Rasa dan Penggantinya

Malam terakhir di bulan November ini aku habiskan dengan menemani Wije berbelanja seharian. Membeli kado spesial untuk orang yang istimewa katanya. Itu Bundanya.

“Ra sorry pulangnya kemaleman.” Wije bersuara tanpa menoleh dan tetap lurus pandangannya kepada jalanan yang kami telusuri. Sekarang sudah pukul 8 malam, masih belum terlalu terlambat untuk pulang ke rumah, tapi kalau dihitung sejak kami pergi tadi ini memang sudah cukup lama, sih.

“Gapapa ih lebay deh. Gue juga udah pamit sama Mami.” Aku yang saat itu baru saja menguncir rambut pun menepuk pelan lengan kiri Wije. Dia terlalu berlebihan kalau bilang jam 8 malam itu sudah kemalaman. Dan kemudian kami berdua tertawa hambar.

Thanks ya, Ra.” katanya dengan suara yang tidak terlalu lantang tapi aku tau dia menyembunyikan senyum.

“Hehehe sama-sama. Kapan Je ultah nyokap lo?”

“Lusa Bunda ulang tahun. 2 Desember.” terangnya dan aku mengangguk.

“Salam ya Je! Sampein doa gue ke Bunda lo, panjang umur sehat selalu, terus untuk urusan kayak pekerjaan dan rezekinya dimudahkan sama Tuhan. Daann, makin cantik!”

“Hahaha okey, aamiin aamiin. Nanti gue sampein.”

“Gue penasaran sama nyokap lo orangnya gimana deh, pasti cantik banget secara gitu, lo kan ganteng.”

Nathaniel Wijaya yang punya nama beken Wije ini tertawa sendiri. Padahal letak lucu ucapanku tadi ada disebelah mana, aku tidak tau. “Lo pernah ketemu bunda, Ra.”

Aku menggeleng karena merasa hal itu tidak pernah terjadi. Bukan, aku sedang tidak lupa, tapi, aku memang beneran belum pernah merasa bertemu dengan Bundanya Wije. “Kapan?” tanyaku mengintimidasi.

“Waktu itu, pas ada yang titipin bekal makan siang buat gue, hari dimana kita kerja rodi ngebangun gate gapura acara BEM, Ra. Lupa lo ya?”

Aku memicingkan mataku sambil menepuk dengkul dua kali untuk berfikir keras. Tapi entah aku masih belum bisa menemukan ingatan itu. “Bentar, yang mana sih?” kataku semakin memaksa untuk mengingat.

Wije tertawa seperti sedang menertawakan tingkahku dan aku cuma bisa menggali lagi ingatan yang benar-benar aku lupa kubur disebelah mana. “Hahaha, itu loh, mbak-mbak cantik yang nganterin kotak bekal buat gue di parkiran fakultas itu Ra, mbak itu sebenernya bunda gue.”

Aku membulatkan mata seketika. Ingatan tentang mbak cantik yang waktu itu mengantarkan bekal ditengah hari untuk Wije sih aku ingat, tapi, itu Bunda Wije?

“ANJIR IH KOK MUDA BANGET?” kataku meloncat kaget, Wije hanya bisa tertawa puas.

“Emang masih muda. Bunda nikah sama Ayah waktu umur 18 tahun, bener-bener lulus SMA. berhasil lahirin gue di umur 20 tahun setelah 2 kali keguguran sebelumnya.”

Aku cepat-cepat menatap Wije yang tidak juga merubah ekspresi wajahnya. Dia kelihatan serius dan aku sepertinya tidak boleh bilang dia bohong. “Pantes lo sayang banget ke nyokap lo ya Je, perjuangan buat dapetin anak pertama kayak lo aja susah. Tapi beneran itu Bunda lo gak sih??” tanyaku lagi dan dia masih mengangguk meyakinkan.

Pandangan Wije yang semula hanya kepada jalanan kini berubah ke arahku. Oke, dia jujur.

“Iya, beneran Bunda gue. Tapi gue anak tunggal, Ra.”

“Anak tunggal?”

“Iya, setelah lahiran gue, bunda punya masalah sama rahimnya padahal masih muda banget waktu itu. Kata bunda sih dengan adanya gue, dia sudah sangat bersyukur.”

Aku setuju dan menjawab, “Yah gue juga klo punya anak bentukannya kayak lo udah bersyukur lahir batin kali Je!”

Wije tertawa lagu entah sudah ke yang berapa kali. “Bisa aja hahaha.”

Setelah itu, aku tidak melihat ke arah Wije lagi. Konsentrasiku sempat diganggu karena malam ini, radio kesayangan memutarkan lagu yang sangat aku suka. Maroon 5 penyanyinya, judulnya Lost Stars. Aku kira, Wije tidak tau lagu ini, tapi ternyata dia ikut bersenandung perlahan. Wajar sih, ini lagu semuaorang suka, pasti dia hapal.

“Eh, btw, Je lo kenapa gak ikutan proyek kayak Mark dan Redo gitu deh? Lo malah bikin proyekan sendiri pake dana bokap lo lagi.” cerita tentang Wije yang membuat proyek penelitian menggunakan dana pribadi itu sudah bukan rahasia lagi, kami, anak-anak divisi dekdok, pernah membicarakan hal ini sebelumnya tapi belum ada jawaban yang memuaskan dari Wije. Maka dari itu, aku bertanya mumpung masih ada orangnya.

“Susah, Ra, Ayah kalau kerja sering diluar kota sampe berminggu-minggu dan gue anak tunggal. Bunda sama siapa kalau gue pergi?”

Alasannya begitu. Aku merinding seketika. “Oh iya juga ya, kasian Bunda lo. Tapi gue denger-denger yang harusnya pergi proyekan itu lo ya Je bukannya Redo?” tanyaku lagi karena sudah terlanjur penasaran mengenai kebenaran cerita itu.

“Iya.” jawabnya cepat. “Gue tolak dengan alasan gue mau bikin proyek sendiri di kampus. Lagian ya, ra, Redo udah paling pas untuk gantiin posisi gue. Walaupun gue, yaahh, ada lah dikit-dikit rasa pingin pergi juga ke Kanada, tapi gak apa-apa, gak semua hal harus gue yang beneran isi kehadirannya, kadang dengan adanya orang lain untuk gantiin posisi itu bakalan lebih baik hasilnya.” Wije tersenyum sekilas ketika mata kami bertemu, aku merasakan ada ketulusan dari ucapannya itu.

“Jago lo ya kalau ngomong! hahahaha.”

Kemudian hening, kami sama-sama menikmati jalanan yang sedang setengah macet itu ditemani dengan merdunya suara Adam Levine. Aku tidak tau lagu kesukaan Wije yang bergenre seperti apa, tapi, kalau dilihat dari perawakannya yang tenang dan santai ini, sepertinya dia suka lagu-lagu dengan tempo santai. Mungkin semacam Jazz, atau Pop-ballad. Mungkin.

Satu lagu yang kami nyanyikan bersama secara perlahan itu pun selesai. Aku masih menanti lagu selanjutnya karena suasana kami saat ini sedang canggung. Tidak tau kenapa, padahal masih banyak yang ingin aku sampaikan ke Wije. Isi kepalaku sudah penuh dan aku seperti ingin segera bertanya kepadanya, tapi lidahku kelu. Kami memang berteman, bahkan sudah cukup lama, sejak awal ikut serta dalam kepanitiaan BEM, kami adalah teman baik. Tapi, tidak boleh lupa, kecemburuan Mark kepada Wije, adalah alasan aku pernah menangis waktu itu. Makanya, aku sangat canggung sekarang.

Lalu, aku tersenyum, lagu selanjutnya pun terputar. Lagu lama yang masih samar-samar diingatan. Aku hapal beberapa bagian liriknya tapi judulnya apa ya. Saat ini, aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus lanjut mendengarkan musik saja atau malah mengatakan apa yang sejak tadi ingin keluar dari bibirku.

“Je...” panggilku ke Wije dan dia hanya menjawab 'ya' dengan santai. “Lo tau trend di tiktok yang diambil dari interview Billie Eilish gak?” lanjutku dan melirik ke arahnya.

Wije mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau. “Yang mana? Gue gak main tiktok, Ra.”

“Itu, yang Billie bilang kurang lebih gini, ‘everyones gonna die and no one will remember you, so..’ and then semua orang yg join trend itu langsung ngungkapin perasaannya ke orang yg selama ini dia suka.”

“Terus-terus?”

“Gue tau kalau ngomongin ini bakalan salah karena waktunya gak tepat banget, tapi, gue rasa udah gak ada yg harus gue tahan lagi, Je.”

“Tentang gue, Ra?”

Aku berdeham pelan. Aku jawab pertanyaannya dengan deru jantung yang menggebu. “Iya je. Tentang perasaan yg gue punya buat lo. Lo janji jangan komen apa-apa dulu ya sampe gue selesai?”

Wije hanya mengangguk tidak menjawab.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Dengan tangan yang semakin dingin aku mencoba untuk bersuara. “Gue suka lo Je, sukaaa banget, lo orang pertama yang gue ceritain selembut apa tutur katanya ke Papi, bahkan, lo orang pertama yang gue deskripsiin semanis apa senyumnya ke Mami. Lo juga orang pertama yang gue tunggu kehadirannya di sekret kalau lagi radiv malem-malem, bagian gue cari perhatian di grup divisi untuk sekedar bilang semangat ya guys, itu juga masih lo yang gue tunggu untuk jawab ‘makasih ra, lo juga semangat.'”

Wije hanya menatapku tanpa berbicara. Dia masih belum memberhentikan laju mobilnya meskipun aku tau dia kelewat kaget sekarang.

“Mungkin lo bertanya-tanya Je, kenapa gue bisa naksir lo? Jawabannya simple, karena lo orang pertama yang bisa bikin gue nyaman tanpa harus nyari zona nyamannya gue; yaitu kabur. Lo inget pertama kali kumpulan acara BEM dan gue ditunjuk jadi sekoor divisi, itu gue paniknya minta ampun karena gak sanggup berhadapan sama banyak orang. Tapi lo disana, lo ngeyakinin gue, lo bilang ke gue untuk gak kabur dan bertahan diposisi gue karena lo akan selalu ada disamping gue. Bahkan untuk kak Joey juga. Harusnya waktu itu gue mikir, kalau lo cuma basa-bisa biar gue gak panik sesaat, tapi nggak Je, lo beneran ada disaat-saat gue ngerasa udah gak sanggup lagi bahkan berpikiran untuk kabur. Banyak hal yang lo kasih tunjuk ke gue untuk ngebuktiin kalau punya perasaan ke lo itu gak salah, Je, tapi gue gak tau maksud kebaikan lo apa? Bahkan gue gak tau perasaan lo ke gue gimana? Atau malah sebenernya ada orang lain di hati lo? Makanya gue pendem selama ini perasaan gue dan lebih baik begitu....” ucapanku menggantung, aku hirup nafas dalam-dalam dan Wije masih diam. “...baik buat gue lebih tepatnya, Je.”

Pandangan wajah santai Wije yang tadi dia berikan kini menghilang dan dia memalingkan wajahnya. “Wah panjang banget ya Je? Takut lo nyetir gak fokus dengerin gue ngomong terus. Sorry, ya Je, tapi gue udah lega setelah ngomong apa yang gue rasa. Daaannn, gue harap lo memaklumi gue malam ini, gue cuma gak mau menua dalam keadaan memendam perasaan lama. Tentang jawaban lo itu terserah Je, karena emang gue gak pernah minta lo buat bales, karena nih ya kalau lo tanya perasaan gue sekarang buat lo tuh gimana? Gue juga gak tau, gue ada Mark, gue udah sayang banget ke dia, bahkan gue gak mau yang lain kalau bukan Mark orangnya. Tapi perasaan gue ke lo, masih belum juga ilang.”

Aku mendesah dan memukul keningku sekali setelahnya. Aku benar-benar berada diujung tebing. “Tai banget gue terdengar sok playgirl gitu ya, Je? Hahaha tapi plis gue juga gak tau gue kenapa, isi kepala gue tuh udah penuh banget, Je, kayak emang gua harus bilang ini ke lo, karena gue tu-”

“Ra...” Wije memotong ucapanku. Aku menoleh ke arahnya yang menatapku sendu. “Sekarang gue udah boleh ngomong?”

Aku terdiam. “Boleh Je.”

“Gue juga sayang sama lo, Ra.” detik itu jantungku berhenti berdetak. Aku tidak merasakan aliran darah berjalan dengan normal, rasanya aku seperti sedang diangkat ke langit untuk dijatuhkan saat itu juga.

“Dan harusnya lo sadar baiknya gue ke lo dan baiknya gue ke orang lain itu beda, Agrna. Gue ke lo itu tulus karena gue mau lakuin itu buat lo, sedangkan ke yg lain itu karena memang sekedar bantu. Dari awal kenal lo, gue gak mau salah langkah, karena pribadi lo yg terlalu tertutup juga buat gue bertanya-tanya. ‘Kalau gue deketin Agrna, dia bakalan ngejauh ga ya?’, itu yg selalu ada dibenak gue, Ra. Lo inget di hari lo ulang tahun dan gue buatin gelang? Itu sengaja Ra, gue harus belajar buat gelang kayak gitu selama 2 minggu sama Bunda, tapi hari dimana gelangnya mau gue kasih, Elida keburu nanya itu kado buat siapa? Makanya gue telat 4 harian buat ngasih ke lo, karena gue harus buatin Elida juga, biar lo gak curiga. Bahkan hari dimana lo ngambek gue tinggal makan sendirian di kantin bude, itu sebenernya juga buat lo, Ra. Gue takut kalau lo ikut gue ke jcloud, lo bakalan telat sampe kampus lagi, padahal siangnya masih ada rakoor, gue cuma gak mau lo dicap jelek sama kating angkatan atas, Ra. Itu doang.”

Untuk beberapa saat, aku lupa bagaimana caranya menarik nafas. Mataku juga berhenti berkedip. Dadaku seperti ingin meledek dalam hitungan detik. Jawaban Wije terlalu mengejutkan buatku, aku tidak mau percaya tapi ini kenyataannya. Aku membeku di sekujur tubuh. Bahkan, untuk merasakan emosi saja aku tidak bisa.

“Tapi setelah itu lo ternyata ketemu sama Mark ya, Ra? Kehadiran Mark itu sebenernya adalah jawaban dari keraguan gue. Gue yang awalnya ragu harus maju atau mundur buat perjuangin lo, ternyata harus mundur saat itu juga, Ra.” aku yang masih membisu tidak menyangka kalau Wije menghadiahkan senyum. Dia seperti tidak ingin aku goyah.

“Lagi-lagi ada orang lain yang harus gantiin posisi gue. Dan orang lain ternyata yang paling cocok ngisi dibagian itu, bukan gue, Ra.” katanya terakhir sebelum akhirnya kami sampai di depan rumahku. Tatapan terluka terlintas di wajah Wije saat mobilnya berhenti. Aku menatapnya lebih dalam lagi.

“Agrna, lo harus bahagia sama Mark. Kebahagiaan lo, gue anggap balasan dari perasaan yang selama ini gue pendam. Langgeng ya, Ra, restu gue ada buat lo berdua.”

Dan aku menangis, entah karena apa.