditentukan temanya, karena menurutnya semua pakaian yang ia punya selalu tidak sesuai. Tapi tidak juga tuh, Aruna malam ini rupanya menjadi yang paling cantik untuk Sena walau hanya menggunakan minidress hitam dibalutkan kemeja oversize warna senada. Apalagi sepatu converse high hitam-putih yang ia punya, itu menjadi pelengkap paling mantap kalau Sena yang berkementar.
Terdengar aba-aba dari arah dalam panggung GSG Sekolah, kalau dari dialek dan cara bicaranya Aruna yakin itu pasti Mister Jo si dalang dari acara malam ini. Kata beliau, semua penonton harus sudah bergegas menuju kursi masing-masing karena dalam waktu 15 menit pintu GSG akan ditutup dan acara akan dimulai.
Benar kata Sena, Bakti Pertiwi tidak pernah main-main dalam hal menjual nama sekolah yang beken di bidang non-akademik, dinilai dari tingkat niatnya saja mempersiapkan acara drama malam ini sudah pasti akumulatifnya mencapai langit. GSG Sekolah benar-benar disulap menjadi panggung drama theater tingkat internasional kalau begini bentuknya. Kita tinjau dari yang paling awal adalah balutan kain hijau terang menjuntai seolah-olah menjadi penyambut tamu ke dalam dunia Neverland meski itu hanya fiksi karangan Mister Jo, kemudian sebelah kanan dan kiri GSG dipenuhi dengan segala bentuk pepohonan berwarna putih seperti salju lengkap dengan beberapa daun keringnya. Sedangkan diatas panggung sudah tertata rapih sebuah gambaran dari Istana Neverland yang menjadi plot drama malam ini.
Belum sampai 15 menit dari yang diperhitungkan pihak acara drama, seluruh penonton sudah siap duduk di kursinya masing-masing. Cahaya lampu kini semakin meredup hingga menyisakan sorot lampu yang tajam ke arah panggung. Tidak lama setelahnya, Mister Jo yang kini terlihat lebih keren dibandingkan Perdana Mentri kerajaan Neverland, menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai bentuk dimulainya acara malam ini.
“Baik.” ucap Mister Jo setelah sigap berdiri di logo X atas panggung. “Selamat malam semuanya.”
“Malam.” jawaban dari seluruh penonton drama malam ini kompak. Dan langsung membuat Aruna merinding. Ini bukan pertama kalinya Aruna menonton drama musikal, tapi entah kenapa ada perasaan lain yang menyerangnya. Oh ternyata jawabannya adalah karena yang duduk di kursi sebelah kiri Aruna adalah Ibunya Sena.
Ibu Sena ternyata cantik dan anggun meskipun tidak menggunakan dress seperti penonton lain, tapi Ibu Sena tetap terlihat elegan dengan Cardigan hitam yang dipasangkan dengan celana dasar abu-abu. Dan di sebelah kiri Ibu Sena adalah seorang laki-laki paruh baya yang sukses membuat para penonton terkaget-kaget karena ketampanannya. Sekarang Aruna benar-benar paham darimana asal ketampanan Sena yang bisa dibilang tidak ada burik-buriknya itu. Gen yang ada dalam diri Sena adalah yang terbaik kalau Ibu dan Ayahnya saja sudah sesempurna ini.
Aruna tidak banyak bicara sejak bersalaman dengan Ayah dan Ibu Sena. Begitu juga dengan Ibu Sena yang kini hanya diam meski ada juga waktunya yang ikut diam-diam memperhatikan cantiknya Aruna. Kalau kata Ibu Sena yang bisik-bisik ke Ayah, Aruna itu cantik seperti gadis-gadis anggun dalam film Pride and Prejudice, walaupun dengan gaya yang sedikit casual tapi dari cara Aruna berbicara dan meneguk minumnya itu sudah ada penilaian manis dari Ibu. Dan menurut Ibu, kalau yang di mau Sena adalah Aruna maka tidak ada penolakan. Toh Ibu dan Ayah Sena sudah setuju dari melihat senyum Aruna.
“Selamat Malam para penonton Drama Musikal Siswa Bakti Pertiwi, baik Bapak-Ibu yang terhormat, Siswa-Siswi yang saya cintai dan juga para Wali Murid yang turut saya panjatkan kebahagiaannya di setiap waktu. Terimakasih karena sudah menyempatkan hadir dalam acara pada malam ini.” Mister Jo menggantung ucapannya kemudian maju satu langkah lagi ke depan panggung diikuti lampu sorot yang sejak tadi mengikutinya.
“Satu malam yang kalau dibiarkan berlalu begitu saja, akan meninggalkan banyak sekali kekosongan didalamnya. Berbeda dengan satu jam di malam hari yang akan kami pandu dengan ringannya pentas drama musikal malam ini, sebuah janji yang sudah saya torehkan diatas kertas dan dipentaskan langsung oleh murid-murid saya, akan menjadi janji yang tidak akan pernah disesali. Maka dari itu, saya Johan Suryadi, selaku pembina ekstrakulikuler drama musikal malam ini berjanji bahwa Pentas Drama Musikal yang kami bawakan akan menjadi mimpi paling indah dari penonton di malam yang kosong ini.”
Tepuk tangan riuh mengisi luasnya GSG Sekolah, ada rasa tidak sabar dari dalam diri penonton setelah sambutan singkat yang Mister Jo bawakan.
“Kami persembahkan. A-dice in Neverland.” tuntun Mister Jo yang menjadi pertanda bahwa drama musikal malam ini akan dimulai.
GSG kini menjadi sangat gelap kecuali lampu-lampu LED yang berkedip menghiasi pohon disekitar kanan dan kiri. Suara burung Elang tiba-tiba menerjang telinga para penonton, dari atas sana terlihat burung Elang besar terbang dan mendarat sempurna di atas panggung.
Cahaya lampu panggung semakin terang, sedikit demi sedikit tirai merah dan besar yang tadi menutupi sebagian panggung pun ditarik oleh panitia. Dari yang terlihat disana terdapat sebuah istana dengan nama ‘Neverland’ di atasnya serta ada sebuah coretan ‘-ing’ di samping tulisan tersebut. ‘Neverlanding’ adalah sebuah pesan yang rupanya ingin Mister Jo sampaikan kepada para penonton.
Tak lama setelah sang Elang mendarat, ada suara merdu nyanyiian dari seorang Putri Neverland, Princess Nurmala namanya.
“Ayah… Andaikan aku burung, agar terbang jua raga ini ke angkasa.” “Ayah… Tak bisa kah sekali saja aku menjadi burung agar tidak pernah lagi ku pijakkan kaki di negri ini.” Princess Nurmala bernyanyi kesana kemari diikuti oleh para penari latar yang telah menggunakan kostum burung pipit yang cantik.
“Ayah, mengapa aku hanya seorang Putri dari negri yang tidak pernah berhenti jatuh? Aku sudah muak!” dialog pertama sang Princess Nurmala terlihat sangat alami, ada rasa kecewa di dalam ucapannya.
Tak lama kemudian sorak penonton pun memuncah ketika sosok Raja keluar dari dalam istana Neverland. Peran Raja malam ini adalah sebagai Ayah dari Princess Nurmala, Raja Neverland(-ing) itu sendiri.
“Putri ku sayang…” satu kalimat dari nyanyiin Raja sudah penuh dengan jeritan para penonton yang ikut terkesima atas kehadirannya. Raja itu sudah tampan, suaranya pun bagus! Wajar saja Mister Jo menunjuknya sebagai salah satu pemeran utama dari Drama Musikal malam ini.
“Ada beberapa alasan mengapa kau tidak dilahirkan menjadi burung.” “Dari semua alasan itu yang paling penting adalah karena Doa yang ku berikan kepada Tuhan agar kau menjadi anakku. Bukan anak burung.”
Suara penonton kemudian semakin riuh karena merdunya suara Raja. Selain itu, acting Raja juga sangat mumpuni untuk diberikan satu teriakan kalimat, “RAJA LO KEREN BANGET ANJIRR!”
Dari sinopsis yang kemarin sempat Aruna baca dari skrip naskah Sena, ‘A-dice in Neverland’ merupakan sebuah cerita dari sudut pandang seorang pangeran ‘A-dice’ (dadu) yang memiliki ketakutan dihidupnya. Yang kemudian sang pangeran tersesat dalam mimpinya paling buruk hingga terjebak di dalam negri ‘Neverland(-ing)’. Negri Neverland sendiri merupakan negri fantasi yang menjadi sebuah tempat terkutuk bagi siapa saja yang terjebak di dalamnya.
Meskipun hanya negri fantasi, tapi pangeran A-dice (dadu) mengalami banyak hal ajaib didalamnya. Sebagai contohnya adalah jatuh cinta dengan Princess Nurmala.
Tak lama setelah plot cerita berjalan, akhirnya yang paling Aruna tunggu pun datang. Pangeran A-dice yang diperankan Sena akhirnya menampakkan diri setelah jatuh di negri Neverland yang berasal dari mimpi buruknya.
“Aku ada dimana?” monolog awal Sena yang ampuh membuat penonton berjerit kegirangan.
“Bukankah tadi aku sedang makan malam dengan Ayah dan Ibu Tiriku? Nafasku sesak tadi, tapi mengapa aku baik-baik saja sekarang?”
Plot acara pun menjadi sebuah rewind sekarang, diatas panggung sudah terlihat Pangeran A-dice sedang menikmati makan malam dengan sang Ayah dan Ibu Tirinya. Hingga kemudian ia pingsan setelah memakan satu suap sup kacang merah beracun.
Pangeran A-dice sedang terjatuh didalam negri fantasi antara hidup dan matinya sendiri.
“Apakah ada orang?”
Princess Nurmala yang sejak tadi bermain dengan para burung pipit dekat istana pun menghampiri asal suara yang ia dengar samar. Ditemukannya Pangeran A-dice yang tampak linglung.
“Siapa kau?” tanya Princess Nurmala dengan berbalas lagu kepada Pangeran A-dice.
“Aku adalah Pangeran A-dice, pemegang takhta selanjutnya dari negri sebrang.” A-dice memperkenalkan dirinya dan mendekat kepada Nurmala.
“Jangan mendekat!”
“Kau ini siapa?”
“Princess Nurmala!”
“Baik, Princess Nurmala, apakah ini mimpi? Atau ini adalah hal lain yang menjadi alasan dari pertemuan kita setelah aku yang terjatuh sangat jauh dari atas sana,” A-dice menunjuk tepat kepada langit yang hampa dan diikuti Nurmala yang memperhatikan A-dice terheran-heran sejak tadi. “Kalau begitu biar ku sebut pertemuan kita ini adalah takdir.”
“Takdir apanya?”
“Tuan Putri adalah ciptaan Dewa yang paling indah dari hewan-hewan cantik yang pernah aku temui.” A-dice memuji Nurmala hingga terdengar sorak penuh godaan dari arah penonton.
“Apakah kalian setuju duhai para penonton?” tanya A-dice langsung kepada penonton yang sejak tadi gemas melihat tingkahnya.
“IYAA BENARRR!”
Aruna yang sejak tadi diam tersipu akhirnya ikut terkekeh. Sena sangat pintar memainkan perannya sebagai Pangeran A-dice. Raut wajah bangga bukan hanya Aruna yang berikan malam ini, tidak jarang Aruna sedikit melirik ke arah Ayah dan Ibu Sena yang sejak tadi bangganya bukan main.
Nicky dan Kaisan yang diduduk disebelah kanan Aruna juga menjadi penonton paling berisik daritadi. Setiap langkah dan dialog yang Raja dan Sena sampaikan dari atas panggung selalu dibalas jahil oleh Kaisan. Memang begitu sih hukumnya kalau ada teman sedang tampil dan teman lain yang sebagai penonton bakalan ledek-ledekin walau dalam hatinya bangga setengah haru.
Pertunjukkan drama malam ini berlangsung sekitar satu setengah jam. Di akhiri dengan cerita yang cukup tragis bagi para penikmat happy ending. Para penonton dibuat menangis ketika Pangeran A-dice terbangun dari tidurnya dan menemukan bahwa negri ‘Neverland’ adalah negri ciptaannya sendiri selama koma dari racun yang mematikan. Setelah benar-benar sadar dan pulih, Pangeran A-dice paham bahwa negri ‘Neverland’ kini sudah sepenuhnya mendarat walaupun tidak dengan sempurna.
Tahun-tahun berlanjut, Pangeran kini telah menjadi pribadi yang dewasa dan A-dice akan menjalani upacara pengangkatan diri sebagai Raja yang baru. Meninggalkan kenangannya dengan negri ‘Neverland’ dan tentu saja sang Princess Nurmala.
“Kalau menjadi bagian dari hidupmu adalah sebuah ‘jatuh tanpa henti’ maka biarkan aku terus terjatuh di dalamnya. Karena jatuh dalam negri ‘Neverland’ tidak pernah membekas, tapi sakitnya terasa di dada seperti aku yang tidak bisa melupakan lembutnya kulitmu, Nurmala..” Monolog akhir Sena sebagai Pangeran A-dice pun selesai. Drama Musikal malam ini sukses membuat para penonton terharu dan sangat menikmatinya.
Entah itu dari dialog yang para pemain sampaikan atau bahkan plot cerita yang diberikan, semuanya sempurna. Mister Jo sukses malam ini mengacak-acak hari pentonton karena tidak jarang penonton menangis.
Akhir dari Drama Musikal pun ditutup oleh Pangeran A-dice bernanyi sendirian. Menyisakan luka disetiap kata yang terucap dan kenangan yang manis ternyata adalah refleksi dari kenangan paling pahit.
Mister Jo naik ke atas panggung mengisyaratkan bahwa drama musikal malam ini telah selesai. Satu persatu pemain juga ikut naik ke atas panggung dan semuanya membungkuk sebagai salam tanda perpisahan. Dari semua perpisahan yang ada, happy ending merupakan suatu hal yang orang-orang idamkan. Tapi sad ending memberikan pesan bahwa hidup harus realistis dan dari drama musikal malam ini para penonton belajar bahwa sepahit apapun kenyataan, itu adalah obat yang paling manjur untuk semua jenis penyakit.
“Sampai jumpa di drama musikal tahun depan!” salam terakhir dari Mister Jo dan tirai merah besar diatas panggung pun tertutup rapat. Lampu-lampu dihidupkan secara bertahap, para penonton kini sudah dibiarkan untuk pulang meski masih ada rasa haru setelah menonton drama musikal malam ini.
“Aruna pulang bareng Ibu?” belum ada lima menit setelah drama musikal selesai, Ibu Sena menawarkan diri untuk mengantar Aruna pulang. Aruna yang tiba-tiba kena serangan panik pun akhirnya menolak dengan halus.
“Maaf Tante..”
“Ibu aja.” pintu Ibu Sena langsung.
“Hehe iya, maaf Ibu, Aruna pulang sama temen aja gak apa-apa.”
“Oh gitu, ya udah, mau pulang sama Sena kan pasti ya? Ibu titip Sena, nanti diajakin makan dulu dia.”
“Iya tan-, maksudnya Ibu.”
“Ibu sama Ayahnya Sena pulang duluan ya.” sebelum akhirnya bangkit dan pergi dari GSG, Ibu Sena membelai lembut lengan kiri Aruna. Ada kehangatan didalamnya dan Aruna suka itu.
“Kaisan, Ibu pulang duluan.” pamit Ibu Sena ke Kaisan.
“Iya Ibu, hati-hati dijalan bilang Ayah bu.”
“Iya.”
Dada kiri Aruna yang sejak tadi berdebar sangat kencang kini semakin meluluh. Ibu dan Ayah Sena baik sekali untuknya dan itu melegakan. Aruna melirik ke arah jam yang ada di handphone-nya, sekarang sudah pukul 20.56 WIB. dan pertunjukkan drama musikal tadi adalah yang terbaik.