Kabur

Jadi, malam ini akan menjadi malam terakhir untuk menikmati makan malam bersama Abang. Di meja makan, kami duduk berhadapan dengan formasi lengkap. Ada Papi dan Abang duduk paling ujung, dua jagoan yang masih menikmati makan yang disediakan Mba Oni, juga ada Mami yang sibuk memisahkan daging ikan dari tulangnya untuk aku makan. Aku senang karena kami bisa berkumpul lengkap, karena selain Papi yang selalu pergi berminggu-minggu dengan alasan sibuk bekerja, Abang juga akan ikut menjadi yang paling sibuk di Canada mulai besok. Katanya begitu.

Tadi sore sebelum malam benar-benar datang, aku sempat mengobrol dengan Abang sebentar. Pertanyaan Abang tidak jauh dari alasan mengapa aku menangis semalaman kemarin dan apa penyebabnya? Padahal pertanyaan yang tepat adalah siapa penyebabnya?. Aku tidak mau berbohong ke Abang, aku jawab jujur semua apa adanya karena memang mau salah atau benar, kejujuran antara kami itu paling penting. Tapi, maaf, aku merasa berat untuk berterus terang kali ini.

“Kamu kenapa sih?” tanya Abang sore itu tiba-tiba menegurku yang tengah melamun sambil duduk di taman belakang dekat kolam ikan. Aku masih diam tapi Abang juga masih tidak mau berhenti bertanya. “Hei, Abang tanya, Ra.”

Aku menghela nafas dan tentu saja dengan sangat berat. Sengaja, biar Abang tahu kalau aku sedang malas diajak bicara tentang kemarin malam. Abang dengan cepat menyilangkan lengannya dengan tanda dia akan segera marah. Aku menahan tawa, lalu membuang muka sedikit tapi sepertinya percuma karena aku yakin abang sudah tau aku gampang digoda.

“Namanya juga orang cemburu buta, Ra. Dia salah memang, Abang akui. Tapi dia nyesal dan mau jelasin kalau dia kalut beneran semalam. Intinya dia mau minta maaf. Nah bagian pentingnya ada di kamu, seharusnya kamu jangan hindarin dong, sama-sama jelasin benernya gimana biar gak begini.” Aku terkejut bukan main karena Abang tau tentang hal ini. “Mark udah cerita ke Abang kalau dia kesulut emosi dan Abang bisa lihat dari sudut pandang dia, kalau emang dia se-insecure itu sama seseorang.”

“Ara mau mandi dulu, Bang.” aku segera mencari alasan untuk kabur. Ternyata sore itu aku kehilangan nyali untuk berbicara kalau Mark adalah bahasannya. Tapi Abang terlalu peka dan menahan tangan kiriku untuk tetap berada disisinya sebentar. Juga berbicara.

Aku masih diam dengan rasa ingin sekali kabur. Abang yang tidak tahan kemudian bersuara lagi.

“Kalau kabur-kaburan begini, kapan selesainya sih, Ra? Kita sebagai manusia punya hak buat ngomong dan jelasin hal yang masih kusut di kepala. Daripada saling tebak padahal isi kepala manusia aja gak ada yang tau, kecuali Tuhan.”

Ku tatap dua netra milik Abang dengan cahaya senja tergambar jelas disana. Aku tidak menyangka sekaligus terkejut melihat betapa serius Abang kali ini. Matanya ikut menatapku tapi dengan sedikit lebih tajam, aku bergidik ngeri, ini bukan Abang yang biasa aku minta akun spotify premiumnya kalau punyaku sudah habis. Abang punya sisi yang seperti ini dan ini terasa sangat hangat walaupun menakutkan.

“Gak semudah itu buat ngobrol Bang, Ara juga gak tau kenapa rasanya marah banget. Butuh waktu buat bisa maafin. Ara tau ini egois, tapi, apa ya, rasanya aku kayak ditonjok Bang, masih sakit. Tapi sakitnya disini.” aku meraba dada sebelah kiri, jantung maksudnya, walaupun hati tempat dari rasa dan asa, tapi aku merasakan sesak di dada.

Tatapan Abang yang semula tajam kini menumpul, aku bisa merasakan kalau Abang ikut melemah hatinya. “Memang, Abang juga gak menjanjikan bahwa memaafkan Mark itu adalah hal yang mudah, Ra. Tapi yang Abang mau, kalian berdua ngobrol dari hati ke hati biar semuanya jelas. Kamu gak perlu ngehindar terus dan dia gak kalang kabut mikirin kamu yang sekarang murung begini.”

Aku sadar bahwa pasti dalam diri Abang Jaydn ada suatu harapan agar apa yang ia ucapkan kepadaku, Adiknya ini, sudah cukup meyakinkan; bahwa hati manusia boleh sakit, tapi jangan lupa kalau kita masih punya obat untuk sembuh.

Dan ucapan Abang Jaydn, Abang tersayang disejagat dunia ini, Aku anggap sebagai obat paling manjur dari sekedar me time dengan duduk sendirian menikmati senja ditemani beberapa ekor ikan Koi didalam kolam sana.


Aku yang sejak tadi masih menidurkan kepala dipangkuan Mami mengedipkan mata dengan berat. Handphone sengaja ku matikan, membiarkan semua pesan yang dikirim oleh Mark menjadi tidak terbaca. Mungkin itu menjadi pilihan terbaik, karena aku sedang tidak ingin berlarut dalam kesedihan kalau harus melihat pesannya.

Iya, memang, semua harus dibicarakan agar tidak lagi berdiam-diaman seperti sekarang. Sebenarnya, ada sekelebat bahasa yang ingin aku sampaikan dengan emosi, tetapi hal yang sejak pagi aku lakukan adalah menghindar. Orang-orang bilang semua hal tidak bisa diselesaikan dengan hati panas, maka aku diam dulu untuk mendinginkan semua yang terlanjur panas itu.

Aku tidak tau apa yang sedang terjadi dan mengapa kami harus bertengkar dengan cara yang paling tidak menyenangkan. Kalau dekat, sudah sejak tadi aku memukul Mark dengan tenaga dalam biar dia juga tau aku itu sakit walaupun tidak ada luka dimana-mana. Jelas memang yang aku lakukan hanya berdiam sok tegar, tapi aku tidak tau harus memulai darimana cara berbaikan dengannya. Kami berdua sama-sama salah langkah bahkan semuanya masih belum jelas mana yang benar, mana yang salah atau malahan semuanya tidak ada yang salah melainkan sedang tutup telinga dan kabur.

Bodoh. Aku sih merasa paling bodoh.

Sesaat setelah Mami mengusap kepalaku, aku beranjak dan izin menuju kamar untuk benar-benar tidur. Malam itu Abang sedang duduk diruang tengah dengan Papi ditemani satu permainan catur juga musik klasik yang Abang mainkan melalui vinyl tua koleksi Papi. Aku mengamit tangan Mami untuk mencium sekilas dan mengecup pipi merona Mami yang manis itu sebagai salam di malam hari.

“Aku tidur duluan Mi.”

Mana ada anak muda sudah mengantuk di jam 8 malam? Aku tau Mami sedang terheran, tapi aku benar-benar ingin ke kamar walaupun bukan tidur. Aku ingin sendiri intinya.

Di kamar aku hanya melihat semua titik menjadi sangat membosankan, kasur yang memang berada di sebrang mulut pintu rasanya ingin segera ku pindahkan ke sebelah kiri, juga boneka Teddy besar kado dari Papi ingin ku pindahkan segera mungkin ke sebelah jendela. Semuanya membosankan dan aku ingin melihat hal baru walaupun sialnya nama Mark yang terlintas.

Mark aku rindu.

Dengan berat hati aku cepat mengambil handphone yang ku sembunyikan di dalam laci meja. Menekan tombol powernya lama hanya agar benda kotak itu menyala. Setelah benar-benar internet tersambung, aku sangat terkejut ketika semua pesan dari Mark benar-benar masuk. Namanya ada disana dengan banyak sekali notifikasi. Tanganku menjadi dingin dan jantungku berdebar lebih cepat hanya karena pesan darinya. Aku tidak mau cepat membalas dan langsung melempar handphone itu ke sembarang tempat.

Aku bergeser untuk merebahkan tubuh di kasur dan kali ini aku benar-benar harus tidur. Jantungku gawat, aku merasakan desiran darah mengalir langsung ke seluruh tubuh. Dengan cepat dan dada berdebar aku menutup kedua mataku, berharap agar segera menuju alam bawah sadar. Tapi tidak, handphoneku tiba-tiba ada yang memanggil. Aku semakin gusar dan jantungku seakan dikejar. Bahkan di detik ini aku penasaran itu siapa yang memanggil.

Selang beberapa detik setelah nada panggil itu mati, aku mengambil handphone yang jatuh di dekat karpet bulu berwarna merah jambu. Tertera disana nama Abang Jaydn, bukan Mark. Aku lega tapi sedih juga ada. Tidak tau kenapa aku menjadi sangat bodoh dan menyebalkan kalau Mark alasannya.

Tiga ketukan di pintu mengejutkanku seketika. Kerja dari jantungku menjadi 5kali lebih berat dari biasanya. Hari ini benar-benar penuh kejutan yang memberatkan.

“Ra,” itu suara Abang dan Abang kembali mengetuk pintu kamar dua kali. “Turun.”

“Ngantuk.” jawabku bohong.

“Dipanggil Papi, Ra.” lanjutnya lagi dan aku berdecak.

Aku tidak menghiraukan panggilan Abang dan tetap berjalan menuju kasur kembali untuk tidur.

“Ada Mark di bawah, mau ngobrol katanya. Sekarang dia lagi main catur sama Papi.”

Setelah nama itu terucap, aku membeku. Dan malam ini aku benar-benar pingsan.