Mengalah

Siang itu terik, sekitar 33°C saat berhasil dilacaknya melalui salah satu aplikasi yang ada di-handphone. Agrna juga benar, hari ini hari paling pas untuk menggunakan sunscreen yang sebenarnya tidak pernah tersentuh di atas meja perkakas. Mark yang semula memarkirkan motornya lantas bergerak cepat untuk menemui salah satu temannya.

Wije. Nathaniel Wijaya.

Laki-laki yang tengah meneguk ice americano pesanannya itu duduk didekat jendela, meja nomor 17. Mark langsung menghampirinya ketika Wije mengangkat tangan sebagai tanda, “Woy gue disini.” Di atas meja sudah ada satu gelas ice americano dan dua potong sandwich yang salah satunya sisa setengah.

“Sorry Je, gue telat.” ucapnya ketika sudah duduk dihadapan Wije yang tersenyum itu. Ada harap-harap cemas dalam diri Mark untuk datang siang ini. Alasannya apa belum tau. Tapi kalau disuruh menebak, mungkin suatu hal yang menyebalkan dan mau tidak mau harus diketahui karena rasa penasaran yang menyelimuti sudah hampir satu bulan lamanya.

“Pesen minum dulu gih.” Mark menggeleng. Wije langsung terkekeh seadanya. Menarik kursinya untuk lebih dekat lagi kepada meja yang menghalangi keduanya. Dan sekarang ekspresi wajah Wije sudah berubah.

“Langsung to the point aja Je, gue gak lama.”

Ada jeda yang cukup lama diantara keduanya. Mark yang masih menunggu Wije membuka suara dan Wije dengan sekelibat kalimat yang memutar dikepalanya. Siang itu panas, walaupun cafe yang mereka datangi itu punya AC dengan kekuatan paling kencang tapi atmosfer yang tercipta sekarang lebih panas ketimbang udara luar.

“Soal Agrna, 'kan?” tanya Mark lagi dan pandangan Wije sudah berada pada Mark yang memandang dengan penasaran. “Agrna kenapa?” tanyanya sekali lagi dan Wije sekarang sudah sangat siap untuk bersuara.

“Alasan kenapa gue mau ngajak lo ketemu langsung biar gue bisa ngobrolinnya dengan baik, tapi kayaknya, nggak? Gue takut salah ngomong nanti malah bikin gak enak antara lo sama gue.”

“Kenapa sih emang?”

“Agrna gak sengaja bilang naksir gue.” jawab Wije cepat dan Mark langsung terdiam seketika.

Anjing.

“Kapan? Ngomong langsung? Apa gimana?”

“Udah hampir 3 minggu yang lalu.”

Oh, duluan ngungkapin ke lo berarti Je.

“Lewat chat, tapi gue rasa dia gak sengaja sedetik kemudian langsung dihapus terus gue pura-pura gak baca. Dia panik banget waktu itu.” Mark membeku dan terlihat seperti orang yang lupa bagaimana caranya bernafas.

“Beneran?” tanyanya tapi terdengar seperti sedang berbisik.

Dari raut wajahnya, mungkin Mark terlihat sangat sedih walaupun sedikit. Agrna Leony adalah perempuan yang ia sayangi sekarang setelah sang Ibu, bahkan Eyang Uti berada diurutan ketiga. Hari ini benar terasa seperti ada satu hal yang jatuh tepat dikepala Mark, hal yang menyakitkan itu terasa sampai ke bagian hati. Bahkan untuk menghindar rasanya sudah tidak sanggup lagi.

Perut Mark terasa ada yang melilit. Sekarang ketika sedang berbicara dengan Wije matanya pun harus tertutup beberapa kali. “Je, beneran?”

Wije menjawab dengan pelan, “Iya, tapi gue gak tau maksudnya gimana.”

Apa maksudnya? Apasih yang Wije bilang sekarang? Atau justru Agrna yang kenapa?

“Mark, lo udah jadian sama Agrna belum sih?”

Yang ditanya malah menunduk. Mark membuang pandangannya dari Wije, mencoba menghapus semua guratan pedih yang memang cuma bisa ia rasakan. Walaupun sebentar tapi rasanya lebih baik.

“Belum, tapi gue udah bilang kalau gue sayang dia.”

“Bagus.” Wije menyandarkan punggungnya dengan lega. Ada kejutan disisi Mark tapi ia enggan untuk bertanya kenapa. “Ya, bagus, berarti gue udah gak usah mertahanin perasaan ini lagi dong.”

Mark masih diam walaupun sangat ingin menarik Wije untuk dilayangkan satu toyoran di kepala. Rasanya kesal bukan main setelah tau kalau Wije juga punya perasaan yang sama ke Agrna.

“Gue..” Wije berhenti dan kemudian tertawa seperti dipaksa. Mark juga tau kalau untuk berbicara empat mata seperti ini, Wije adalah pihak yang paling tertekan. “...gue suka Agrna dari awal kenal dia. Jauh sebelum ada lo di hidup dia. Tapi gue tahan perasaan gue karena emang gue gak sekeren lo buat merjuangin perasaan sayang yang tumbuh buat dia itu. Bahkan, kalau gue harus ikut ambil langkah soal perasaan, kayaknya gue bakalan sangat gak tau diri? Lagian gue selama ini gak perduli sama perasaan gue sendiri, bahkan untuk seorang Agrna, kayaknya dia bisa dapetin yang lebih menghargai perasaan, kayak lo. Lo Mark.”

Nathaniel Wijaya yang siang itu masih dengan senyum manis yang sama seperti pertama kali ditemui Mark, kini mengulurkan tangan tanpa aba-aba. Mark masih mengerjap mencoba untuk menelan apa yang terjadi hari ini, tapi rasanya sulit. Ada sesuatu yang tersangkut disana dan ternyata adalah kenyataan pahit yang harus Wije pilih dan ia terima secara mentah-mentah.

“Tolong ya, Mark, gue titip Agrna. Buat hatinya yang belum sempat gue ketuk untuk sekedar bercengkrama lebih dalam. Gue titip dia.”

Mark mengamit tangan Wije. Memandang mata Wije yang sudah terdapat bulir disana dan bergantian memandang senyum Wije yang belum juga pudar sejak tadi. Ada banyak hal yang ingin Mark baca dari apa yang ia lihat tapi ternyata ini lebih sulit dari dugaannya. Entah Wije yang kali ini sedang mengalah tanpa harus memulai perang dan juga dirinya yang entah kenapa diselimuti rasa tidak percaya diri.

Yang Agrna suka itu tipe cowok kayak Wije. Buat tau hal ini aja udah cukup buat gue diem di tempat. Ra, sorry, tapi gue juga gak tau kenapa.


Malam itu, sambil berbaring di tempat tidur, Mark memikirkan satu nama yang sejak tadi tidak mau hilang. Agrna. Menyenangkan sekali rasanya kalau mengingat semua yang telah mereka lakukan bersama dalam 2 bulan terakhir. Menyenangkan tapi cukup menyedihkan setelah ada rasa tidak percaya diri menyelimuti. Rasanya seolah-olah baru dibangunkan dari tidur dengan mimpi yang paling indah. Tidak enak. Bagaimana jika ternyata Agrna hingga sekarang masih memiliki perasaan ke Wije? Atau mungkin kehadiran Mark hanya merusak jalan cerita antara Agrna dan Wije?

Mark hanya memejamkan matanya setelah ada satu notifikasi dari Agrna.

Belum, Ra, gue belum mau balas pesan lo malam ini.