Jarak dan Benci
“Barang udah semua, Bang? Tasnya gak ada yang tinggal, 'kan?” itu suara Maminya Agrna. Gue duduk di salah satu kursi dekat mereka. Tidak ada Agrna disebelah gue, dia masih berdiri di samping Abangnya memeriksa semua barang yang dibawa.
“Udah, Mi.”
“Mami gak mau ya Bang kalau disuruh anter-anter barangnya. Jauh. Abang nanti beli aja disana semisal, kalau, beneran ada yang tinggal ya.”
“Iya, Mi.”
Setidaknya begitu percakapan mereka yang bisa gue dengar secara diam-diam. Kata Agrna, Maminya itu sangat protektif ke Bang Jaydn, ternyata malam ini gue bisa menyaksikan itu. Agrna tiba 15 menit setelah gue tiba, dia bersama Mami, Papi dan Abangnya. Kalau bisa gue jelasin keluarga itu sangat berbeda, dari cara mereka turun dari mobil bahkan berjalan ke arah rombongan, mereka terlihat berkelas. Bahkan, entah kenapa dari kedatangannya saja, mereka sudah menyihir semuaorang untuk segera menatap ke arah mereka.
Begitu juga gue. Gue terus menatap Agrna. Papinya tadi menyapa gue sekilas, kemudian gue salim bergantian dengan Maminya juga. Ada perasaan menggebu dalam diri gue. Ternyata, gue begini karena harus segera pergi jauh meninggalkan semua yang ada di Indonesia. Termasuk perempuan yang sekarang tersenyum manis disebrang sana. Agrna belum menghampiri gue, katanya malu ada Papinya. Gue juga malu, jadi ya udah, nanti dulu saja. Asal dia ada disana, dalam jarak yang bisa gue tatap, itu gak apa-apa. Nanti gue peluk kalau sudah harus pamit.
Malam ini, gue tidak diantar Ayah dan Ibu. Tapi tadi Ibu sudah menelpon. Katanya, malam ini ada acara kirim doa untuk 3 hari kepergian Eyang Uti. Keluarga gue semua ada di Bogor, cuma gue yang di Bandara untuk pergi jauh ke negri orang. Gue harus pergi ke Canada, kota Vancouver tujuan kami. Melepas pergi kaki ini dari tanah air juga dia yang tinggal. Harusnya senang karena akhirnya hari ini datang. Tapi ternyata, bagian sedihnya juga ada banyak, semua bisa menjadi hal sedih kalau Agrna kesepian adalah jawabannya. Gue gak bisa begitu tapi mau gimana lagi.
Agrna melepas kepergian gue dan gue menjadi yang paling lemah rupanya malam ini. Sudah memang tidak ada keluarga yang mangantarkan, harus pula pergi melepas Agrna sendiri disini. Dari dulu, julukan si paling setia itu melekat di bahu gue. Kebetulan, gue juga tipe orang yang sangat setia, ini beneran. Karena gue punya janji, kalau nanti waktunya untuk pulang ke Indonesia, harus masih Agrna yang gue mau. Bukan bule Canada seperti yang dia takutkan.
Ada kalanya orang-orang benci jarak, bahkan sekarang gue yang belum berangkat pun jadi ikut-ikutan benci. Belum lagi semua panggilan untuk segera pergi dan bersiap meninggalkan, itu juga gue rada benci sedikit. Tapi gue gak bisa benci Airport, ini menjadi satu-satunya tempat yang menerbangkan gue jauh dan memulangkan gue kembali ke pelukan dia yang gue rindukan.
Agrna melirik, seakan tau kalau gue daritadi ngomongin dia dalam hati. Gue panggil dia dengan satu gerakan tangan kemari dan dia mengiyakan untuk datang. Agrna duduk disamping gue, tangannya dingin setelah gue genggam. Gantian, kemarin tangan gue yang seperti batu, sekarang dia. Dua kali tangan halus itu gue tiup perlahan agar menghangat. Rupanya dia suka. Gue juga suka karena kami masih saling menggenggam.
“Tidur kalau kamu ngantuk.” gue mempersilahkan dia istirahat karena kami boarding masih satu jam lagi. Dia setuju kemudian menidurkan kepalanya di bahu gue. Gue gak bisa melihat dengan jelas ekspresi Papi dan Maminya Agrna yang tadi sempat menunjuk ke arah kami, tapi yang gue tau, Papinya Agrna tertawa. Entah karena apa. Pacarnya Bang Jaydn baru sampai, duduk diantara keluarga Agrna menggantikan Agrna yang tadi duduk disana.
Malam ini, Agrna saya pinjam dulu ya, Om dan Tante.
Dia tidur, benar-benar tertidur di samping gue. Mata gue belum mau ikut tidur walaupun tadi ngantuk. Redo yang sibuk melakukan sesi foto-foto dengan anggota tim yang berangkat meledek gue. Dia bilang gue sangat bucin, biarin, dia begitu karena gak punya perempuan kesayangan di sampingnya. Tapi Redo punya adik perempuan yang sejak tadi disuruh menjadi juru foto, kalau bisa gue tebak dia pasti kesal bukan main.
Saat yang paling gue benci pun datang. Panggilan untuk keberangkatan kami akhirnya berkumandang.
“Ra,” gue menepuk sedikit tangan Agrna dan dia bangun. “Bangun, aku udah mau berangkat.”
Agrna merubah ekspresinya. Ini bukan ekspresi yang gue suka karena dia sedih. “Dadah.” katanya dan gue terkekeh.
“Kamu bisa bangun?”
“Bisa.”
“Yuk, kita semua foto dulu terakhir sebelum boarding!” itu Redo yang punya ide. Kami semua setuju, berjejerlah sembilan orang laki-laki di depan kumpulan tas koper yang berada di tengah bandara. Keluarga yang hadir semuanya berkumpul mengangkat handphone masing-masing untuk mengabadikan momen keberangkatan kami. Keluarga dari Yordan ada yang menangis pertama kali, diikuti semua Ibu-ibu yang hadir malam ini. Bukan lebay tapi ya gitu. Di Bandara, bukan cuma kami yang pergi tapi kesedihan paling terasa ya dirombongan ini.
Panggilan selanjutnya terdengar dan itu benar adalah pesawat kami. Butuh waktu yang lama ternyata untuk benar-benar melepas kepergian ini. Agrna kembali memeluk Abangnya, itu pelukan hangat yang bisa gue lihat. Kemudian semuanya berjalan ke arah terminal 2. Langkah semuaorang menjadi sangat berat begitu juga gue.
“Ra,” gue mengamit pergelangan tangannya untuk pergi mengobrol berdua sebentar, Agrna menurut dan ikut gue.
Kami, gue dan Agrna, bersembunyi dibalik papan iklan Traveloka yang besar. Tanpa semangat, gue bilang ke dia, “Ra, aku pamit.”
Dia juga menjawab dengan tidak semangat. “Safe flight, ya.”
“Aku kirim email waktu itu, kamu belum baca?”
Agrna kaget dari ekspresi wajahnya. “Kamu kirim email? Belum. Aku belum baca.”
“Oke, nanti aja ya. Tapi kalau memang gak sempat juga gak usah, Ra. Itu aku ngetik gak jelas.”
Dia mencubit perut gue pelan. “Ih jangan buat penasaran!”
“Aku lama perginya.”
“Jangan ilang.” balasnya. Gue sentil hidung mungilnya itu gemas.
“Harus ngilang sebentar karena aku mabok udara.”
Dia terkekeh. “Mark, jaga kesehatan, ya.”
“Kamu juga sehat ya.”
Masih dengan tatapan yang sama, gue dengan perlahan menarik dia dalam dekapan. Kami sama-sama mengeratkan pelukan ini seperti tidak ada yang mau ditinggal. Aroma shampoo Agrna masih sama, manis dan meninggalkan jejak. Gue suka itu. Suka Agrna juga.
“Jangan jajan aneh-aneh ya, Ra. Kasian Wije anaknya gak biasa makan begituan.”
Dengan cepat Agrna melepas pelukan ini. Dia seperti akan marah. “Gak ada yang mau ajak Wije kok?”
Gue sisir rambutnya dengan jari-jari. “Aku titip kamu ke dia, Ra. Selama aku di Vancouver, kamu pasti sendiri, kasian gak punya tempat ngobrol dan pergi jajan. Aku gak mau kamu badmood sehari kalau gak masuk asupan micin.”
Agrna lagi-lagi menyubit perut gue dan gue cuma bisa mengaduh sakit. “Aku bisa sendiri! Lagian Wije pasti sibuk. Kamu gak usah mikirin aku deh, aku gak apa-apa.” katanya. Tapi gue tau dia bohong.
“Biarin, Ra. Aku jauh soalnya, abang kamu juga jauh, Redo juga kebetulan ikut. Orang yang aku percaya sekarang buat nemenin kamu cuma Wije.”
“Iya,” jawab Agrna perlahan.
Gue gak bisa menatap wajahnya lagi karena dia menunduk. Maka dari itu gue maju satu langkah mendekat ke dia. Karena ini terakhir kali melihat wajahnya, gue dengan perlahan mengangkat wajah Agrna melihat seri indah di wajahnya. Menikmati teduhnya mata dia yang cantik itu. Agrna cantik, dia sempurna buat gue yang merasa dia segalanya. Gue pinggirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya sambil tersenyum. Agrna masih diam memerhatikan gue.
Tanpa aba-aba dan izin dari Agrna, gue kecup sekilas bibirnya. Dia masih diam dan kemudian menutup kedua matanya. Itu terjadi begitu saja. Bahkan, entah angin dari arah mana yang memberanikan gue melakukan itu, gue pun bingung. Setelah tautan bibir kami lepas, gue peluk lagi dia sedikit lebih lama. Tidak ada rasa strawberry seperti rasa lipbalm yang sering Agrna kenakan, mungkin dia lupa pakai karena ini sudah tengah malam. Tapi ternyata, bibir merah muda milik Agrna jauh lebih manis dari perisa buah rasa apapun.
Pelukan itu dengan berat hati gue lepaskan. Kami sama-sama diam meskipun rombongan yang lain sudah jauh di depan sana.
“Aku pamit, ya?”
Gue melenggang pergi ke arah semuaorang berada, bersamaan Agrna yang masih gue genggam tangannya. Bagi kami yang sama-sama tidak ingin ditinggalkan, itu tadi adalah 3 detik pertama di jam 11 malam, Bandara tempatnya dan juga kepergian.
Agrna, kalau tadi aku bilang jarak menjadi hal yang paling ku benci, sekarang perlu diralat. Ternyata, melepas genggaman kamu jauh lebih ampuh buat aku benci kenyataan.