YOU ARE MINE

Menu makan malam Sena dan Aruna hari ini tidak jauh berbeda dari malam-malam kemarin. Pecel lele Pak Gendut sudah menjadi andalan kalau memang sudah kelaparan setengah hidup begini.

Aruna berjanji malam ini kalau sekarang gilirannya traktir Sena sebagai bentuk selebrasi dari selesainya semua rangkaian kegiatan yang Sena ikuti. Hampir setengah bulan Sena lelah hati, fisik dan fikiran untuk segala pertunjukkan hari ini. Dan alhamdulillah-nya semua berjalan lancar.

Tapi tidak bagi Sena, pertunjukkan Pensi tadi pagi masih ada yang kurang karena Lagu untuk Aruna gagal ia bawakan. Masalah ini sih pribadi sebenarnya, Aruna tidak tau apa-apa soal lagu yang akan Sena bawakan. Jadi bagi Aruna semuanya sudah berjalan sesuai rencana.

“Abis makan ini kita pergi dulu, ya? Sena mau ajak Aruna ke suatu tempat.”

Aruna mengangguk setuju karena baginya hari ini cukup panjang dan harus semua cerita didalamnya ada Sena. “Yuk, mau kemana?”

“Sena waktu itu ketemu cafè temanya sky lounge gitu dekat rumah Aruna.”

“Ini udah jam 10 emang masih buka?”

“Buka untuk umum kok.”

“Okay Aruna ikut aja.”

Perjalanan di atas motor vespa berdua dengan Sena menjadi alternatif lain dari pelepas penat. Kedua tangan Aruna melingkar manis memeluk Sena yang tengah mengendarai motor dan tidak jarang sesekali Sena mengusap lembut punggung tangan Arunanya.

Malam minggu berdua dengan kekasih katanya menjadi kegiatan rutin insan yang tengah kasmaran. Dan itu adalah hal yang benar kalau menurut Sena, malam minggu menjadi malam yang paling indah kalau berdua dengan Aruna. Cerita yang kalau dibagikan dengan orang lain akan terasa hambar tapi kalau Aruna sebagai tempat berbaginya maka diri yang lelah terasa disambut untuk pulang dalam dekapan paling hangat.

Sena suka dipeluk Aruna begini, walaupun alasannya cuma, “Pegangan ya, nanti jatuh.” tapi ada rasa senang yang lain kalau yang dibonceng itu adalah pujaan hati yang paling indah untuk dipuji.

Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai ditempat yang Sena maksud. Aruna sebenarnya tau tempat ini dari cerita Nicky yang waktu itu pernah mampir kesini cuma buat melihat indahnya lampu kota. Motor vespa matic Sena sudah diparkirkan dengan rapih, Aruna juga sudah turun dari duduknya. Sebelum akhirnya ikut Sena naik ke atas tempat cafè, Aruna membenarkan letak si cakep (gitar akustik Sena) yang sejak tadi ia gendong. Kalau sedang dimotor, tugas yang menggendong cakep memang Aruna.

Aruna cukup terkaget melihat pemandangan indah yang barusaja matanya tangkap itu. Semilir angin malam yang walaupun dingin mencekik, tidak terasa sedingin itu kalau sekarang tangannya sedang digenggam Sena. Mereka berdua duduk di salah satu bangku kayu paling dekat dengan pagar besi, Sena sengaja memilih duduk disana agar pemandangan mereka bersih menghadap kota bukan orang lain yang sedang berduaan lainnya.

“Kayaknya tempat ini gak bakalan bagus dikunjungi siang-siang deh. Iya, kan Sen?” Aruna bertanya kepada Sena yang sejak tadi diam dan ketika matanya langsung beralih ke Sena, dilihatnya cowok itu tengah tersenyum manis kearahnya. Aruna pernah bilang kalau Sena itu punya cara sendiri dalam tersenyum, tapi entah kenapa senyum malam ini terasa yang paling indah untuk dinikmati sendirian.

“Kenapa liatin gitu?”

“Cantik. Aruna selalu cantik.” itu bukan sekedar pujian biasa karena sekarang Sena sedang mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Aruna malam ini cantik walaupun rambutnya dikuncir secara asal dengan menggunakan karet rambut yang diminta tadi di warung Pecel Lele Pak Gendut. Pipinya yang memerah secara alami walaupun tidak ada terik matahari itu sangat menggemaskan. Kalau boleh Sena request kekuatan super, sudah pasti dia ingin punya kekuatan untuk memberhentikan waktu. Biar dalam detik ini juga, pipi merah gemas milik Aruna itu dicium olehnya walaupun satu kali.

“Sena juga keren banget tau gak?” Aruna memecah hening diantara keduanya. “Banyak banget yang puji Sena, yah walaupun ada aja yang ledekin kayak si Furqon atau Kaisan gitu, tapi Sena tetap keren.”

“Buat Aruna Sena keren?”

Aruna mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah Sena.

Kemudian diam lagi setelah Sena izin pergi memesan dua gelas cokelat panas untuk dinikmati berdua malam ini. Sena mengeluarkan si cakep dari dalam tas sarung hitamnya dan langsung memainkan satu lagu asal walapun tidak ada nyanyiin yang ikut.

Kalau tidak salah, lagu yang Sena bawakan itu milik One Direction yang berjudul, ‘I want to write you a song.’ Lagu yang rilis ditahun 2016 itu menjadi salah satu kesukaan Sena dari album Made in The A.M. Aruna sedikit tau lirik lagu itu walaupun tidak hapal seluruhnya.

I want to write you a song One to make your heart remember me So any time I'm gone You can listen to my voice and sing along I want to write you a song I want to write you a song

Satu lagu dadakan yang Sena bawakan pun selesai, keduanya tersenyum puas meski cuma mereka yang punya acara nyanyi. Sena tersenyum lagi dan sedikit mendekatkan tubuhnya ke Aruna.

“Sena hari ini seneng banget. Walaupun ada kecewanya sedikit.”

“Kecewa kenapa?”

“Harusnya hari ini, di pensi tadi, Sena berhasil bawain lagu untuk Aruna. Di depan semua orang. Tapi gagal.”

Aruna terdiam dan lagi-lagi kaget dengan perkataan Sena. Ternyata, rencana yang waktu itu hampir Kaisan bocorin adalah tentang ini. Tentang Sena yang mau tampil membawakan lagu ciptaannya untuk Aruna.

“Sena masih kesel sebenarnya sekarang. Tapi gak tau kenapa tiap liat Aruna rasa kesalnya berubah jadi rasa menyesal. Sena udah latihan sama anak-anak Magic biar dapetin cara paling keren buat bawain lagunya. Tapi gagal gitu aja. Rencana Sena sia-sia. Hari ini kayak bener-bener buat Sena gak puas sama hasilnya.”

“Hey, Sena gak boleh gitu. Gak apa-apa kok, Aruna tetap bangga dan nikmatin semua pertunjukkan Sena. Banyak hal yang udah Sena jalanin, jadi gak boleh ada rasa kurang.”

“Nih dengerin Aruna,” sekarang sudah Aruna yang benar-benar duduk menghadap ke Sena yang tengah gundah itu. “Kalau alasan Sena untuk gak ‘puas’ sama apa yang Sena kasih hari ini, Sena harus inget selalu ada Aruna disampingnya Sena. Kalau Sena gak ngehargain diri sendiri, sama aja Sena gak ngehargain Aruna yang ikut berjuang walapun cuma bagian kasih semangat dan bekal nasi. Jadiii, Sena harus bangga sama diri sendiri. Okay?”

Sena tersenyum senang sekarang. Ucapan Aruna memang paling ampuh dalam mengobati bagian-bagian yang kurang yakin dalam dirinya itu. Benar juga apa yang Aruna katakan, kalau ada Aruna disetiap cerita dihidupnya kemarin-kemarin kenapa masih ada rasa kesal ya? Padahal momen romantis bukan cuma nyanyi bawain lagu untuk Aruna disaat pensi aja, ternyata sekarang juga bisa menjadi momen yang pas kalau begini caranya.

“Okay. Sena paling seneng kalau dengar Aruna ngomong begini. Adem.”

Aruna terkekeh senang.

“Sena bawain lagu untuk Arunanya sekarang boleh?”

“Boleh kok.” jawab Aruna yang tidak disangka-sangka sangat antusias.

Sena kembali memainkan alunan melodi gitar yang ia punya. Pertunjukkan untuk Aruna melalui lagu yang ia ciptakan kemarin-kemarin harus sukses sekarang juga. Itu tekad Sena sekarang.

Salam kasih Jiwamu yang merindukan malam Berlapiskan raga yang menawan Kau tepat seperti saat fajar

Cahaya fajar menyambut hariku Ada harapan baru karnanya Kasih kau begitu nyata bagiku Hadirmu adalah anugerah baru

Kasihku kau sempurna Rona di wajahmu itu indah Paling cantik bagiku Rona merahmu, itu duniaku

Aruna diam tidak memberikan respon apa-apa dan ternyata membuat Sena salah tingkah. Sena takut rupanya kalau suaranya sumbang atau mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk menggombal lewat sebuah lagu roman yang dia bumbui sedikit dengan picisan. Tapi rupanya Sena salah, diamnya Aruna itu adalah salah satu bentuk dari respon perempuan pada umumnya yang baru saja digoda melalui satu lagu paling diksi yang pernah ia dengar.

Aruna sedang terdiam menahan air mata yang lambat laun terkumpul dan menggemang.

“Ih kok jadi nangis ya?” tanya Aruna seketika memalingkan wajahnya dari Sena yang ikut diam.

“Jelek ya suara Sena?”

“Bukan! Aruna tuh terharu, lagunya bagus.”

“Sampe nangis gitu?”

“Iya.”

“Kalau gitu Sena beruntung. Kata Ibu, kalau ada orang menangis bahagia karena kita artinya dia tulus dari hati. Gak usah Sena tanya lagi karena sudah pasti Aruna tulus ke Sena.”

Aruna mengangguk dengan sedikit terkekeh. Sena itu memang paling tau lemahnya Aruna ada dimana, kalau diberikan kata-kata yang membuat kupu-kupu diperut pasti langsung memerah pipinya. Tapi sekarang sudah bukan itu efek samping dari lagu ciptaan Sena, airmata haru dari rasa syukur mengapa bisa dicintai sebegitunya oleh Sena lah yang menjadi alasan utama airmata Aruna terjatuh.

“Aruna suka malam.” cerita Aruna tiba-tiba dan Sena langsung siap dengan kedua telinganya mendengarkan secara seksama. “Malam itu jujur, bahkan paling jujur. Malam gak perlu jadi yang lain supaya manusia tetap terjaga untuk menghabiskan waktu di dalamnya, karena malam tau kalau sebenarnya bintang, bulan bahkan matahari pun akan selalu ada disisinya.”

Sena mengerti maksud Aruna dan masih mencoba untuk diam tidak merespon sampai cerita Aruna tentang perspektifnya ke malam ini selesai.

“Walau dipenuhi kegelapan, tapi malam itu menenangkan. Makanya kalau lagi malam jarang dengar klakson mobil orang yang siang-siang macet buat makan siang, gak perlu buru-buru ke sekolah kalau telat bangun, pokoknya malam iyu waktu yang paling pas untuk sendirian. Evaluasi diri seharian ngapain aja, bahkan di malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk susun rencana masa depan.”

Aruna menggantung lagi ucapannya untuk melihat ke arah Sena. Takut kalau misalnya Sena bosan mendengar cerita sepihak yang Aruna berikan sejak tadi. Tapi rupanya Sena menikmatinya.

“Dan setelah ada Sena, Aruna rasa malam gak cuma dimulai sejak pukul 18.00 aja deh.”

“Kenapa?” Sena bertanya karena penasaran.

“Karena Sena itu persis kayak malam. Jujur, menenangkan dan selalu jadi dirinya sendiri.”

Sena setuju-setuju saja dengan apa yang Aruna katakan. Karena ia rasa itu semua ada benarnya. “Terpenting lagi, karena Aruna suka Sena, kan?”

Aruna tertawa geli karena pertanyaan Sena. “Haha iya itu bisa jadi sih.”

“Kita pacaran yuk?” ajak Sena tanpa ba-bi-bu. Aruna yang tadi tertawa lepas kini terdiam secara tiba-tiba. “Sena rasa ini jadi waktu yang paling pas untuk kita. Untuk Sena ngungkapin perasaan yang selama ini Sena punya ke Aruna. Ya, walaupun ada aja tingkah aneh Sena tapi Sena tulus selama ini.”

Aruna masih diam.

“Aruna mau jadi pacar Sena?”

Kalau ditanya apakah mau atau tidak mau menjadi pacar seorang Antasena Syailendra, pasti jawaban Aruna mau. Tapi kalau jawab langsung ditungguin begini, panik dan malu sudah pasti menyerang sejak tadi.

“Malu jawabnya.” ucap Aruna lirih tanpa melihat ke arah Sena yang sekarang gemas bukan main.

“Jawab aja, Sena merem nih.”

Aruna menggeleng. “Ulang tadi Sena ngajak pacarannya gimana.”

“Okey Sena ulang pake bahasa yang lebih romantis menurut Sena ya. Aruna Valensia Sasti yang sekarang gak tau kenapa gemesin banget pipinya merah begitu, mau gak jadi alasan Sena senang jadi diri sendiri selama kenal Aruna? Mau gak jadi yang pertama Sena sapa dipagi hari lewat telpon, selain Tuhan lewat doa lima waktu? Dan yang terpenting, mau gak selalu jadi alasan dari terciptanya lagu-lagu yang Sena rangkai tiap baitnya? Sena mau ada Aruna terus di cerita hariannya Sena dan biar Sena happy terus ngejalanin hidup. Intinya, Aruna mau gak jadi jawaban dari beberapa alasan yang Sena sebutin tadi? Kalai bahasa kerennya sih, Aruna mau gak jadi pacar Sena?”

Sejak Sena membuka ucapan tentang alasan-alasan diatas, Aruna hampir copot jantungnya. Sena kelewar romantis untuk ukuran orang yang berani nembak secara langsung. Rasa senang menyelimuti diri Aruna dan tidak sedikit rasa canggung untuk menjawab pertanyaan Sena tadi.

Ya Tuhan Sena, kamu kenapa harus sesempurna itu…

Maka setelah satu atau dua hembusan nafas berat yang Aruna lakukan sejak tadi, ada senyum yang ia hadiahkan ke Sena yang was-was sekarang.

“Mau, Sena.” jawab Aruna perlahan tapi masih bisa Sena dengar.

“Asyik, lega!”

Setelah malam ini habis, besok pagi akan ada gelar baru untuk keduanya. Aruna sudah tidak lagi berada dalam zona friendzone seperti yang ia dan Nicky khawatirkan. Ketidakjelasan hubungan sudah menjadi pasti sekarang dan semuanya memang pas diproklamirkan sekarang juga.

“Aruna,” panggil Sena malu-malu.

“Iya?”

“Nanti kalau kita sudah pulang dan Aruna udah mau tidur, ganti nama Sena di hp Aruna ya.”

“Maksudnya?”

“Kan sekarang nama Sena di hp Aruna masih ‘Sena’, nanti diganti ya.”

“Mau diganti jadi apa?”

“Yang gak pernah ngecewain.”