“Halo gue Mark.”

[Agrna]

“There will always be a reason why you meet people. Either they will change your life, or you’re the one that will change theirs.”

Ada yang sudah pernah mendengar atau membaca sebuah quotes seperti yang tertulis diatas? Kalau iya, bagaimana reaksi kalian? Lebih tepatnya jawaban cepat kalian setelah selesai membaca dan menemukan titik temu dari quotes tersebut?

Jujur, ini bicara menurut gue yang tadi gak sengaja scrolling timeline instagram dan menemukan salah satu temen yang merepost quotes ini. Hal pertama yang gue rasain setelah selesai baca quotes ini memang diam dulu sebentar, tidak mengiyakan dan tidak pula lanjut scroll. Karena memang setelah baca sebentar quotes itu tadi, pikiran gue langsung mengarah pada beberapa nama yang bahkan akal gue gak nyampe untuk mikir ke sana kecuali memang alam bawah sadar yang lagi eror siang bolong begini.

Nama yang pertama terlintas dipikiran gue adalah Nathaniel Wijaya, si Wije laki-laki pendiam tapi manis yang sangat gue idam-idamkan dalam satu bulan terakhir ini. Kalau ditanya dia tipe gue apa bukan, mungkin jawaban gue akan ‘iya’ untuk sekarang. Wije sudah menangin hati gue karena selain tampan rupanya, dia juga orang yang baik, penyabar, hebat dalam fotografi, dan yang paling penting dia orang yang manis kalau lawan bicaranya adalah perempuan. Gue gak tau pasti kenapa Wije bisa sangat gentle seperti itu ke gue misalnya, tapi gue yakin kalau Wije pasti dibesarkan dengan prinsip bahwa perempuan itu harusnya dijaga dan disayang sebaik mungkin.

Buat Mamanya Wije yang belum pernah gue temui, terimakasih ya Tante, Wijenya sudah dibesarkan menjadi anak yang sangat baik pekertinya.

Untuk nama yang kedua terlintas dipikiran gue kini sangatlah out of the box, bahkan gue sempat merinding sebentar setelah sadar kenapa harus nama itu yang masuk ke dalam pilihan orang yang gue nantikan cerita panjangnya dalam hidup ini.

“MARK LEO NUGRAHA! Gak ada mardun-mardunnya!” penjelasan Mark lewat pesan singkat kemarin masih terngiang begitu nyaring di pikiran gue sekarang. Meskipun gue baru kenal dia 2 hari, tapi kenapa gue sekarang harus penasaran juga sih sama dia? Padahal untuk ketemu secara langsung saja belum.

Tapi kalau dilihat dari foto profil Whatsapp yang Mark pakai, dia terlihat seperti laki-laki biasa pada umumnya. Tidak ada yang spesial. Kecuali banyolan Mark yang kelewat gak jelasnya itu. Selain itu, menurut gue Mark juga kuno karena hari gini masih aja percaya ramalan zodiak yang berujung musyrik. Kalau begitu, harusnya Mark tidak termasuk ke dalam tipe yang gue mau.

Ah, sudahlah, kalau pikiran cuma tentang siapa yang bertahan lama dan memberikan pelajaran dalam hidup ini, gak akan selesai dan gue gak mau ribet untuk sekarang. Hal penting dalam detik ini adalah mengisi perut setelah hampir 3 jam rapat koordinator terakhir dihadiri oleh Kating yang katanya dulu paling pakar dalam urusan acara BEM. Padahal, dalam setiap saran yang diberi bukannya membangun malah terkesan menyalahkan. Capek dengernya.

Kantin terenak di MIPA memang cuma kantin bude, selain rasa sambalnya yang khas disini juga ada es kopi dalgona yang dulu sempat viral. Gue suka kopi dalgona yang bude buat karena kalau gue yang buat sendiri dirumah sering gagalnya.

“Ra, lauk apa?” tanya Elida yang siang ini gue tarik paksa buat temenin makan siang.

“Pake ayam kecap gue ya, sama mintain sambal dikit.”

Elida mengangguk sembari menuliskan menu makanan yang gue mau untuk siang ini. Harusnya sih ini kantin prasmanan yang bisa di ambil sendiri lauknya, tapi karena bude tau gue anaknya mager ngambil lauk makan sendiri jadi memang paling enak tulis saja nanti tinggal diantar.

“Minum pake apa, Ra?”

“Es kopi dalgona satu, aqua dingin satu.”

“Oke gue juga mau coba deh dalgonanya kata lo enak banget kan ya?”

“Beneran enak, gue gak bohong. Lo harus coba El!”

Kemudian Elida beranjak dari duduknya dan mengantarkan catatan pesanan makan siang yang kami pilih tadi. Tidak banyak bicara, gue dan Elida sama-sama diam. Di jurusan sendiri, gue termasuk yang gak punya banyak teman tapi sebisa mungkin untuk berbaur dengan semuanya. Tapi setelah ikut serta dalam kepengurusan BEM, gue jadi tau kalau ada perempuan baik yang bisa gue jadikan teman meski beda Prodi. Iya, Elida. Dia sebenarnya termasuk orang baru juga dalam hidup gue yang mana kehadirannya mengajarkan gue kalau ternyata perempuan cantik seperti bidadari itu ada nyantanya. Senyum Elida itu manis dan sikapnya juga gak kalah manis, walaupun ada aja kelakuan polosnya tapi itu gak mengurangi penilaian orang-orang buat Elida.

“Loh itu Wije, Ra.” tunjuk Elida ke arah belakang punggung gue. “Je, sini!” tanpa pikir panjang, mata gue langsung mengekor ke arah yang Elida tunjuk. Benar disana ada Wije yang berjalan ke arah kemari.

Masih sama kayak Wije yang biasa, ganteng dan jalannya yang tegap. Gue suka itu. Anehnya, sekarang Wije gak sendiri seperti biasanya, ada orang yang ikut asyik mengobrol disebelahnya. Itu Tiffany, anggota Dekdok juga dari jurusan Matematika.

Mata gue seakan otomatis ikut kemana arah Wije, apalagi bibir gue ikut senyum tiba-tiba karena tenyata Wije menghampiri meja tempat gue dan Elida duduk.

“Udah pada makan siang?”

“Belum, gue baru pesen tuh. Lo mau makan Je?” mata gue sedikit melirik ke arah Tiffany yang ternyata bingung kenapa gak ikut ditanya.

“Lo gak makan, El?” bukannya menjawab pertanyaan gue, Wije malah balik nanya ke Elida. Saat itu juga hati gue langsung ngerasa ada yang gak beres.

Elida menggeleng. “Nggak, gue cuma pesen minum aja.”

“Oh ya udah El, minta dibungkus aja minumnya ya, lo temenin gue ke JCloud ambil spanduk acara yang ketinggalan.” Wije langsung ajak Elida gitu aja tanpa nanya ke gue dulu dan gue tiba-tiba kesel. Gue tau ngambil spanduk sekarang ini adalah hal yang penting, tapi kenapa gak ngajak gue aja sih?

“Loh kenapa gak ajak gue, Je?” pertanyaan bodoh itu langsung terucap gitu aja. Dan semua mata sekarang mengarah ke gue. Sial.

“Lo makan aja dulu, Ra, kasian tadi abis rakoor kan? Kata kak Joey tadi pas ketemu gue, rakoor mau lanjut lagi, gue gak mungkin ajakin lo.”

Alasan yang masuk akal, Je, tapi gue tetep gak suka dengernya.

“Masa gue ditinggal sendiri? Nanti aja dong perginya kelarin gue makan dulu.” pinta gue yang sebenarnya ketara banget buat tetap maksa Wije ada disini.

“Lo ditemenin Tiffany aja dulu ya Ra, Elida ikut gue sebentar.”

Sialan. Gue beneran kesel tapi bisa apa selain mengiyakan.

Elida yang tau kalau gue langsung badmood seketika, minta maaf hampir tiga kali karena gak enak ninggalin gitu aja. Tapi tetap pergi ikut Wije.

“Ra,” sapa Tiffany yang daritadi gue diemin. “Gue kayaknya gak ikut makan disini deh, dicari nih sama yang di pusat acara. Gue balik duluan gak apa-apa ya, Ra?”

Lagi. Gue ditinggal lagi.

Gue cuma bisa senyum dan iyain aja karena emang kalau harus nahan Tiffany disini, dia bakalan gue cuekin juga karena mood yang jelek. Gak lama setelah Tiffany pergi, makanan yang gue pesan di bude rasanya gak enak untuk ditelan. Gue kesel beneran jadinya.

Entah alam sedang mengatur rencana apa, tiba-tiba malaikat mengirim manusia untuk datang ke gue detik ini juga tanpa kata nanti.

“Halo gue Mark.” salam orang itu dan duduk gitu aja dihadapan gue.

“Lo Agrna kan? Sekoor dekdok yang dari kemarin gue hubungin? Ini gue Mark. Gue boleh duduk disini?”

Mark, daritadi, di hidup gue sudah banyak orang yang datang dan pergi, kalau lo mau pergi juga kayak yang lain mending gak usah dateng sama sekali deh. Ingatan gue langsung berlari ke nama yang gue inget tapi belum pernah temui secara langsung, oh jadi ini yang namanya Mark itu. Kalau bener lo orangnya, ‘Halo juga gue Agrna yang lagi badmood banget sekarang. Boleh, silahkan aja duduk.’

“Lo makan sendiri?” gue gak jawab pertanyaan dia.

“Harusnya kalau lo kesini harus cobain urap bude, enak banget.” gue masih diem.

“Lo makan pake apasih itu? Ayam kecap ya? Enak sih, tapi opor bude lebih edan rasanya.” gue diemin lagi dia. “Wah pake sambel, enak kan rasanya?” mata gue masih fokus ke nasi yang ada dihadapan gue dan tentu saja Mark gue cuekin.

“Gue pesen makan ya, duduk disini gak apa-apa kan?” lagi dan lagi gue diam tapi mata gue seolah berkata lain, gue mau biar Mark tetap ada disini. Temenin gue makan dulu sebentar, jangan kayak yang lain pergi gitu aja.

“Diem tandanya ‘iya’, oke bentar ya gue pesen makan dulu.”

Tidak butuh waktu lama untuk Mark beneran balik dan duduk juga dihadapan gue. Dalam piring nasi yang dia bawa, disana ada beragam macam lauk yang kalau dilihat dari porsinya itu kayak orang yang gak makan 2 hari. Alias banyak bener.

“Lo beneran harus cobain ini,” Mark meberikan gue sedikit lauk urap yang dia ambil tadi, gue masih diem gak menolak juga. “Enak itu, di makan.”

Gue ngangguk dan beneran cobain. Ternyata Mark gak bohong, urapnya beneran enak. Dan indera perasa di lidah gue sekarang mendadak bekerja setelah cobain urap dari Mark.

“Iya, enak.”

“Nah, gitu dong dijawab! Diem mulu daritadi kayak lagi mikirin cicilan.”

Dalam agenda makan siang dadakan itu, Mark banyak cerita. Entah itu tentang Himpunan, acara BEM, bahkan hal random kayak suku apa yang mengalir dalam darah tukang parkir yang lagi bekerja di depan kantin Bude. Gue berperan sebagai pendengar saja daritadi, cerita Mark seru dan sukses bikin gue ketawa. Yah, setidaknya gue sedikit lupa sama hal yang nyebelin tadi.

“Woy, gawat.” kata Mark tiba-tiba ketika hendak membayar makanan yang ia pesan.

“Kenapa?”

“Gue lupa bawa dompet. Lo bayarin gue dulu bisa gak?”

Hadeh.

“Iya gue bayarin.”

“Nanti gue ganti ya kalau makan siang bareng lagi.”

“Gak usah.”

“Gak apa-apa, nanti gue ganti.”

“Ya terserah lo aja, Mark.”

“Asyik itu tadi maksudnya gue mau ngajak lo makan bareng lagi kapan-kapan.”

“Iya.”

“Lo beneran mau?”

“Dibilangin iya!”

“Oke nanti gue whatsapp aja ya.”

“Iya. Ya udah gue duluan balik ke pusat acara.”

“Hayu sama gue, gue juga mau kesana.” pinta Mark dan gue cuma bisa iya-iya karena kalau nolak juga bakalan dipaksa.

Mark makasih ya buat hari ini, setidaknya gue udah gak badmood lagi karena cerita random lo. Dan berkat lo juga makan gue gak berasa hambar.