SENA ITU SEBENARNYA

“Malem, Pak! Pecel ayamnya satu dan pecel lele juga satu, ya.” Sena yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap langsung menuju ke arah Pak Gendut selaku pemilik kedai pecel lele favoritnya itu.

“Eh, Sena, oke. Minumnya kayak biasa?”

“Iya, es jeruk dugan Pak, dua.”

Pak Gendut hanya mengacungkan jempolnya sekali menandakan bahwa ia paham dengan pesanan Sena seperti biasa kalau sedang malam-malam lapar dan mampir untuk mengisi perut. Biasanya yang dibawa kemari itu Raja atau Kaisan, tapi akhir-akhir ini berbeda. Ada penumpang baru yang namanya kalian pasti sudah tau. Iya, Aruna. Penumpang baru nan setia di vespa hijaunya Sena.

Sebenarnya, Sena itu tidak biasa mengendarai motor ke Sekolah, tapi mengantar pulang Aruna kini menjadi kebiasan yang menyenangkan baginya setiap hari. Sena pernah bilang, kalau hari ini sedang menghabiskan waktu dengan Aruna, waktu harus dinikmati setiap detiknya jangan sampai mubazir karena ngobrol dengan Aruna secara langsung itu seru, berbeda dengan dichat yang terkesan cuek. Dan kalau sudah terpisah dikamar masing-masing, Sena berusaha cepat-cepat tidur agar besok bangun pagi yang disapa pertama selain Tuhan lewat doa, adalah Aruna lewat telpon.

“Aruna mau pesan kol goreng?”

Aruna mengangguk karena terlalu sulit untuk menjawab 'iya' ketika sedang mengunyah sempol ayam yang dibeli tadi dijualan mang Ipul.

“Pak, sekalian kol gorengnya satu porsi!”

“Oke, Sena.”

Sena duduk di depan Aruna, sengaja mengambil lesehan agar lebih santai makannya dan bisa sender ke tembok yang ada dibelakang kalau memang nanti kekenyangan. Kalau sedang asyik makan jajanan begini, bagi Sena, Aruna itu sangat menggemaskan. Ya, walaupun ngapain aja bikin gemas tapi ini menjadi momen 'gemas' yang harus Sena rekam sendiri diingatannya.

Tanpa menunggu lama, pesanan mereka datang dan langsung diserbu keduanya. Sena yang pimpin doa makan malam ini. Karena biasanya mereka doa masing-masing.

“Kalau mau pesan air mineral, bilang Sena ya.”

“Iya, Sena.” kata Aruna sambil pelan-pelan meniup ayam gorengnya.

Sesekali Sena senyum lebar meskipun Aruna bilang berhenti melihat ke arahnya. Jangan, jangan berhenti dulu karena yang gemas-gemas begini memang paling benar responnya adalah senyuman paling ikhlas.

“Dimakan, Sena!” tukas Aruna cepat-cepat karena takut wajahnya memerah. “Jangan diliatin mulu, Aruna malu.”

Sena mengangguk dan kemudian melanjutkan makannya. Aruna kamu harus tau, kalau makannya didepan kamu begini, Sena mana bisa pangling, sih? Tapi sebisa mungkin Sena bersikap keren dengan memandang Aruna diam-diam saja dibalik kegiatan makan lelenya yang enak dan garing itu.

“Nama Aruna, emang paling pas untuk Aruna, tau gak?” ucap Sena setelah Aruna menelan habis es jeruk yang dipesan tadi.

Sesi makan malam berdua kini sudah selesai walaupun sekarang masih jam 8 malam. Sebelum pulang Sena ingin mengobrol seperti janjinya ke Aruna tadi pagi, yaitu cerita tentang apa yang terjadi ke Sena sampai harus izin dari sekolah dan menuju rumah sakit. Walaupun memang terlihat sehat-sehat saja, pasti ada cerita didalam diri Sena yang bahkan dimulai darimana Aruna pun tidak tau.

“Kenapa?” tanya Aruna penasaran.

“Iya, jadi Sena pernah searching gitu di Google, katanya disana nama Aruna dalam bahasa sanskerta berarti, 'bersinar kemerah-merahan.' Kayak sekarang,—” Sena menggantung ucapannya. “Tuh, tuh kan! Merah pipinya.” tunjuk Sena girang sedangkan Aruna malah menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang sudah dicuci bersih tadi setelah makan.

“Pipi Aruna kenapa gitu deh?”

“Gak tau. Ini tuh tiba-tiba.”

“Hahaha gemesin banget, Sena cubit sekali boleh?” tawar Sena yang kemudian ditolak mentah-mental si Aruna yang punya pipi.

“Gak boleh! Cuci tangan dulu bau sambel terasi!”

Sena terkekeh kemudian oke jawabannya, lebih baik cuci tangan dulu daripada kena omel Aruna.

“Sekarang Aruna mau tagih janji Sena!” serang Aruna langsung ketika Sena sudah duduk kembali dihadapannya. “Cerita, tadi pagi kenapa?”

“Oh itu, hm...” Sena terdiam, bingung harus mulai cerita darimana.

“Ngapain ke rumah sakit?”

“Sena tebus obat sama Ibu, sekalian Ibu juga beli-beli vitamin.”

“Terus?”

“Sena sarapan bubur sama Ibu, eh nggak, Sena sarapan bubur dulu yang bener baru ke rumah sakit.”

“Obat buat apa?”

“Sena sakit.” ada banyak pertimbangan dalam benak Sena, apakah cerita ke Aruna semuanya atau seperlunya. Bukan karena Sena tidak percaya ke Arunanya, tapi Sena tidak mau kalau cewek cantik dihadapannya ini khawatir.

Aruna masih diam dan menunggu penjelasan panjang dari Sena.

“Sena ada asma. Tapi gak parah, kemarin aja lagi sial sampai harus kambuh tengah malem. Sena sebenarnya gak mau cerita ke siapa-siapa, tapi Abang udah keburu cerita ke Ibu. Hm, ya tau aja Ibu-ibu tuh ya kalau udah khawatir ada-ada aja mintanya. Minta langsung berobatlah, minta jangan sekolahlah, dan lucunya malah minta jangan sakit. Sena juga gak mau sakit sejujurnya, tapi ini keturunan, Ayah Sena yang ada asma.”

Pandangan Sena sekarang sudah berada di mata teduh Aruna, semakin diperhatikan bulir-bulir airmata dipelupuk sana semakin ramai. Hanya dengan sekali kedip, Sena yakin akan ada tetesan airmata pertama dari Aruna untuknya.

Memori tentang orang terkasih yang kini sudah tiada langsung lewat begitu saja dihadapan Aruna. Dan entah kenapa, sosok itu malah harus diwakili Sena. Ini tidak adil kalau kenyataannya begini. Sena itu sudah Aruna andaikan sebagai sosok baru, tapi mengapa semesta harus menjadikannya refleksi dari Mama melalui kesamaan hal yang paling dibenci. Yaitu asma.

“Hey, Aruna kenapa?” cepat-cepat Sena menyeka airmata yang mengalir di pipi merah Aruna.

Dada keduanya sesak, namun berbeda alasan. Sena tidak suka kalau ada yang harus menangis dan alasannya itu adalah dirinya, sedangkan Aruna menangis karena tidak tau kalau Sena ternyata punya penyakit yang cukup jahat bagi siapun penderitanya.

“Maaf, Aruna cengeng tapi sedih dengernya, Mama Aruna juga dulu punya asma, tapi Mama udah sehat di Surga.” tak perlu waktu lama, Aruna mengubah raut wajahnya dengan senyum paksa dan Sena yang melihatnya bisa tau kalau Aruna berpura-pura. “Sena pasti malam itu gak enak banget ya nafasnya? Badannya berasa kaku dalam beberapa detik ya, Sen? Ada siapa disamping Sena waktu itu? Aruna gak bisa bayangin, karena Mama waktu itu juga beneran tersiksa.”

Sena menggeleng. “Sena juga minta maaf buat nangis gini, ya? Udah, jangan sedih-sedih Aruna, Sena gak bisa liatnya. Alasan kenapa Sena gak mau cerita karena gak mau buat Aruna khawatir, liat Aruna nangis kayak gini udah bener-bener ngancurin Sena.” tangan hangat Sena kini menggenggam tangan Aruna yang terbilang dingin, ada harapan dalam hati Sena agar dengan berpengan tangan begini keduanya bisa saling menguatkan.

“Aruna jangan nangis kalau alasannya adalah Sena.” pinta Sena yang malah terdengar seperti perintah.

“Hey dengerin, Sena sakit gak separah itu. Jadi gak bakalan kenapa-kenapa, okay?”

“Tapi sama aja, kita gak bisa nyepelein penyakit, Sena. Denger kabar Sena sampai harus izin sekolah buat ke rumah sakit aja, Aruna bingung kok bisa panik segitunya karena yang rasain sakit itu Sena bukan Aruna. Sena mungkin bisa aja bohong bilang gak kenapa-kenapa tapi sebenernya lagi nahan, kan?”

“Sena emang gak bisa jamin bakalan sehat terus karena penyakit ini selalu tiba-tiba, bukannya sok kuat tapi Sena bisa ngatasinnya dan yakinin Aruna, kalau Sena akan baik-baik aja. Janji, ya Aruna jangan nangis lagi.”

“Aruna janji.” jawab Aruna perlahan. “Sena harus janji juga untuk jaga kesehatan ya, harus tau sampai mana batasan sehat tubuh Sena, semuanya jangan dipaksa 'bisa' kalau memang harus gak bisa. Kesehatan itu nomor satu.”

“Sena janji. Untuk Aruna dan banyak rencana yang harus kita laksanain setiap harinya walaupun cuma makan pecel lele biasa begini atau belajar bareng di GO, Sena harus janji untuk itu semua.” Aruna mengangguk setuju walaupun masih belum puas hatinya.

“Sekarang kita pulang ya Aruna, Sena anterin. Juga ada satu hal yang Sena minta malam ini jangan ditolak tapi?”

“Apa?”

“Nanti diatas motor dan kita udah dijalan, Aruna peluk Sena dari belakang. Walaupun gak pake ngobrol, tapi Sena mau kita saling menguatkan, ya?”

Aruna mengangguk tanpa menolak. “Iya, Sena.”