Pemenang
Aku menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Langkahku benar-benar pelan, ku genggam penyangga di sebelah kanan sebagai tumpuanku agar tidak tumbang. Abang berada di ujung anak tangga sana menungguku untuk cepat sampai dan cepat menemui seseorang yang sangatku hindari.
Setelah benar-benar sampai aku bisa melihat samar tubuhnya yang tertutupi pot besar di samping meja bulat. Itu Mark. Dia belum sadar aku sudah berada di jarak sedekat ini, Papi masih mengajaknya tenggelam dalam keseruan permainan catur. Hatiku melega entah kenapa, ada guratan senyum di wajah Papi hanya karena permainan santai itu dengan Mark. Mereka cocok kalau kataku.
“Dek!” seru Mami mengejutkan. Aku cepat-cepat pergi menghampirinya yang datang dengan nampan berisikan 2 cangkir teh hangat. Itu pasti untuk Mark dan Papi karena abang tidak suka minum teh malam-malam begini. “Tolong diantar ke temannya itu ya, Mba Oni lagi nidurin anaknya rewel.” Aku mengangguk setelah nampan sudah dalam kuasaku dan memulai langkah dengan pasti. Pasti gemetar karena harus bertemu Mark sih lebih tepatnya.
Mark tersenyum setelah tau aku datang, Papi menyambutku dengan menepuk jok sofa disebelahnya. Aku duduk di samping Papi dan melirik ke arah Mark yang masih juga tersenyum. Aku jadi ikut tersenyum walaupun canggung.
Abang curang, harusnya dia juga berada disini menemani kami, tapi entah mengapa malah pergi dan ikut duduk bersama mami di depan TV. Itu adalah sinetron kesukaan Ibu-ibu zaman sekarang, Ikatan Cinta judulnya dengan pemeran utamanya bernama Aldebaran juga Andin. Mami ikut terkena virus Mas Al karena Mba Oni, aku sering mengomel ke Mba Oni ketika Mami sedang dalam mode fangirling kalau Mas Alnya nongol di salah satu iklan, karena itu sangat menyebalkan untukku.
Dalam permainan yang cukup seru untuk dua orang baru bertemu itu, Papi banyak bicara juga bertanya pada Mark. Pertanyaan umum seperti, Papa kamu kerja apa?, Kamu kuliah di NCIT juga?, Kenal Agrna darimana?, dan Kamu tinggalnya dimana? Mark menjawab semua pertanyaan itu dengan jujur dan lurus. Aku tidak perlu khawatir untuk jawabannya karena dia bisa diajak bekerja sama saat ini; untuk memenangkan hati Papi.
Aku tidak merasa bosan, walaupun hanya tertawa kalau mereka berdua tertawa atau ikut berfikir ketika Papi sedang menyusun rencana ke arah mana buah caturnya bergerak. Aku tidak begitu paham dengan permainan catur, hanya ikut duduk saja dan belum pernah bermain sebelumnya. Selang beberapa menit, permainan dimenangkan oleh Papi, aku ikut bersorak ketika Mark mengusap puncak kepalanya gusar karena kalah. Dia kalah tapi masih bisa tertawa, aku tidak mengerti tapi sepertinya dia mencoba menghargai Papi dengan kemenangan pertama itu.
“Sebenarnya Om masih mau lanjut main satu ronde lagi, tapi kayaknya Agrna sudah capek ya dek nunggunya?” ledek Papi kepadaku. “Jadi, Om pamit ke dalam dulu ya. Kamu minum tehnya itu keburu dingin.” tunjuk Papi ke cangkir teh didepan Mark. Setelah itu, Papi benar-benar pergi dan menghilang setelah punggungnya ditelan sekat kayu bermotif bunga diruang tamu untuk menuju ruang tengah.
Sekarang hanya ada aku, Mark dan keheningan. Kami mati kutu setelah Papi pergi.
“Ra,” katanya dan aku langsung menatapnya. “Maaf ya kalau lancang gak izin kamu dulu buat mampir kesini.”
“Iya, gak apa-apa. Lagian diterima juga, ‘kan?”
Mark mengangguk. Sepertinya dia puas karena Papi tidak menyuruhnya pulang begitu saja waktu sampai tadi. Kalau may tau, aku banyak mengabiskan waktu dengan berloncatan di kamar ketika Abang bilang ada Mark disini, aku benar-benar ingin kabur sekali lagi tapi tidak jadi. Aku ingin bertemu Mark dan orangnya sudah ada dihadapanku.
“Aku mau-”
Kupotong cepat-cepat ucapan Mark, kubiarkan itu menggantung karena aku tau dia pasti ingin minta maaf.
“Kita keluar aja yuk, ke taman depan sana. Kalau ngobrol disini takut ada yg dengerin.” itu saran yang paling masuk akal untuk ku ucapkan. Selain takut ada yang mendengar aku lebih takut diledek Papi karena hubungan yang sedang tidak baik-baik saja ini.
Aku mengambil satu potong sweater katun berwarna ungu yang menggantung dekat ruang gosok. Kemudian izin kepada Mami yang masih di ruang tengah, untuk mengobrol dengan Mark diluar. Mami bilang boleh asal jangan lama-lama. Aku jawab, Mami tenang saja kami tidak akan lama.
Maka kami sudah berada disini. Duduk berdua dibangku kayu yang terasa dingin karena udara malam. Suara serangga dan juga deburan angin sangat menelisik indera pendengaran, tapi debaran jantungku masih jauh lebih kencang suaranya dari semua itu. Aku mengintip Mark dari lirikan cepat yang ku lakukan beberapa kali, dia diam tapi seperti ingin memulai suatu percakapan.
“Gak istirahat?” aku bersuara, kemudian dia menoleh.
“Belum, Ra. Aku mana bisa istirahat dengan tenang kalau kita masih kayak gini.” katanya dan aku membuang muka.
“Agrna, maafin aku ya. Aku beneran minta maaf udah kurang ajar kemarin, jahat ke kamu, egois bahkan sangat diluar kendali emosinya.” itu adalah ucapan yang mampu menyengat seluruh tubuhku. Rasanya aku baru saja dibangunkan dari tidur yang menyiksa, tapi perasaan di dadaku belum mereda entah mengapa.
Aku diam walaupun sempat mengangguk sekali saat Mark meminta maaf. Lidahku kelu.
“Nenek aku meninggal Ra.”
Aku tersentak dan menemukan ada bulir airmata disana. Mark seperti menahan tangis.
“Meninggalnya lepas Magrib kemarin. Aku sibuk di Lab, jadi telat dengar kabar dukanya dari Ibu. Sekitar jam 9 malam, waktu aku baru bisa pegang handphone udah ada banyak pesan dan panggilan suara tak terjawab dari keluarga yang ngabarin. Aku telat tau Ra, pas pulang, Ibu udah berangkat ke Bogor.”
Tanpa izin dari yang punya tangan dingin itu, aku langsung menggenggamnya. Aku sedikit meremas jari-jari Mark. Tubuhnya bergetar dan aku tarik dia dalam pelukan sebentar.
“Maaf. Mark, maaf. Aku turut berduka ya.” kataku dan dia semakin kencang menangisnya. Aku tidak bisa bohong kalau malam itu aku juga menangis. Alasan dari tangisanku mungkin memang tidak sepedih dari jatuhnya airmata Mark, tapi yang aku tau aku juga merasakan emosi darinya.
Untuk momen seperti ini, aku rasa ini adalah pertama kali. Emosi kami tumpah hingga kebagian yang paling tidak mengenakkan. Tangisan yang dihadiahi sebuah pelukan menjadi satu malam ini. Disaksikan jutaan bintang dan terangnya rembulan, kami seperti melebur rindu yang paling menyakitkan.
Kami tidak banyak bicara setelah Mark berhenti menangis. Genggamanku masih belum juga dia lepas. Jemari tangannya yang semula dingin kini menghangat. Aku menyesal pergi tadi tidak membawa tissue karena kami malam ini benar-benar kacau. Hidung Mark sangat merah bahkan matanya terlihat lelah. Aku tidak bisa melihat penampilanku, aku yakin aku sangat jelek tadi saat menangis.
“Aku tau kamu pergi sama Wije dari Mukidi.” Mark mulai mengatakan alasan dari marahnya kemarin. Fyuh, oke, aku sudah siap untuk membahas ini.
Aku mengerjap dan menunggunya untuk lanjut bicara.
“Kamu tau Mukidi, Ra? Dia ketua angkatan aku, kemarin sore setelah mereka selesai dari Lab, ternyata Mukidi sama Wije jalan bareng ke parkiran untuk pulang. Dan dia bilang gini ke aku, “Mark cewek lo jalan noh sama Wije.” Aku baca pesan Mukidi setelah baca berita duka, makanya aku beneran gak bisa ngertiin keadaan waktu itu, Ra. Entah berduka, entah cemburu, entah emang beneran lagi kerasukan setan, aku gak ngerti.”
Ganggaman tangan itu tadi hampir ku lepas tapi Mark dengan cepat menariknya kembali sambil menjelaskan. Aku sebenarnya bisa mengerti keadaan Mark kemarin. Maka dari itu aku diam sekarang.
“Aku cemburu sama Wije.”
Aku mengangguk.
“Kamu bisa terima alasan aku cemburu itu, Ra?”
Aku mengangguk lagi.
“Dari seminggu yang lalu, aku ngerasa gak sanggup buat ninggalin kamu jauh ke Canada, Ra. Aku cemburuan, itu jelek sifatnya tapi itu beneran. Seharusnya aku gak boleh begitu karena Wije temanku dan kamu sayangnya ke aku. Tapi gimana ya, Ra..”
Detik itu juga aku tidak bisa menahan tawa. Mark heran, sudah pasti.
“Kenapa ketawa?”
“Lagian aneh, udah tau aku sayangnya kamu tapi kenapa kemarin bilangnya aku jadian sama Wije sih?”
Mark terkekeh. Kemudian mengangkat genggaman tangan kami ke dada kirinya. Menaruh sebagian milikku untuk merasakan debaran jantungnya.
“Aku beneran minta maaf ya? Aku gak punya alasan lain Ra, karena memang begitu adanya. Tolong dimaafin.”
“Dimaafin sih, udah, tapi gak tau masih aja kesel kalau keinget.”
“Wajar, aku keterlaluan banget, Ra. Ternyata, aku gak bisa kontrol emosi soal cemburu-cemburu gitu. Aku masih remedial.” katanya.
Aku memutar bola mataku. Remedial dia bilang.
“Kamu tau kenapa aku sempat ngilang kemarin?” dia bertanya dan aku menggeleng. “Karena aku gak percaya diri. Aku ngerasa selalu kalah kalau disandingin sama Wije, Ra. Aku gak tau kenapa, hati aku kayak menciut kalau saingannya dia.”
“Kenapa Wije?”
Mark diam. Aku tidak tau apa maksudnya dan dia tidak mau menjelaskan. Matanya terus bergerak kesana kemari untuk menyusun jutaan kata di kepalanya. Dan aku ikutan bingung.
“Gak tau.” dia mengangkat kedua bahunya setelah itu. Itu tadi bukan jawaban dari pertanyaanku.
“Kenapa sih? Kamu sama Wije itu bukan suatu perbandingan. Kamu ya kamu, Wije ya Wije. Jadi gak perlu khawatir apalagi insecure gitu. Kamu mah aneh, Mark, Jae aja kamu berani kalahin posisinya dihidup aku, tapi kenapa Wije kamu ngerasa kalah?”
Dari pencahayaan yang remang ini aku masih bisa melihat kalau wajah Mark memerah.
“Uumm.. Jadi, Ra..” dia berbicara terbata-bata. Aku tertawa.
“Aku cuma takut kalah dari Wije, Ra.”
Aku berdecak. “Bukan kamu yang nentuin siapa yang menang atau kalah.”
Karena apapun alasannya, Mark, kamu selalu jadi pemenangnya.