Keliling Dunia
Ada begitu banyak cita-cita yang bisa disebutkan saat kecil kalau pertanyaan yang datang adalah, “Anak pinter, kalau sudah besar mau jadi apa?” Tapi bagi anak laki-laki yang saat itu usianya baru menginjak 5 tahun, menjadi orang kaya dan bisa 'Keliling Dunia' merupakan cita-cita yang ia sematkan didalam hatinya. Entah pergi dengan siapa, juga belahan dunia yang mana, asalkan bisa berkeliling dunia itu sudah menjadi tujuan hidupnya agar bisa cepat besar dan dewasa.
Tapi ternyata ketika usianya menginjak 19 tahun, boro-boro bisa keliling dunia, pergi keliling pasar menemani sang Ibu di setiap hari Minggu pagi itu sangat mampu membuatnya mual. Jadi, kalau pertanyaan itu datang kembali untuk dilempar kepadanya, maka jawabannya akan tetap sama tapi dengan makna yang berbeda. “Mau jadi orang berduit biar bisa keliling dunia, pelajari semua yang ada dibelahan dunia ini. Yah, tapi kalau bisa lewat globe sajalah ya, bro, biar cepet selesainya!”
Cemen, anda Mark.
Mark yang sudah 30 menit berada di rumah Agrna sekarang sedang duduk canggung di ruang keluarga sendirian, menunggui Agrna yang sejak tadi di dapur menggoreng telur mata sapi sebagai menu makan malam Mark hari ini. Sebenarnya, Agrna bisa saja buatkan nasi goreng atau pesankan pecel ayam kesayangan melalui ojek online, tapi Mark besikukuh untuk dibuatkan telur mata sapi setengah matang yang diracik oleh Agrnanya —yang cantik malam ini walaupun hanya menggunakan piyama little pony dan tanpa riasan wajah.
Bagi Agrna, menggoreng telur mata sapi seperti sekarang ini bukanlah hal yang repot apalagi sulit, jadi ya tidak apa-apa kena percik minyak sedikit asal Mark bisa makan telur yang ia buatkan dengan sengaja. Dan dengan cinta tentu saja.
“Nih, udah jadi, silahkan dimakan.” Agrna yang tiba-tiba datang langsung menyodorkan piring yang ia bawa. Hanya telur mata sapi dan dua sendok nasi putih yang Mark pesan. Sangat sederhana tapi entah mengapa Mark sudah puas menikmati itu semua.
“Terima kasih!” serunya sambil tersenyum senang. Telur mata sapi yang digoreng tanpa ditaburi garam ternyata tidak pernah selezat ini kalau bukan dari tangan Agrna yang meracik, bahkan sesuap nasi putih yang rasanya hambar menjadi pelengkap paling nikmat kalau yang mencuci berasnya juga adalah Agrna.
Semua pusat Mark malam ini adalah Agrna. Bahkan sejak kemarin-kemarin kalau berani jujur.
Yang dilakukan Agrna hanya bertepuk tangan puas melihat Mark yang lahap menikmati makan malamnya. Tanpa ada kalimat, “Ih, pinter banget makannya ya!” dari Agrna, tapi Mark bisa tau kalau Agrna ternsenyum itu karena bangga.
“Habis, Ra.” tunjuk Mark saat makannya sudah benar-benar habis tanpa tersisa satu butir nasi. Agrna kembali tersenyum senang, Mark juga ikut senyum. Keduanya tersenyum di malam ini.
“Yeay,” seru Agrna girang. “Ini diminum dulu.” gelas bernuansa merah jambu dengan gambar piglet ditengahnya, Agrna berikan kepada Mark untuk diminum. Itu adalah gelas kesayangan Agrna kalau sedang mau minum satu gelas Milo hangat sebelum tidur, tapi diberi pinjam dulu ke Mark yang ternyata serat tenggorokannya setelah makan. Sebelum akhirnya diminum tadi, Mark ada sedikit tertawa karna gelas yang ada diatas meja itu bergambar karakter kartun yang terkenal, piglet si babi. Lucu, selain singa, babi juga mirip Agrna kalau kata Mark. Tapi jangan sampai orangnya tau nanti bisa ngomel.
Tanpa terlebih dahulu mencuci piring bekas makan tadi, Agrna memilih untuk menonton acara TV bersama Mark. Keduanya diam dan samar-samar memerhatikan deru nafas satu sama lain. Agrna yang daritadi mencoba rileks meskipun yang ditonton adalah acara lawak, kini tidak bisa berbohong kalau sedang berdebar jantungnya. Dan untuk cowok yang malam itu masih mengenakan Hoodie hijau kebanggaannya, tidak perlu ditanya sedingin apa telapak tangannya itu.
Menghabiskan malam pertama di bulan Oktober berdua, ternyata sangat ampuh membuat keduanya kelimpungan.
Harusnya ada hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Tapi apa ya? Mark berfikir keras sejak tadi, takut kalau malam ini berlalu begitu saja tanpa ada cerita, tanpa ada tawa dan yang paling ditakutkan tanpa adanya binar mata bahagia diantara mereka berdua ketika sedang berbagi senyum.
“Ra,” panggil Mark kemudian.
“Ya?”
“Keliling dunia yuk?”
Ajakan Mark malam ini langsung dihadiahi tawa oleh Agrna. “Tiba-tiba banget?”
“Beneran! Yuk?” ajak Mark sekali lagi dan kini suasana berubah menjadi sedikit serius.
“Kapan?”
“Sekarang.”
Agrna lagi-lagi tertawa. “Jangan ngarang deh. Mana bisa sekarang keliling dunia?”
Mark langsung merubah posisi duduknya untuk menjelaskan sesuatu kepada Agrna yang sejak tadi terheran-heran. “Bisa, Ra. Pake buku ensiklopedia dunia punya lo itu. Kita pelajari semua cerita negara-negara yang ada, nanti ilmunya dipake buat obrolan random ke orang baru yang entah-entah lo temuin di kedai kopi? Nah nanti, biar lebih berasa keliling dunianya, kita pake imajinasi. Pura-pura aja lagi di Hawaii atau lagi kedinginan di Kutub Utara.”
Agrna diam untuk sepersekian detik. Lalu tertawa lagi meskipun setuju saja untuk pergi keliling dunia dengan versi Mark yang cukup lucu ini. “Kayak anak kecil ah.”
“Daripada gak tau mau ngapain, kan? Lagian belajar itu bukan tentang kita yang sekarang sudah besar atau masih kecil, Ra. Mungkin aja dari ensiklopedia itu kita beneran dapet ilmu yang berharga. Atau mungkin aja setelah keliling dunia pake buku lo itu, kita bisa susun rencana buat merubah dunia? Gak ada yang tau, Ra. Jadi please ayo kita keliling dunia.”
“Oke oke.” jawabnya. “Sebentar gue ke atas dulu ambil bukunya.” dengan langkah pasti walaupun masih ada tawa yang melekat, akhirnya Agrna menuju ruang baca di lantai atas. Mengambil semua buku yang mereka perlukan untuk berkeliling dunia dengan imajinasi.
Mark kira akan hanya ada satu, dua atau tiga buku yang Agrna bawakan. Tapi ternyata ada hampir satu lusin. Melihat Agrna yang cukup kesulitan, Mark dengan sigap membantu meraih semua bukunya. Mereka berdua memilih untuk tidak duduk di sofa, karpet bulu yang berwarna abu-abu menjadi alas mereka duduk sekaligus menjadi transportasi mereka untuk terbang melaju ke seluruh sudut bagian bumi.
“Ini buku ensiklopedia dunia punya gue dari zaman TK, kalau ini buku cerminan dunia punya Papi, terus ini ensiklopedia sejarah dunia punya gue tapi selalu dipinjem abang. Nah yang ini buku Science yang selalu gue pake buat eksplor hutan juga semua isinya, dan ... Ini..”
”..buku ensiklopedia punya lo tentang langit, angkasa dan tata surya kan, Ra? Gue pinjem boleh?”
Lagi-lagi Agrna tersenyum ketika Mark merebut langsung buku yang ia pegang. “Iya, boleh.” katanya setuju.
Tanpa menghabiskan waktu lebih lama, Mark akhirnya mengambil ancang-ancang untuk memimpin agar keduanya dapat pergi berkeliling dunia dengan cara yang sederhana.
“Oke. Ya udah. Hm, kita mulai keliling dunianya ya, Ra. Oke, kita mulai dari Indonesia aja gimana?” Agrna tentu saja setuju karena Mark yang memegang kendali perjalanan mereka. Jadi kalaupun perjalanan mereka dimulai dari negara Malaysia sekalipun, ia tetap mau.
“Oke lagi, yuk kita mulai.” Mark menarik nafas panjang dan berusaha menciptakan suasana yang sangat mendukung agar mereka sampai ke tempat tujuan, Agrna disampingnya yang serius memerhatikan itu masih saja terkekeh gemas. “Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang di khatulistiwa sepanjang 3200 mil (5.120 km2) dan terdiri atas 13.667 pulau besar dan kecil. Nama Indonesia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Indo yang berarti Indoa dan Nesia yang berarti kepulauan. Menurut beberapa ahli, yaitu Prof. ARYSIO SANTOS Indonesia adalah, “benua yang hilang” yang sebenarnya menjadi pusat peradaban dunia. Sedangkan, menurut DR. JIMMY OENTORO Indonesia adalah tempat terbaik untuk hidup. Udah kerasa keliling Indonesia-nya, Ra?”
Agrna mengangguk senang.
“Sip, oke, lanjut. Indonesia merupakan 1/5 populasi terbesar di dunia dengan penduduk yang berasal dari ras Melayu dan Polinesia serta terdiri dari 300 suku dan cabangnya yang mana masing-masing suku memiliki tradisi sendiri. Indonesia juga—”
“Mark, thanks ya.” potong Agrna tiba-tiba.
Mark yang masih menggantung ucapannya, kini menjadi yang paling penasaran karena ucapan terimakasih dari Agrna. Ucapan yang terdengar berbeda dari yang biasa ia dengar dan ucapan ini ternyata lebih dahsyat getarannya dibandingkan kemarin waktu gak sengaja kena setrum kabel di Laboratorium lantai 2.
“Buat?”
“Buat sekarang. Juga yang kemarin-kemarin.”
Mark masih diam, mendengarkan Agrna dengan sangat seksama.
“Mark, lo tuh sadar gak sih selalu ada di samping gue? Di setiap pagi ke malamnya gue, tidur ke tidur lagi, dapat disimpulkan lo tuh ada di paragraf cerita yang penulis sajikan buat gue, yang bahkan gue sendiri gak tau kenapa harus lo?” Agrna berhenti untuk terkekeh sebentar setelah raut wajah Mark berubah seketika. “Gue tau ini bakalan terdengar sangat menggelikan buat kita berdua, tapi ya Mark, nyatanya dengan adanya lo di hidup gue, gue jadi tau kalau 'sayang' ke satu hal itu gak harus dengan cara yang berlebihan. Lo selalu ngasih gue bukti bahwa untuk bisa percaya ke lo itu dimulai dengan cara yang paling sederhana dan itu sangat luar biasa pengaruhnya di hidup gue. Gue gak pernah sekenyang kemarin waktu makan di Pak Gembus kalau bukan karena rebutan kol goreng sama lo, gue juga gak pernah se-happy tadi walaupun cuma goreng telur mata sapi yang lagi-lagi buat lo, bahkan sekarang gue gak pernah ngebayangin bisa keliling dunia dalam satu malam kalau bukan karena lo juga.”
Bagaikan ada satu cahaya besar yang meledak dihadapan Mark dalam bentuk nyata seorang Agrna, matanya sejak tadi tidak berhenti menatap perempuan itu. Silau baginya, namun terlalu indah untuk berpaling. Mark sejak tadi mencoba memahami semua perkataan yang gadis itu utarakan sambil terus merekam ekspresinya. Bukannya tidak tau harus merespon seperti apa, tapi Mark lebih dulu dibuat membeku. Semuanya terjadi begitu cepat dan singkat. Mark ingin mereka ulang hal itu sekali lagi tapi tidak bisa.
“Agrna, gue paling gak bisa kalau lo lagi mode begini.”
“Tetap kayak gini ya, bisa, 'kan? Gue suka lo apa adanya, Mark. Gue bahkan gatau kalau gak ada lo, mungkin hidup gue akan selalu mendamba keistimewaan, padahal gue ini adalah Agrna bukan martabak yang katanya istimewa.”
Agrna Leony, perempuan 19 tahun yang baru saja mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki lebih dulu. Harus dicatat sekarang adalah tanggal 01 Oktober 2021. Dirinya bukan tipe perempuan yang seperti ini, tapi ternyata kalau orangnya adalah Mark Leo semua terasa berbeda. Harus diakui, rasanya sangat menyenangkan ketika semua perasaan yang membuncah itu terucap langsung dihadapan orang yang kita sukai dan Agrna tidak menyesal sama sekali. Rasanya seperti berjalan di dalam mimpi. Bergandeng tangan dan saling melempar senyuman. Indah dan menyenangkan.
“Ra, lo nembak gue?”
Dengan cepat Agrna memukul lengan kiri Mark. Selain karena malu ucapan Mark juga terlalu frontal. “Nggak, anjir! Gue cuma mengungkapkan apa yang gue rasain. Itu semua jujur, jadi jangan diledekin ya.” pintanya dan Mark langsung meletakkan buku ensiklopedia yang sejak tadi ia pegang dengan tangan lemas.
“Oke kalau gitu giliran gue ya Ra?”
Agrna membalik tubuhnya, memunggungi Mark dengan menutup kedua telinga. Mark hanya terkekeh gemas. Yang tadinya sangat berani menyampaikan isi dari perasaannya sekarang harus berubah melemas kalau Mark ikut-ikutan mengungkapkan perasaan.
“Gak dulu please gue belum siap.” tanpa membalikkan tubuhnya, Agrna meminta Mark untuk berhenti. “Mending kita lanjut keliling dunia ya, oke?”
Mark menggeleng, menarik bahu Agrna untuk menghadap ke arahnya. Setelah ditemukan kedua netra yang teduh itu, Mark menyunggingkan satu senyum paling berarti. “Tapi keliling dunia sama lo, harus ada perasaan yang ikut gue sampein, Ra. Boleh sekarang giliran gue yang ngomong jujur?”
Seakan kedua bola matanya ingin meloncat keluar, Agrna langsung menunduk. Mark masih saja memerhatikan gerak gerik Agrna yang sangat menggemaskan dan ternyata gadis itu mengangguk sebagai isyarat kalau dirinya ternyata sudah siap mendengar isi hati Mark. Sedikit demi sedikit Agrna mengangkat kepalanya hanya untuk menatap binar mata Mark yang terpantul cahaya lampu itu.
“Gue sayang lo, Ra. Kalau lo tanya sejak kapan, itu gue gak tau. Bahkan dengan alasan 'kenapa' gue bisa sayang lo itu juga gue gak bisa jelasin. Tapi Agrna, gue tulus. Gue gak pernah minta apapun ke Tuhan selain dikasih sehat biar besok-besok tetap bisa sama lo. Ra, Mark lo ini akan berubah menjadi sangat dangdut kalau bahasannya adalah lo. Gue gak tau kenapa, tapi setelah nama lo kesebut, gue selalu punya kekuatan sendiri. Lo percaya gak gue ngomong begini?” Agrna menggeleng dan Mark langsung menyetil halus hidung mungil Agrna. “Percaya, Ra, karena gue lagi mode dangdut banget sekarang. Lo pegang deh tangan gue, dingin kan? Coba sekarang lo pegang dada kiri gue, itu gue beneran ancur banget degdegannya. Kalau dikasih penyakit itu harusnya gue udah serangan jantung, Ra, tapi karena ada lo, gue jadi punya kekuatan buat terus genggam tangan ini.”
Agrna memandang Mark dalam-dalam dan tangannya yang hangat itu masih digenggam oleh dinginnya tangan Mark. Raut wajah laki-laki yang ada dihadapannya itu terlihat damai, seakan baru saja mendapati satu peti besar berisi harta karun. Kemudian tanpa harus merasakan debaran jantung yang lebih cepat lagi, Agrna menarik tangannya membiarkan tangan Mark dingin tanpa ada yang menggenggam.
Keduanya diam dalam kesunyian, padahal kesunyian yang tercipta diantara keduanya menambah tekanan yang ada. Keduanya semakin gugup.
“Ra,” panggil Mark pelan dan menyerahkan buku ensiklopedia dunia yang mereka baca berdua tadi.
“Gue takut gila, Ra.” tambahnya lagi dan memecah hening ketika keduanya kembali tertawa. Ini adalah malam yang paling bersejarah untuk mereka dan entah mengapa untuk berkedip saja sangat melelahkan.
“Jadi,” Mark melirik ke arah Agrna dan mereka tertawa lagi.
“Jadi apa?”
“Jadi, lo mau gak kalau gue ngajak lo pacaran, Ra?”
“Jadi mau lanjut keliling dunia gak, Ra?”
Agrna mengerucutkan bibirnya. Bukan pertanyaan yang ia nantikan tapi kemudian tersenyum mengiyakan ajakan Mark. “Mau, yuk keliling dunia lagi.”
Malam itu pun habis dengan cara yang paling manis. Teruntuk sebuah mimpi berjudul 'keliling dunia' yang ternyata dapat diraih dengan sederhana, Mark pun bersyukur dan berjanji suatu saat ketika benar Agrna adalah orangnya, maka dunia, sudah ada digenggamannya.