Jam tangan berwarna hitam melingkar dengan manis di pergelangan tangan sebelah kiri Aruna. Diliriknya sedikit, jarum jam yang paling pendek masih bercengkrama di angka sebelas sedangkan jarum jam paling panjang sudah melaju ke angka 5. Setengah jam lagi dalam benak Aruna untuk selesai dari mata pelajaran Bu Indah siang ini.

Mata teduh Aruna akhirnya kembali menyusuri susunan kalimat-kalimat di buku yang ada dihadapannya sekarang. Memang sudah jenuh, tiba-tiba lapar mengganggu. Seharusnya sekarang adalah jam makan siang untuk Aruna yang sarapan lebih pagi dari biasanya, tapi masih harus bersabar setengah jam lagi. Kalau ada Sena disana sudah pasti kata 'sabar ya' atau 'semangat Aruna' akan diucapkan cowok itu.

“Ada lagi yang mau ditanya?” satu pertanyaan terlontar oleh Ibu Indah ke anak murid yang kini sudah terlihat lesu.

Seisi kelas hening menimbang-nimbang apakah lebih baik bertanya saja karena memang daritadi tidak paham atau diam saja pura-pura sudah mengerti hingga ke soal yang paling susah sekalipun.

Ada harapan di benak murid kelas 12 IPA 1, semoga saja tidak ada yang bertanya agar cepat selesai, cepat salam ke guru dan cepat ngacir ke kantin buat serbu somay mang Meli. Aruna ikut memperhatikan satu-persatu raut wajah teman satu kelasnya, dimulai dari barisan belakang yang tampak tidak perduli dengan pertanyaan bu Indah, kemudian dibarisan tengah yang pura-pura menulis atau membaca buku di depannya, hingga yang paling menyebalkan dibarisan paling depan sudah ada Yulia —murid paling pintar, mengangkat jarinya tinggi-tinggi untuk bertanya ke Ibu Indah.

Jelas sekali kini raut wajah teman-teman Aruna dikelas sudah dongkol setengah lapar.

“Mulai dah carper mulu,” ini Nurul teman sebangku Aruna yang mengeluh ke Aruna langsung.

Aruna terkekeh kecil, senyumnya manis kalau sekarang Sena lihat. “Gak apa-apa, kan udah biasa begini.”

Nurul masih saja komat-kamit sendiri walapun Yulia tidak mendengar. Sudah tidak asing lagi memang kalau anak pintar itu selalu saja bertanya hal yang sebenarnya dia pahami.

“Nanti makan bekal, Na?” tanya Nurul setelah sesi ngedumel sendirinya selesai. “Gue bawa bekel juga nih, mie goreng , tapi kayaknya udah bentuk kotak deh.”

Aruna kembali tertawa sambil membayangkan mie goreng yang dimaksud Nurul. “Kok kotak sih?”

“Kelamaan dalem tupperware!” keduanya tertawa walaupun ada yang disebelah sana sedang berdiskusi perihal pertanyaan Yulia.

“Gue kira kenapa! Haha.”

“Makan bareng sama gue, Vira dan Derlian gak, Na?”

“Nggak, sorry ya, gue ke kantin janji nemenin Nicky.”

“Oh gitu, okay gapapaa.”

Waktu terkikis kian kemari, akhirnya yang ditunggu pun datang, bel berbunyi dua kali menandakan sudah saatnya ishoma —istirahat, sholat, dan makan.

Aruna bangkit dari duduknya setelah Ibu Indah melenggang pergi dari kelas mereka. Di ujung mulut pintu sudah dapat dilihat ada Nicky yang tidak sengaja bertemu Ibu Indah dan kemudian salim.

“Nungguin siapa disini Nicky?” Ibu Indah bertanya sembari memberikan tangannya agar Nicky dapat salim.

“Aruna, buk.”

“Ibu duluan ya.”

“Iya Bu, hati-hati Ibu.”

Aruna yang sudah hampir sampai ditempat Nicky berdiri sambil membawa totebag berisi bekal pun terkekeh kecil ke arah sahabatnya itu. “Padahal mau gue samperin Nick.”

“Kelas lo sok tertib, tadi pak Ato kecepetan masuk sekarang bu Indah pake lama banget salamnya.”

“Kayak gak tau kelas gue aja deh.”

Nicky meraih lengan Aruna untuk dirangkul dan keduanya pergi. “Iye-iye gue tau anak IPA 1 mah!”

Ruang lingkup kelas 12 berada dalam kerangkeng khusus, gunanya agar lebih intensif dalam belajar. Bila dideskripsikan bentuknya kotak dimulai dari kelas 12 IPA 1 – 4 dan 12 IPS 1 – 3. Ditengah kerangkeng tepatnya didepan kelas 12 ada taman, ide dari alumni 2 tahun lalu agar sesi diskusi bisa dilaksanakan dengan baik disana.

Baru saja beberapa langkah Aruna dan Nicky menapaki jalan untuk keluar dari kerangkeng dan menuju kantin, mata Aruna tidak sengaja melihat Sena berlari keluar dari kelasnya dikejar oleh salah satu temannya. Alasan mereka kejar-kejaran simpel, Sena ngumpetin sepatu Raja.

“Anak kecil banget hadehh.” batin Aruna.

Nicky yang paham dengan apa yang ada dipikiran Aruna ikut menggelengkan kepala. Tapi setelah itu keduanya tertawa.