<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>indomilkavocado</title>
    <link>https://indomilkavocado.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 00:35:49 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>About Us</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/about-us?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kita gak pernah bahas tentang ini sebelumnya?&#34; gadis itu bersuara, memecah hening yang sejak tadi menyelimuti keduanya. Mark yang semula serius berkutat dengan buku gambar yang ia warnai, kini menelusuri perubahan wajah gadisnya, Agrna.&#xA;&#xA;&#34;Tentang apa?&#34; tanya Mark segera karena sudah diburu rasa penasaran.&#xA;&#xA;&#34;Tentang cita-cita kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Keliling dunia maksudnya?&#34; tanyanya kembali dan kemudian menggeleng. &#34;Ra, itu mimpi aku waktu masih umur 5 tahun, sekarang udah nggak begitu lagi mimpinya.”&#xA;&#xA;Dalam detik itu juga, Agrna bangun dari posisi telungkupnya dan duduk sejajar disamping Mark yang masih saja mewarnai buku gambar yang mereka beli kemarin di salah satu toko buku dekat restoran klasik. &#34;Loh, kenapa? Mimpi kamu kan gak salah, kenapa diganti?&#34; Agrna menyingkirkan buku gambar miliknya dan pensil warna yang Mark pegang kini sudah dalam kuasanya. Mereka berdua sejak satu jam yang lalu asyik mewarnai buku gambar ditemani beberapa lagu yang masuk ke dalam playlist yang sengaja mereka buat untuk berdua.&#xA;&#xA;Pertanyaan dari Agrna ternyata ampuh membuat sekujur tubuh Mark merinding. &#34;...mimpi kamu kan gak salah, kenapa diganti?&#34; katanya. Memang benar, tidak ada yang salah tapi kalau sudah sekarang, sudah seumur segini, sudah tau bagaimana cara berfikir yang logis untuk menentukan cita-cita, bukan itu lagi maunya.&#xA;&#xA;&#34;Emang gak ada yang salah sama cita-citaku, Ra, cuma.. Aku kayaknya keburu tua kalau harus beneran keliling dunia mulainya dari umur segini. Lagian dapet dana darimana coba? Aku gak dapat endorse buat keliling dunia kayak Raffi Ahmad dan keluarganya, emang aku siapa.&#34; Mark menjelaskan tanpa merubah arah pandangannya dari mata teduh dan sedikit mengantuk milik Agrna. Gadisnya itu terlihat mengangguk dua kali tanda paham walaupun hatinya masih belum setuju.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa cemberut, Ra?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, aku kemarin sebelum tidur udah ngebayangin kalau kita beneran keliling dunia, gimana ya? Pasti seru.&#34;&#xA;&#xA;Mark tidak menjawab dan kemudian tertawa. Diambilnya kembali pensil warna yang tadi Agrna rebut untuk diletakkan diatas meja. Lalu, digenggamnya tangan Agrna yang dingin dan sedikit basah karena terlalu lama memegang pensil warna.&#xA;&#xA;&#34;Masa kamu udah gak mau keliling dunia lagi, sih?&#34; tanya Agrna lagi dan sedikit ada rengekan.&#xA;&#xA;&#34;Buat apa? Kamu, &#39;kan duniaku.&#34;&#xA;&#xA;Pernyataan Mark itu membuat Agrna diam. Pipinya sedikit memanas walaupun belum tergambar jelas rona merah yang paling Mark suka. Pandangan Agrna beralih dari Mark menuju buku-buku gambar yang berserakan di atas maupun di bawah meja. Hatinya meracau sekarang karena satu nama, Mark.&#xA;&#xA;&#34;Kamu kenapa jadi malu-malu gini sih, Ra?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku udah gak mood ngewarnain lagi ah,&#34; katanya kemudian duduk menyender di kaki sofa belakang mereka. Mark mengikuti tanpa melepaskan genggamannya. &#34;..kita ngobrol aja yuk?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh. Kamu mau ngobrolin apa, Ra?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku?&#34; tunjuk Mark ke dirinya sendiri dan Agrna mengiyakan. &#34;Oke, aku kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu populer ternyata, aku tau dari Aubrey kemarin cerita. Hehe. Dia bilang kamu baik, sering bantu temen-temen di kelas kalau lagi susah sama semuanya.. kayak tugas, praktikum, pertanyaan dosen yang random banget. Itu semua, kamu gak sungkan bantu mereka. Makanya kamu populer ya.&#34; Mark menikmati cerita Agrna tentang dirinya itu, lalu Agrna menambahkan. &#34;Aku cemburu deh. Hehehehe.&#34; katanya terlihat sedikit kecewa.&#xA;&#xA;Mark mengernyit masih belum mengerti kenapa Agrna harus cemburu. &#34;Cemburu kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hehehe.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar nada tawa Agrna yang sedikit tidak beres, Mark tersenyum gemas. &#34;Kenapa?&#34; tanyanya lagi,&#xA;&#xA;&#34;Yaa... gitu.&#34; katanya malas.&#xA;&#xA;Mark masih menunggu Agrna untuk bercerita kembali. Agrna membuang muka cepat-cepat dan meraih ponselnya yang sejak tadi didiamkan sendiri di atas meja.&#xA;&#xA;&#34;Nggak mau dilanjut?&#34;&#xA;&#xA;Agrna masih diam dengan jarinya yang sibuk membuka applikasi twitter hanya untuk melihat postingan terbaru dari teman-temannya.&#xA;&#xA;&#34;Ra..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke.&#34; Agrna meletakkan ponselnya kembali.&#xA;&#xA;&#34;Cerita. Sok. Aku dengerin, sayang.&#34;&#xA;&#xA;Agrna melirik Mark sebelum pada akhirnya berubah posisi untuk menghadap ke sang pacar seutuhnya. Tatapan keduanya kemudian semakin mengerat seperti ada ikatan untuk membentuk telepati agar informasi di kepala Agrna pindah ke Mark. Tapi ternyata tidak bisa. Agrna menyerah dan kemudian bersuara lagi.&#xA;&#xA;&#34;...yaaa. Aku cemburu kenapa harus orang lain yang paling tau cerita kamu. Kenapa harus orang lain yang lihat seberapa kerennya kamu waktu berbaik hati bantu teman-temannya kamu itu. Aku juga cemburu kenapa harus jadi pendengar cerita tentang kamu, harusnya kan Aubrey yang tau cerita tentang kamu dari aku, bukan kebalik.&#34;&#xA;&#xA;Senyum kembali mengembang di bibir Mark, ada rasa senang yang terselibut dihatinya setelah mendengar perkataan Agrna tadi. Gadisnya itu adalah perempuan dengan gengsi tinggi, tapi kalau sudah berani bercerita seperti tadi rasanya dunia sudah benar-benar dikuasanya. Rasanya seperti, apalagi yang harus ia kelilingi kalau Agrna sudah disisinya.&#xA;&#xA;&#34;Oh begitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya..&#34; rutuk Agrna sedikit cemberut.&#xA;&#xA;&#34;Tapi, menurutku sih mereka, orang-orang itu, yang harus punya rasa cemburu paling besar.&#34;&#xA;&#xA;Agrna menautkan kedua alisnya dan sedikit kebingungan. &#34;Kenapa gitu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu kan punya aku. Aku punyanya kamu, mereka cuma sekedar dibantu, tapi kamu? Aku buat kamu mah nggak apa-apa kali. Kamu harusnya yang paling keren sekarang ini. Iya, &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;Dengan sedikit rasa malu, Agrna mendorong Mark. Mereka berdua terkekeh sebelum akhirnya Mark menarik Agrna kedalam dekapannya. Mereka berdua harusnya sama-sama kedinginan sejak tadi, tapi untung saja Papi Agrna menyalakan perapian di ruang tengah agar suhu ruangan mereka terjaga. Dengan gerakan lambat dan penuh kehangatan, Mark mengusap rambut Agrna yang sangat ia sukai aromanya.&#xA;&#xA;&#34;Ra..&#34; panggilnya pelan. Agrna hanya berdeham.&#xA;&#xA;&#34;Makasih ya, Ra, aku kira kamu dan aku gak akan buat semuanya menjadi kita. Maaf karena sempat pesimis waktu itu, maaf aku sempat hilang dalam beberapa waktu karena kesalahanku yang gak bisa bagi waktu antara Vancouver dan kamu. Maaf ninggalin kamu sendirian kemarin-kemarin dan.. Maaf juga sempat menghilang tanpa kabar karen aku benar-benar lelah. Maaf.&#34;&#xA;&#xA;Agrna bisa merasakan detak jantung Mark, ada debaran yang sama seperti miliknya. Tidak lama Agrna melepaskan pelukan itu.&#xA;&#xA;&#34;Mark, aku kan pernah bilang ke kamu, if we&#39;re dating, I want to be your second priority. I want your first priority to be you, your ambitions, your goals and your life. Don&#39;t let me be your distraction. Let me be your motivation. Jujur, aku nggak apa-apa kamu hilang gak ada kabar atau semedi sebentar kayak kemarin sebelum aku ikut kesini. Asal kamu tau tempat pulang, asal kamu tau ada aku sebagai rumah yang selalu kamu rindu, itu aku nggak apa-apa asal tau kamu jelas kemana. Aku gak mau kamu jadiin sebagai tekanan untuk 24/7 kabarin. Zzzzz... Aku gak mau terlihat sangat mengekang kamu, tapi kalau urusan cemburu tentang kamu yang keren itu atau cemburu salah paham ke Aubrey itu mohon di wajari  ya, karena sometimes, aku memang butuh penjelasan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hehehe, aduh maaf aku kebanyakan ngomong. Aku cuma nyampein apa yang terlintas di dalam kepalaku, maaf isi kepalaku itu selalu penuh.&#34; tambahnya lagi.&#xA;&#xA;Agrna berusaha membaca ekspresi wajah Mark. Tapi ternyata disana hanya ada senyuman dan raut wajah orang yang sedang bahagia. Dan, Mark terlihat sangat damai.&#xA;&#xA;&#34;Agrna, thank you for being by my side through it all. Terimakasih.&#34; katanya.&#xA;&#xA;Tanpa harus bersuara, Agrna membalas rasa terimakasih Mark dalam hatinya. &#34;Sama-sama!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ra,&#34; panggilnya lagi untuk kesekian kali.&#xA;&#xA;&#34;Iyaaa.&#34; jawab Agrna dengan senang.&#xA;&#xA;&#34;Agrna Leony. Let&#39;s grow up together. Me and you.&#34; he said.&#xA;&#xA;Agrna mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya yang sejak tadi merekah.&#xA;&#xA;&#34;And our next &#39;leorian&#39;, maybe?&#34; she&#39;s smiling and reach her man to give a single kiss on his lips.&#xA;&#xA;-aleeya, &#39;21]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kita gak pernah bahas tentang ini sebelumnya?” gadis itu bersuara, memecah hening yang sejak tadi menyelimuti keduanya. Mark yang semula serius berkutat dengan buku gambar yang ia warnai, kini menelusuri perubahan wajah gadisnya, <em>Agrna</em>.</p>

<p>“Tentang apa?” tanya Mark segera karena sudah diburu rasa penasaran.</p>

<p>“Tentang cita-cita kamu.”</p>

<p>“Keliling dunia maksudnya?” tanyanya kembali dan kemudian menggeleng. “Ra, itu mimpi aku waktu masih umur 5 tahun, sekarang udah nggak begitu lagi mimpinya.”</p>

<p>Dalam detik itu juga, Agrna bangun dari posisi telungkupnya dan duduk sejajar disamping Mark yang masih saja mewarnai buku gambar yang mereka beli kemarin di salah satu toko buku dekat restoran klasik. “Loh, kenapa? Mimpi kamu kan gak salah, kenapa diganti?” Agrna menyingkirkan buku gambar miliknya dan pensil warna yang Mark pegang kini sudah dalam kuasanya. Mereka berdua sejak satu jam yang lalu asyik mewarnai buku gambar ditemani beberapa lagu yang masuk ke dalam <em>playlist</em> yang sengaja mereka buat untuk berdua.</p>

<p>Pertanyaan dari Agrna ternyata ampuh membuat sekujur tubuh Mark merinding. <em>”...mimpi kamu kan gak salah, kenapa diganti?”</em> katanya. Memang benar, tidak ada yang salah tapi kalau sudah sekarang, sudah seumur segini, sudah tau bagaimana cara berfikir yang logis untuk menentukan cita-cita, bukan itu lagi maunya.</p>

<p>“Emang gak ada yang salah sama cita-citaku, Ra, cuma.. Aku kayaknya keburu tua kalau harus beneran keliling dunia mulainya dari umur segini. Lagian dapet dana darimana coba? Aku gak dapat <em>endorse</em> buat keliling dunia kayak Raffi Ahmad dan keluarganya, emang aku siapa.” Mark menjelaskan tanpa merubah arah pandangannya dari mata teduh dan sedikit mengantuk milik Agrna. Gadisnya itu terlihat mengangguk dua kali tanda paham walaupun hatinya masih belum setuju.</p>

<p>“Kenapa cemberut, Ra?”</p>

<p>“Nggak, aku kemarin sebelum tidur udah ngebayangin kalau <em>kita</em> beneran keliling dunia, gimana ya? Pasti seru.”</p>

<p>Mark tidak menjawab dan kemudian tertawa. Diambilnya kembali pensil warna yang tadi Agrna rebut untuk diletakkan diatas meja. Lalu, digenggamnya tangan Agrna yang dingin dan sedikit basah karena terlalu lama memegang pensil warna.</p>

<p>“Masa kamu udah gak mau keliling dunia lagi, sih?” tanya Agrna lagi dan sedikit ada rengekan.</p>

<p>“Buat apa? Kamu, &#39;kan duniaku.”</p>

<p>Pernyataan Mark itu membuat Agrna diam. Pipinya sedikit memanas walaupun belum tergambar jelas rona merah yang paling Mark suka. Pandangan Agrna beralih dari Mark menuju buku-buku gambar yang berserakan di atas maupun di bawah meja. Hatinya meracau sekarang karena satu nama, Mark.</p>

<p>“Kamu kenapa jadi malu-malu gini sih, Ra?”</p>

<p>“Aku udah gak <em>mood</em> ngewarnain lagi ah,” katanya kemudian duduk menyender di kaki sofa belakang mereka. Mark mengikuti tanpa melepaskan genggamannya. “..kita ngobrol aja yuk?”</p>

<p>“Boleh. Kamu mau ngobrolin apa, Ra?”</p>

<p>“Kamu.”</p>

<p>“Aku?” tunjuk Mark ke dirinya sendiri dan Agrna mengiyakan. “Oke, aku kenapa?”</p>

<p>“Kamu populer ternyata, aku tau dari Aubrey kemarin cerita. Hehe. Dia bilang kamu baik, sering bantu temen-temen di kelas kalau lagi susah sama semuanya.. kayak tugas, praktikum, pertanyaan dosen yang random banget. Itu semua, kamu gak sungkan bantu mereka. Makanya kamu populer ya.” Mark menikmati cerita Agrna tentang dirinya itu, lalu Agrna menambahkan. “Aku cemburu deh. Hehehehe.” katanya terlihat sedikit kecewa.</p>

<p>Mark mengernyit masih belum mengerti kenapa Agrna harus cemburu. “Cemburu kenapa?”</p>

<p>“Hehehe.”</p>

<p>Mendengar nada tawa Agrna yang sedikit tidak beres, Mark tersenyum gemas. “Kenapa?” tanyanya lagi,</p>

<p>“Yaa... gitu.” katanya malas.</p>

<p>Mark masih menunggu Agrna untuk bercerita kembali. Agrna membuang muka cepat-cepat dan meraih ponselnya yang sejak tadi didiamkan sendiri di atas meja.</p>

<p>“Nggak mau dilanjut?”</p>

<p>Agrna masih diam dengan jarinya yang sibuk membuka applikasi twitter hanya untuk melihat <em>postingan</em> terbaru dari teman-temannya.</p>

<p>“Ra..”</p>

<p>“Oke.” Agrna meletakkan ponselnya kembali.</p>

<p>“Cerita. Sok. Aku dengerin, sayang.”</p>

<p>Agrna melirik Mark sebelum pada akhirnya berubah posisi untuk menghadap ke sang pacar seutuhnya. Tatapan keduanya kemudian semakin mengerat seperti ada ikatan untuk membentuk telepati agar informasi di kepala Agrna pindah ke Mark. Tapi ternyata tidak bisa. Agrna menyerah dan kemudian bersuara lagi.</p>

<p>”...yaaa. Aku cemburu kenapa harus orang lain yang paling tau cerita kamu. Kenapa harus orang lain yang lihat seberapa kerennya kamu waktu berbaik hati bantu teman-temannya kamu itu. Aku juga cemburu kenapa harus jadi pendengar cerita tentang kamu, harusnya kan Aubrey yang tau cerita tentang kamu dari aku, bukan kebalik.”</p>

<p>Senyum kembali mengembang di bibir Mark, ada rasa senang yang terselibut dihatinya setelah mendengar perkataan Agrna tadi. Gadisnya itu adalah perempuan dengan gengsi tinggi, tapi kalau sudah berani bercerita seperti tadi rasanya dunia sudah benar-benar dikuasanya. Rasanya seperti, apalagi yang harus ia kelilingi kalau Agrna sudah disisinya.</p>

<p>“Oh begitu.”</p>

<p>“Iya..” rutuk Agrna sedikit cemberut.</p>

<p>“Tapi, menurutku sih mereka, orang-orang itu, yang harus punya rasa cemburu paling besar.”</p>

<p>Agrna menautkan kedua alisnya dan sedikit kebingungan. “Kenapa gitu?”</p>

<p>“Kamu kan punya aku. Aku punyanya kamu, mereka cuma sekedar dibantu, tapi kamu? Aku buat kamu mah nggak apa-apa kali. Kamu harusnya yang paling keren sekarang ini. Iya, &#39;kan?”</p>

<p>Dengan sedikit rasa malu, Agrna mendorong Mark. Mereka berdua terkekeh sebelum akhirnya Mark menarik Agrna kedalam dekapannya. Mereka berdua harusnya sama-sama kedinginan sejak tadi, tapi untung saja Papi Agrna menyalakan perapian di ruang tengah agar suhu ruangan mereka terjaga. Dengan gerakan lambat dan penuh kehangatan, Mark mengusap rambut Agrna yang sangat ia sukai aromanya.</p>

<p>“Ra..” panggilnya pelan. Agrna hanya berdeham.</p>

<p>“Makasih ya, Ra, aku kira kamu dan aku gak akan buat semuanya menjadi <em>kita</em>. Maaf karena sempat pesimis waktu itu, maaf aku sempat hilang dalam beberapa waktu karena kesalahanku yang gak bisa bagi waktu antara Vancouver dan kamu. Maaf ninggalin kamu sendirian kemarin-kemarin dan.. Maaf juga sempat menghilang tanpa kabar karen aku benar-benar lelah. Maaf.”</p>

<p>Agrna bisa merasakan detak jantung Mark, ada debaran yang sama seperti miliknya. Tidak lama Agrna melepaskan pelukan itu.</p>

<p>“Mark, aku kan pernah bilang ke kamu, <em>if we&#39;re dating, I want to be your second priority. I want your first priority to be you, your ambitions, your goals and your life. Don&#39;t let me be your distraction. Let me be your motivation.</em> Jujur, aku nggak apa-apa kamu hilang gak ada kabar atau semedi sebentar kayak kemarin sebelum aku ikut kesini. Asal kamu tau tempat pulang, asal kamu tau ada aku sebagai rumah yang selalu kamu rindu, itu aku nggak apa-apa asal tau kamu jelas kemana. Aku gak mau kamu jadiin sebagai tekanan untuk 24/7 kabarin. Zzzzz... Aku gak mau terlihat sangat mengekang kamu, tapi kalau urusan cemburu tentang kamu yang keren itu atau cemburu salah paham ke Aubrey itu mohon di wajari  ya, karena <em>sometimes,</em> aku memang butuh penjelasan.”</p>

<p>“Hehehe, aduh maaf aku kebanyakan ngomong. Aku cuma nyampein apa yang terlintas di dalam kepalaku, maaf isi kepalaku itu selalu penuh.” tambahnya lagi.</p>

<p>Agrna berusaha membaca ekspresi wajah Mark. Tapi ternyata disana hanya ada senyuman dan raut wajah orang yang sedang bahagia. Dan, Mark terlihat sangat damai.</p>

<p><em>“Agrna, thank you for being by my side through it all.</em> Terimakasih.” katanya.</p>

<p>Tanpa harus bersuara, Agrna membalas rasa terimakasih Mark dalam hatinya. <em>“Sama-sama!”</em></p>

<p>“Ra,” panggilnya lagi untuk kesekian kali.</p>

<p>“Iyaaa.” jawab Agrna dengan senang.</p>

<p><em>“Agrna Leony. Let&#39;s grow up together. Me and you.”</em> he said.</p>

<p>Agrna mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya yang sejak tadi merekah.</p>

<p><em>“And our next &#39;leorian&#39;, maybe?” she&#39;s smiling and reach her man to give a single kiss on his lips.</em></p>

<p>-aleeya, &#39;21</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/about-us</guid>
      <pubDate>Sat, 20 Nov 2021 15:13:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Rasa dan Penggantinya</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/rasa-dan-penggantinya?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Malam terakhir di bulan November ini aku habiskan dengan menemani Wije berbelanja seharian. Membeli kado spesial untuk orang yang istimewa katanya. Itu Bundanya.&#xA;&#xA;&#34;Ra sorry pulangnya kemaleman.&#34; Wije bersuara tanpa menoleh dan tetap lurus pandangannya kepada jalanan yang kami telusuri. Sekarang sudah pukul 8 malam, masih belum terlalu terlambat untuk pulang ke rumah, tapi kalau dihitung sejak kami pergi tadi ini memang sudah cukup lama, sih.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa ih lebay deh. Gue juga udah pamit sama Mami.&#34; Aku yang saat itu baru saja menguncir rambut pun menepuk pelan lengan kiri Wije. Dia terlalu berlebihan kalau bilang jam 8 malam itu sudah kemalaman. Dan kemudian kami berdua tertawa hambar. &#xA;&#xA;&#34;Thanks ya, Ra.&#34; katanya dengan suara yang tidak terlalu lantang tapi aku tau dia menyembunyikan senyum.&#xA;&#xA;&#34;Hehehe sama-sama. Kapan Je ultah nyokap lo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lusa Bunda ulang tahun. 2 Desember.&#34; terangnya dan aku mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Salam ya Je! Sampein doa gue ke Bunda lo, panjang umur sehat selalu, terus untuk urusan kayak pekerjaan dan rezekinya dimudahkan sama Tuhan. Daann, makin cantik!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hahaha okey, aamiin aamiin. Nanti gue sampein.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue penasaran sama nyokap lo orangnya gimana deh, pasti cantik banget secara gitu, lo kan ganteng.&#34;&#xA;&#xA;Nathaniel Wijaya yang punya nama beken Wije ini tertawa sendiri. Padahal letak lucu ucapanku tadi ada disebelah mana, aku tidak tau.&#xA;&#34;Lo pernah ketemu bunda, Ra.&#34;&#xA;&#xA;Aku menggeleng karena merasa hal itu tidak pernah terjadi. Bukan, aku sedang tidak lupa, tapi, aku memang beneran belum pernah merasa bertemu dengan Bundanya Wije. &#34;Kapan?&#34; tanyaku mengintimidasi.&#xA;&#xA;&#34;Waktu itu, pas ada yang titipin bekal makan siang buat gue, hari dimana kita kerja rodi ngebangun gate gapura acara BEM, Ra. Lupa lo ya?&#34;&#xA;&#xA;Aku memicingkan mataku sambil menepuk dengkul dua kali untuk berfikir keras. Tapi entah aku masih belum bisa menemukan ingatan itu. &#34;Bentar, yang mana sih?&#34; kataku semakin memaksa untuk mengingat.&#xA;&#xA;Wije tertawa seperti sedang menertawakan tingkahku dan aku cuma bisa menggali lagi ingatan yang benar-benar aku lupa kubur disebelah mana. &#xA;&#34;Hahaha, itu loh, mbak-mbak cantik yang nganterin kotak bekal buat gue di parkiran fakultas itu Ra, mbak itu sebenernya bunda gue.&#34;&#xA;&#xA;Aku membulatkan mata seketika. Ingatan tentang mbak cantik yang waktu itu mengantarkan bekal ditengah hari untuk Wije sih aku ingat, tapi, itu Bunda Wije?&#xA;&#xA;&#34;ANJIR IH KOK MUDA BANGET?&#34; kataku meloncat kaget, Wije hanya bisa tertawa puas.&#xA;&#xA;&#34;Emang masih muda. Bunda nikah sama Ayah waktu umur 18 tahun, bener-bener lulus SMA. berhasil lahirin gue di umur 20 tahun setelah 2 kali keguguran sebelumnya.&#34;&#xA;&#xA;Aku cepat-cepat menatap Wije yang tidak juga merubah ekspresi wajahnya. Dia kelihatan serius dan aku sepertinya tidak boleh bilang dia bohong. &#34;Pantes lo sayang banget ke nyokap lo ya Je, perjuangan buat dapetin anak pertama kayak lo aja susah. Tapi beneran itu Bunda lo gak sih??&#34; tanyaku lagi dan dia masih mengangguk meyakinkan.&#xA;&#xA;Pandangan Wije yang semula hanya kepada jalanan kini berubah ke arahku. Oke, dia jujur.&#xA;&#xA;&#34;Iya, beneran Bunda gue. Tapi gue anak tunggal, Ra.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anak tunggal?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, setelah lahiran gue, bunda punya masalah sama rahimnya padahal masih muda banget waktu itu. Kata bunda sih dengan adanya gue, dia sudah sangat bersyukur.&#34;&#xA;&#xA;Aku setuju dan menjawab, &#34;Yah gue juga klo punya anak bentukannya kayak lo udah bersyukur lahir batin kali Je!&#34;&#xA;&#xA;Wije tertawa lagu entah sudah ke yang berapa kali. &#34;Bisa aja hahaha.&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu, aku tidak melihat ke arah Wije lagi. Konsentrasiku sempat diganggu karena malam ini, radio kesayangan memutarkan lagu yang sangat aku suka. Maroon 5 penyanyinya, judulnya Lost Stars. Aku kira, Wije tidak tau lagu ini, tapi ternyata dia ikut bersenandung perlahan. Wajar sih, ini lagu semuaorang suka, pasti dia hapal.&#xA;&#xA;&#34;Eh, btw, Je lo kenapa gak ikutan proyek kayak Mark dan Redo gitu deh? Lo malah bikin proyekan sendiri pake dana bokap lo lagi.&#34; cerita tentang Wije yang membuat proyek penelitian menggunakan dana pribadi itu sudah bukan rahasia lagi, kami, anak-anak divisi dekdok, pernah membicarakan hal ini sebelumnya tapi belum ada jawaban yang memuaskan dari Wije. Maka dari itu, aku bertanya mumpung masih ada orangnya.&#xA;&#xA;&#34;Susah, Ra, Ayah kalau kerja sering diluar kota sampe berminggu-minggu dan gue anak tunggal. Bunda sama siapa kalau gue pergi?&#34;&#xA;&#xA;Alasannya begitu. Aku merinding seketika.&#xA;&#34;Oh iya juga ya, kasian Bunda lo. Tapi gue denger-denger yang harusnya pergi proyekan itu lo ya Je bukannya Redo?&#34; tanyaku lagi karena sudah terlanjur penasaran mengenai kebenaran cerita itu.&#xA;&#xA;&#34;Iya.&#34; jawabnya cepat. &#34;Gue tolak dengan alasan gue mau bikin proyek sendiri di kampus. Lagian ya, ra, Redo udah paling pas untuk gantiin posisi gue. Walaupun gue, yaahh, ada lah dikit-dikit rasa pingin pergi juga ke Kanada, tapi gak apa-apa, gak semua hal harus gue yang beneran isi kehadirannya, kadang dengan adanya orang lain untuk gantiin posisi itu bakalan lebih baik hasilnya.&#34; Wije tersenyum sekilas ketika mata kami bertemu, aku merasakan ada ketulusan dari ucapannya itu.&#xA;&#xA;&#34;Jago lo ya kalau ngomong! hahahaha.&#34;&#xA;&#xA;Kemudian hening, kami sama-sama menikmati jalanan yang sedang setengah macet itu ditemani dengan merdunya suara Adam Levine. Aku tidak tau lagu kesukaan Wije yang bergenre seperti apa, tapi, kalau dilihat dari perawakannya yang tenang dan santai ini, sepertinya dia suka lagu-lagu dengan tempo santai. Mungkin semacam Jazz, atau Pop-ballad. Mungkin.&#xA;&#xA;Satu lagu yang kami nyanyikan bersama secara perlahan itu pun selesai. Aku masih menanti lagu selanjutnya karena suasana kami saat ini sedang canggung. Tidak tau kenapa, padahal masih banyak yang ingin aku sampaikan ke Wije. Isi kepalaku sudah penuh dan aku seperti ingin segera bertanya kepadanya, tapi lidahku kelu. Kami memang berteman, bahkan sudah cukup lama, sejak awal ikut serta dalam kepanitiaan BEM, kami adalah teman baik. Tapi, tidak boleh lupa, kecemburuan Mark kepada Wije, adalah alasan aku pernah menangis waktu itu. Makanya, aku sangat canggung sekarang.&#xA;&#xA;Lalu, aku tersenyum, lagu selanjutnya pun terputar. Lagu lama yang masih samar-samar diingatan. Aku hapal beberapa bagian liriknya tapi judulnya apa ya. Saat ini, aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus lanjut mendengarkan musik saja atau malah mengatakan apa yang sejak tadi ingin keluar dari bibirku.&#xA;&#xA;&#34;Je...&#34; panggilku ke Wije dan dia hanya menjawab &#39;ya&#39; dengan santai. &#34;Lo tau trend di tiktok yang diambil dari interview Billie Eilish gak?&#34; lanjutku dan melirik ke arahnya.&#xA;&#xA;Wije mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau. &#xA;&#34;Yang mana? Gue gak main tiktok, Ra.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu, yang Billie bilang kurang lebih gini, ‘everyones gonna die and no one will remember you, so..’ and then semua orang yg join trend itu langsung ngungkapin perasaannya ke orang yg selama ini dia suka.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus-terus?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue tau kalau ngomongin ini bakalan salah karena waktunya gak tepat banget, tapi, gue rasa udah gak ada yg harus gue tahan lagi, Je.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tentang gue, Ra?&#34;&#xA;&#xA;Aku berdeham pelan. Aku jawab pertanyaannya dengan deru jantung yang menggebu. &#34;Iya je. Tentang perasaan yg gue punya buat lo. Lo janji jangan komen apa-apa dulu ya sampe gue selesai?&#34;&#xA;&#xA;Wije hanya mengangguk tidak menjawab.&#xA;&#xA;Aku menarik nafas dalam-dalam. Dengan tangan yang semakin dingin aku mencoba untuk bersuara. &#34;Gue suka lo Je, sukaaa banget, lo orang pertama yang gue ceritain selembut apa tutur katanya ke Papi, bahkan, lo orang pertama yang gue deskripsiin semanis apa senyumnya ke Mami. Lo juga orang pertama yang gue tunggu kehadirannya di sekret kalau lagi radiv malem-malem, bagian gue cari perhatian di grup divisi untuk sekedar bilang semangat ya guys, itu juga masih lo yang gue tunggu untuk jawab ‘makasih ra, lo juga semangat.&#39;”&#xA;&#xA;Wije hanya menatapku tanpa berbicara. Dia masih belum memberhentikan laju mobilnya meskipun aku tau dia kelewat kaget sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Mungkin lo bertanya-tanya Je, kenapa gue bisa naksir lo? Jawabannya simple, karena lo orang pertama yang bisa bikin gue nyaman tanpa harus nyari zona nyamannya gue; yaitu kabur. Lo inget pertama kali kumpulan acara BEM dan gue ditunjuk jadi sekoor divisi, itu gue paniknya minta ampun karena gak sanggup berhadapan sama banyak orang. Tapi lo disana, lo ngeyakinin gue, lo bilang ke gue untuk gak kabur dan bertahan diposisi gue karena lo akan selalu ada disamping gue. Bahkan untuk kak Joey juga. Harusnya waktu itu gue mikir, kalau lo cuma basa-bisa biar gue gak panik sesaat, tapi nggak Je, lo beneran ada disaat-saat gue ngerasa udah gak sanggup lagi bahkan berpikiran untuk kabur. Banyak hal yang lo kasih tunjuk ke gue untuk ngebuktiin kalau punya perasaan ke lo itu gak salah, Je, tapi gue gak tau maksud kebaikan lo apa? Bahkan gue gak tau perasaan lo ke gue gimana? Atau malah sebenernya ada orang lain di hati lo? Makanya gue pendem selama ini perasaan gue dan lebih baik begitu....&#34; ucapanku menggantung, aku hirup nafas dalam-dalam dan Wije masih diam. &#34;...baik buat gue lebih tepatnya, Je.&#34;&#xA;&#xA;Pandangan wajah santai Wije yang tadi dia berikan kini menghilang dan dia memalingkan wajahnya. &#34;Wah panjang banget ya Je? Takut lo nyetir gak fokus dengerin gue ngomong terus. Sorry, ya Je, tapi gue udah lega setelah ngomong apa yang gue rasa. Daaannn, gue harap lo memaklumi gue malam ini, gue cuma gak mau menua dalam keadaan memendam perasaan lama. Tentang jawaban lo itu terserah Je, karena emang gue gak pernah minta lo buat bales, karena nih ya kalau lo tanya perasaan gue sekarang buat lo tuh gimana? Gue juga gak tau, gue ada Mark, gue udah sayang banget ke dia, bahkan gue gak mau yang lain kalau bukan Mark orangnya. Tapi perasaan gue ke lo, masih belum juga ilang.&#34;&#xA;&#xA;Aku mendesah dan memukul keningku sekali setelahnya. Aku benar-benar berada diujung tebing. &#34;Tai banget gue terdengar sok playgirl gitu ya, Je? Hahaha tapi plis gue juga gak tau gue kenapa, isi kepala gue tuh udah penuh banget, Je, kayak emang gua harus bilang ini ke lo, karena gue tu-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ra...&#34; Wije memotong ucapanku. Aku menoleh ke arahnya yang menatapku sendu. &#34;Sekarang gue udah boleh ngomong?&#34;&#xA;&#xA;Aku terdiam. &#34;Boleh Je.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue juga sayang sama lo, Ra.&#34; detik itu jantungku berhenti berdetak. Aku tidak merasakan aliran darah berjalan dengan normal, rasanya aku seperti sedang diangkat ke langit untuk dijatuhkan saat itu juga.&#xA;&#xA;&#34;Dan harusnya lo sadar baiknya gue ke lo dan baiknya gue ke orang lain itu beda, Agrna. Gue ke lo itu tulus karena gue mau lakuin itu buat lo, sedangkan ke yg lain itu karena memang sekedar bantu. Dari awal kenal lo, gue gak mau salah langkah, karena pribadi lo yg terlalu tertutup juga buat gue bertanya-tanya. ‘Kalau gue deketin Agrna, dia bakalan ngejauh ga ya?’, itu yg selalu ada dibenak gue, Ra. Lo inget di hari lo ulang tahun dan gue buatin gelang? Itu sengaja Ra, gue harus belajar buat gelang kayak gitu selama 2 minggu sama Bunda, tapi hari dimana gelangnya mau gue kasih, Elida keburu nanya itu kado buat siapa? Makanya gue telat 4 harian buat ngasih ke lo, karena gue harus buatin Elida juga, biar lo gak curiga. Bahkan hari dimana lo ngambek gue tinggal makan sendirian di kantin bude, itu sebenernya juga buat lo, Ra. Gue takut kalau lo ikut gue ke jcloud, lo bakalan telat sampe kampus lagi, padahal siangnya masih ada rakoor, gue cuma gak mau lo dicap jelek sama kating angkatan atas, Ra. Itu doang.&#34;&#xA;&#xA;Untuk beberapa saat, aku lupa bagaimana caranya menarik nafas. Mataku juga berhenti berkedip. Dadaku seperti ingin meledek dalam hitungan detik. Jawaban Wije terlalu mengejutkan buatku, aku tidak mau percaya tapi ini kenyataannya. Aku membeku di sekujur tubuh. Bahkan, untuk merasakan emosi saja aku tidak bisa.&#xA;&#xA;&#34;Tapi setelah itu lo ternyata ketemu sama Mark ya, Ra? Kehadiran Mark itu sebenernya adalah jawaban dari keraguan gue. Gue yang awalnya ragu harus maju atau mundur buat perjuangin lo, ternyata harus mundur saat itu juga, Ra.&#34; aku yang masih membisu tidak menyangka kalau Wije menghadiahkan senyum. Dia seperti tidak ingin aku goyah. &#xA;&#xA;&#34;Lagi-lagi ada orang lain yang harus gantiin posisi gue. Dan orang lain ternyata yang paling cocok ngisi dibagian itu, bukan gue, Ra.&#34; katanya terakhir sebelum akhirnya kami sampai di depan rumahku. Tatapan terluka terlintas di wajah Wije saat mobilnya berhenti. Aku menatapnya lebih dalam lagi.&#xA;&#xA;&#34;Agrna, lo harus bahagia sama Mark. Kebahagiaan lo, gue anggap balasan dari perasaan yang selama ini gue pendam. Langgeng ya, Ra, restu gue ada buat lo berdua.&#34;&#xA;&#xA;Dan aku menangis, entah karena apa.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Malam terakhir di bulan November ini aku habiskan dengan menemani Wije berbelanja seharian. Membeli kado spesial untuk orang yang istimewa katanya. Itu Bundanya.</p>

<p>“Ra <em>sorry</em> pulangnya kemaleman.” Wije bersuara tanpa menoleh dan tetap lurus pandangannya kepada jalanan yang kami telusuri. Sekarang sudah pukul 8 malam, masih belum terlalu terlambat untuk pulang ke rumah, tapi kalau dihitung sejak kami pergi tadi ini memang sudah cukup lama, sih.</p>

<p>“Gapapa ih lebay deh. Gue juga udah pamit sama Mami.” Aku yang saat itu baru saja menguncir rambut pun menepuk pelan lengan kiri Wije. Dia terlalu berlebihan kalau bilang jam 8 malam itu sudah kemalaman. Dan kemudian kami berdua tertawa hambar.</p>

<p>“<em>Thanks</em> ya, Ra.” katanya dengan suara yang tidak terlalu lantang tapi aku tau dia menyembunyikan senyum.</p>

<p>“Hehehe sama-sama. Kapan Je ultah nyokap lo?”</p>

<p>“Lusa Bunda ulang tahun. 2 Desember.” terangnya dan aku mengangguk.</p>

<p>“Salam ya Je! Sampein doa gue ke Bunda lo, panjang umur sehat selalu, terus untuk urusan kayak pekerjaan dan rezekinya dimudahkan sama Tuhan. Daann, makin cantik!”</p>

<p>“Hahaha okey, aamiin aamiin. Nanti gue sampein.”</p>

<p>“Gue penasaran sama nyokap lo orangnya gimana deh, pasti cantik banget secara gitu, lo kan ganteng.”</p>

<p>Nathaniel Wijaya yang punya nama <em>beken</em> Wije ini tertawa sendiri. Padahal letak lucu ucapanku tadi ada disebelah mana, aku tidak tau.
“Lo pernah ketemu bunda, Ra.”</p>

<p>Aku menggeleng karena merasa hal itu tidak pernah terjadi. Bukan, aku sedang tidak lupa, tapi, aku memang beneran belum pernah merasa bertemu dengan Bundanya Wije. “Kapan?” tanyaku mengintimidasi.</p>

<p>“Waktu itu, pas ada yang titipin bekal makan siang buat gue, hari dimana kita kerja rodi ngebangun gate gapura acara BEM, Ra. Lupa lo ya?”</p>

<p>Aku memicingkan mataku sambil menepuk dengkul dua kali untuk berfikir keras. Tapi entah aku masih belum bisa menemukan ingatan itu. “Bentar, yang mana sih?” kataku semakin memaksa untuk mengingat.</p>

<p>Wije tertawa seperti sedang menertawakan tingkahku dan aku cuma bisa menggali lagi ingatan yang benar-benar aku lupa kubur disebelah mana.
“Hahaha, itu loh, mbak-mbak cantik yang nganterin kotak bekal buat gue di parkiran fakultas itu Ra, mbak itu sebenernya bunda gue.”</p>

<p>Aku membulatkan mata seketika. Ingatan tentang mbak cantik yang waktu itu mengantarkan bekal ditengah hari untuk Wije sih aku ingat, tapi, itu Bunda Wije?</p>

<p>“ANJIR IH KOK MUDA BANGET?” kataku meloncat kaget, Wije hanya bisa tertawa puas.</p>

<p>“Emang masih muda. Bunda nikah sama Ayah waktu umur 18 tahun, bener-bener lulus SMA. berhasil lahirin gue di umur 20 tahun setelah 2 kali keguguran sebelumnya.”</p>

<p>Aku cepat-cepat menatap Wije yang tidak juga merubah ekspresi wajahnya. Dia kelihatan serius dan aku sepertinya tidak boleh bilang dia bohong. “Pantes lo sayang banget ke nyokap lo ya Je, perjuangan buat dapetin anak pertama kayak lo aja susah. Tapi beneran itu Bunda lo gak sih??” tanyaku lagi dan dia masih mengangguk meyakinkan.</p>

<p>Pandangan Wije yang semula hanya kepada jalanan kini berubah ke arahku. Oke, dia jujur.</p>

<p>“Iya, beneran Bunda gue. Tapi gue anak tunggal, Ra.”</p>

<p>“Anak tunggal?”</p>

<p>“Iya, setelah lahiran gue, bunda punya masalah sama rahimnya padahal masih muda banget waktu itu. Kata bunda sih dengan adanya gue, dia sudah sangat bersyukur.”</p>

<p>Aku setuju dan menjawab, “Yah gue juga klo punya anak bentukannya kayak lo udah bersyukur lahir batin kali Je!”</p>

<p>Wije tertawa lagu entah sudah ke yang berapa kali. “Bisa aja hahaha.”</p>

<p>Setelah itu, aku tidak melihat ke arah Wije lagi. Konsentrasiku sempat diganggu karena malam ini, radio kesayangan memutarkan lagu yang sangat aku suka. Maroon 5 penyanyinya, judulnya <em>Lost Stars.</em> Aku kira, Wije tidak tau lagu ini, tapi ternyata dia ikut bersenandung perlahan. Wajar sih, ini lagu semuaorang suka, pasti dia hapal.</p>

<p>“Eh, <em>btw</em>, Je lo kenapa gak ikutan proyek kayak Mark dan Redo gitu deh? Lo malah bikin proyekan sendiri pake dana bokap lo lagi.” cerita tentang Wije yang membuat proyek penelitian menggunakan dana pribadi itu sudah bukan rahasia lagi, kami, <em>anak-anak divisi dekdok</em>, pernah membicarakan hal ini sebelumnya tapi belum ada jawaban yang memuaskan dari Wije. Maka dari itu, aku bertanya mumpung masih ada orangnya.</p>

<p>“Susah, Ra, Ayah kalau kerja sering diluar kota sampe berminggu-minggu dan gue anak tunggal. Bunda sama siapa kalau gue pergi?”</p>

<p>Alasannya begitu. Aku merinding seketika.
“Oh iya juga ya, kasian Bunda lo. Tapi gue denger-denger yang harusnya pergi proyekan itu lo ya Je bukannya Redo?” tanyaku lagi karena sudah terlanjur penasaran mengenai kebenaran cerita itu.</p>

<p>“Iya.” jawabnya cepat. “Gue tolak dengan alasan gue mau bikin proyek sendiri di kampus. Lagian ya, ra, Redo udah paling pas untuk gantiin posisi gue. Walaupun gue, yaahh, ada lah dikit-dikit rasa pingin pergi juga ke Kanada, tapi gak apa-apa, <em>gak semua hal harus gue yang beneran isi kehadirannya</em>, kadang <em>dengan adanya orang lain untuk gantiin posisi itu bakalan lebih baik hasilnya.</em>” Wije tersenyum sekilas ketika mata kami bertemu, aku merasakan ada ketulusan dari ucapannya itu.</p>

<p>“Jago lo ya kalau ngomong! hahahaha.”</p>

<p>Kemudian hening, kami sama-sama menikmati jalanan yang sedang setengah macet itu ditemani dengan merdunya suara Adam Levine. Aku tidak tau lagu kesukaan Wije yang bergenre seperti apa, tapi, kalau dilihat dari perawakannya yang tenang dan santai ini, sepertinya dia suka lagu-lagu dengan tempo santai. Mungkin semacam Jazz, atau Pop-ballad. Mungkin.</p>

<p>Satu lagu yang kami nyanyikan bersama secara perlahan itu pun selesai. Aku masih menanti lagu selanjutnya karena suasana kami saat ini sedang canggung. Tidak tau kenapa, padahal masih banyak yang ingin aku sampaikan ke Wije. Isi kepalaku sudah penuh dan aku seperti ingin segera bertanya kepadanya, tapi lidahku kelu. Kami memang berteman, bahkan sudah cukup lama, sejak awal ikut serta dalam kepanitiaan BEM, kami adalah teman baik. Tapi, tidak boleh lupa, kecemburuan Mark kepada Wije, adalah alasan aku pernah menangis waktu itu. Makanya, aku sangat canggung sekarang.</p>

<p>Lalu, aku tersenyum, lagu selanjutnya pun terputar. Lagu lama yang masih samar-samar diingatan. Aku hapal beberapa bagian liriknya tapi judulnya apa ya. Saat ini, aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus lanjut mendengarkan musik saja atau malah mengatakan apa yang sejak tadi ingin keluar dari bibirku.</p>

<p>“Je...” panggilku ke Wije dan dia hanya menjawab <em>&#39;ya&#39;</em> dengan santai. “Lo tau trend di tiktok yang diambil dari <em>interview</em> Billie Eilish gak?” lanjutku dan melirik ke arahnya.</p>

<p>Wije mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau.
“Yang mana? Gue gak main tiktok, Ra.”</p>

<p>“Itu, yang Billie bilang kurang lebih gini, <em>‘everyones gonna die and no one will remember you, so..’</em> <em>and then</em> semua orang yg join trend itu langsung ngungkapin perasaannya ke orang yg selama ini dia suka.”</p>

<p>“Terus-terus?”</p>

<p>“Gue tau kalau ngomongin ini bakalan salah karena waktunya gak tepat banget, tapi, gue rasa udah gak ada yg harus gue tahan lagi, Je.”</p>

<p>“Tentang gue, Ra?”</p>

<p>Aku berdeham pelan. Aku jawab pertanyaannya dengan deru jantung yang menggebu. “Iya je. Tentang perasaan yg gue punya buat lo. Lo janji jangan komen apa-apa dulu ya sampe gue selesai?”</p>

<p>Wije hanya mengangguk tidak menjawab.</p>

<p>Aku menarik nafas dalam-dalam. Dengan tangan yang semakin dingin aku mencoba untuk bersuara. “Gue suka lo Je, sukaaa banget, lo orang pertama yang gue ceritain selembut apa tutur katanya ke Papi, bahkan, lo orang pertama yang gue deskripsiin semanis apa senyumnya ke Mami. Lo juga orang pertama yang gue tunggu kehadirannya di sekret kalau lagi radiv malem-malem, bagian gue cari perhatian di grup divisi untuk sekedar bilang <em>semangat ya guys,</em> itu juga masih lo yang gue tunggu untuk jawab <em>‘makasih ra, lo juga semangat.&#39;”</em></p>

<p>Wije hanya menatapku tanpa berbicara. Dia masih belum memberhentikan laju mobilnya meskipun aku tau dia kelewat kaget sekarang.</p>

<p>“Mungkin lo bertanya-tanya Je, kenapa gue bisa naksir lo? Jawabannya <em>simple,</em> karena lo orang pertama yang bisa bikin gue nyaman tanpa harus nyari zona nyamannya gue; yaitu <em>kabur.</em> Lo inget pertama kali kumpulan acara BEM dan gue ditunjuk jadi sekoor divisi, itu gue paniknya minta ampun karena gak sanggup berhadapan sama banyak orang. Tapi lo disana, lo ngeyakinin gue, lo bilang ke gue untuk gak kabur dan bertahan diposisi gue karena lo akan selalu ada disamping gue. Bahkan untuk kak Joey juga. Harusnya waktu itu gue mikir, kalau lo cuma basa-bisa biar gue gak panik sesaat, tapi nggak Je, lo beneran ada disaat-saat gue ngerasa udah gak sanggup lagi bahkan berpikiran untuk kabur. Banyak hal yang lo kasih tunjuk ke gue untuk ngebuktiin kalau punya perasaan ke lo itu gak salah, Je, tapi gue gak tau maksud kebaikan lo apa? Bahkan gue gak tau perasaan lo ke gue gimana? Atau malah sebenernya ada orang lain di hati lo? Makanya gue pendem selama ini perasaan gue dan lebih baik begitu....” ucapanku menggantung, aku hirup nafas dalam-dalam dan Wije masih diam. “...baik buat gue lebih tepatnya, Je.”</p>

<p>Pandangan wajah santai Wije yang tadi dia berikan kini menghilang dan dia memalingkan wajahnya. “Wah panjang banget ya Je? Takut lo nyetir gak fokus dengerin gue ngomong terus. <em>Sorry</em>, ya Je, tapi gue udah lega setelah ngomong apa yang gue rasa. Daaannn, gue harap lo memaklumi gue malam ini, gue cuma gak mau menua dalam keadaan memendam perasaan lama. Tentang jawaban lo itu terserah Je, karena emang gue gak pernah minta lo buat bales, karena nih ya kalau lo tanya perasaan gue sekarang buat lo tuh gimana? Gue juga gak tau, gue ada Mark, gue udah sayang banget ke dia, bahkan gue gak mau yang lain kalau bukan Mark orangnya. Tapi perasaan gue ke lo, masih belum juga ilang.”</p>

<p>Aku mendesah dan memukul keningku sekali setelahnya. Aku benar-benar berada diujung tebing. “Tai banget gue terdengar sok <em>playgirl</em> gitu ya, Je? Hahaha tapi plis gue juga gak tau gue kenapa, isi kepala gue tuh udah penuh banget, Je, kayak emang gua harus bilang ini ke lo, karena gue tu-”</p>

<p>“Ra...” Wije memotong ucapanku. Aku menoleh ke arahnya yang menatapku sendu. “Sekarang gue udah boleh ngomong?”</p>

<p>Aku terdiam. “Boleh Je.”</p>

<p>“Gue juga sayang sama lo, Ra.” detik itu jantungku berhenti berdetak. Aku tidak merasakan aliran darah berjalan dengan normal, rasanya aku seperti sedang diangkat ke langit untuk dijatuhkan saat itu juga.</p>

<p>“Dan harusnya lo sadar baiknya gue ke lo dan baiknya gue ke orang lain itu beda, Agrna. Gue ke lo itu tulus karena gue mau lakuin itu buat lo, sedangkan ke yg lain itu karena memang sekedar bantu. Dari awal kenal lo, gue gak mau salah langkah, karena pribadi lo yg terlalu tertutup juga buat gue bertanya-tanya. <em>‘Kalau gue deketin Agrna, dia bakalan ngejauh ga ya?’</em>, itu yg selalu ada dibenak gue, Ra. Lo inget di hari lo ulang tahun dan gue buatin gelang? Itu sengaja Ra, gue harus belajar buat gelang kayak gitu selama 2 minggu sama Bunda, tapi hari dimana gelangnya mau gue kasih, Elida keburu nanya <em>itu kado buat siapa?</em> Makanya gue telat 4 harian buat ngasih ke lo, karena gue harus buatin Elida juga, biar lo gak curiga. Bahkan hari dimana lo ngambek gue tinggal makan sendirian di kantin bude, itu sebenernya juga buat lo, Ra. Gue takut kalau lo ikut gue ke jcloud, lo bakalan telat sampe kampus lagi, padahal siangnya masih ada rakoor, gue cuma gak mau lo dicap jelek sama kating angkatan atas, Ra. Itu doang.”</p>

<p>Untuk beberapa saat, aku lupa bagaimana caranya menarik nafas. Mataku juga berhenti berkedip. Dadaku seperti ingin meledek dalam hitungan detik. Jawaban Wije terlalu mengejutkan buatku, aku tidak mau percaya tapi ini kenyataannya. Aku membeku di sekujur tubuh. Bahkan, untuk merasakan emosi saja aku tidak bisa.</p>

<p>“Tapi setelah itu lo ternyata ketemu sama Mark ya, Ra? Kehadiran Mark itu sebenernya adalah jawaban dari keraguan gue. Gue yang awalnya ragu harus maju atau mundur buat perjuangin lo, ternyata harus mundur saat itu juga, Ra.” aku yang masih membisu tidak menyangka kalau Wije menghadiahkan senyum. Dia seperti tidak ingin aku goyah.</p>

<p><em>“Lagi-lagi ada orang lain yang harus gantiin posisi gue. Dan orang lain ternyata yang paling cocok ngisi dibagian itu, bukan gue, Ra.”</em> katanya terakhir sebelum akhirnya kami sampai di depan rumahku. Tatapan terluka terlintas di wajah Wije saat mobilnya berhenti. Aku menatapnya lebih dalam lagi.</p>

<p>“Agrna, lo harus bahagia sama Mark. Kebahagiaan lo, gue anggap balasan dari perasaan yang selama ini gue pendam. Langgeng ya, Ra, restu gue ada buat lo berdua.”</p>

<p>Dan aku menangis, entah karena apa.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/rasa-dan-penggantinya</guid>
      <pubDate>Fri, 05 Nov 2021 17:05:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Jarak dan Benci</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/jarak-dan-benci?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Barang udah semua, Bang? Tasnya gak ada yang tinggal, &#39;kan?&#34; itu suara Maminya Agrna. Gue duduk di salah satu kursi dekat mereka. Tidak ada Agrna disebelah gue, dia masih berdiri di samping Abangnya memeriksa semua barang yang dibawa.&#xA;&#xA;&#34;Udah, Mi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mami gak mau ya Bang kalau disuruh anter-anter barangnya. Jauh. Abang nanti beli aja disana semisal, kalau, beneran ada yang tinggal ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Mi.&#34;&#xA;&#xA;Setidaknya begitu percakapan mereka yang bisa gue dengar secara diam-diam. Kata Agrna, Maminya itu sangat protektif ke Bang Jaydn, ternyata malam ini gue bisa menyaksikan itu. Agrna tiba 15 menit setelah gue tiba, dia bersama Mami, Papi dan Abangnya. Kalau bisa gue jelasin keluarga itu sangat berbeda, dari cara mereka turun dari mobil bahkan berjalan ke arah rombongan, mereka terlihat berkelas. Bahkan, entah kenapa dari kedatangannya saja, mereka sudah menyihir semuaorang untuk segera menatap ke arah mereka.&#xA;&#xA;Begitu juga gue. Gue terus menatap Agrna. Papinya tadi menyapa gue sekilas, kemudian gue salim bergantian dengan Maminya juga. Ada perasaan menggebu dalam diri gue. Ternyata, gue begini karena harus segera pergi jauh meninggalkan semua yang ada di Indonesia. Termasuk perempuan yang sekarang tersenyum manis disebrang sana. Agrna belum menghampiri gue, katanya malu ada Papinya. Gue juga malu, jadi ya udah, nanti dulu saja. Asal dia ada disana, dalam jarak yang bisa gue tatap, itu gak apa-apa. Nanti gue peluk kalau sudah harus pamit.&#xA;&#xA;Malam ini, gue tidak diantar Ayah dan Ibu. Tapi tadi Ibu sudah menelpon. Katanya, malam ini ada acara kirim doa untuk 3 hari kepergian Eyang Uti. Keluarga gue semua ada di Bogor, cuma gue yang di Bandara untuk pergi jauh ke negri orang. Gue harus pergi ke Canada, kota Vancouver tujuan kami. Melepas pergi kaki ini dari tanah air juga dia yang tinggal. Harusnya senang karena akhirnya hari ini datang. Tapi ternyata, bagian sedihnya juga ada banyak, semua bisa menjadi hal sedih kalau Agrna kesepian adalah jawabannya. Gue gak bisa begitu tapi mau gimana lagi.&#xA;&#xA;Agrna melepas kepergian gue dan gue menjadi yang paling lemah rupanya malam ini. Sudah memang tidak ada keluarga yang mangantarkan, harus pula pergi melepas Agrna sendiri disini. Dari dulu, julukan si paling setia itu melekat di bahu gue. Kebetulan, gue juga tipe orang yang sangat setia, ini beneran. Karena gue punya janji, kalau nanti waktunya untuk pulang ke Indonesia, harus masih Agrna yang gue mau. Bukan bule Canada seperti yang dia takutkan.&#xA;&#xA;Ada kalanya orang-orang benci jarak, bahkan sekarang gue yang belum berangkat pun jadi ikut-ikutan benci. Belum lagi semua panggilan untuk segera pergi dan bersiap meninggalkan, itu juga gue rada benci sedikit. Tapi gue gak bisa benci Airport, ini menjadi satu-satunya tempat yang menerbangkan gue jauh dan memulangkan gue kembali ke pelukan dia yang gue rindukan.&#xA;&#xA;Agrna melirik, seakan tau kalau gue daritadi ngomongin dia dalam hati. Gue panggil dia dengan satu gerakan tangan kemari dan dia mengiyakan untuk datang. Agrna duduk disamping gue, tangannya dingin setelah gue genggam. Gantian, kemarin tangan gue yang seperti batu, sekarang dia. Dua kali tangan halus itu gue tiup perlahan agar menghangat. Rupanya dia suka. Gue juga suka karena kami masih saling menggenggam. &#xA;&#xA;&#34;Tidur kalau kamu ngantuk.&#34; gue mempersilahkan dia istirahat karena kami boarding masih satu jam lagi. Dia setuju kemudian menidurkan kepalanya di bahu gue. Gue gak bisa melihat dengan jelas ekspresi Papi dan Maminya Agrna yang tadi sempat menunjuk ke arah kami, tapi yang gue tau, Papinya Agrna tertawa. Entah karena apa. Pacarnya Bang Jaydn baru sampai, duduk diantara keluarga Agrna menggantikan Agrna yang tadi duduk disana.&#xA;&#xA;Malam ini, Agrna saya pinjam dulu ya, Om dan Tante.&#xA;&#xA;Dia tidur, benar-benar tertidur di samping gue. Mata gue belum mau ikut tidur walaupun tadi ngantuk. Redo yang sibuk melakukan sesi foto-foto dengan anggota tim yang berangkat meledek gue. Dia bilang gue sangat bucin, biarin, dia begitu karena gak punya perempuan kesayangan di sampingnya. Tapi Redo punya adik perempuan yang sejak tadi disuruh menjadi juru foto, kalau bisa gue tebak dia pasti kesal bukan main.&#xA;&#xA;Saat yang paling gue benci pun datang. Panggilan untuk keberangkatan kami akhirnya berkumandang.&#xA;&#xA;&#34;Ra,&#34; gue menepuk sedikit tangan Agrna dan dia bangun. &#34;Bangun, aku udah mau berangkat.&#34;&#xA;&#xA;Agrna merubah ekspresinya. Ini bukan ekspresi yang gue suka karena dia sedih. &#34;Dadah.&#34; katanya dan gue terkekeh.&#xA;&#xA;&#34;Kamu bisa bangun?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bisa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yuk, kita semua foto dulu terakhir sebelum boarding!&#34; itu Redo yang punya ide. Kami semua setuju, berjejerlah sembilan orang laki-laki di depan kumpulan tas koper yang berada di tengah bandara. Keluarga yang hadir semuanya berkumpul mengangkat handphone masing-masing untuk mengabadikan momen keberangkatan kami. Keluarga dari Yordan ada yang menangis pertama kali, diikuti semua Ibu-ibu yang hadir malam ini. Bukan lebay tapi ya gitu. Di Bandara, bukan cuma kami yang pergi tapi kesedihan paling terasa ya dirombongan ini.&#xA;&#xA;Panggilan selanjutnya terdengar dan itu benar adalah pesawat kami. Butuh waktu yang lama ternyata untuk benar-benar melepas kepergian ini. Agrna kembali memeluk Abangnya, itu pelukan hangat yang bisa gue lihat. Kemudian semuanya berjalan ke arah terminal 2. Langkah semuaorang menjadi sangat berat begitu juga gue. &#xA;&#xA;&#34;Ra,&#34; gue mengamit pergelangan tangannya untuk pergi mengobrol berdua sebentar, Agrna menurut dan ikut gue.&#xA;&#xA;Kami, gue dan Agrna, bersembunyi dibalik papan iklan Traveloka yang besar. Tanpa semangat, gue bilang ke dia, &#34;Ra, aku pamit.&#34;&#xA;&#xA;Dia juga menjawab dengan tidak semangat. &#34;Safe flight, ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku kirim email waktu itu, kamu belum baca?&#34;&#xA;&#xA;Agrna kaget dari ekspresi wajahnya. &#34;Kamu kirim email? Belum. Aku belum baca.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke, nanti aja ya. Tapi kalau memang gak sempat juga gak usah, Ra. Itu aku ngetik gak jelas.&#34;&#xA;&#xA;Dia mencubit perut gue pelan. &#34;Ih jangan buat penasaran!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku lama perginya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan ilang.&#34; balasnya. Gue sentil hidung mungilnya itu gemas.&#xA;&#xA;&#34;Harus ngilang sebentar karena aku mabok udara.&#34;&#xA;&#xA;Dia terkekeh. &#34;Mark, jaga kesehatan, ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu juga sehat ya.&#34;&#xA;&#xA;Masih dengan tatapan yang sama, gue dengan perlahan menarik dia dalam dekapan. Kami sama-sama mengeratkan pelukan ini seperti tidak ada yang mau ditinggal. Aroma shampoo Agrna masih sama, manis dan meninggalkan jejak. Gue suka itu. Suka Agrna juga.&#xA;&#xA;&#34;Jangan jajan aneh-aneh ya, Ra. Kasian Wije anaknya gak biasa makan begituan.&#34;&#xA;&#xA;Dengan cepat Agrna melepas pelukan ini. Dia seperti akan marah. &#34;Gak ada yang mau ajak Wije kok?&#34;&#xA;&#xA;Gue sisir rambutnya dengan jari-jari. &#34;Aku titip kamu ke dia, Ra. Selama aku di Vancouver, kamu pasti sendiri, kasian gak punya tempat ngobrol dan pergi jajan. Aku gak mau kamu badmood sehari kalau gak masuk asupan micin.&#34;&#xA;&#xA;Agrna lagi-lagi menyubit perut gue dan gue cuma bisa mengaduh sakit. &#34;Aku bisa sendiri! Lagian Wije pasti sibuk. Kamu gak usah mikirin aku deh, aku gak apa-apa.&#34; katanya. Tapi gue tau dia bohong.&#xA;&#xA;&#34;Biarin, Ra. Aku jauh soalnya, abang kamu juga jauh, Redo juga kebetulan ikut. Orang yang aku percaya sekarang buat nemenin kamu cuma Wije.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; jawab Agrna perlahan.&#xA;&#xA;Gue gak bisa menatap wajahnya lagi karena dia menunduk. Maka dari itu gue maju satu langkah mendekat ke dia. Karena ini terakhir kali melihat wajahnya, gue dengan perlahan mengangkat wajah Agrna melihat seri indah di wajahnya. Menikmati teduhnya mata dia yang cantik itu. Agrna cantik, dia sempurna buat gue yang merasa dia segalanya. Gue pinggirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya sambil tersenyum. Agrna masih diam memerhatikan gue.&#xA;&#xA;Tanpa aba-aba dan izin dari Agrna, gue kecup sekilas bibirnya. Dia masih diam dan kemudian menutup kedua matanya. Itu terjadi begitu saja. Bahkan, entah angin dari arah mana yang memberanikan gue melakukan itu, gue pun bingung. Setelah tautan bibir kami lepas, gue peluk lagi dia sedikit lebih lama. Tidak ada rasa strawberry seperti rasa lipbalm yang sering Agrna kenakan, mungkin dia lupa pakai karena ini sudah tengah malam. Tapi ternyata, bibir merah muda milik Agrna jauh lebih manis dari perisa buah rasa apapun.&#xA;&#xA;Pelukan itu dengan berat hati gue lepaskan. Kami sama-sama diam meskipun rombongan yang lain sudah jauh di depan sana. &#xA;&#xA;&#34;Aku pamit, ya?&#34;&#xA;&#xA;Gue melenggang pergi ke arah semuaorang berada, bersamaan Agrna yang masih gue genggam tangannya. &#xA;Bagi kami yang sama-sama tidak ingin ditinggalkan, itu tadi adalah 3 detik pertama di jam 11 malam, Bandara tempatnya dan juga kepergian.&#xA;&#xA;Agrna, kalau tadi aku bilang jarak menjadi hal yang paling ku benci, sekarang perlu diralat. Ternyata, melepas genggaman kamu jauh lebih ampuh buat aku benci kenyataan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Barang udah semua, Bang? Tasnya gak ada yang tinggal, &#39;kan?” itu suara Maminya Agrna. Gue duduk di salah satu kursi dekat mereka. Tidak ada Agrna disebelah gue, dia masih berdiri di samping Abangnya memeriksa semua barang yang dibawa.</p>

<p>“Udah, Mi.”</p>

<p>“Mami gak mau ya Bang kalau disuruh anter-anter barangnya. Jauh. Abang nanti beli aja disana semisal, kalau, beneran ada yang tinggal ya.”</p>

<p>“Iya, Mi.”</p>

<p>Setidaknya begitu percakapan mereka yang bisa gue dengar secara diam-diam. Kata Agrna, Maminya itu sangat protektif ke Bang Jaydn, ternyata malam ini gue bisa menyaksikan itu. Agrna tiba 15 menit setelah gue tiba, dia bersama Mami, Papi dan Abangnya. Kalau bisa gue jelasin keluarga itu sangat berbeda, dari cara mereka turun dari mobil bahkan berjalan ke arah rombongan, mereka terlihat berkelas. Bahkan, entah kenapa dari kedatangannya saja, mereka sudah menyihir semuaorang untuk segera menatap ke arah mereka.</p>

<p>Begitu juga gue. Gue terus menatap Agrna. Papinya tadi menyapa gue sekilas, kemudian gue salim bergantian dengan Maminya juga. Ada perasaan menggebu dalam diri gue. Ternyata, gue begini karena harus segera pergi jauh meninggalkan semua yang ada di Indonesia. Termasuk perempuan yang sekarang tersenyum manis disebrang sana. Agrna belum menghampiri gue, katanya malu ada Papinya. Gue juga malu, jadi ya udah, nanti dulu saja. Asal dia ada disana, dalam jarak yang bisa gue tatap, itu gak apa-apa. Nanti gue peluk kalau sudah harus pamit.</p>

<p>Malam ini, gue tidak diantar Ayah dan Ibu. Tapi tadi Ibu sudah menelpon. Katanya, malam ini ada acara kirim doa untuk 3 hari kepergian Eyang Uti. Keluarga gue semua ada di Bogor, cuma gue yang di Bandara untuk pergi jauh ke negri orang. Gue harus pergi ke Canada, kota Vancouver tujuan kami. Melepas pergi kaki ini dari tanah air juga dia yang tinggal. Harusnya senang karena akhirnya hari ini datang. Tapi ternyata, bagian sedihnya juga ada banyak, semua bisa menjadi hal sedih kalau Agrna kesepian adalah jawabannya. Gue gak bisa begitu tapi mau gimana lagi.</p>

<p>Agrna melepas kepergian gue dan gue menjadi yang paling lemah rupanya malam ini. Sudah memang tidak ada keluarga yang mangantarkan, harus pula pergi melepas Agrna sendiri disini. Dari dulu, julukan si paling setia itu melekat di bahu gue. Kebetulan, gue juga tipe orang yang sangat setia, ini beneran. Karena gue punya janji, kalau nanti waktunya untuk pulang ke Indonesia, harus masih Agrna yang gue mau. Bukan bule Canada seperti yang dia takutkan.</p>

<p>Ada kalanya orang-orang benci jarak, bahkan sekarang gue yang belum berangkat pun jadi ikut-ikutan benci. Belum lagi semua panggilan untuk segera pergi dan bersiap meninggalkan, itu juga gue rada benci sedikit. Tapi gue gak bisa benci Airport, ini menjadi satu-satunya tempat yang menerbangkan gue jauh dan memulangkan gue kembali ke pelukan dia yang gue rindukan.</p>

<p>Agrna melirik, seakan tau kalau gue daritadi ngomongin dia dalam hati. Gue panggil dia dengan satu gerakan tangan kemari dan dia mengiyakan untuk datang. Agrna duduk disamping gue, tangannya dingin setelah gue genggam. Gantian, kemarin tangan gue yang seperti batu, sekarang dia. Dua kali tangan halus itu gue tiup perlahan agar menghangat. Rupanya dia suka. Gue juga suka karena kami masih saling menggenggam.</p>

<p>“Tidur kalau kamu ngantuk.” gue mempersilahkan dia istirahat karena kami boarding masih satu jam lagi. Dia setuju kemudian menidurkan kepalanya di bahu gue. Gue gak bisa melihat dengan jelas ekspresi Papi dan Maminya Agrna yang tadi sempat menunjuk ke arah kami, tapi yang gue tau, Papinya Agrna tertawa. Entah karena apa. Pacarnya Bang Jaydn baru sampai, duduk diantara keluarga Agrna menggantikan Agrna yang tadi duduk disana.</p>

<p><em>Malam ini, Agrna saya pinjam dulu ya, Om dan Tante.</em></p>

<p>Dia tidur, benar-benar tertidur di samping gue. Mata gue belum mau ikut tidur walaupun tadi ngantuk. Redo yang sibuk melakukan sesi foto-foto dengan anggota tim yang berangkat meledek gue. Dia bilang gue sangat bucin, biarin, dia begitu karena gak punya perempuan kesayangan di sampingnya. Tapi Redo punya adik perempuan yang sejak tadi disuruh menjadi juru foto, kalau bisa gue tebak dia pasti kesal bukan main.</p>

<p>Saat yang paling gue benci pun datang. Panggilan untuk keberangkatan kami akhirnya berkumandang.</p>

<p>“Ra,” gue menepuk sedikit tangan Agrna dan dia bangun. “Bangun, aku udah mau berangkat.”</p>

<p>Agrna merubah ekspresinya. Ini bukan ekspresi yang gue suka karena dia sedih. “Dadah.” katanya dan gue terkekeh.</p>

<p>“Kamu bisa bangun?”</p>

<p>“Bisa.”</p>

<p>“Yuk, kita semua foto dulu terakhir sebelum <em>boarding!</em>” itu Redo yang punya ide. Kami semua setuju, berjejerlah sembilan orang laki-laki di depan kumpulan tas koper yang berada di tengah bandara. Keluarga yang hadir semuanya berkumpul mengangkat <em>handphone</em> masing-masing untuk mengabadikan momen keberangkatan kami. Keluarga dari Yordan ada yang menangis pertama kali, diikuti semua Ibu-ibu yang hadir malam ini. Bukan lebay tapi ya gitu. Di Bandara, bukan cuma kami yang pergi tapi kesedihan paling terasa ya dirombongan ini.</p>

<p>Panggilan selanjutnya terdengar dan itu benar adalah pesawat kami. Butuh waktu yang lama ternyata untuk benar-benar melepas kepergian ini. Agrna kembali memeluk Abangnya, itu pelukan hangat yang bisa gue lihat. Kemudian semuanya berjalan ke arah terminal 2. Langkah semuaorang menjadi sangat berat begitu juga gue.</p>

<p>“Ra,” gue mengamit pergelangan tangannya untuk pergi mengobrol berdua sebentar, Agrna menurut dan ikut gue.</p>

<p>Kami, <em>gue dan Agrna,</em> bersembunyi dibalik papan iklan Traveloka yang besar. Tanpa semangat, gue bilang ke dia, “Ra, aku pamit.”</p>

<p>Dia juga menjawab dengan tidak semangat. “<em>Safe flight,</em> ya.”</p>

<p>“Aku kirim email waktu itu, kamu belum baca?”</p>

<p>Agrna kaget dari ekspresi wajahnya. “Kamu kirim email? Belum. Aku belum baca.”</p>

<p>“Oke, nanti aja ya. Tapi kalau memang gak sempat juga gak usah, Ra. Itu aku ngetik gak jelas.”</p>

<p>Dia mencubit perut gue pelan. “Ih jangan buat penasaran!”</p>

<p>“Aku lama perginya.”</p>

<p>“Jangan ilang.” balasnya. Gue sentil hidung mungilnya itu gemas.</p>

<p>“Harus ngilang sebentar karena aku mabok udara.”</p>

<p>Dia terkekeh. “Mark, jaga kesehatan, ya.”</p>

<p>“Kamu juga sehat ya.”</p>

<p>Masih dengan tatapan yang sama, gue dengan perlahan menarik dia dalam dekapan. Kami sama-sama mengeratkan pelukan ini seperti tidak ada yang mau ditinggal. Aroma shampoo Agrna masih sama, manis dan meninggalkan jejak. Gue suka itu. Suka Agrna juga.</p>

<p>“Jangan jajan aneh-aneh ya, Ra. Kasian Wije anaknya gak biasa makan begituan.”</p>

<p>Dengan cepat Agrna melepas pelukan ini. Dia seperti akan marah. “Gak ada yang mau ajak Wije kok?”</p>

<p>Gue sisir rambutnya dengan jari-jari. “Aku titip kamu ke dia, Ra. Selama aku di Vancouver, kamu pasti sendiri, kasian gak punya tempat ngobrol dan pergi jajan. Aku gak mau kamu <em>badmood</em> sehari kalau gak masuk asupan micin.”</p>

<p>Agrna lagi-lagi menyubit perut gue dan gue cuma bisa mengaduh sakit. “Aku bisa sendiri! Lagian Wije pasti sibuk. Kamu gak usah mikirin aku deh, aku gak apa-apa.” katanya. Tapi gue tau dia bohong.</p>

<p>“Biarin, Ra. Aku jauh soalnya, abang kamu juga jauh, Redo juga kebetulan ikut. Orang yang aku percaya sekarang buat nemenin kamu cuma Wije.”</p>

<p>“Iya,” jawab Agrna perlahan.</p>

<p>Gue gak bisa menatap wajahnya lagi karena dia menunduk. Maka dari itu gue maju satu langkah mendekat ke dia. Karena ini terakhir kali melihat wajahnya, gue dengan perlahan mengangkat wajah Agrna melihat seri indah di wajahnya. Menikmati teduhnya mata dia yang cantik itu. Agrna cantik, dia sempurna buat gue yang merasa dia segalanya. Gue pinggirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya sambil tersenyum. Agrna masih diam memerhatikan gue.</p>

<p>Tanpa aba-aba dan izin dari Agrna, gue kecup sekilas bibirnya. Dia masih diam dan kemudian menutup kedua matanya. Itu terjadi begitu saja. Bahkan, entah angin dari arah mana yang memberanikan gue melakukan itu, gue pun bingung. Setelah tautan bibir kami lepas, gue peluk lagi dia sedikit lebih lama. Tidak ada rasa <em>strawberry</em> seperti rasa lipbalm yang sering Agrna kenakan, mungkin dia lupa pakai karena ini sudah tengah malam. Tapi ternyata, bibir merah muda milik Agrna jauh lebih manis dari perisa buah rasa apapun.</p>

<p>Pelukan itu dengan berat hati gue lepaskan. Kami sama-sama diam meskipun rombongan yang lain sudah jauh di depan sana.</p>

<p>“Aku pamit, ya?”</p>

<p>Gue melenggang pergi ke arah semuaorang berada, bersamaan Agrna yang masih gue genggam tangannya.
Bagi kami yang sama-sama tidak ingin ditinggalkan, itu tadi adalah 3 detik pertama di jam 11 malam, Bandara tempatnya dan juga kepergian.</p>

<p><em>Agrna, kalau tadi aku bilang jarak menjadi hal yang paling ku benci, sekarang perlu diralat. Ternyata, melepas genggaman kamu jauh lebih ampuh buat aku benci kenyataan.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/jarak-dan-benci</guid>
      <pubDate>Sat, 23 Oct 2021 13:57:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pemenang</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/pemenang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Aku menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Langkahku benar-benar pelan, ku genggam penyangga di sebelah kanan sebagai tumpuanku agar tidak tumbang. Abang berada di ujung anak tangga sana menungguku untuk cepat sampai dan cepat menemui seseorang yang sangatku hindari.&#xA; &#xA;Setelah benar-benar sampai aku bisa melihat samar tubuhnya yang tertutupi pot besar di samping meja bulat. Itu Mark. Dia belum sadar aku sudah berada di jarak sedekat ini, Papi masih mengajaknya tenggelam dalam keseruan permainan catur. Hatiku melega entah kenapa, ada guratan senyum di wajah Papi hanya karena permainan santai itu dengan Mark. Mereka cocok kalau kataku.&#xA; &#xA;&#34;Dek!&#34; seru Mami mengejutkan. Aku cepat-cepat pergi menghampirinya yang datang dengan nampan berisikan 2 cangkir teh hangat. Itu pasti untuk Mark dan Papi karena abang tidak suka minum teh malam-malam begini. “Tolong diantar ke temannya itu ya, Mba Oni lagi nidurin anaknya rewel.” Aku mengangguk setelah nampan sudah dalam kuasaku dan memulai langkah dengan pasti. Pasti gemetar karena harus bertemu Mark sih lebih tepatnya.&#xA; &#xA;Mark tersenyum setelah tau aku datang, Papi menyambutku dengan menepuk jok sofa disebelahnya. Aku duduk di samping Papi dan melirik ke arah Mark yang masih juga tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum walaupun canggung. &#xA;&#xA;Abang curang, harusnya dia juga berada disini menemani kami, tapi entah mengapa malah pergi dan ikut duduk bersama mami di depan TV. Itu adalah sinetron kesukaan Ibu-ibu zaman sekarang, Ikatan Cinta judulnya dengan pemeran utamanya bernama Aldebaran juga Andin. Mami ikut terkena virus Mas Al karena Mba Oni, aku sering mengomel ke Mba Oni ketika Mami sedang dalam mode fangirling kalau Mas Alnya nongol di salah satu iklan, karena itu sangat menyebalkan untukku.&#xA; &#xA;Dalam permainan yang cukup seru untuk dua orang baru bertemu itu, Papi banyak bicara juga bertanya pada Mark. Pertanyaan umum seperti, Papa kamu kerja apa?, Kamu kuliah di NCIT juga?, Kenal Agrna darimana?, dan Kamu tinggalnya dimana? Mark menjawab semua pertanyaan itu dengan jujur dan lurus. Aku tidak perlu khawatir untuk jawabannya karena dia bisa diajak bekerja sama saat ini; untuk memenangkan hati Papi.&#xA; &#xA;Aku tidak merasa bosan, walaupun hanya tertawa kalau mereka berdua tertawa atau ikut berfikir ketika Papi sedang menyusun rencana ke arah mana buah caturnya bergerak. Aku tidak begitu paham dengan permainan catur, hanya ikut duduk saja dan belum pernah bermain sebelumnya. Selang beberapa menit, permainan dimenangkan oleh Papi, aku ikut bersorak ketika Mark mengusap puncak kepalanya gusar karena kalah. Dia kalah tapi masih bisa tertawa, aku tidak mengerti tapi sepertinya dia mencoba menghargai Papi dengan kemenangan pertama itu.&#xA; &#xA;“Sebenarnya Om masih mau lanjut main satu ronde lagi, tapi kayaknya Agrna sudah capek ya dek nunggunya?” ledek Papi kepadaku. “Jadi, Om pamit ke dalam dulu ya. Kamu minum tehnya itu keburu dingin.” tunjuk Papi ke cangkir teh didepan Mark. Setelah itu, Papi benar-benar pergi dan menghilang setelah punggungnya ditelan sekat kayu bermotif bunga diruang tamu untuk menuju ruang tengah.&#xA; &#xA;Sekarang hanya ada aku, Mark dan keheningan. Kami mati kutu setelah Papi pergi.&#xA; &#xA;“Ra,” katanya dan aku langsung menatapnya. “Maaf ya kalau lancang gak izin kamu dulu buat mampir kesini.”&#xA;&#xA;“Iya, gak apa-apa. Lagian diterima juga, ‘kan?”&#xA;&#xA;Mark mengangguk. Sepertinya dia puas karena Papi tidak menyuruhnya pulang begitu saja waktu sampai tadi. Kalau may tau, aku banyak mengabiskan waktu dengan berloncatan di kamar ketika Abang bilang ada Mark disini, aku benar-benar ingin kabur sekali lagi tapi tidak jadi. Aku ingin bertemu Mark dan orangnya sudah ada dihadapanku.&#xA;&#xA;“Aku mau-”&#xA;&#xA;Kupotong cepat-cepat ucapan Mark, kubiarkan itu menggantung karena aku tau dia pasti ingin minta maaf.&#xA;&#xA;“Kita keluar aja yuk, ke taman depan sana. Kalau ngobrol disini takut ada yg dengerin.” itu saran yang paling masuk akal untuk ku ucapkan. Selain takut ada yang mendengar aku lebih takut diledek Papi karena hubungan yang sedang tidak baik-baik saja ini.&#xA;&#xA;Aku mengambil satu potong sweater katun berwarna ungu yang menggantung dekat ruang gosok. Kemudian izin kepada Mami yang masih di ruang tengah, untuk mengobrol dengan Mark diluar. Mami bilang boleh asal jangan lama-lama. Aku jawab, Mami tenang saja kami tidak akan lama.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Maka kami sudah berada disini. Duduk berdua dibangku kayu yang terasa dingin karena udara malam. Suara serangga dan juga deburan angin sangat menelisik indera pendengaran, tapi debaran jantungku masih jauh lebih kencang suaranya dari semua itu. Aku mengintip Mark dari lirikan cepat yang ku lakukan beberapa kali, dia diam tapi seperti ingin memulai suatu percakapan.&#xA;&#xA;“Gak istirahat?” aku bersuara, kemudian dia menoleh.&#xA;&#xA;“Belum, Ra. Aku mana bisa istirahat dengan tenang kalau kita masih kayak gini.” katanya dan aku membuang muka.&#xA;&#xA;“Agrna, maafin aku ya. Aku beneran minta maaf udah kurang ajar kemarin, jahat ke kamu, egois bahkan sangat diluar kendali emosinya.” itu adalah ucapan yang mampu menyengat seluruh tubuhku. Rasanya aku baru saja dibangunkan dari tidur yang menyiksa, tapi perasaan di dadaku belum mereda entah mengapa.&#xA;&#xA;Aku diam walaupun sempat mengangguk sekali saat Mark meminta maaf. Lidahku kelu.&#xA;&#xA;“Nenek aku meninggal Ra.”&#xA;&#xA;Aku tersentak dan menemukan ada bulir airmata disana. Mark seperti menahan tangis.&#xA;&#xA;“Meninggalnya lepas Magrib kemarin. Aku sibuk di Lab, jadi telat dengar kabar dukanya dari Ibu. Sekitar jam 9 malam, waktu aku baru bisa pegang handphone udah ada banyak pesan dan panggilan suara tak terjawab dari keluarga yang ngabarin. Aku telat tau Ra, pas pulang, Ibu udah berangkat ke Bogor.”&#xA;&#xA;Tanpa izin dari yang punya tangan dingin itu, aku langsung menggenggamnya. Aku sedikit meremas jari-jari Mark. Tubuhnya bergetar dan aku tarik dia dalam pelukan sebentar.&#xA;&#xA;“Maaf. Mark, maaf. Aku turut berduka ya.” kataku dan dia semakin kencang menangisnya. Aku tidak bisa bohong kalau malam itu aku juga menangis. Alasan dari tangisanku mungkin memang tidak sepedih dari jatuhnya airmata Mark, tapi yang aku tau aku juga merasakan emosi darinya.&#xA;&#xA;Untuk momen seperti ini, aku rasa ini adalah pertama kali. Emosi kami tumpah hingga kebagian yang paling tidak mengenakkan. Tangisan yang dihadiahi sebuah pelukan menjadi satu malam ini. Disaksikan jutaan bintang dan terangnya rembulan, kami seperti melebur rindu yang paling menyakitkan.&#xA;&#xA;Kami tidak banyak bicara setelah Mark berhenti menangis. Genggamanku masih belum juga dia lepas. Jemari tangannya yang semula dingin kini menghangat. Aku menyesal pergi tadi tidak membawa tissue karena kami malam ini benar-benar kacau. Hidung Mark sangat merah bahkan matanya terlihat lelah. Aku tidak bisa melihat penampilanku, aku yakin aku sangat jelek tadi saat menangis.&#xA;&#xA;“Aku tau kamu pergi sama Wije dari Mukidi.” Mark mulai mengatakan alasan dari marahnya kemarin. Fyuh, oke, aku sudah siap untuk membahas ini.&#xA;&#xA;Aku mengerjap dan menunggunya untuk lanjut bicara.&#xA;&#xA;“Kamu tau Mukidi, Ra? Dia ketua angkatan aku, kemarin sore setelah mereka selesai dari Lab, ternyata Mukidi sama Wije jalan bareng ke parkiran untuk pulang. Dan dia bilang gini ke aku, “Mark cewek lo jalan noh sama Wije.” Aku baca pesan Mukidi setelah baca berita duka, makanya aku beneran gak bisa ngertiin keadaan waktu itu, Ra. Entah berduka, entah cemburu, entah emang beneran lagi kerasukan setan, aku gak ngerti.”&#xA;&#xA;Ganggaman tangan itu tadi hampir ku lepas tapi Mark dengan cepat menariknya kembali sambil menjelaskan. Aku sebenarnya bisa mengerti keadaan Mark kemarin. Maka dari itu aku diam sekarang.&#xA;&#xA;“Aku cemburu sama Wije.”&#xA;&#xA;Aku mengangguk.&#xA;&#xA;“Kamu bisa terima alasan aku cemburu itu, Ra?”&#xA;&#xA;Aku mengangguk lagi.&#xA;&#xA;“Dari seminggu yang lalu, aku ngerasa gak sanggup buat ninggalin kamu jauh ke Canada, Ra. Aku cemburuan, itu jelek sifatnya tapi itu beneran. Seharusnya aku gak boleh begitu karena Wije temanku dan kamu sayangnya ke aku. Tapi gimana ya, Ra..”&#xA;&#xA;Detik itu juga aku tidak bisa menahan tawa. Mark heran, sudah pasti.&#xA;&#xA;“Kenapa ketawa?”&#xA;&#xA;“Lagian aneh, udah tau aku sayangnya kamu tapi kenapa kemarin bilangnya aku jadian sama Wije sih?”&#xA;&#xA;Mark terkekeh. Kemudian mengangkat genggaman tangan kami ke dada kirinya. Menaruh sebagian milikku untuk merasakan debaran jantungnya. &#xA;&#xA;“Aku beneran minta maaf ya? Aku gak punya alasan lain Ra, karena memang begitu adanya. Tolong dimaafin.”&#xA;&#xA;“Dimaafin sih, udah, tapi gak tau masih aja kesel kalau keinget.”&#xA;&#xA;“Wajar, aku keterlaluan banget, Ra. Ternyata, aku gak bisa kontrol emosi soal cemburu-cemburu gitu. Aku masih remedial.” katanya.&#xA;&#xA;Aku memutar bola mataku. Remedial dia bilang.&#xA;&#xA;“Kamu tau kenapa aku sempat ngilang kemarin?” dia bertanya dan aku menggeleng. “Karena aku gak percaya diri. Aku ngerasa selalu kalah kalau disandingin sama Wije, Ra. Aku gak tau kenapa, hati aku kayak menciut kalau saingannya dia.”&#xA;&#xA;“Kenapa Wije?”&#xA;&#xA;Mark diam. Aku tidak tau apa maksudnya dan dia tidak mau menjelaskan. Matanya terus bergerak kesana kemari untuk menyusun jutaan kata di kepalanya. Dan aku ikutan bingung.&#xA;&#xA;“Gak tau.” dia mengangkat kedua bahunya setelah itu. Itu tadi bukan jawaban dari pertanyaanku.&#xA;&#xA;“Kenapa sih? Kamu sama Wije itu bukan suatu perbandingan. Kamu ya kamu, Wije ya Wije. Jadi gak perlu khawatir apalagi insecure gitu. Kamu mah aneh, Mark, Jae aja kamu berani kalahin posisinya dihidup aku, tapi kenapa Wije kamu ngerasa kalah?”&#xA;&#xA;Dari pencahayaan yang remang ini aku masih bisa melihat kalau wajah Mark memerah.&#xA;&#xA;“Uumm.. Jadi, Ra..” dia berbicara terbata-bata. Aku tertawa.&#xA;&#xA;“Aku cuma takut kalah dari Wije, Ra.”&#xA;&#xA;Aku berdecak. “Bukan kamu yang nentuin siapa yang menang atau kalah.”&#xA;&#xA;Karena apapun alasannya, Mark, kamu selalu jadi pemenangnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Aku menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Langkahku benar-benar pelan, ku genggam penyangga di sebelah kanan sebagai tumpuanku agar tidak tumbang. Abang berada di ujung anak tangga sana menungguku untuk cepat sampai dan cepat menemui seseorang yang sangatku hindari.</p>

<p>Setelah benar-benar sampai aku bisa melihat samar tubuhnya yang tertutupi pot besar di samping meja bulat. Itu Mark. Dia belum sadar aku sudah berada di jarak sedekat ini, Papi masih mengajaknya tenggelam dalam keseruan permainan catur. Hatiku melega entah kenapa, ada guratan senyum di wajah Papi hanya karena permainan santai itu dengan Mark. Mereka cocok kalau kataku.</p>

<p>“Dek!” seru Mami mengejutkan. Aku cepat-cepat pergi menghampirinya yang datang dengan nampan berisikan 2 cangkir teh hangat. Itu pasti untuk Mark dan Papi karena abang tidak suka minum teh malam-malam begini. “Tolong diantar ke temannya itu ya, Mba Oni lagi nidurin anaknya rewel.” Aku mengangguk setelah nampan sudah dalam kuasaku dan memulai langkah dengan pasti. <em>Pasti gemetar karena harus bertemu Mark sih lebih tepatnya.</em></p>

<p>Mark tersenyum setelah tau aku datang, Papi menyambutku dengan menepuk jok sofa disebelahnya. Aku duduk di samping Papi dan melirik ke arah Mark yang masih juga tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum walaupun canggung.</p>

<p>Abang curang, harusnya dia juga berada disini menemani kami, tapi entah mengapa malah pergi dan ikut duduk bersama mami di depan TV. Itu adalah sinetron kesukaan Ibu-ibu zaman sekarang, Ikatan Cinta judulnya dengan pemeran utamanya bernama Aldebaran juga Andin. Mami ikut terkena virus Mas Al karena Mba Oni, aku sering mengomel ke Mba Oni ketika Mami sedang dalam mode <em>fangirling</em> kalau Mas Alnya nongol di salah satu iklan, karena itu sangat menyebalkan untukku.</p>

<p>Dalam permainan yang cukup seru untuk dua orang baru bertemu itu, Papi banyak bicara juga bertanya pada Mark. Pertanyaan umum seperti, <em>Papa kamu kerja apa?</em>, <em>Kamu kuliah di NCIT juga?</em>, <em>Kenal Agrna darimana?</em>, dan <em>Kamu tinggalnya dimana?</em> Mark menjawab semua pertanyaan itu dengan jujur dan lurus. Aku tidak perlu khawatir untuk jawabannya karena dia bisa diajak bekerja sama saat ini; untuk memenangkan hati Papi.</p>

<p>Aku tidak merasa bosan, walaupun hanya tertawa kalau mereka berdua tertawa atau ikut berfikir ketika Papi sedang menyusun rencana ke arah mana buah caturnya bergerak. Aku tidak begitu paham dengan permainan catur, hanya ikut duduk saja dan belum pernah bermain sebelumnya. Selang beberapa menit, permainan dimenangkan oleh Papi, aku ikut bersorak ketika Mark mengusap puncak kepalanya gusar karena kalah. Dia kalah tapi masih bisa tertawa, aku tidak mengerti tapi sepertinya dia mencoba menghargai Papi dengan kemenangan pertama itu.</p>

<p>“Sebenarnya Om masih mau lanjut main satu ronde lagi, tapi kayaknya Agrna sudah capek ya dek nunggunya?” ledek Papi kepadaku. “Jadi, Om pamit ke dalam dulu ya. Kamu minum tehnya itu keburu dingin.” tunjuk Papi ke cangkir teh didepan Mark. Setelah itu, Papi benar-benar pergi dan menghilang setelah punggungnya ditelan sekat kayu bermotif bunga diruang tamu untuk menuju ruang tengah.</p>

<p>Sekarang hanya ada aku, Mark dan keheningan. Kami mati kutu setelah Papi pergi.</p>

<p>“Ra,” katanya dan aku langsung menatapnya. “Maaf ya kalau lancang gak izin kamu dulu buat mampir kesini.”</p>

<p>“Iya, gak apa-apa. Lagian diterima juga, ‘kan?”</p>

<p>Mark mengangguk. Sepertinya dia puas karena Papi tidak menyuruhnya pulang begitu saja waktu sampai tadi. Kalau may tau, aku banyak mengabiskan waktu dengan berloncatan di kamar ketika Abang bilang ada Mark disini, aku benar-benar ingin kabur sekali lagi tapi tidak jadi. Aku ingin bertemu Mark dan orangnya sudah ada dihadapanku.</p>

<p>“Aku mau-”</p>

<p>Kupotong cepat-cepat ucapan Mark, kubiarkan itu menggantung karena aku tau dia pasti ingin minta maaf.</p>

<p>“Kita keluar aja yuk, ke taman depan sana. Kalau ngobrol disini takut ada yg dengerin.” itu saran yang paling masuk akal untuk ku ucapkan. Selain takut ada yang mendengar aku lebih takut diledek Papi karena hubungan yang sedang tidak baik-baik saja ini.</p>

<p>Aku mengambil satu potong <em>sweater</em> katun berwarna ungu yang menggantung dekat ruang gosok. Kemudian izin kepada Mami yang masih di ruang tengah, untuk mengobrol dengan Mark diluar. Mami bilang <em>boleh asal jangan lama-lama.</em> Aku jawab, <em>Mami tenang saja kami tidak akan lama.</em></p>

<hr/>

<p>Maka kami sudah berada disini. Duduk berdua dibangku kayu yang terasa dingin karena udara malam. Suara serangga dan juga deburan angin sangat menelisik indera pendengaran, tapi debaran jantungku masih jauh lebih kencang suaranya dari semua itu. Aku mengintip Mark dari lirikan cepat yang ku lakukan beberapa kali, dia diam tapi seperti ingin memulai suatu percakapan.</p>

<p>“Gak istirahat?” aku bersuara, kemudian dia menoleh.</p>

<p>“Belum, Ra. Aku mana bisa istirahat dengan tenang kalau <em>kita</em> masih kayak gini.” katanya dan aku membuang muka.</p>

<p>“Agrna, maafin aku ya. Aku beneran minta maaf udah kurang ajar kemarin, jahat ke kamu, egois bahkan sangat diluar kendali emosinya.” itu adalah ucapan yang mampu menyengat seluruh tubuhku. Rasanya aku baru saja dibangunkan dari tidur yang menyiksa, tapi perasaan di dadaku belum mereda entah mengapa.</p>

<p>Aku diam walaupun sempat mengangguk sekali saat Mark meminta maaf. Lidahku kelu.</p>

<p>“Nenek aku meninggal Ra.”</p>

<p>Aku tersentak dan menemukan ada bulir airmata disana. Mark seperti menahan tangis.</p>

<p>“Meninggalnya lepas Magrib kemarin. Aku sibuk di Lab, jadi telat dengar kabar dukanya dari Ibu. Sekitar jam 9 malam, waktu aku baru bisa pegang <em>handphone</em> udah ada banyak pesan dan panggilan suara tak terjawab dari keluarga yang ngabarin. Aku telat tau Ra, pas pulang, Ibu udah berangkat ke Bogor.”</p>

<p>Tanpa izin dari yang punya tangan dingin itu, aku langsung menggenggamnya. Aku sedikit meremas jari-jari Mark. Tubuhnya bergetar dan aku tarik dia dalam pelukan sebentar.</p>

<p>“Maaf. Mark, maaf. Aku turut berduka ya.” kataku dan dia semakin kencang menangisnya. Aku tidak bisa bohong kalau malam itu aku juga menangis. Alasan dari tangisanku mungkin memang tidak sepedih dari jatuhnya airmata Mark, tapi yang aku tau aku juga merasakan emosi darinya.</p>

<p>Untuk momen seperti ini, aku rasa ini adalah pertama kali. Emosi kami tumpah hingga kebagian yang paling tidak mengenakkan. Tangisan yang dihadiahi sebuah pelukan menjadi satu malam ini. Disaksikan jutaan bintang dan terangnya rembulan, kami seperti melebur rindu yang paling menyakitkan.</p>

<p>Kami tidak banyak bicara setelah Mark berhenti menangis. Genggamanku masih belum juga dia lepas. Jemari tangannya yang semula dingin kini menghangat. Aku menyesal pergi tadi tidak membawa <em>tissue</em> karena kami malam ini benar-benar kacau. Hidung Mark sangat merah bahkan matanya terlihat lelah. Aku tidak bisa melihat penampilanku, aku yakin aku sangat jelek tadi saat menangis.</p>

<p>“Aku tau kamu pergi sama Wije dari Mukidi.” Mark mulai mengatakan alasan dari marahnya kemarin. Fyuh, oke, aku sudah siap untuk membahas ini.</p>

<p>Aku mengerjap dan menunggunya untuk lanjut bicara.</p>

<p>“Kamu tau Mukidi, Ra? Dia ketua angkatan aku, kemarin sore setelah mereka selesai dari Lab, ternyata Mukidi sama Wije jalan bareng ke parkiran untuk pulang. Dan dia bilang gini ke aku, <em>“Mark cewek lo jalan noh sama Wije.”</em> Aku baca pesan Mukidi setelah baca berita duka, makanya aku beneran gak bisa ngertiin keadaan waktu itu, Ra. Entah berduka, entah cemburu, entah emang beneran lagi kerasukan setan, aku gak ngerti.”</p>

<p>Ganggaman tangan itu tadi hampir ku lepas tapi Mark dengan cepat menariknya kembali sambil menjelaskan. Aku sebenarnya bisa mengerti keadaan Mark kemarin. Maka dari itu aku diam sekarang.</p>

<p>“Aku cemburu sama Wije.”</p>

<p>Aku mengangguk.</p>

<p>“Kamu bisa terima alasan aku cemburu itu, Ra?”</p>

<p>Aku mengangguk lagi.</p>

<p>“Dari seminggu yang lalu, aku ngerasa gak sanggup buat ninggalin kamu jauh ke Canada, Ra. Aku cemburuan, itu jelek sifatnya tapi itu beneran. Seharusnya aku gak boleh begitu karena Wije temanku dan kamu sayangnya ke aku. Tapi gimana ya, Ra..”</p>

<p>Detik itu juga aku tidak bisa menahan tawa. Mark heran, sudah pasti.</p>

<p>“Kenapa ketawa?”</p>

<p>“Lagian aneh, udah tau aku sayangnya kamu tapi kenapa kemarin bilangnya aku jadian sama Wije sih?”</p>

<p>Mark terkekeh. Kemudian mengangkat genggaman tangan kami ke dada kirinya. Menaruh sebagian milikku untuk merasakan debaran jantungnya.</p>

<p>“Aku beneran minta maaf ya? Aku gak punya alasan lain Ra, karena memang begitu adanya. Tolong dimaafin.”</p>

<p>“Dimaafin sih, udah, tapi gak tau masih aja kesel kalau keinget.”</p>

<p>“Wajar, aku keterlaluan banget, Ra. Ternyata, aku gak bisa kontrol emosi soal cemburu-cemburu gitu. Aku masih remedial.” katanya.</p>

<p>Aku memutar bola mataku. Remedial dia bilang.</p>

<p>“Kamu tau kenapa aku sempat ngilang kemarin?” dia bertanya dan aku menggeleng. “Karena aku gak percaya diri. Aku ngerasa selalu kalah kalau disandingin sama Wije, Ra. Aku gak tau kenapa, hati aku kayak menciut kalau saingannya dia.”</p>

<p>“Kenapa Wije?”</p>

<p>Mark diam. Aku tidak tau apa maksudnya dan dia tidak mau menjelaskan. Matanya terus bergerak kesana kemari untuk menyusun jutaan kata di kepalanya. Dan aku ikutan bingung.</p>

<p>“Gak tau.” dia mengangkat kedua bahunya setelah itu. Itu tadi bukan jawaban dari pertanyaanku.</p>

<p>“Kenapa sih? Kamu sama Wije itu bukan suatu perbandingan. Kamu ya kamu, Wije ya Wije. Jadi gak perlu khawatir apalagi <em>insecure</em> gitu. Kamu mah aneh, Mark, Jae aja kamu berani kalahin posisinya dihidup aku, tapi kenapa Wije kamu ngerasa kalah?”</p>

<p>Dari pencahayaan yang remang ini aku masih bisa melihat kalau wajah Mark memerah.</p>

<p><em>“Uumm.. Jadi, Ra..”</em> dia berbicara terbata-bata. Aku tertawa.</p>

<p>“Aku cuma takut kalah dari Wije, Ra.”</p>

<p>Aku berdecak. “Bukan kamu yang nentuin siapa yang menang atau kalah.”</p>

<p><em>Karena apapun alasannya, Mark, kamu selalu jadi pemenangnya.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/pemenang</guid>
      <pubDate>Thu, 21 Oct 2021 16:28:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kabur</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/kabur?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jadi, malam ini akan menjadi malam terakhir untuk menikmati makan malam bersama Abang. Di meja makan, kami duduk berhadapan dengan formasi lengkap. Ada Papi dan Abang duduk paling ujung, dua jagoan yang masih menikmati makan yang disediakan Mba Oni, juga ada Mami yang sibuk memisahkan daging ikan dari tulangnya untuk aku makan. Aku senang karena kami bisa berkumpul lengkap, karena selain Papi yang selalu pergi berminggu-minggu dengan alasan sibuk bekerja, Abang juga akan ikut menjadi yang paling sibuk di Canada mulai besok. Katanya begitu. &#xA;&#xA;Tadi sore sebelum malam benar-benar datang, aku sempat mengobrol dengan Abang sebentar. Pertanyaan Abang tidak jauh dari alasan mengapa aku menangis semalaman kemarin dan apa penyebabnya? Padahal pertanyaan yang tepat adalah siapa penyebabnya?. Aku tidak mau berbohong ke Abang, aku jawab jujur semua apa adanya karena memang mau salah atau benar, kejujuran antara kami itu paling penting. Tapi, maaf, aku merasa berat untuk berterus terang kali ini.&#xA;&#xA;&#34;Kamu kenapa sih?&#34; tanya Abang sore itu tiba-tiba menegurku yang tengah melamun sambil duduk di taman belakang dekat kolam ikan. Aku masih diam tapi Abang juga masih tidak mau berhenti bertanya. &#34;Hei, Abang tanya, Ra.&#34;&#xA;&#xA;Aku menghela nafas dan tentu saja dengan sangat berat. Sengaja, biar Abang tahu kalau aku sedang malas diajak bicara tentang kemarin malam. Abang dengan cepat menyilangkan lengannya dengan tanda dia akan segera marah. Aku menahan tawa, lalu membuang muka sedikit tapi sepertinya percuma karena aku yakin abang sudah tau aku gampang digoda.&#xA;&#xA;&#34;Namanya juga orang cemburu buta, Ra. Dia salah memang, Abang akui. Tapi dia nyesal dan mau jelasin kalau dia kalut beneran semalam. Intinya dia mau minta maaf. Nah bagian pentingnya ada di kamu, seharusnya kamu jangan hindarin dong, sama-sama jelasin benernya gimana biar gak begini.&#34; Aku terkejut bukan main karena Abang tau tentang hal ini.  &#34;Mark udah cerita ke Abang kalau dia kesulut emosi dan Abang bisa lihat dari sudut pandang dia, kalau emang dia se-insecure itu sama seseorang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ara mau mandi dulu, Bang.&#34; aku segera mencari alasan untuk kabur. Ternyata sore itu aku kehilangan nyali untuk berbicara kalau Mark adalah bahasannya. Tapi Abang terlalu peka dan menahan tangan kiriku untuk tetap berada disisinya sebentar. Juga berbicara.&#xA;&#xA;Aku masih diam dengan rasa ingin sekali kabur. Abang yang tidak tahan kemudian bersuara lagi.&#xA;&#xA;&#34;Kalau kabur-kaburan begini, kapan selesainya sih, Ra? Kita sebagai manusia punya hak buat ngomong dan jelasin hal yang masih kusut di kepala. Daripada saling tebak padahal isi kepala manusia aja gak ada yang tau, kecuali Tuhan.&#34;&#xA;&#xA;Ku tatap dua netra milik Abang dengan cahaya senja tergambar jelas disana. Aku tidak menyangka sekaligus terkejut melihat betapa serius Abang kali ini. Matanya ikut menatapku tapi dengan sedikit lebih tajam, aku bergidik ngeri, ini bukan Abang yang biasa aku minta akun spotify premiumnya kalau punyaku sudah habis. Abang punya sisi yang seperti ini dan ini terasa sangat hangat walaupun menakutkan.&#xA;&#xA;&#34;Gak semudah itu buat ngobrol Bang, Ara juga gak tau kenapa rasanya marah banget. Butuh waktu buat bisa maafin. Ara tau ini egois, tapi, apa ya, rasanya aku kayak ditonjok Bang, masih sakit. Tapi sakitnya disini.&#34; aku meraba dada sebelah kiri, jantung maksudnya, walaupun hati tempat dari rasa dan asa, tapi aku merasakan sesak di dada.&#xA;&#xA;Tatapan Abang yang semula tajam kini menumpul, aku bisa merasakan kalau Abang ikut melemah hatinya. &#34;Memang, Abang juga gak menjanjikan bahwa memaafkan Mark itu adalah hal yang mudah, Ra. Tapi yang Abang mau, kalian berdua ngobrol dari hati ke hati biar semuanya jelas. Kamu gak perlu ngehindar terus dan dia gak kalang kabut mikirin kamu yang sekarang murung begini.&#34;&#xA;&#xA;Aku sadar bahwa pasti dalam diri Abang Jaydn ada suatu harapan agar apa yang ia ucapkan kepadaku, Adiknya ini, sudah cukup meyakinkan; bahwa hati manusia boleh sakit, tapi jangan lupa kalau kita masih punya obat untuk sembuh.&#xA;&#xA;Dan ucapan Abang Jaydn, Abang tersayang disejagat dunia ini, Aku anggap sebagai obat paling manjur dari sekedar me time dengan duduk sendirian menikmati senja ditemani beberapa ekor ikan Koi didalam kolam sana.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Aku yang sejak tadi masih menidurkan kepala dipangkuan Mami mengedipkan mata dengan berat. Handphone sengaja ku matikan, membiarkan semua pesan yang dikirim oleh Mark menjadi tidak terbaca. Mungkin itu menjadi pilihan terbaik, karena aku sedang tidak ingin berlarut dalam kesedihan kalau harus melihat pesannya.&#xA;&#xA;Iya, memang, semua harus dibicarakan agar tidak lagi berdiam-diaman seperti sekarang. Sebenarnya, ada sekelebat bahasa yang ingin aku sampaikan dengan emosi, tetapi hal yang sejak pagi aku lakukan adalah menghindar. Orang-orang bilang semua hal tidak bisa diselesaikan dengan hati panas, maka aku diam dulu untuk mendinginkan semua yang terlanjur panas itu.&#xA;&#xA;Aku tidak tau apa yang sedang terjadi dan mengapa kami harus bertengkar dengan cara yang paling tidak menyenangkan. Kalau dekat, sudah sejak tadi aku memukul Mark dengan tenaga dalam biar dia juga tau aku itu sakit walaupun tidak ada luka dimana-mana. Jelas memang yang aku lakukan hanya berdiam sok tegar, tapi aku tidak tau harus memulai darimana cara berbaikan dengannya. Kami berdua sama-sama salah langkah bahkan semuanya masih belum jelas mana yang benar, mana yang salah atau malahan semuanya tidak ada yang salah melainkan sedang tutup telinga dan kabur.&#xA;&#xA;Bodoh. Aku sih merasa paling bodoh.&#xA;&#xA;Sesaat setelah Mami mengusap kepalaku, aku beranjak dan izin menuju kamar untuk benar-benar tidur. Malam itu Abang sedang duduk diruang tengah dengan Papi ditemani satu permainan catur juga musik klasik yang Abang mainkan melalui vinyl tua koleksi Papi. Aku mengamit tangan Mami untuk mencium sekilas dan mengecup pipi merona Mami yang manis itu sebagai salam di malam hari.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidur duluan Mi.&#34;&#xA;&#xA;Mana ada anak muda sudah mengantuk di jam 8 malam? Aku tau Mami sedang terheran, tapi aku benar-benar ingin ke kamar walaupun bukan tidur. Aku ingin sendiri intinya.&#xA;&#xA;Di kamar aku hanya melihat semua titik menjadi sangat membosankan, kasur yang memang berada di sebrang mulut pintu rasanya ingin segera ku pindahkan ke sebelah kiri, juga boneka Teddy besar kado dari Papi ingin ku pindahkan segera mungkin ke sebelah jendela. Semuanya membosankan dan aku ingin melihat hal baru walaupun sialnya nama Mark yang terlintas.&#xA;&#xA;Mark aku rindu.&#xA;&#xA;Dengan berat hati aku cepat mengambil handphone yang ku sembunyikan di dalam laci meja. Menekan tombol powernya lama hanya agar benda kotak itu menyala. Setelah benar-benar internet tersambung, aku sangat terkejut ketika semua pesan dari Mark benar-benar masuk. Namanya ada disana dengan banyak sekali notifikasi. Tanganku menjadi dingin dan jantungku berdebar lebih cepat hanya karena pesan darinya. Aku tidak mau cepat membalas dan langsung melempar handphone itu ke sembarang tempat. &#xA;&#xA;Aku bergeser untuk merebahkan tubuh di kasur dan kali ini aku benar-benar harus tidur. Jantungku gawat, aku merasakan desiran darah mengalir langsung ke seluruh tubuh. Dengan cepat dan dada berdebar aku menutup kedua mataku, berharap agar segera menuju alam bawah sadar. Tapi tidak, handphoneku tiba-tiba ada yang memanggil. Aku semakin gusar dan jantungku seakan dikejar. Bahkan di detik ini aku penasaran itu siapa yang memanggil.&#xA;&#xA;Selang beberapa detik setelah nada panggil itu mati, aku mengambil handphone yang jatuh di dekat karpet bulu berwarna merah jambu. Tertera disana nama Abang Jaydn, bukan Mark. Aku lega tapi sedih juga ada. Tidak tau kenapa aku menjadi sangat bodoh dan menyebalkan kalau Mark alasannya.&#xA;&#xA;Tiga ketukan di pintu mengejutkanku seketika. Kerja dari jantungku menjadi 5kali lebih berat dari biasanya. Hari ini benar-benar penuh kejutan yang memberatkan.&#xA;&#xA;&#34;Ra,&#34; itu suara Abang dan Abang kembali mengetuk pintu kamar dua kali. &#34;Turun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngantuk.&#34; jawabku bohong.&#xA;&#xA;&#34;Dipanggil Papi, Ra.&#34; lanjutnya lagi dan aku berdecak.&#xA;&#xA;Aku tidak menghiraukan panggilan Abang dan tetap berjalan menuju kasur kembali untuk tidur. &#xA;&#xA;&#34;Ada Mark di bawah, mau ngobrol katanya. Sekarang dia lagi main catur sama Papi.&#34;&#xA;&#xA;Setelah nama itu terucap, aku membeku.&#xA;Dan malam ini aku benar-benar pingsan.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jadi, malam ini akan menjadi malam terakhir untuk menikmati makan malam bersama Abang. Di meja makan, kami duduk berhadapan dengan formasi lengkap. Ada Papi dan Abang duduk paling ujung, dua jagoan yang masih menikmati makan yang disediakan Mba Oni, juga ada Mami yang sibuk memisahkan daging ikan dari tulangnya untuk aku makan. Aku senang karena kami bisa berkumpul lengkap, karena selain Papi yang selalu pergi berminggu-minggu dengan alasan sibuk bekerja, Abang juga akan ikut menjadi yang paling sibuk di Canada mulai besok. Katanya begitu.</p>

<p>Tadi sore sebelum malam benar-benar datang, aku sempat mengobrol dengan Abang sebentar. Pertanyaan Abang tidak jauh dari alasan mengapa aku menangis semalaman kemarin dan apa penyebabnya? Padahal pertanyaan yang tepat adalah <em>siapa penyebabnya?</em>. Aku tidak mau berbohong ke Abang, aku jawab jujur semua apa adanya karena memang mau salah atau benar, kejujuran antara kami itu paling penting. Tapi, maaf, aku merasa berat untuk berterus terang kali ini.</p>

<p>“Kamu kenapa sih?” tanya Abang sore itu tiba-tiba menegurku yang tengah melamun sambil duduk di taman belakang dekat kolam ikan. Aku masih diam tapi Abang juga masih tidak mau berhenti bertanya. “Hei, Abang tanya, Ra.”</p>

<p>Aku menghela nafas dan tentu saja dengan sangat berat. Sengaja, biar Abang tahu kalau aku sedang malas diajak bicara tentang kemarin malam. Abang dengan cepat menyilangkan lengannya dengan tanda dia akan segera marah. Aku menahan tawa, lalu membuang muka sedikit tapi sepertinya percuma karena aku yakin abang sudah tau aku gampang digoda.</p>

<p>“Namanya juga orang cemburu buta, Ra. Dia salah memang, Abang akui. Tapi dia nyesal dan mau jelasin kalau dia kalut beneran semalam. Intinya dia mau minta maaf. Nah bagian pentingnya ada di kamu, seharusnya kamu jangan hindarin dong, sama-sama jelasin benernya gimana biar gak begini.” Aku terkejut bukan main karena Abang tau tentang hal ini.  “Mark udah cerita ke Abang kalau dia kesulut emosi dan Abang bisa lihat dari sudut pandang dia, kalau emang dia se-<em>insecure</em> itu sama seseorang.”</p>

<p>“Ara mau mandi dulu, Bang.” aku segera mencari alasan untuk kabur. Ternyata sore itu aku kehilangan nyali untuk berbicara kalau Mark adalah bahasannya. Tapi Abang terlalu peka dan menahan tangan kiriku untuk tetap berada disisinya sebentar. Juga berbicara.</p>

<p>Aku masih diam dengan rasa ingin sekali kabur. Abang yang tidak tahan kemudian bersuara lagi.</p>

<p>“Kalau kabur-kaburan begini, kapan selesainya sih, Ra? Kita sebagai manusia punya hak buat ngomong dan jelasin hal yang masih kusut di kepala. Daripada saling tebak padahal isi kepala manusia aja gak ada yang tau, kecuali Tuhan.”</p>

<p>Ku tatap dua netra milik Abang dengan cahaya senja tergambar jelas disana. Aku tidak menyangka sekaligus terkejut melihat betapa serius Abang kali ini. Matanya ikut menatapku tapi dengan sedikit lebih tajam, aku bergidik ngeri, ini bukan Abang yang biasa aku minta akun spotify premiumnya kalau punyaku sudah habis. Abang punya sisi yang seperti ini dan ini terasa sangat hangat walaupun menakutkan.</p>

<p>“Gak semudah itu buat ngobrol Bang, Ara juga gak tau kenapa rasanya marah banget. Butuh waktu buat bisa maafin. Ara tau ini egois, tapi, apa ya, rasanya aku kayak ditonjok Bang, masih sakit. Tapi sakitnya disini.” aku meraba dada sebelah kiri, jantung maksudnya, walaupun hati tempat dari rasa dan asa, tapi aku merasakan sesak di dada.</p>

<p>Tatapan Abang yang semula tajam kini menumpul, aku bisa merasakan kalau Abang ikut melemah hatinya. “Memang, Abang juga gak menjanjikan bahwa memaafkan Mark itu adalah hal yang mudah, Ra. Tapi yang Abang mau, kalian berdua ngobrol dari hati ke hati biar semuanya jelas. Kamu gak perlu ngehindar terus dan dia gak kalang kabut mikirin kamu yang sekarang murung begini.”</p>

<p>Aku sadar bahwa pasti dalam diri Abang Jaydn ada suatu harapan agar apa yang ia ucapkan kepadaku, Adiknya ini, sudah cukup meyakinkan; <em>bahwa hati manusia boleh sakit, tapi jangan lupa kalau kita masih punya obat untuk sembuh.</em></p>

<p>Dan ucapan Abang Jaydn, Abang tersayang disejagat dunia ini, Aku anggap sebagai obat paling manjur dari sekedar <em>me time</em> dengan duduk sendirian menikmati senja ditemani beberapa ekor ikan Koi didalam kolam sana.</p>

<hr/>

<p>Aku yang sejak tadi masih menidurkan kepala dipangkuan Mami mengedipkan mata dengan berat. <em>Handphone</em> sengaja ku matikan, membiarkan semua pesan yang dikirim oleh Mark menjadi tidak terbaca. Mungkin itu menjadi pilihan terbaik, karena aku sedang tidak ingin berlarut dalam kesedihan kalau harus melihat pesannya.</p>

<p>Iya, memang, semua harus dibicarakan agar tidak lagi berdiam-diaman seperti sekarang. Sebenarnya, ada sekelebat bahasa yang ingin aku sampaikan dengan emosi, tetapi hal yang sejak pagi aku lakukan adalah menghindar. Orang-orang bilang semua hal tidak bisa diselesaikan dengan hati panas, maka aku diam dulu untuk mendinginkan semua yang terlanjur panas itu.</p>

<p>Aku tidak tau apa yang sedang terjadi dan mengapa kami harus bertengkar dengan cara yang paling tidak menyenangkan. Kalau dekat, sudah sejak tadi aku memukul Mark dengan tenaga dalam biar dia juga tau aku itu sakit walaupun tidak ada luka dimana-mana. Jelas memang yang aku lakukan hanya berdiam sok tegar, tapi aku tidak tau harus memulai darimana cara berbaikan dengannya. Kami berdua sama-sama salah langkah bahkan semuanya masih belum jelas mana yang benar, mana yang salah atau malahan semuanya tidak ada yang salah melainkan sedang tutup telinga dan kabur.</p>

<p>Bodoh. Aku sih merasa paling bodoh.</p>

<p>Sesaat setelah Mami mengusap kepalaku, aku beranjak dan izin menuju kamar untuk benar-benar tidur. Malam itu Abang sedang duduk diruang tengah dengan Papi ditemani satu permainan catur juga musik klasik yang Abang mainkan melalui vinyl tua koleksi Papi. Aku mengamit tangan Mami untuk mencium sekilas dan mengecup pipi merona Mami yang manis itu sebagai salam di malam hari.</p>

<p>“Aku tidur duluan Mi.”</p>

<p>Mana ada anak muda sudah mengantuk di jam 8 malam? Aku tau Mami sedang terheran, tapi aku benar-benar ingin ke kamar walaupun bukan tidur. Aku ingin sendiri intinya.</p>

<p>Di kamar aku hanya melihat semua titik menjadi sangat membosankan, kasur yang memang berada di sebrang mulut pintu rasanya ingin segera ku pindahkan ke sebelah kiri, juga boneka Teddy besar kado dari Papi ingin ku pindahkan segera mungkin ke sebelah jendela. Semuanya membosankan dan aku ingin melihat hal baru walaupun sialnya nama Mark yang terlintas.</p>

<p><em>Mark aku rindu.</em></p>

<p>Dengan berat hati aku cepat mengambil <em>handphone</em> yang ku sembunyikan di dalam laci meja. Menekan tombol powernya lama hanya agar benda kotak itu menyala. Setelah benar-benar internet tersambung, aku sangat terkejut ketika semua pesan dari Mark benar-benar masuk. Namanya ada disana dengan banyak sekali notifikasi. Tanganku menjadi dingin dan jantungku berdebar lebih cepat hanya karena pesan darinya. Aku tidak mau cepat membalas dan langsung melempar <em>handphone</em> itu ke sembarang tempat.</p>

<p>Aku bergeser untuk merebahkan tubuh di kasur dan kali ini aku benar-benar harus tidur. Jantungku gawat, aku merasakan desiran darah mengalir langsung ke seluruh tubuh. Dengan cepat dan dada berdebar aku menutup kedua mataku, berharap agar segera menuju alam bawah sadar. Tapi tidak, <em>handphone</em>ku tiba-tiba ada yang memanggil. Aku semakin gusar dan jantungku seakan dikejar. Bahkan di detik ini aku penasaran itu siapa yang memanggil.</p>

<p>Selang beberapa detik setelah nada panggil itu mati, aku mengambil <em>handphone</em> yang jatuh di dekat karpet bulu berwarna merah jambu. Tertera disana nama Abang Jaydn, bukan Mark. Aku lega tapi sedih juga ada. Tidak tau kenapa aku menjadi sangat bodoh dan menyebalkan kalau Mark alasannya.</p>

<p>Tiga ketukan di pintu mengejutkanku seketika. Kerja dari jantungku menjadi 5kali lebih berat dari biasanya. Hari ini benar-benar penuh kejutan yang memberatkan.</p>

<p>“Ra,” itu suara Abang dan Abang kembali mengetuk pintu kamar dua kali. “Turun.”</p>

<p>“Ngantuk.” jawabku bohong.</p>

<p>“Dipanggil Papi, Ra.” lanjutnya lagi dan aku berdecak.</p>

<p>Aku tidak menghiraukan panggilan Abang dan tetap berjalan menuju kasur kembali untuk tidur.</p>

<p>“Ada Mark di bawah, mau ngobrol katanya. Sekarang dia lagi main catur sama Papi.”</p>

<p><em>Setelah nama itu terucap, aku membeku.
Dan malam ini aku benar-benar pingsan.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/kabur</guid>
      <pubDate>Tue, 19 Oct 2021 14:40:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Mengalah</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/mengalah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Siang itu terik, sekitar 33°C saat berhasil dilacaknya melalui salah satu aplikasi yang ada di-handphone. Agrna juga benar, hari ini hari paling pas untuk menggunakan sunscreen yang sebenarnya tidak pernah tersentuh di atas meja perkakas. Mark yang semula memarkirkan motornya lantas bergerak cepat untuk menemui salah satu temannya.&#xA;&#xA;Wije. Nathaniel Wijaya.&#xA;&#xA;Laki-laki yang tengah meneguk ice americano pesanannya itu duduk didekat jendela, meja nomor 17. Mark langsung menghampirinya ketika Wije mengangkat tangan sebagai tanda, &#34;Woy gue disini.&#34; Di atas meja sudah ada satu gelas ice americano dan dua potong sandwich yang salah satunya sisa setengah.&#xA;&#xA;&#34;Sorry Je, gue telat.&#34; ucapnya ketika sudah duduk dihadapan Wije yang tersenyum itu. Ada harap-harap cemas dalam diri Mark untuk datang siang ini. Alasannya apa belum tau. Tapi kalau disuruh menebak, mungkin suatu hal yang menyebalkan dan mau tidak mau harus diketahui karena rasa penasaran yang menyelimuti sudah hampir satu bulan lamanya. &#xA;&#xA;&#34;Pesen minum dulu gih.&#34; Mark menggeleng. Wije langsung terkekeh seadanya. Menarik kursinya untuk lebih dekat lagi kepada meja yang menghalangi keduanya. Dan sekarang ekspresi wajah Wije sudah berubah.&#xA;&#xA;&#34;Langsung to the point aja Je, gue gak lama.&#34;&#xA;&#xA;Ada jeda yang cukup lama diantara keduanya. Mark yang masih menunggu Wije membuka suara dan Wije dengan sekelibat kalimat yang memutar dikepalanya. Siang itu panas, walaupun cafe yang mereka datangi itu punya AC dengan kekuatan paling kencang tapi atmosfer yang tercipta sekarang lebih panas ketimbang udara luar.&#xA;&#xA;&#34;Soal Agrna, &#39;kan?&#34; tanya Mark lagi dan pandangan Wije sudah berada pada Mark yang memandang dengan penasaran. &#34;Agrna kenapa?&#34; tanyanya sekali lagi dan Wije sekarang sudah sangat siap untuk bersuara.&#xA;&#xA;&#34;Alasan kenapa gue mau ngajak lo ketemu langsung biar gue bisa ngobrolinnya dengan baik, tapi kayaknya, nggak? Gue takut salah ngomong nanti malah bikin gak enak antara lo sama gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa sih emang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Agrna gak sengaja bilang naksir gue.&#34; jawab Wije cepat dan Mark langsung terdiam seketika.&#xA;&#xA;Anjing.&#xA;&#xA;&#34;Kapan? Ngomong langsung? Apa gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah hampir 3 minggu yang lalu.&#34;&#xA;&#xA;Oh, duluan ngungkapin ke lo berarti Je.&#xA;&#xA;&#34;Lewat chat, tapi gue rasa dia gak sengaja sedetik kemudian langsung dihapus terus gue pura-pura gak baca. Dia panik banget waktu itu.&#34; Mark membeku dan terlihat seperti orang yang lupa bagaimana caranya bernafas. &#xA;&#xA;&#34;Beneran?&#34; tanyanya tapi terdengar seperti sedang berbisik.&#xA;&#xA;Dari raut wajahnya, mungkin Mark terlihat sangat sedih walaupun sedikit. Agrna Leony adalah perempuan yang ia sayangi sekarang setelah sang Ibu, bahkan Eyang Uti berada diurutan ketiga. Hari ini benar terasa seperti ada satu hal yang jatuh tepat dikepala Mark, hal yang menyakitkan itu terasa sampai ke bagian hati. Bahkan untuk menghindar rasanya sudah tidak sanggup lagi.&#xA;&#xA;Perut Mark terasa ada yang melilit. Sekarang ketika sedang berbicara dengan Wije matanya pun harus tertutup beberapa kali. &#34;Je, beneran?&#34;&#xA;&#xA;Wije menjawab dengan pelan, &#34;Iya, tapi gue gak tau maksudnya gimana.&#34;&#xA;&#xA;Apa maksudnya? Apasih yang Wije bilang sekarang? Atau justru Agrna yang kenapa?&#xA;&#xA;&#34;Mark, lo udah jadian sama Agrna belum sih?&#34;&#xA;&#xA;Yang ditanya malah menunduk. Mark membuang pandangannya dari Wije, mencoba menghapus semua guratan pedih yang memang cuma bisa ia rasakan. Walaupun sebentar tapi rasanya lebih baik.&#xA;&#xA;&#34;Belum, tapi gue udah bilang kalau gue sayang dia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagus.&#34; Wije menyandarkan punggungnya dengan lega. Ada kejutan disisi Mark tapi ia enggan untuk bertanya kenapa. &#34;Ya, bagus, berarti gue udah gak usah mertahanin perasaan ini lagi dong.&#34;&#xA;&#xA;Mark masih diam walaupun sangat ingin menarik Wije untuk dilayangkan satu toyoran di kepala. Rasanya kesal bukan main setelah tau kalau Wije juga punya perasaan yang sama ke Agrna.&#xA;&#xA;&#34;Gue..&#34; Wije berhenti dan kemudian tertawa seperti dipaksa. Mark juga tau kalau untuk berbicara empat mata seperti ini, Wije adalah pihak yang paling tertekan. &#34;...gue suka Agrna dari awal kenal dia. Jauh sebelum ada lo di hidup dia. Tapi gue tahan perasaan gue karena emang gue gak sekeren lo buat merjuangin perasaan sayang yang tumbuh buat dia itu. Bahkan, kalau gue harus ikut ambil langkah soal perasaan, kayaknya gue bakalan sangat gak tau diri? Lagian gue selama ini gak perduli sama perasaan gue sendiri, bahkan untuk seorang Agrna, kayaknya dia bisa dapetin yang lebih menghargai perasaan, kayak lo. Lo Mark.&#34;&#xA;&#xA;Nathaniel Wijaya yang siang itu masih dengan senyum manis yang sama seperti pertama kali ditemui Mark, kini mengulurkan tangan tanpa aba-aba. Mark masih mengerjap mencoba untuk menelan apa yang terjadi hari ini, tapi rasanya sulit. Ada sesuatu yang tersangkut disana dan ternyata adalah kenyataan pahit yang harus Wije pilih dan ia terima secara mentah-mentah.&#xA;&#xA;&#34;Tolong ya, Mark, gue titip Agrna. Buat hatinya yang belum sempat gue ketuk untuk sekedar bercengkrama lebih dalam. Gue titip dia.&#34;&#xA;&#xA;Mark mengamit tangan Wije. Memandang mata Wije yang sudah terdapat bulir disana dan bergantian memandang senyum Wije yang belum juga pudar sejak tadi. Ada banyak hal yang ingin Mark baca dari apa yang ia lihat tapi ternyata ini lebih sulit dari dugaannya. Entah Wije yang kali ini sedang mengalah tanpa harus memulai perang dan juga dirinya yang entah kenapa diselimuti rasa tidak percaya diri.&#xA;&#xA;Yang Agrna suka itu tipe cowok kayak Wije. Buat tau hal ini aja udah cukup buat gue diem di tempat. Ra, sorry, tapi gue juga gak tau kenapa.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Malam itu, sambil berbaring di tempat tidur, Mark memikirkan satu nama yang sejak tadi tidak mau hilang. Agrna. Menyenangkan sekali rasanya kalau mengingat semua yang telah mereka lakukan bersama dalam 2 bulan terakhir. Menyenangkan tapi cukup menyedihkan setelah ada rasa tidak percaya diri menyelimuti. Rasanya seolah-olah baru dibangunkan dari tidur dengan mimpi yang paling indah. Tidak enak. Bagaimana jika ternyata Agrna hingga sekarang masih memiliki perasaan ke Wije? Atau mungkin kehadiran Mark hanya merusak jalan cerita antara Agrna dan Wije?&#xA;&#xA;Mark hanya memejamkan matanya setelah ada satu notifikasi dari Agrna.&#xA;&#xA;Belum, Ra, gue belum mau balas pesan lo malam ini.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu terik, sekitar 33°C saat berhasil dilacaknya melalui salah satu aplikasi yang ada di-<em>handphone</em>. Agrna juga benar, hari ini hari paling pas untuk menggunakan sunscreen yang sebenarnya tidak pernah tersentuh di atas meja perkakas. Mark yang semula memarkirkan motornya lantas bergerak cepat untuk menemui salah satu temannya.</p>

<p>Wije. <em>Nathaniel Wijaya.</em></p>

<p>Laki-laki yang tengah meneguk <em>ice americano</em> pesanannya itu duduk didekat jendela, meja nomor 17. Mark langsung menghampirinya ketika Wije mengangkat tangan sebagai tanda, <em>“Woy gue disini.”</em> Di atas meja sudah ada satu gelas <em>ice americano</em> dan dua potong <em>sandwich</em> yang salah satunya sisa setengah.</p>

<p>“Sorry Je, gue telat.” ucapnya ketika sudah duduk dihadapan Wije yang tersenyum itu. Ada harap-harap cemas dalam diri Mark untuk datang siang ini. Alasannya apa belum tau. Tapi kalau disuruh menebak, mungkin suatu hal yang menyebalkan dan mau tidak mau harus diketahui karena rasa penasaran yang menyelimuti sudah hampir satu bulan lamanya.</p>

<p>“Pesen minum dulu gih.” Mark menggeleng. Wije langsung terkekeh seadanya. Menarik kursinya untuk lebih dekat lagi kepada meja yang menghalangi keduanya. Dan sekarang ekspresi wajah Wije sudah berubah.</p>

<p>“Langsung <em>to the point</em> aja Je, gue gak lama.”</p>

<p>Ada jeda yang cukup lama diantara keduanya. Mark yang masih menunggu Wije membuka suara dan Wije dengan sekelibat kalimat yang memutar dikepalanya. Siang itu panas, walaupun cafe yang mereka datangi itu punya AC dengan kekuatan paling kencang tapi atmosfer yang tercipta sekarang lebih panas ketimbang udara luar.</p>

<p>“Soal Agrna, &#39;kan?” tanya Mark lagi dan pandangan Wije sudah berada pada Mark yang memandang dengan penasaran. “Agrna kenapa?” tanyanya sekali lagi dan Wije sekarang sudah sangat siap untuk bersuara.</p>

<p>“Alasan kenapa gue mau ngajak lo ketemu langsung biar gue bisa ngobrolinnya dengan baik, tapi kayaknya, nggak? Gue takut salah ngomong nanti malah bikin gak enak antara lo sama gue.”</p>

<p>“Kenapa sih emang?”</p>

<p>“Agrna gak sengaja bilang naksir gue.” jawab Wije cepat dan Mark langsung terdiam seketika.</p>

<p><em>Anjing.</em></p>

<p>“Kapan? Ngomong langsung? Apa gimana?”</p>

<p>“Udah hampir 3 minggu yang lalu.”</p>

<p><em>Oh, duluan ngungkapin ke lo berarti Je.</em></p>

<p>“Lewat chat, tapi gue rasa dia gak sengaja sedetik kemudian langsung dihapus terus gue pura-pura gak baca. Dia panik banget waktu itu.” Mark membeku dan terlihat seperti orang yang lupa bagaimana caranya bernafas.</p>

<p>“Beneran?” tanyanya tapi terdengar seperti sedang berbisik.</p>

<p>Dari raut wajahnya, mungkin Mark terlihat sangat sedih walaupun sedikit. Agrna Leony adalah perempuan yang ia sayangi sekarang setelah sang Ibu, bahkan Eyang Uti berada diurutan ketiga. Hari ini benar terasa seperti ada satu hal yang jatuh tepat dikepala Mark, hal yang menyakitkan itu terasa sampai ke bagian hati. Bahkan untuk menghindar rasanya sudah tidak sanggup lagi.</p>

<p>Perut Mark terasa ada yang melilit. Sekarang ketika sedang berbicara dengan Wije matanya pun harus tertutup beberapa kali. “Je, beneran?”</p>

<p>Wije menjawab dengan pelan, “Iya, tapi gue gak tau maksudnya gimana.”</p>

<p><em>Apa maksudnya? Apasih yang Wije bilang sekarang? Atau justru Agrna yang kenapa?</em></p>

<p>“Mark, lo udah jadian sama Agrna belum sih?”</p>

<p>Yang ditanya malah menunduk. Mark membuang pandangannya dari Wije, mencoba menghapus semua guratan pedih yang memang cuma bisa ia rasakan. Walaupun sebentar tapi rasanya lebih baik.</p>

<p>“Belum, tapi gue udah bilang kalau gue sayang dia.”</p>

<p>“Bagus.” Wije menyandarkan punggungnya dengan lega. Ada kejutan disisi Mark tapi ia enggan untuk bertanya kenapa. “Ya, bagus, berarti gue udah gak usah mertahanin perasaan ini lagi dong.”</p>

<p>Mark masih diam walaupun sangat ingin menarik Wije untuk dilayangkan satu toyoran di kepala. Rasanya kesal bukan main setelah tau kalau Wije juga punya perasaan yang sama ke Agrna.</p>

<p>“Gue..” Wije berhenti dan kemudian tertawa seperti dipaksa. Mark juga tau kalau untuk berbicara empat mata seperti ini, Wije adalah pihak yang paling tertekan. “...gue suka Agrna dari awal kenal dia. Jauh sebelum ada lo di hidup dia. Tapi gue tahan perasaan gue karena emang gue gak sekeren lo buat merjuangin perasaan sayang yang tumbuh buat dia itu. Bahkan, kalau gue harus ikut ambil langkah soal perasaan, kayaknya gue bakalan sangat gak tau diri? Lagian gue selama ini gak perduli sama perasaan gue sendiri, bahkan untuk seorang Agrna, kayaknya dia bisa dapetin yang lebih menghargai perasaan, kayak lo. Lo Mark.”</p>

<p>Nathaniel Wijaya yang siang itu masih dengan senyum manis yang sama seperti pertama kali ditemui Mark, kini mengulurkan tangan tanpa aba-aba. Mark masih mengerjap mencoba untuk menelan apa yang terjadi hari ini, tapi rasanya sulit. Ada sesuatu yang tersangkut disana dan ternyata adalah kenyataan pahit yang harus Wije pilih dan ia terima secara mentah-mentah.</p>

<p>“Tolong ya, Mark, gue titip Agrna. Buat hatinya yang belum sempat gue ketuk untuk sekedar bercengkrama lebih dalam. Gue titip dia.”</p>

<p>Mark mengamit tangan Wije. Memandang mata Wije yang sudah terdapat bulir disana dan bergantian memandang senyum Wije yang belum juga pudar sejak tadi. Ada banyak hal yang ingin Mark baca dari apa yang ia lihat tapi ternyata ini lebih sulit dari dugaannya. Entah Wije yang kali ini sedang mengalah tanpa harus memulai perang dan juga dirinya yang entah kenapa diselimuti rasa tidak percaya diri.</p>

<p><em>Yang Agrna suka itu tipe cowok kayak Wije. Buat tau hal ini aja udah cukup buat gue diem di tempat. Ra, sorry, tapi gue juga gak tau kenapa.</em></p>

<hr/>

<p>Malam itu, sambil berbaring di tempat tidur, Mark memikirkan satu nama yang sejak tadi tidak mau hilang. Agrna. Menyenangkan sekali rasanya kalau mengingat semua yang telah mereka lakukan bersama dalam 2 bulan terakhir. Menyenangkan tapi cukup menyedihkan setelah ada rasa tidak percaya diri menyelimuti. Rasanya seolah-olah baru dibangunkan dari tidur dengan mimpi yang paling indah. Tidak enak. Bagaimana jika ternyata Agrna hingga sekarang masih memiliki perasaan ke Wije? Atau mungkin kehadiran Mark hanya merusak jalan cerita antara Agrna dan Wije?</p>

<p>Mark hanya memejamkan matanya setelah ada satu notifikasi dari Agrna.</p>

<p><em>Belum, Ra, gue belum mau balas pesan lo malam ini.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/mengalah</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Oct 2021 13:50:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Keliling Dunia</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/keliling-dunia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ada begitu banyak cita-cita yang bisa disebutkan saat kecil kalau pertanyaan yang datang adalah, &#34;Anak pinter, kalau sudah besar mau jadi apa?&#34; Tapi bagi anak laki-laki yang saat itu usianya baru menginjak 5 tahun, menjadi orang kaya dan bisa &#39;Keliling Dunia&#39; merupakan cita-cita yang ia sematkan didalam hatinya. Entah pergi dengan siapa, juga belahan dunia yang mana, asalkan bisa berkeliling dunia itu sudah menjadi tujuan hidupnya agar bisa cepat besar dan dewasa.&#xA;&#xA;Tapi ternyata ketika usianya menginjak 19 tahun, boro-boro bisa keliling dunia, pergi keliling pasar menemani sang Ibu di setiap hari Minggu pagi itu sangat mampu membuatnya mual. Jadi, kalau pertanyaan itu datang kembali untuk dilempar kepadanya, maka jawabannya akan tetap sama tapi dengan makna yang berbeda. &#34;Mau jadi orang berduit biar bisa keliling dunia, pelajari semua yang ada dibelahan dunia ini. Yah, tapi kalau bisa lewat globe sajalah ya, bro, biar cepet selesainya!&#34;&#xA;&#xA;Cemen, anda Mark.&#xA;&#xA;Mark yang sudah 30 menit berada di rumah Agrna sekarang sedang duduk canggung di ruang keluarga sendirian, menunggui Agrna yang sejak tadi di dapur menggoreng telur mata sapi sebagai menu makan malam Mark hari ini. Sebenarnya, Agrna bisa saja buatkan nasi goreng atau pesankan pecel ayam kesayangan melalui ojek online, tapi Mark besikukuh untuk dibuatkan telur mata sapi setengah matang yang diracik oleh Agrnanya —yang cantik malam ini walaupun hanya menggunakan piyama little pony dan tanpa riasan wajah.&#xA;&#xA;Bagi Agrna, menggoreng telur mata sapi seperti sekarang ini bukanlah hal yang repot apalagi sulit, jadi ya tidak apa-apa kena percik minyak sedikit asal Mark bisa makan telur yang ia buatkan dengan sengaja. Dan dengan cinta tentu saja.&#xA;&#xA;&#34;Nih, udah jadi, silahkan dimakan.&#34; Agrna yang tiba-tiba datang langsung menyodorkan piring yang ia bawa. Hanya telur mata sapi dan dua sendok nasi putih yang Mark pesan. Sangat sederhana tapi entah mengapa Mark sudah puas menikmati itu semua.&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih!&#34; serunya sambil tersenyum senang. Telur mata sapi yang digoreng tanpa ditaburi garam ternyata tidak pernah selezat ini kalau bukan dari tangan Agrna yang meracik, bahkan sesuap nasi putih yang rasanya hambar menjadi pelengkap paling nikmat kalau yang mencuci berasnya juga adalah Agrna.&#xA;&#xA;Semua pusat Mark malam ini adalah Agrna.&#xA;Bahkan sejak kemarin-kemarin kalau berani jujur.&#xA;&#xA;Yang dilakukan Agrna hanya bertepuk tangan puas melihat Mark yang lahap menikmati makan malamnya. Tanpa ada kalimat, &#34;Ih, pinter banget makannya ya!&#34; dari Agrna, tapi Mark bisa tau kalau Agrna ternsenyum itu karena bangga. &#xA;&#xA;&#34;Habis, Ra.&#34; tunjuk Mark saat makannya sudah benar-benar habis tanpa tersisa satu butir nasi. Agrna kembali tersenyum senang, Mark juga ikut senyum. Keduanya tersenyum di malam ini.&#xA;&#xA;&#34;Yeay,&#34; seru Agrna girang. &#34;Ini diminum dulu.&#34; gelas bernuansa merah jambu dengan gambar piglet ditengahnya, Agrna berikan kepada Mark untuk diminum. Itu adalah gelas kesayangan Agrna kalau sedang mau minum satu gelas Milo hangat sebelum tidur, tapi diberi pinjam dulu ke Mark yang ternyata serat tenggorokannya setelah makan. Sebelum akhirnya diminum tadi, Mark ada sedikit tertawa karna gelas yang ada diatas meja itu bergambar karakter kartun yang terkenal, piglet si babi.&#xA;Lucu, selain singa, babi juga mirip Agrna kalau kata Mark. Tapi jangan sampai orangnya tau nanti bisa ngomel.&#xA;&#xA;Tanpa terlebih dahulu mencuci piring bekas makan tadi, Agrna memilih untuk menonton acara TV bersama Mark. Keduanya diam dan samar-samar memerhatikan deru nafas satu sama lain. Agrna yang daritadi mencoba rileks meskipun yang ditonton adalah acara lawak, kini tidak bisa berbohong kalau sedang berdebar jantungnya. Dan untuk cowok yang malam itu masih mengenakan Hoodie hijau kebanggaannya, tidak perlu ditanya sedingin apa telapak tangannya itu.&#xA;&#xA;Menghabiskan malam pertama di bulan Oktober berdua, ternyata sangat ampuh membuat keduanya kelimpungan.&#xA;&#xA;Harusnya ada hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Tapi apa ya? Mark berfikir keras sejak tadi, takut kalau malam ini berlalu begitu saja tanpa ada cerita, tanpa ada tawa dan yang paling ditakutkan tanpa adanya binar mata bahagia diantara mereka berdua ketika sedang berbagi senyum.&#xA;&#xA;&#34;Ra,&#34; panggil Mark kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Keliling dunia yuk?&#34;&#xA;&#xA;Ajakan Mark malam ini langsung dihadiahi tawa oleh Agrna. &#34;Tiba-tiba banget?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Beneran! Yuk?&#34; ajak Mark sekali lagi dan kini suasana berubah menjadi sedikit serius.&#xA;&#xA;&#34;Kapan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Agrna lagi-lagi tertawa. &#34;Jangan ngarang deh. Mana bisa sekarang keliling dunia?&#34;&#xA;&#xA;Mark langsung merubah posisi duduknya untuk menjelaskan sesuatu kepada Agrna yang sejak tadi terheran-heran. &#34;Bisa, Ra. Pake buku ensiklopedia dunia punya lo itu. Kita pelajari semua cerita negara-negara yang ada, nanti ilmunya dipake buat obrolan random ke orang baru yang entah-entah lo temuin di kedai kopi? Nah nanti, biar lebih berasa keliling dunianya, kita pake imajinasi. Pura-pura aja lagi di Hawaii atau lagi kedinginan di Kutub Utara.&#34;&#xA;&#xA;Agrna diam untuk sepersekian detik. Lalu tertawa lagi meskipun setuju saja untuk pergi keliling dunia dengan versi Mark yang cukup lucu ini. &#34;Kayak anak kecil ah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Daripada gak tau mau ngapain, kan? Lagian belajar itu bukan tentang kita yang sekarang sudah besar atau masih kecil, Ra. Mungkin aja dari ensiklopedia itu kita beneran dapet ilmu yang berharga. Atau  mungkin aja setelah keliling dunia pake buku lo itu, kita bisa susun rencana buat merubah dunia? Gak ada yang tau, Ra. Jadi please ayo kita keliling dunia.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke oke.&#34; jawabnya. &#34;Sebentar gue ke atas dulu ambil bukunya.&#34; dengan langkah pasti walaupun masih ada tawa yang melekat, akhirnya Agrna menuju ruang baca di lantai atas. Mengambil semua buku yang mereka perlukan untuk berkeliling dunia dengan imajinasi. &#xA;&#xA;Mark kira akan hanya ada satu, dua atau tiga buku yang Agrna bawakan. Tapi ternyata ada hampir satu lusin. Melihat Agrna yang cukup kesulitan, Mark dengan sigap membantu meraih semua bukunya. Mereka berdua memilih untuk tidak duduk di sofa, karpet bulu yang berwarna abu-abu menjadi alas mereka duduk sekaligus menjadi transportasi mereka untuk terbang melaju ke seluruh sudut bagian bumi.&#xA;&#xA;&#34;Ini buku ensiklopedia dunia punya gue dari zaman TK, kalau ini buku cerminan dunia punya Papi, terus ini ensiklopedia sejarah dunia punya gue tapi selalu dipinjem abang. Nah yang ini buku Science yang selalu gue pake buat eksplor hutan juga semua isinya, dan ... Ini..&#34;&#xA;&#xA;&#34;..buku ensiklopedia punya lo tentang langit, angkasa dan tata surya kan, Ra? Gue pinjem boleh?&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi Agrna tersenyum ketika Mark merebut langsung buku yang ia pegang. &#34;Iya, boleh.&#34; katanya setuju.&#xA;&#xA;Tanpa menghabiskan waktu lebih lama, Mark akhirnya mengambil ancang-ancang untuk memimpin agar keduanya dapat pergi berkeliling dunia dengan cara yang sederhana.&#xA;&#xA;&#34;Oke. Ya udah. Hm, kita mulai keliling dunianya ya, Ra. Oke, kita mulai dari Indonesia aja gimana?&#34; Agrna tentu saja setuju karena Mark yang memegang kendali perjalanan mereka. Jadi kalaupun perjalanan mereka dimulai dari negara Malaysia sekalipun, ia tetap mau.&#xA;&#xA;&#34;Oke lagi, yuk kita mulai.&#34; Mark menarik nafas panjang dan berusaha menciptakan suasana yang sangat mendukung agar mereka sampai ke tempat tujuan, Agrna disampingnya yang serius memerhatikan itu masih saja terkekeh gemas. &#34;Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang di khatulistiwa sepanjang 3200 mil (5.120 km2) dan terdiri atas 13.667 pulau besar dan kecil. Nama Indonesia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Indo yang berarti Indoa dan Nesia yang berarti kepulauan. Menurut beberapa ahli, yaitu Prof. ARYSIO SANTOS Indonesia adalah, &#34;benua yang hilang&#34; yang sebenarnya menjadi pusat peradaban dunia. Sedangkan, menurut DR. JIMMY OENTORO Indonesia adalah tempat terbaik untuk hidup. Udah kerasa keliling Indonesia-nya, Ra?&#34;&#xA;&#xA;Agrna mengangguk senang.&#xA;&#xA;&#34;Sip, oke, lanjut. Indonesia merupakan 1/5 populasi terbesar di dunia dengan penduduk yang berasal dari ras Melayu dan Polinesia serta terdiri dari 300 suku dan cabangnya yang mana masing-masing suku memiliki tradisi sendiri. Indonesia juga—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mark, thanks ya.&#34; potong Agrna tiba-tiba.&#xA;&#xA;Mark yang masih menggantung ucapannya, kini menjadi yang paling penasaran karena ucapan terimakasih dari Agrna. Ucapan yang terdengar berbeda dari yang biasa ia dengar dan ucapan ini ternyata lebih dahsyat getarannya dibandingkan kemarin waktu gak sengaja kena setrum kabel di Laboratorium lantai 2.&#xA;&#xA;&#34;Buat?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat sekarang. Juga yang kemarin-kemarin.&#34;&#xA;&#xA;Mark masih diam, mendengarkan Agrna dengan sangat seksama.&#xA;&#xA;&#34;Mark, lo tuh sadar gak sih selalu ada di samping gue? Di setiap pagi ke malamnya gue, tidur ke tidur lagi, dapat disimpulkan lo tuh ada di paragraf cerita yang penulis sajikan buat gue, yang bahkan gue sendiri gak tau kenapa harus lo?&#34; Agrna berhenti untuk terkekeh sebentar setelah raut wajah Mark berubah seketika. &#34;Gue tau ini bakalan terdengar sangat menggelikan buat kita berdua, tapi ya Mark, nyatanya dengan adanya lo di hidup gue, gue jadi tau kalau &#39;sayang&#39; ke satu hal itu gak harus dengan cara yang berlebihan. Lo selalu ngasih gue bukti bahwa untuk bisa percaya ke lo itu dimulai dengan cara yang paling sederhana dan itu sangat luar biasa pengaruhnya di hidup gue. Gue gak pernah sekenyang kemarin waktu makan di Pak Gembus kalau bukan karena rebutan kol goreng sama lo, gue juga gak pernah se-happy tadi walaupun cuma goreng telur mata sapi yang lagi-lagi buat lo, bahkan sekarang gue gak pernah ngebayangin bisa keliling dunia dalam satu malam kalau bukan karena lo juga.&#34;&#xA;&#xA;Bagaikan ada satu cahaya besar yang meledak dihadapan Mark dalam bentuk nyata seorang Agrna, matanya sejak tadi tidak berhenti menatap perempuan itu. Silau baginya, namun terlalu indah untuk berpaling. Mark sejak tadi mencoba memahami semua perkataan yang gadis itu utarakan sambil terus merekam ekspresinya. Bukannya tidak tau harus merespon seperti apa, tapi Mark lebih dulu dibuat membeku. Semuanya terjadi begitu cepat dan singkat. Mark ingin mereka ulang hal itu sekali lagi tapi tidak bisa.&#xA;&#xA;&#34;Agrna, gue paling gak bisa kalau lo lagi mode begini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tetap kayak gini ya, bisa, &#39;kan? Gue suka lo apa adanya, Mark. Gue bahkan gatau kalau gak ada lo, mungkin hidup gue akan selalu mendamba keistimewaan, padahal gue ini adalah Agrna bukan martabak yang katanya istimewa.&#34;&#xA;&#xA;Agrna Leony, perempuan 19 tahun yang baru saja mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki lebih dulu. Harus dicatat sekarang adalah tanggal 01 Oktober 2021. Dirinya bukan tipe perempuan yang seperti ini, tapi ternyata kalau orangnya adalah Mark Leo semua terasa berbeda. Harus diakui, rasanya sangat menyenangkan ketika semua perasaan yang membuncah itu terucap langsung dihadapan orang yang kita sukai dan Agrna tidak menyesal sama sekali. Rasanya seperti berjalan di dalam mimpi. Bergandeng tangan dan saling melempar senyuman. Indah dan menyenangkan.&#xA;&#xA;&#34;Ra, lo nembak gue?&#34;&#xA;&#xA;Dengan cepat Agrna memukul lengan kiri Mark. Selain karena malu ucapan Mark juga terlalu frontal. &#34;Nggak, anjir! Gue cuma mengungkapkan apa yang gue rasain. Itu semua jujur, jadi jangan diledekin ya.&#34; pintanya dan Mark langsung meletakkan buku ensiklopedia yang sejak tadi ia pegang dengan tangan lemas.&#xA;&#xA;&#34;Oke kalau gitu giliran gue ya Ra?&#34;&#xA;&#xA;Agrna membalik tubuhnya, memunggungi Mark dengan menutup kedua telinga. Mark hanya terkekeh gemas. Yang tadinya sangat berani menyampaikan isi dari perasaannya sekarang harus berubah melemas kalau Mark ikut-ikutan mengungkapkan perasaan.&#xA;&#xA;&#34;Gak dulu please gue belum siap.&#34; tanpa membalikkan tubuhnya, Agrna meminta Mark untuk berhenti. &#34;Mending kita lanjut keliling dunia ya, oke?&#34;&#xA;&#xA;Mark menggeleng, menarik bahu Agrna untuk menghadap ke arahnya. Setelah ditemukan kedua netra yang teduh itu, Mark menyunggingkan satu senyum paling berarti. &#34;Tapi keliling dunia sama lo, harus ada perasaan yang ikut gue sampein, Ra. Boleh sekarang giliran gue yang ngomong jujur?&#34;&#xA;&#xA;Seakan kedua bola matanya ingin meloncat keluar, Agrna langsung menunduk. Mark masih saja memerhatikan gerak gerik Agrna yang sangat menggemaskan dan ternyata gadis itu mengangguk sebagai isyarat kalau dirinya ternyata sudah siap mendengar isi hati Mark. Sedikit demi sedikit Agrna mengangkat kepalanya hanya untuk menatap binar mata Mark yang terpantul cahaya lampu itu.&#xA;&#xA;&#34;Gue sayang lo, Ra. Kalau lo tanya sejak kapan, itu gue gak tau. Bahkan dengan alasan &#39;kenapa&#39; gue bisa sayang lo itu juga gue gak bisa jelasin. Tapi Agrna, gue tulus. Gue gak pernah minta apapun ke Tuhan selain dikasih sehat biar besok-besok tetap bisa sama lo. Ra, Mark lo ini akan berubah menjadi sangat dangdut kalau bahasannya adalah lo. Gue gak tau kenapa, tapi setelah nama lo kesebut, gue selalu punya kekuatan sendiri. Lo percaya gak gue ngomong begini?&#34; Agrna menggeleng dan Mark langsung menyetil halus hidung mungil Agrna. &#34;Percaya, Ra, karena gue lagi mode dangdut banget sekarang. Lo pegang deh tangan gue, dingin kan? Coba sekarang lo pegang dada kiri gue, itu gue beneran ancur banget degdegannya. Kalau dikasih penyakit itu harusnya gue udah serangan jantung, Ra, tapi karena ada lo, gue jadi punya kekuatan buat terus genggam tangan ini.&#34;&#xA;&#xA;Agrna memandang Mark dalam-dalam dan tangannya yang hangat itu masih digenggam oleh dinginnya tangan Mark. Raut wajah laki-laki yang ada dihadapannya itu terlihat damai, seakan baru saja mendapati satu peti besar berisi harta karun. Kemudian tanpa harus merasakan debaran jantung yang lebih cepat lagi, Agrna menarik tangannya membiarkan tangan Mark dingin tanpa ada yang menggenggam.&#xA;&#xA;Keduanya diam dalam kesunyian, padahal kesunyian yang tercipta diantara keduanya menambah tekanan yang ada. Keduanya semakin gugup.&#xA;&#xA;&#34;Ra,&#34; panggil Mark pelan dan menyerahkan buku ensiklopedia dunia yang mereka baca berdua tadi.&#xA;&#xA;&#34;Gue takut gila, Ra.&#34; tambahnya lagi dan memecah hening ketika keduanya kembali tertawa. Ini adalah malam yang paling bersejarah untuk mereka dan entah mengapa untuk berkedip saja sangat melelahkan.&#xA;&#xA;&#34;Jadi,&#34; Mark melirik ke arah Agrna dan mereka tertawa lagi.&#xA;&#xA;&#34;Jadi apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi, lo mau gak kalau gue ngajak lo pacaran, Ra?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jadi mau lanjut keliling dunia gak, Ra?&#34;&#xA;&#xA;Agrna mengerucutkan bibirnya. Bukan pertanyaan yang ia nantikan tapi kemudian tersenyum mengiyakan ajakan Mark. &#34;Mau, yuk keliling dunia lagi.&#34;&#xA;&#xA;Malam itu pun habis dengan cara yang paling manis. Teruntuk sebuah mimpi berjudul &#39;keliling dunia&#39; yang ternyata dapat diraih dengan sederhana, Mark pun bersyukur dan berjanji suatu saat ketika benar Agrna adalah orangnya, maka dunia, sudah ada digenggamannya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ada begitu banyak cita-cita yang bisa disebutkan saat kecil kalau pertanyaan yang datang adalah, <em>“Anak pinter, kalau sudah besar mau jadi apa?”</em> Tapi bagi anak laki-laki yang saat itu usianya baru menginjak 5 tahun, menjadi orang kaya dan bisa &#39;Keliling Dunia&#39; merupakan cita-cita yang ia sematkan didalam hatinya. Entah pergi dengan siapa, juga belahan dunia yang mana, asalkan bisa berkeliling dunia itu sudah menjadi tujuan hidupnya agar bisa cepat besar dan dewasa.</p>

<p>Tapi ternyata ketika usianya menginjak 19 tahun, boro-boro bisa keliling dunia, pergi keliling pasar menemani sang Ibu di setiap hari Minggu pagi itu sangat mampu membuatnya mual. Jadi, kalau pertanyaan itu datang kembali untuk dilempar kepadanya, maka jawabannya akan tetap sama tapi dengan makna yang berbeda. <em>“Mau jadi orang berduit biar bisa keliling dunia, pelajari semua yang ada dibelahan dunia ini. Yah, tapi kalau bisa lewat globe sajalah ya, bro, biar cepet selesainya!”</em></p>

<p>Cemen, anda Mark.</p>

<p>Mark yang sudah 30 menit berada di rumah Agrna sekarang sedang duduk canggung di ruang keluarga sendirian, menunggui Agrna yang sejak tadi di dapur menggoreng telur mata sapi sebagai menu makan malam Mark hari ini. Sebenarnya, Agrna bisa saja buatkan nasi goreng atau pesankan pecel ayam kesayangan melalui ojek online, tapi Mark besikukuh untuk dibuatkan telur mata sapi setengah matang yang diracik oleh Agrnanya —<em>yang cantik malam ini walaupun hanya menggunakan piyama little pony dan tanpa riasan wajah.</em></p>

<p>Bagi Agrna, menggoreng telur mata sapi seperti sekarang ini bukanlah hal yang repot apalagi sulit, jadi ya tidak apa-apa kena percik minyak sedikit asal Mark bisa makan telur yang ia buatkan dengan sengaja. Dan dengan cinta tentu saja.</p>

<p>“Nih, udah jadi, silahkan dimakan.” Agrna yang tiba-tiba datang langsung menyodorkan piring yang ia bawa. Hanya telur mata sapi dan dua sendok nasi putih yang Mark pesan. Sangat sederhana tapi entah mengapa Mark sudah puas menikmati itu semua.</p>

<p>“Terima kasih!” serunya sambil tersenyum senang. Telur mata sapi yang digoreng tanpa ditaburi garam ternyata tidak pernah selezat ini kalau bukan dari tangan Agrna yang meracik, bahkan sesuap nasi putih yang rasanya hambar menjadi pelengkap paling nikmat kalau yang mencuci berasnya juga adalah Agrna.</p>

<p>Semua pusat Mark malam ini adalah Agrna.
Bahkan sejak kemarin-kemarin kalau berani jujur.</p>

<p>Yang dilakukan Agrna hanya bertepuk tangan puas melihat Mark yang lahap menikmati makan malamnya. Tanpa ada kalimat, <em>“Ih, pinter banget makannya ya!”</em> dari Agrna, tapi Mark bisa tau kalau Agrna ternsenyum itu karena bangga.</p>

<p>“Habis, Ra.” tunjuk Mark saat makannya sudah benar-benar habis tanpa tersisa satu butir nasi. Agrna kembali tersenyum senang, Mark juga ikut senyum. Keduanya tersenyum di malam ini.</p>

<p>“Yeay,” seru Agrna girang. “Ini diminum dulu.” gelas bernuansa merah jambu dengan gambar piglet ditengahnya, Agrna berikan kepada Mark untuk diminum. Itu adalah gelas kesayangan Agrna kalau sedang mau minum satu gelas Milo hangat sebelum tidur, tapi diberi pinjam dulu ke Mark yang ternyata serat tenggorokannya setelah makan. Sebelum akhirnya diminum tadi, Mark ada sedikit tertawa karna gelas yang ada diatas meja itu bergambar karakter kartun yang terkenal, piglet si babi.
Lucu, selain singa, babi juga mirip Agrna kalau kata Mark. Tapi jangan sampai orangnya tau nanti bisa ngomel.</p>

<p>Tanpa terlebih dahulu mencuci piring bekas makan tadi, Agrna memilih untuk menonton acara TV bersama Mark. Keduanya diam dan samar-samar memerhatikan deru nafas satu sama lain. Agrna yang daritadi mencoba rileks meskipun yang ditonton adalah acara lawak, kini tidak bisa berbohong kalau sedang berdebar jantungnya. Dan untuk cowok yang malam itu masih mengenakan Hoodie hijau kebanggaannya, tidak perlu ditanya sedingin apa telapak tangannya itu.</p>

<p>Menghabiskan malam pertama di bulan Oktober berdua, ternyata sangat ampuh membuat keduanya kelimpungan.</p>

<p>Harusnya ada hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Tapi apa ya? Mark berfikir keras sejak tadi, takut kalau malam ini berlalu begitu saja tanpa ada cerita, tanpa ada tawa dan yang paling ditakutkan tanpa adanya binar mata bahagia diantara mereka berdua ketika sedang berbagi senyum.</p>

<p>“Ra,” panggil Mark kemudian.</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Keliling dunia yuk?”</p>

<p>Ajakan Mark malam ini langsung dihadiahi tawa oleh Agrna. “Tiba-tiba banget?”</p>

<p>“Beneran! Yuk?” ajak Mark sekali lagi dan kini suasana berubah menjadi sedikit serius.</p>

<p>“Kapan?”</p>

<p>“Sekarang.”</p>

<p>Agrna lagi-lagi tertawa. “Jangan ngarang deh. Mana bisa sekarang keliling dunia?”</p>

<p>Mark langsung merubah posisi duduknya untuk menjelaskan sesuatu kepada Agrna yang sejak tadi terheran-heran. “Bisa, Ra. Pake buku ensiklopedia dunia punya lo itu. Kita pelajari semua cerita negara-negara yang ada, nanti ilmunya dipake buat obrolan random ke orang baru yang entah-entah lo temuin di kedai kopi? Nah nanti, biar lebih berasa keliling dunianya, kita pake imajinasi. Pura-pura aja lagi di Hawaii atau lagi kedinginan di Kutub Utara.”</p>

<p>Agrna diam untuk sepersekian detik. Lalu tertawa lagi meskipun setuju saja untuk pergi keliling dunia dengan versi Mark yang cukup lucu ini. “Kayak anak kecil ah.”</p>

<p>“Daripada gak tau mau ngapain, kan? Lagian belajar itu bukan tentang kita yang sekarang sudah besar atau masih kecil, Ra. Mungkin aja dari ensiklopedia itu kita beneran dapet ilmu yang berharga. Atau  mungkin aja setelah keliling dunia pake buku lo itu, kita bisa susun rencana buat merubah dunia? Gak ada yang tau, Ra. Jadi <em>please</em> ayo kita keliling dunia.”</p>

<p>“Oke oke.” jawabnya. “Sebentar gue ke atas dulu ambil bukunya.” dengan langkah pasti walaupun masih ada tawa yang melekat, akhirnya Agrna menuju ruang baca di lantai atas. Mengambil semua buku yang mereka perlukan untuk berkeliling dunia dengan imajinasi.</p>

<p>Mark kira akan hanya ada satu, dua atau tiga buku yang Agrna bawakan. Tapi ternyata ada hampir satu lusin. Melihat Agrna yang cukup kesulitan, Mark dengan sigap membantu meraih semua bukunya. Mereka berdua memilih untuk tidak duduk di sofa, karpet bulu yang berwarna abu-abu menjadi alas mereka duduk sekaligus menjadi transportasi mereka untuk terbang melaju ke seluruh sudut bagian bumi.</p>

<p>“Ini buku ensiklopedia dunia punya gue dari zaman TK, kalau ini buku cerminan dunia punya Papi, terus ini ensiklopedia sejarah dunia punya gue tapi selalu dipinjem abang. Nah yang ini buku <em>Science</em> yang selalu gue pake buat eksplor hutan juga semua isinya, dan ... Ini..”</p>

<p>”..buku ensiklopedia punya lo tentang langit, angkasa dan tata surya kan, Ra? Gue pinjem boleh?”</p>

<p>Lagi-lagi Agrna tersenyum ketika Mark merebut langsung buku yang ia pegang. “Iya, boleh.” katanya setuju.</p>

<p>Tanpa menghabiskan waktu lebih lama, Mark akhirnya mengambil ancang-ancang untuk memimpin agar keduanya dapat pergi berkeliling dunia dengan cara yang sederhana.</p>

<p>“Oke. Ya udah. Hm, kita mulai keliling dunianya ya, Ra. Oke, kita mulai dari Indonesia aja gimana?” Agrna tentu saja setuju karena Mark yang memegang kendali perjalanan mereka. Jadi kalaupun perjalanan mereka dimulai dari negara Malaysia sekalipun, ia tetap mau.</p>

<p>“Oke lagi, yuk kita mulai.” Mark menarik nafas panjang dan berusaha menciptakan suasana yang sangat mendukung agar mereka sampai ke tempat tujuan, Agrna disampingnya yang serius memerhatikan itu masih saja terkekeh gemas. “Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang di khatulistiwa sepanjang 3200 mil (5.120 km2) dan terdiri atas 13.667 pulau besar dan kecil. Nama Indonesia berasal dari bahasa Yunani, yaitu <em>Indo</em> yang berarti Indoa dan <em>Nesia</em> yang berarti kepulauan. Menurut beberapa ahli, yaitu Prof. ARYSIO SANTOS Indonesia adalah, <em>“benua yang hilang” yang sebenarnya menjadi pusat peradaban dunia.</em> Sedangkan, menurut DR. JIMMY OENTORO <em>Indonesia adalah tempat terbaik untuk hidup.</em> Udah kerasa keliling Indonesia-nya, Ra?”</p>

<p>Agrna mengangguk senang.</p>

<p>“Sip, oke, lanjut. Indonesia merupakan 1/5 populasi terbesar di dunia dengan penduduk yang berasal dari ras Melayu dan Polinesia serta terdiri dari 300 suku dan cabangnya yang mana masing-masing suku memiliki tradisi sendiri. Indonesia juga—”</p>

<p>“Mark, thanks ya.” potong Agrna tiba-tiba.</p>

<p>Mark yang masih menggantung ucapannya, kini menjadi yang paling penasaran karena ucapan terimakasih dari Agrna. Ucapan yang terdengar berbeda dari yang biasa ia dengar dan ucapan ini ternyata lebih dahsyat getarannya dibandingkan kemarin waktu gak sengaja kena setrum kabel di Laboratorium lantai 2.</p>

<p>“Buat?”</p>

<p>“Buat sekarang. Juga yang kemarin-kemarin.”</p>

<p>Mark masih diam, mendengarkan Agrna dengan sangat seksama.</p>

<p>“Mark, lo tuh sadar gak sih selalu ada di samping gue? Di setiap pagi ke malamnya gue, tidur ke tidur lagi, dapat disimpulkan lo tuh ada di paragraf cerita yang penulis sajikan buat gue, yang bahkan gue sendiri gak tau kenapa harus lo?” Agrna berhenti untuk terkekeh sebentar setelah raut wajah Mark berubah seketika. “Gue tau ini bakalan terdengar sangat menggelikan buat kita berdua, tapi ya Mark, nyatanya dengan adanya lo di hidup gue, gue jadi tau kalau <em>&#39;sayang&#39;</em> ke satu hal itu gak harus dengan cara yang berlebihan. Lo selalu ngasih gue bukti bahwa untuk bisa percaya ke lo itu dimulai dengan cara yang paling sederhana dan itu sangat luar biasa pengaruhnya di hidup gue. Gue gak pernah sekenyang kemarin waktu makan di Pak Gembus kalau bukan karena rebutan kol goreng sama lo, gue juga gak pernah se-<em>happy</em> tadi walaupun cuma goreng telur mata sapi yang lagi-lagi buat lo, bahkan sekarang gue gak pernah ngebayangin bisa keliling dunia dalam satu malam kalau bukan karena lo juga.”</p>

<p>Bagaikan ada satu cahaya besar yang meledak dihadapan Mark dalam bentuk nyata seorang Agrna, matanya sejak tadi tidak berhenti menatap perempuan itu. Silau baginya, namun terlalu indah untuk berpaling. Mark sejak tadi mencoba memahami semua perkataan yang gadis itu utarakan sambil terus merekam ekspresinya. Bukannya tidak tau harus merespon seperti apa, tapi Mark lebih dulu dibuat membeku. Semuanya terjadi begitu cepat dan singkat. Mark ingin mereka ulang hal itu sekali lagi tapi tidak bisa.</p>

<p><em>“Agrna, gue paling gak bisa kalau lo lagi mode begini.”</em></p>

<p>“Tetap kayak gini ya, bisa, &#39;kan? Gue suka lo apa adanya, Mark. Gue bahkan gatau kalau gak ada lo, mungkin hidup gue akan selalu mendamba keistimewaan, padahal gue ini adalah Agrna bukan martabak yang katanya istimewa.”</p>

<p>Agrna Leony, perempuan 19 tahun yang baru saja mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki lebih dulu. Harus dicatat sekarang adalah tanggal 01 Oktober 2021. Dirinya bukan tipe perempuan yang seperti ini, tapi ternyata kalau orangnya adalah Mark Leo semua terasa berbeda. Harus diakui, rasanya sangat menyenangkan ketika semua perasaan yang membuncah itu terucap langsung dihadapan orang yang kita sukai dan Agrna tidak menyesal sama sekali. Rasanya seperti berjalan di dalam mimpi. Bergandeng tangan dan saling melempar senyuman. Indah dan menyenangkan.</p>

<p>“Ra, lo nembak gue?”</p>

<p>Dengan cepat Agrna memukul lengan kiri Mark. Selain karena malu ucapan Mark juga terlalu frontal. “Nggak, anjir! Gue cuma mengungkapkan apa yang gue rasain. Itu semua jujur, jadi jangan diledekin ya.” pintanya dan Mark langsung meletakkan buku ensiklopedia yang sejak tadi ia pegang dengan tangan lemas.</p>

<p>“Oke kalau gitu giliran gue ya Ra?”</p>

<p>Agrna membalik tubuhnya, memunggungi Mark dengan menutup kedua telinga. Mark hanya terkekeh gemas. Yang tadinya sangat berani menyampaikan isi dari perasaannya sekarang harus berubah melemas kalau Mark ikut-ikutan mengungkapkan perasaan.</p>

<p>“Gak dulu <em>please</em> gue belum siap.” tanpa membalikkan tubuhnya, Agrna meminta Mark untuk berhenti. “Mending kita lanjut keliling dunia ya, oke?”</p>

<p>Mark menggeleng, menarik bahu Agrna untuk menghadap ke arahnya. Setelah ditemukan kedua netra yang teduh itu, Mark menyunggingkan satu senyum paling berarti. “Tapi keliling dunia sama lo, harus ada perasaan yang ikut gue sampein, Ra. Boleh sekarang giliran gue yang ngomong jujur?”</p>

<p>Seakan kedua bola matanya ingin meloncat keluar, Agrna langsung menunduk. Mark masih saja memerhatikan gerak gerik Agrna yang sangat menggemaskan dan ternyata gadis itu mengangguk sebagai isyarat kalau dirinya ternyata sudah siap mendengar isi hati Mark. Sedikit demi sedikit Agrna mengangkat kepalanya hanya untuk menatap binar mata Mark yang terpantul cahaya lampu itu.</p>

<p>“Gue sayang lo, Ra. Kalau lo tanya sejak kapan, itu gue gak tau. Bahkan dengan alasan <em>&#39;kenapa&#39;</em> gue bisa sayang lo itu juga gue gak bisa jelasin. Tapi Agrna, gue tulus. Gue gak pernah minta apapun ke Tuhan selain dikasih sehat biar besok-besok tetap bisa sama lo. Ra, Mark lo ini akan berubah menjadi sangat dangdut kalau bahasannya adalah lo. Gue gak tau kenapa, tapi setelah nama lo kesebut, gue selalu punya kekuatan sendiri. Lo percaya gak gue ngomong begini?” Agrna menggeleng dan Mark langsung menyetil halus hidung mungil Agrna. “Percaya, Ra, karena gue lagi mode dangdut banget sekarang. Lo pegang deh tangan gue, dingin kan? Coba sekarang lo pegang dada kiri gue, itu gue beneran ancur banget degdegannya. Kalau dikasih penyakit itu harusnya gue udah serangan jantung, Ra, tapi karena ada lo, gue jadi punya kekuatan buat terus genggam tangan ini.”</p>

<p>Agrna memandang Mark dalam-dalam dan tangannya yang hangat itu masih digenggam oleh dinginnya tangan Mark. Raut wajah laki-laki yang ada dihadapannya itu terlihat damai, seakan baru saja mendapati satu peti besar berisi harta karun. Kemudian tanpa harus merasakan debaran jantung yang lebih cepat lagi, Agrna menarik tangannya membiarkan tangan Mark dingin tanpa ada yang menggenggam.</p>

<p>Keduanya diam dalam kesunyian, padahal kesunyian yang tercipta diantara keduanya menambah tekanan yang ada. Keduanya semakin gugup.</p>

<p>“Ra,” panggil Mark pelan dan menyerahkan buku ensiklopedia dunia yang mereka baca berdua tadi.</p>

<p>“Gue takut gila, Ra.” tambahnya lagi dan memecah hening ketika keduanya kembali tertawa. Ini adalah malam yang paling bersejarah untuk mereka dan entah mengapa untuk berkedip saja sangat melelahkan.</p>

<p>“Jadi,” Mark melirik ke arah Agrna dan mereka tertawa lagi.</p>

<p>“Jadi apa?”</p>

<p><em>“Jadi, lo mau gak kalau gue ngajak lo pacaran, Ra?”</em></p>

<p>“Jadi mau lanjut keliling dunia gak, Ra?”</p>

<p>Agrna mengerucutkan bibirnya. Bukan pertanyaan yang ia nantikan tapi kemudian tersenyum mengiyakan ajakan Mark. “Mau, yuk keliling dunia lagi.”</p>

<p>Malam itu pun habis dengan cara yang paling manis. Teruntuk sebuah mimpi berjudul &#39;keliling dunia&#39; yang ternyata dapat diraih dengan sederhana, Mark pun bersyukur dan berjanji suatu saat ketika benar Agrna adalah orangnya, maka dunia, sudah ada digenggamannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/keliling-dunia</guid>
      <pubDate>Fri, 01 Oct 2021 14:14:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>ulang tahun Kita</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/ulang-tahun-kita?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tempat perayaan ulang tahun idola Agrna ini namanya Hometown. Cukup terkenal dikalangan anak muda sekarang, wajar kalau banyak yang kesini walaupun bukan malam minggu. Suasana yang tercipta disini sangat luar biasa apik, suhu ruangan terasa nyaman dengan banyak dipasangkan penyejuk udara, desain interior yang sangat memanjakan mata dan tata letak furniture-nya juga sangat pas. Selain itu, nilai plus dari tempat ini adalah selera musik yang diputarkan sangatlah bagus, genrenya Jazz. Alunan dari melodi yang tercipta spontan membuat siapa saja yang sedang menikmati hidangan terasa puas dan senang.&#xA;&#xA;Sekarang kalau bisa kita hitung sesuai dengan jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, mungkin sudah 27 menit Mark menunggu kehadiran Agrna sendiri. Jadi malah lo yang telat, Ra. Padahal tadi, cewek itu sudah wanti-wanti agar tidak telat datang tapi nyatanya yang punya syarat yang entah ada dimana. Mark duduk dengan rapi dan setia meskipun sejak tadi belum pesan apa-apa, padahal kalau menunggu sambil ditemani satu gelas es jeruk manis pasti rasanya akan lebih baik.&#xA;&#xA;“MARK SORRY GUE TELAT!” Agrna dengan nafas menderu seketika membuat Mark kaget. “Tadi abang ngide banget lewat sudirman, macet parah malam minggu gini.”&#xA;&#xA;Penampilan Agrna luar biasa indah. Hal ini mungkin menjadi pertama kali bagi Mark untuk melihat Agrna dibalut dress hitam dan dipasangkan sepatu converse warna senada. Rambut panjangnya dibiarkan terurai sembarang walaupun ada jepit rambut yang digantung di tasnya. Dari penilaian Mark sendiri, nilai untuk Agrna sekarang ada di angka 100 karena cantiknya itu tiada tanding. Bahkan lukisan wanita anggun dari kerajaan Inggris di tahun 80-an yang ada dibelakangnya itu terasa sia-sia untuk dipajang.&#xA;&#xA;“Gak apa-apa, Ra, lo cuma telat 30 menit.”&#xA;&#xA;Agrna tertawa karena tau kalau Mark cuma bercanda. Sok mencoba sarkas walaupun fine-fine saja daritadi menunggui Agrnanya itu. Kelemahan Mark itu cuma satu, dia adalah orang selalu on time dan tidak bisa marah kalau temannya terlambat. Apalagi ini Agrna, mana bisa marah kalau pereda emosinya adalah mata teduh itu. Mata indah Agrna lebih tepatnya.&#xA;&#xA;“Widih lo keren banget.” Agrna beneran memuji penampilan Mark yang casual tapi terlihat nyaman dipandang malam ini. Selain karena lucu pakaiannya sama-sama hitam, ternyata seru juga kalau pergi berpakaian rapih. &#xA;&#xA;“Lo juga cantik.” jawab Mark cepat.&#xA;&#xA;Agrna diam.&#xA;&#xA;“Tapi pakaian lo agak ribet ya, Ra.”&#xA;&#xA;“Kenapa? Gue sering kok pake dress gini. Bagus, lagian kan nanti mau foto-foto terus gue upload di sosmed biar Jae tau gue lagi rayain ulang tahun dia.” seru Agrna sembari menarik kursi untuk duduk tepat didepan Mark yang kemudian meletakkan semua barang yang ia pegang sejak tadi di atas meja. Di tangan Agrna ada handphone, satu kotak kue ulang tahun yang mereka pesan dengan desain paling sempurna, serta tas hitam kecil yang ia bawa. Mark membantu mengambil satu kotak kue tadi dari tangan Agrna yang terlihat sangat kewalahan.&#xA;&#xA;“Lo lupa pulang sama gue malam ini naik motor?”&#xA;&#xA;Agrna menggeleng. Nggak, tuh gadis itu tidak lupa kalau malam ini pulangnya diantar Mark menggunakan motor vespa matic hitam andalannya. Malah sudah tidak sabar menikmati angin malam diatas motor sambil menghitung bintang dan diledekin bulan. Bulan itu datang hanya untuk meledek bagi Agrna, meledek manusia yang kalau malam-malam masih ada diluar rumah, padahal kalau ada bulan itu harusnya tidur; istirahat yang banyak bukannya pergi main atau rayain ulang tahun idola.&#xA;&#xA;“Ya udah, nanti lo pulang pake jas ujan aja.”&#xA;&#xA;“Hah? Apa sih, ujan aja nggak. Gak usah ngide.” tunjuk Agrna ke arah luar jendela.&#xA;&#xA;“Gue mana tega sih liat lo naik motor pake pakaian gitu. Mana gak bawa jaket lo ya? Beneran deh, nurut aja Ra, pake jas ujan biar aman.”&#xA;&#xA;Agrna terkekeh. Ide gila macam apa itu? Malam tenang dan damai begini masa harus dilewati dengan atribut melawan hujan sih. Mark aneh tapi niatnya baik, Agrna tau kalau cowok itu sangat khawatir tapi itu terlalu berlebihan baginya.&#xA;&#xA;“Gue tuh udah biasa pake dress terus pergi keliling naik motor sama abang. Dulu waktu masih sekolah juga kan pake rok, ke kampus juga gue sering pake rok kok! Lo jangan lebay kayak Papi deh, chill aja chill.”&#xA;&#xA;“Ya udah urusan nanti aja deh itu, bisa kita cari solusinya. Gue beneran khawatir ya, Ra, lo jangan nganggep gue lebay. Demi lo juga ini.”&#xA;&#xA;“Iya Mark, iya!”&#xA;&#xA;Mark yang saat itu masih juga khawatir hanya bisa diam dan kemudian mengambil kotak kue besar yang sejak tadi ia simpan di sampingnya. Ada satu kue yang lain rupanya dan itu Mark sendiri yang pesan tanpa Agrna ketahui. Ekspresi Agrna terheran kenapa harus ada 2 kue sekarang?&#xA;&#xA;“Ini apaan?”&#xA;&#xA;“Kue ulang tahun.”&#xA;&#xA;“Buat Jae juga? Aduh kok lo bisa seperhatian itu sih, Mark?” Agrna dengan cepat mengambil alih satu kotak kue yang ukurannya lebih besar dari yang ia belikan untuk Jae. Dibukanya kotak tersebut tanpa kata nanti, aroma butter cream yang dijamin sangat lezat itu masuk begitu saja melalui indera penciumannya. Dengan perlahan, jemari lentik itu mengeluarkan kue tersebut dan tertulis disana sebuah kalimat;&#xA;&#xA;SELAMAT ULANG TAHUN KITA&#xA;&#xA;Agrna tidak mengerti artinya dan langsung menoleh ke arah Mark yang malahan tersenyum sendiri. &#xA;&#xA;“Jelasin.”&#xA;&#xA;Mark berdeham pelan dan memajukan sedikit duduknya untuk meraih kue yang masih dipegang Agrna. “Bulan kemarin kita sama-sama ulang tahun kan, Ra? Tapi gak ada yang saling ucapin karena memang kenalannya telat, jadi gak ada momen saling kirim doa, atau ucapan selamat satu sama lain. Apalagi tiup lilin bareng, itu juga gak ada. Makanya, gue mau malam ini rayain ulang tahun kita yang telat satu bulan, sekalian juga sama ulang tahun Jae. Gak apa-apa kan?”&#xA;&#xA;Mendengar ucapan Mark ternyata ampuh membuat Agrna diam seketika, saat itu juga Agrna mencoba untuk tersenyum setuju walaupun ini ide yang cukup konyol. Perayaan ulang tahun memang suatu hal yang simbolis untuk menghargai kehadiran seseorang, agar yang punya acara ulang tahun sadar masih banyak yang sayang dan perduli kepadanya selama ini.&#xA;&#xA;Nah, jadi, pertanyaannya sekarang adalah kalau ulang tahunnya sudah telat satu bulan tapi masih tetap dirayakan itu tandanya apa?&#xA;&#xA;“Haha gak apa-apa kok! Yuk pesen makan dulu biar abis itu kita tiup lilinnya ya?”&#xA;&#xA;“Iya, Ra.”&#xA;&#xA;Tandanya memang ada orang yang perduli dan sayang sama kamu walaupun ini bukan hari ulang tahunmu. Meskipun cara penyampaiannya bukan dengan kata sayang secara langsung, tapi diwakili oleh satu kue dan kehadiran sosok dia, itu sudah luar biasa maknanya.&#xA;&#xA;“Mark, thanks ya.”&#xA;&#xA;“My pleasure, Ra.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Tempat perayaan ulang tahun idola Agrna ini namanya Hometown. Cukup terkenal dikalangan anak muda sekarang, wajar kalau banyak yang kesini walaupun bukan malam minggu. Suasana yang tercipta disini sangat luar biasa apik, suhu ruangan terasa nyaman dengan banyak dipasangkan penyejuk udara, desain interior yang sangat memanjakan mata dan tata letak <em>furniture</em>-nya juga sangat pas. Selain itu, nilai plus dari tempat ini adalah selera musik yang diputarkan sangatlah bagus, genrenya Jazz. Alunan dari melodi yang tercipta spontan membuat siapa saja yang sedang menikmati hidangan terasa puas dan senang.</p>

<p>Sekarang kalau bisa kita hitung sesuai dengan jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, mungkin sudah 27 menit Mark menunggu kehadiran Agrna sendiri. <em>Jadi malah lo yang telat, Ra.</em> Padahal tadi, cewek itu sudah wanti-wanti agar tidak telat datang tapi nyatanya yang punya syarat yang entah ada dimana. Mark duduk dengan rapi dan setia meskipun sejak tadi belum pesan apa-apa, padahal kalau menunggu sambil ditemani satu gelas es jeruk manis pasti rasanya akan lebih baik.</p>

<p>“MARK SORRY GUE TELAT!” Agrna dengan nafas menderu seketika membuat Mark kaget. “Tadi abang ngide banget lewat sudirman, macet parah malam minggu gini.”</p>

<p>Penampilan Agrna luar biasa indah. Hal ini mungkin menjadi pertama kali bagi Mark untuk melihat Agrna dibalut dress hitam dan dipasangkan sepatu converse warna senada. Rambut panjangnya dibiarkan terurai sembarang walaupun ada jepit rambut yang digantung di tasnya. Dari penilaian Mark sendiri, nilai untuk Agrna sekarang ada di angka 100 karena cantiknya itu tiada tanding. Bahkan lukisan wanita anggun dari kerajaan Inggris di tahun 80-an yang ada dibelakangnya itu terasa sia-sia untuk dipajang.</p>

<p>“Gak apa-apa, Ra, lo cuma telat 30 menit.”</p>

<p>Agrna tertawa karena tau kalau Mark cuma bercanda. Sok mencoba sarkas walaupun <em>fine-fine</em> saja daritadi menunggui Agrnanya itu. Kelemahan Mark itu cuma satu, dia adalah orang selalu on time dan tidak bisa marah kalau temannya terlambat. Apalagi ini Agrna, mana bisa marah kalau pereda emosinya adalah mata teduh itu. Mata indah Agrna lebih tepatnya.</p>

<p>“Widih lo keren banget.” Agrna beneran memuji penampilan Mark yang casual tapi terlihat nyaman dipandang malam ini. Selain karena lucu pakaiannya sama-sama hitam, ternyata seru juga kalau pergi berpakaian rapih.</p>

<p>“Lo juga cantik.” jawab Mark cepat.</p>

<p>Agrna diam.</p>

<p>“Tapi pakaian lo agak ribet ya, Ra.”</p>

<p>“Kenapa? Gue sering kok pake dress gini. Bagus, lagian kan nanti mau foto-foto terus gue upload di sosmed biar Jae tau gue lagi rayain ulang tahun dia.” seru Agrna sembari menarik kursi untuk duduk tepat didepan Mark yang kemudian meletakkan semua barang yang ia pegang sejak tadi di atas meja. Di tangan Agrna ada handphone, satu kotak kue ulang tahun yang mereka pesan dengan desain paling sempurna, serta tas hitam kecil yang ia bawa. Mark membantu mengambil satu kotak kue tadi dari tangan Agrna yang terlihat sangat kewalahan.</p>

<p>“Lo lupa pulang sama gue malam ini naik motor?”</p>

<p>Agrna menggeleng. Nggak, tuh gadis itu tidak lupa kalau malam ini pulangnya diantar Mark menggunakan motor vespa matic hitam andalannya. Malah sudah tidak sabar menikmati angin malam diatas motor sambil menghitung bintang dan diledekin bulan. Bulan itu datang hanya untuk meledek bagi Agrna, meledek manusia yang kalau malam-malam masih ada diluar rumah, padahal kalau ada bulan itu harusnya tidur; istirahat yang banyak bukannya pergi main atau rayain ulang tahun idola.</p>

<p>“Ya udah, nanti lo pulang pake jas ujan aja.”</p>

<p>“Hah? Apa sih, ujan aja nggak. Gak usah ngide.” tunjuk Agrna ke arah luar jendela.</p>

<p>“Gue mana tega sih liat lo naik motor pake pakaian gitu. Mana gak bawa jaket lo ya? Beneran deh, nurut aja Ra, pake jas ujan biar aman.”</p>

<p>Agrna terkekeh. Ide gila macam apa itu? Malam tenang dan damai begini masa harus dilewati dengan atribut melawan hujan sih. Mark aneh tapi niatnya baik, Agrna tau kalau cowok itu sangat khawatir tapi itu terlalu berlebihan baginya.</p>

<p>“Gue tuh udah biasa pake dress terus pergi keliling naik motor sama abang. Dulu waktu masih sekolah juga kan pake rok, ke kampus juga gue sering pake rok kok! Lo jangan lebay kayak Papi deh, <em>chill</em> aja <em>chill</em>.”</p>

<p>“Ya udah urusan nanti aja deh itu, bisa kita cari solusinya. Gue beneran khawatir ya, Ra, lo jangan nganggep gue lebay. Demi lo juga ini.”</p>

<p>“Iya Mark, iya!”</p>

<p>Mark yang saat itu masih juga khawatir hanya bisa diam dan kemudian mengambil kotak kue besar yang sejak tadi ia simpan di sampingnya. Ada satu kue yang lain rupanya dan itu Mark sendiri yang pesan tanpa Agrna ketahui. Ekspresi Agrna terheran kenapa harus ada 2 kue sekarang?</p>

<p>“Ini apaan?”</p>

<p>“Kue ulang tahun.”</p>

<p>“Buat Jae juga? Aduh kok lo bisa seperhatian itu sih, Mark?” Agrna dengan cepat mengambil alih satu kotak kue yang ukurannya lebih besar dari yang ia belikan untuk Jae. Dibukanya kotak tersebut tanpa kata nanti, aroma <em>butter cream</em> yang dijamin sangat lezat itu masuk begitu saja melalui indera penciumannya. Dengan perlahan, jemari lentik itu mengeluarkan kue tersebut dan tertulis disana sebuah kalimat;</p>

<p><strong>SELAMAT ULANG TAHUN KITA</strong></p>

<p>Agrna tidak mengerti artinya dan langsung menoleh ke arah Mark yang malahan tersenyum sendiri.</p>

<p>“Jelasin.”</p>

<p>Mark berdeham pelan dan memajukan sedikit duduknya untuk meraih kue yang masih dipegang Agrna. “Bulan kemarin kita sama-sama ulang tahun kan, Ra? Tapi gak ada yang saling ucapin karena memang kenalannya telat, jadi gak ada momen saling kirim doa, atau ucapan selamat satu sama lain. Apalagi tiup lilin bareng, itu juga gak ada. Makanya, gue mau malam ini rayain ulang tahun kita yang telat satu bulan, sekalian juga sama ulang tahun Jae. Gak apa-apa kan?”</p>

<p>Mendengar ucapan Mark ternyata ampuh membuat Agrna diam seketika, saat itu juga Agrna mencoba untuk tersenyum setuju walaupun ini ide yang cukup konyol. Perayaan ulang tahun memang suatu hal yang simbolis untuk menghargai kehadiran seseorang, agar yang punya acara ulang tahun sadar masih banyak yang sayang dan perduli kepadanya selama ini.</p>

<p>Nah, jadi, pertanyaannya sekarang adalah <em>kalau ulang tahunnya sudah telat satu bulan tapi masih tetap dirayakan itu tandanya apa?</em></p>

<p>“Haha gak apa-apa kok! Yuk pesen makan dulu biar abis itu kita tiup lilinnya ya?”</p>

<p>“Iya, Ra.”</p>

<p><em>Tandanya memang ada orang yang perduli dan sayang sama kamu walaupun ini bukan hari ulang tahunmu. Meskipun cara penyampaiannya bukan dengan kata sayang secara langsung, tapi diwakili oleh satu kue dan kehadiran sosok dia, itu sudah luar biasa maknanya.</em></p>

<p>“Mark, <em>thanks</em> ya.”</p>

<p>“<em>My pleasure</em>, Ra.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/ulang-tahun-kita</guid>
      <pubDate>Sat, 18 Sep 2021 13:10:28 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Asal lo gak badmood lagi</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/asal-lo-gak-badmood-lagi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Ra.”&#xA;&#xA;“Hm?” si empunya rasa sedih sejak tadi menjawab dengan rasa malas.&#xA;&#xA;“Udah dong badmood-nya, kan tadi udah dijelasin sama bapaknya kenapa belum bisa dipelihara. Itu hewan buas Ra, lo gak punya latar belakang yang pas buat pelihara singa gitu aja. Terkecuali kalau emang lo mau adopsi, ntar dibantu rawat sama pihak BKSDA.” Mark menjelaskan kembali alasan mengapa mereka harus pulang dengan tangan kosong.&#xA;&#xA;“Iya gue tau, tapi kan tadi kata mereka juga belum ada anak singa yang bisa di adopsi dalam waktu dekat. Gue sedihnya disitu, udah jauh-jauh tapi gak ketemu sama sekali.”&#xA;&#xA;“Ra, yang kita cari ini anak singa bukan ikan lele di pasar.”&#xA;&#xA;Agrna hampir tertawa tapi berhasil juga ditahan walaupun Mark sadar Agrna menahannya. Ini lucu kalau dipikirkan sekali lagi, semuanya serba mendadak dan terjadi begitu saja. Kemauan untuk pelihara anak singa baru terbesit kemarin malam dan siang ini harus kecewa karena memang yang dicari belum ada.&#xA;&#xA;“Udah dong ya, jangan badmood lagi oke?”&#xA;&#xA;Agrna diam. Tipekal cewek pada umumnya kalau kata Mark, tapi ini adalah hal wajar. Mark tidak mau berkomentar apa-apa lagi, cukup fokus saja menyetir untuk pulang. Ditemani lagu radio yang sinyalnya sering hilang, jalan pulang yang terbilang sepi dan Agrna yang sedang sedih. Sebuah kombinasi yang sangat pas untuk Mark geleng-geleng kepala sejak tadi.&#xA;&#xA;“Lo mau apa deh biar gak sedih lagi?”&#xA;&#xA;“Gak ada.” jawab Agrna cepat. Belum ada hal yang lebih tepat untuk menggatikan keinginannya bertemu anak singa walaupun satu box martabak keju yang enak itu.&#xA;&#xA;“Kan kata bapaknya diusahain bulan depan udah ada anak singanya, Ra. Ya Allah lo kalau masih mau ngambek-ngambek gini gue masukin kandang kambing aja deh ya?”&#xA;&#xA;Akhirnya tawa Agrna lepas, sudah tidak sanggup ditahan walaupun rada sedih hatinya.&#xA;&#xA;“Tega banget lo!”&#xA;&#xA;“Gitu doang ketawa, Ra, ajakin gue ngobrol kek biar gak ngantuk nyetirnya.”&#xA;&#xA;“Hah jangan ngantuk dong.”&#xA;&#xA;“Iya nggak. Makanya temenin ngobrol kek.”&#xA;&#xA;“Ngobrol apaan, nanti ujung-ujungnya gue bahas singa lagi gimana?”&#xA;&#xA;“Ya apa kek jangan asal bahas singa.”&#xA;&#xA;Saat itu juga Agrna menimbang topik apa ya yang enak untuk dijadikan bahan obrolan di jalan pulang sekarang. Kalau bahas K-pop, Mark pasti susah nyambungnya, kalau bahas drama korea Mark juga pasti gak pernah nonton, kalau bahas Harry Potter kemarin malam sudah dibahas, dan emang paling benar bahas anak singa tapi Mark gak mau.&#xA;&#xA;“Ah lama lo,”&#xA;&#xA;“Gue gak tau mau ngobrol apaan. Udah ah diem-dieman aja gue beneran lagi berat hatinya karena belum ketemu simba. Tapi kalau lo mau ngobrol tanya-tanya aja gue nanti gue jawab sebisanya.” tegas Agrna yang kemudian di iyakan oleh Mark. Perjalanan pulang menjadi hal yang paling berat bagi Agrna, ditambah pula tidak mendapatkan apa-apa.&#xA;&#xA;Langit cerah dan angin kencang ternyata belum bisa menaikkan mood Agrna kembali kecuali penawaran paling manjur yang Mark berikan.&#xA;&#xA;“Sebelum balik ke rumah beli Xing Fu Tang dulu aja mau?”&#xA;&#xA;“Xiboba gue maunya!” jawab Agrna antusias.&#xA;&#xA;“Oke asal lo gak badmood lagi, Ra, gapapa gue anter ke Xiboba aja walaupun tempatnya jauh.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Ra.”</p>

<p>“Hm?” si empunya rasa sedih sejak tadi menjawab dengan rasa malas.</p>

<p>“Udah dong <em>badmood</em>-nya, kan tadi udah dijelasin sama bapaknya kenapa belum bisa dipelihara. Itu hewan buas Ra, lo gak punya latar belakang yang pas buat pelihara singa gitu aja. Terkecuali kalau emang lo mau adopsi, ntar dibantu rawat sama pihak BKSDA.” Mark menjelaskan kembali alasan mengapa mereka harus pulang dengan tangan kosong.</p>

<p>“Iya gue tau, tapi kan tadi kata mereka juga belum ada anak singa yang bisa di adopsi dalam waktu dekat. Gue sedihnya disitu, udah jauh-jauh tapi gak ketemu sama sekali.”</p>

<p>“Ra, yang kita cari ini anak singa bukan ikan lele di pasar.”</p>

<p>Agrna hampir tertawa tapi berhasil juga ditahan walaupun Mark sadar Agrna menahannya. Ini lucu kalau dipikirkan sekali lagi, semuanya serba mendadak dan terjadi begitu saja. Kemauan untuk pelihara anak singa baru terbesit kemarin malam dan siang ini harus kecewa karena memang yang dicari belum ada.</p>

<p>“Udah dong ya, jangan badmood lagi oke?”</p>

<p>Agrna diam. Tipekal cewek pada umumnya kalau kata Mark, tapi ini adalah hal wajar. Mark tidak mau berkomentar apa-apa lagi, cukup fokus saja menyetir untuk pulang. Ditemani lagu radio yang sinyalnya sering hilang, jalan pulang yang terbilang sepi dan Agrna yang sedang sedih. Sebuah kombinasi yang sangat pas untuk Mark geleng-geleng kepala sejak tadi.</p>

<p>“Lo mau apa deh biar gak sedih lagi?”</p>

<p>“Gak ada.” jawab Agrna cepat. Belum ada hal yang lebih tepat untuk menggatikan keinginannya bertemu anak singa walaupun satu box martabak keju yang enak itu.</p>

<p>“Kan kata bapaknya diusahain bulan depan udah ada anak singanya, Ra. Ya Allah lo kalau masih mau ngambek-ngambek gini gue masukin kandang kambing aja deh ya?”</p>

<p>Akhirnya tawa Agrna lepas, sudah tidak sanggup ditahan walaupun rada sedih hatinya.</p>

<p>“Tega banget lo!”</p>

<p>“Gitu doang ketawa, Ra, ajakin gue ngobrol kek biar gak ngantuk nyetirnya.”</p>

<p>“Hah jangan ngantuk dong.”</p>

<p>“Iya nggak. Makanya temenin ngobrol kek.”</p>

<p>“Ngobrol apaan, nanti ujung-ujungnya gue bahas singa lagi gimana?”</p>

<p>“Ya apa kek jangan asal bahas singa.”</p>

<p>Saat itu juga Agrna menimbang topik apa ya yang enak untuk dijadikan bahan obrolan di jalan pulang sekarang. Kalau bahas K-pop, Mark pasti susah nyambungnya, kalau bahas drama korea Mark juga pasti gak pernah nonton, kalau bahas Harry Potter kemarin malam sudah dibahas, dan emang paling benar bahas anak singa tapi Mark gak mau.</p>

<p>“Ah lama lo,”</p>

<p>“Gue gak tau mau ngobrol apaan. Udah ah diem-dieman aja gue beneran lagi berat hatinya karena belum ketemu simba. Tapi kalau lo mau ngobrol tanya-tanya aja gue nanti gue jawab sebisanya.” tegas Agrna yang kemudian di iyakan oleh Mark. Perjalanan pulang menjadi hal yang paling berat bagi Agrna, ditambah pula tidak mendapatkan apa-apa.</p>

<p>Langit cerah dan angin kencang ternyata belum bisa menaikkan mood Agrna kembali kecuali penawaran paling manjur yang Mark berikan.</p>

<p>“Sebelum balik ke rumah beli Xing Fu Tang dulu aja mau?”</p>

<p>“Xiboba gue maunya!” jawab Agrna antusias.</p>

<p>“Oke asal lo gak badmood lagi, Ra, gapapa gue anter ke Xiboba aja walaupun tempatnya jauh.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/asal-lo-gak-badmood-lagi</guid>
      <pubDate>Wed, 15 Sep 2021 09:42:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Agrna, terimakasih.</title>
      <link>https://indomilkavocado.writeas.com/agrna-terimakasih?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;Agrna, terimakasih.&#xA;&#xA;“Lo tuh gimana? Udah dapet keputusannya?” tanya Agrna yang saat itu masih asyik menyesap es teh manis miliknya.&#xA;&#xA;Dihadapannya, Mark seketika mematung. Pertanyaan yang seharusnya dihindari sejak pagi tapi kenapa harus ditanya lagi? Agrna pula yang bertanya, jadi makin malas untuk menjawab.&#xA;&#xA;“Belum.”&#xA;&#xA;“Lo beneran segalau itu ya buat milih antara pergi atau nggak?”&#xA;&#xA;“Iya.” Mark menyudahi makannya, walaupun belum sepenuhnya kenyang tetapi semua lauk yang ada didepannya sudah habis. Biasanya, Mark akan kenyang kalau habis dua porsi nasi dan juga ayam. Tapi karena ada satu pertanyaan menganggur tepat jatuh kepadanya, nafsu makannya hilang seketika.&#xA;&#xA;“Gue seminggu ini abis dikejer waktu, Ra, belum lagi ditagihin jawaban sama Pak Johan. Sebenernya gue bisa aja langsung jawab, ‘Iya saya mau Pak.’ tapi gak bisa, ada hal yang jadi pertimbangan gue. Dan gue gamau ninggalin itu.” &#xA;&#xA;“Lo, Ra maksudnya.” batin Mark menunjuk Agrna saat itu juga.&#xA;&#xA;Agrna mengangguk, selama ia mengenal Mark belum pernah sekalipun cowok itu terlihat segusar sekarang. Pasti memang berat baginya untuk pergi jauh ke negri orang, tapi apapun alasannya semoga Mark bisa berfikir dengan sangat matang.&#xA;&#xA;“Tapi lo tuh ya, keliatannya kayak mau banget berangkat, iya kan? Atau perasaan gue aja?”&#xA;&#xA;“Gue sebenernya mau, tapi masih belum siap aja buat jawab iya atau nggaknya. Berat, Ra, gue gatau kenapa. Dari kemarin tuh gue kayak minta ditahan dan diyakinin buat gak pergi, tapi disisi lain gue juga pingin berangkat dan buktiin ke semua orang, kalau pilihan gue untuk pergi tuh gak salah.”&#xA;&#xA;Agrna menangkap semua poin yang Mark sebutkan tadi. Ada kegelisahan yang ikut merasukinya secara tiba-tiba. Mark menghembuskan nafasnya berat, seperti orang yang benar-benar lelah. Agrna tidak ikut berkomentar cepat walaupun ada sekelibat kata yang ingin ia sampaikan sekarang.&#xA;&#xA;“Kalau gue beneran pergi, lo keberatan gak sih, Ra?”&#xA;&#xA;Saat itu juga Agrna terkesiap. Oh iya, ya, pertanyaan Mark menyadarkan sisi hatinya yang disana, ada bagian kecil yang tidak ingin ditinggal meskipun belum tau alasannya yang mana. Tapi yang Agrna tau, dia tidak boleh egois, pilihan Mark untuk pergi ke Canada itu sepenuhnya milik Mark dan jika memang Mark memilih untuk tidak pergi, harusnya, rasa senang karena tidak jadi ditinggal itu cepat-cepat dibuang jauh.&#xA;&#xA;“Gak kok, gue malah dukung lo pergi.” bohong. Agrna bohong tapi Mark tidak sadar.&#xA;&#xA;“Beneran?”&#xA;&#xA;“Mark coba lo bayangin, kalau lo jadi berangkat terus lakuin penelitian disana dan ternyata semua yang lo kerjain membuahkan hasil yang bagus, gimana? Apa gak sayang kalau lo tolak gitu aja? Setau gue ya, ikutan proyek gitu prospek kerja lo kedepannya terjamin. Mana gratis semua biaya lo ditanggung kampus, jadi alasan lo buat gak ikut apaan coba deh? Harusnya gak ada!”&#xA;&#xA;Agrna benar, itu adalah saran yang paling manjur untuk membuat Mark tersadar. Bahkan, ucapan Agrna lebih pedih rasanya ketimbang harus digaplok pipinya empat kali.&#xA;&#xA;“Iya juga ya, Ra?”&#xA;&#xA;“Iya lah! Gue tuh ya kalau kemarin gak sibuk acara BEM, pasti join proyekan di jurusan gue. Lumayan banget bisa ke Jepang, kuliah disana 3 bulan sekalian penelitian.” Agrna menggeser piring kosong yang ada didepannya dan agak sedikit maju ke arah Mark untuk bisa mengobrol lebih serius lagi. “Udah deh, gak usah dipikirin lagi jawaban lo udah pasti berangkat. Gue yang dukung.”&#xA;&#xA;“Emang dukungan dari lo yang gue tunggu dari kemarin, Ra. Cuma gue belum siap aja denger lo nyuruh gue pergi.”&#xA;&#xA;“Ah, dangdut banget lo.” jawab Agrna cepat-cepat. “Lo pikirin bagian ini deh, kalau lo berangkat dan penelitian lo ternyata sukses, yang bangga bukan cuma tim lo aja. Tapi orang tua lo juga, keluarga lo, kampus ikut bangga, bahkan nih kalau sampe mengharumkan nama bangsa bisa-bisa satu Indonesia juga bangga!”&#xA;&#xA;Mark lantas tersenyum, kali ini murni karena kemauannya sendiri, bukan sedang meledek Agrna atas ucapannya tadi. “Thanks ya, Ra.” Maka senyum tadi memang ditujukan untuk Agrna  yang sekaligus ikut melega hatinya.&#xA;&#xA;“Oke, berarti lo beneran berangkat kan?”&#xA;&#xA;“Iya,” Mark mengangguk, “Berkat lo.”&#xA;&#xA;Agrna tertawa puas, ternyata sarannya diterima dengan lapang dada oleh Mark.&#xA;&#xA;“Jangan lama-lama kasih jawabannya, kasian Redo pusing nungguin lo doang.”&#xA;&#xA;“Minggu depan udah gue kasih jawabannya.”&#xA;&#xA;“Bagus. Soalnya kata abang, ngurus visa rada ribet jadi memang harus diurus dari sekarang biar pas mau berangkat nanti gak kelabakan. Terus itu sebelum berangkat lo pada harus pelatihan dulu kan? Mau ada pembekalannya juga kan? Makin repot tuh kedepannya, jadi jangan lama-lama gantungin orang.”&#xA;&#xA;Jangan lama-lama gantungin orang kata Agrna dan Mark tertawa puas.&#xA;&#xA;“Lo kenapa tiba-tiba ketawa?” tanya Agrna sedikit kaget. “Ada cabe ya di gigi gue?”&#xA;&#xA;Mark masih tertawa meskipun matanya kini menatap ke arah Agrna yang cepat-cepat berkaca di kamera handphone-nya. Sialan buat Agrna kalau sudah serius ngobrol daritadi tapi harus berduer dengan cabai yang menyangkut.&#xA;&#xA;“Agrna, setelah gue pergi dan penelitian gue beres disana, gue mau buat semua orang bangga kayak kata lo tadi. Orang tua gue, keluarga, kampus bahkan satu Indonesia mau gue buat bangga.”&#xA;&#xA;Cewek cantik yang ternyata tidak menemukan cabai di giginya itu ikut tersenyum ke arah Mark. Satu acungan jempol dari Agrna tertuju ke arah Mark.&#xA;&#xA;“Tapi lo jangan lupa Ra, gue pergi juga mau buat lo bangga. Jadi, thanks ya udah izinin gue pergi, walaupun lama nanti kita jauhan gue harap lo tetep nunggu gue sampe beneran kata ‘bangga’ bisa lo lihat di dahi gue.”&#xA;&#xA;Rasanya begitu damai melihat Agrna tersenyum haru di malam tenang hari ini. Mark menatap wajah cantik itu, mengabadikannya di dalam kepala untuk bisa diingatnya suatu hari ketika rindu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Agrna, terimakasih.</p>

<p>“Lo tuh gimana? Udah dapet keputusannya?” tanya Agrna yang saat itu masih asyik menyesap es teh manis miliknya.</p>

<p>Dihadapannya, Mark seketika mematung. Pertanyaan yang seharusnya dihindari sejak pagi tapi kenapa harus ditanya lagi? Agrna pula yang bertanya, jadi makin malas untuk menjawab.</p>

<p>“Belum.”</p>

<p>“Lo beneran segalau itu ya buat milih antara pergi atau nggak?”</p>

<p>“Iya.” Mark menyudahi makannya, walaupun belum sepenuhnya kenyang tetapi semua lauk yang ada didepannya sudah habis. Biasanya, Mark akan kenyang kalau habis dua porsi nasi dan juga ayam. Tapi karena ada satu pertanyaan menganggur tepat jatuh kepadanya, nafsu makannya hilang seketika.</p>

<p>“Gue seminggu ini abis dikejer waktu, Ra, belum lagi ditagihin jawaban sama Pak Johan. Sebenernya gue bisa aja langsung jawab, ‘Iya saya mau Pak.’ tapi gak bisa, ada hal yang jadi pertimbangan gue. Dan gue gamau ninggalin itu.”</p>

<p>“Lo, Ra maksudnya.” batin Mark menunjuk Agrna saat itu juga.</p>

<p>Agrna mengangguk, selama ia mengenal Mark belum pernah sekalipun cowok itu terlihat segusar sekarang. Pasti memang berat baginya untuk pergi jauh ke negri orang, tapi apapun alasannya semoga Mark bisa berfikir dengan sangat matang.</p>

<p>“Tapi lo tuh ya, keliatannya kayak mau banget berangkat, iya kan? Atau perasaan gue aja?”</p>

<p>“Gue sebenernya mau, tapi masih belum siap aja buat jawab iya atau nggaknya. Berat, Ra, gue gatau kenapa. Dari kemarin tuh gue kayak minta ditahan dan diyakinin buat gak pergi, tapi disisi lain gue juga pingin berangkat dan buktiin ke semua orang, kalau pilihan gue untuk pergi tuh gak salah.”</p>

<p>Agrna menangkap semua poin yang Mark sebutkan tadi. Ada kegelisahan yang ikut merasukinya secara tiba-tiba. Mark menghembuskan nafasnya berat, seperti orang yang benar-benar lelah. Agrna tidak ikut berkomentar cepat walaupun ada sekelibat kata yang ingin ia sampaikan sekarang.</p>

<p>“Kalau gue beneran pergi, lo keberatan gak sih, Ra?”</p>

<p>Saat itu juga Agrna terkesiap. Oh iya, ya, pertanyaan Mark menyadarkan sisi hatinya yang disana, ada bagian kecil yang tidak ingin ditinggal meskipun belum tau alasannya yang mana. Tapi yang Agrna tau, dia tidak boleh egois, pilihan Mark untuk pergi ke Canada itu sepenuhnya milik Mark dan jika memang Mark memilih untuk tidak pergi, harusnya, rasa senang karena tidak jadi ditinggal itu cepat-cepat dibuang jauh.</p>

<p>“Gak kok, gue malah dukung lo pergi.” bohong. Agrna bohong tapi Mark tidak sadar.</p>

<p>“Beneran?”</p>

<p>“Mark coba lo bayangin, kalau lo jadi berangkat terus lakuin penelitian disana dan ternyata semua yang lo kerjain membuahkan hasil yang bagus, gimana? Apa gak sayang kalau lo tolak gitu aja? Setau gue ya, ikutan proyek gitu prospek kerja lo kedepannya terjamin. Mana gratis semua biaya lo ditanggung kampus, jadi alasan lo buat gak ikut apaan coba deh? Harusnya gak ada!”</p>

<p>Agrna benar, itu adalah saran yang paling manjur untuk membuat Mark tersadar. Bahkan, ucapan Agrna lebih pedih rasanya ketimbang harus digaplok pipinya empat kali.</p>

<p>“Iya juga ya, Ra?”</p>

<p>“Iya lah! Gue tuh ya kalau kemarin gak sibuk acara BEM, pasti join proyekan di jurusan gue. Lumayan banget bisa ke Jepang, kuliah disana 3 bulan sekalian penelitian.” Agrna menggeser piring kosong yang ada didepannya dan agak sedikit maju ke arah Mark untuk bisa mengobrol lebih serius lagi. “Udah deh, gak usah dipikirin lagi jawaban lo udah pasti berangkat. Gue yang dukung.”</p>

<p>“Emang dukungan dari lo yang gue tunggu dari kemarin, Ra. Cuma gue belum siap aja denger lo nyuruh gue pergi.”</p>

<p>“Ah, dangdut banget lo.” jawab Agrna cepat-cepat. “Lo pikirin bagian ini deh, kalau lo berangkat dan penelitian lo ternyata sukses, yang bangga bukan cuma tim lo aja. Tapi orang tua lo juga, keluarga lo, kampus ikut bangga, bahkan nih kalau sampe mengharumkan nama bangsa bisa-bisa satu Indonesia juga bangga!”</p>

<p>Mark lantas tersenyum, kali ini murni karena kemauannya sendiri, bukan sedang meledek Agrna atas ucapannya tadi. “Thanks ya, Ra.” Maka senyum tadi memang ditujukan untuk Agrna  yang sekaligus ikut melega hatinya.</p>

<p>“Oke, berarti lo beneran berangkat kan?”</p>

<p>“Iya,” Mark mengangguk, “Berkat lo.”</p>

<p>Agrna tertawa puas, ternyata sarannya diterima dengan lapang dada oleh Mark.</p>

<p>“Jangan lama-lama kasih jawabannya, kasian Redo pusing nungguin lo doang.”</p>

<p>“Minggu depan udah gue kasih jawabannya.”</p>

<p>“Bagus. Soalnya kata abang, ngurus visa rada ribet jadi memang harus diurus dari sekarang biar pas mau berangkat nanti gak kelabakan. Terus itu sebelum berangkat lo pada harus pelatihan dulu kan? Mau ada pembekalannya juga kan? Makin repot tuh kedepannya, jadi jangan lama-lama gantungin orang.”</p>

<p>Jangan lama-lama gantungin orang kata Agrna dan Mark tertawa puas.</p>

<p>“Lo kenapa tiba-tiba ketawa?” tanya Agrna sedikit kaget. “Ada cabe ya di gigi gue?”</p>

<p>Mark masih tertawa meskipun matanya kini menatap ke arah Agrna yang cepat-cepat berkaca di kamera handphone-nya. Sialan buat Agrna kalau sudah serius ngobrol daritadi tapi harus berduer dengan cabai yang menyangkut.</p>

<p>“Agrna, setelah gue pergi dan penelitian gue beres disana, gue mau buat semua orang bangga kayak kata lo tadi. Orang tua gue, keluarga, kampus bahkan satu Indonesia mau gue buat bangga.”</p>

<p>Cewek cantik yang ternyata tidak menemukan cabai di giginya itu ikut tersenyum ke arah Mark. Satu acungan jempol dari Agrna tertuju ke arah Mark.</p>

<p>“Tapi lo jangan lupa Ra, gue pergi juga mau buat lo bangga. Jadi, thanks ya udah izinin gue pergi, walaupun lama nanti kita jauhan gue harap lo tetep nunggu gue sampe beneran kata ‘bangga’ bisa lo lihat di dahi gue.”</p>

<p>Rasanya begitu damai melihat Agrna tersenyum haru di malam tenang hari ini. Mark menatap wajah cantik itu, mengabadikannya di dalam kepala untuk bisa diingatnya suatu hari ketika rindu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://indomilkavocado.writeas.com/agrna-terimakasih</guid>
      <pubDate>Thu, 09 Sep 2021 11:36:46 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>