indomilkavocado

HUKUMAN LAGI

Butuh waktu yang cukup lama bagi Raja untuk mengajak temannya yang satu tapi kurang asem itu, siapa lagi kalau bukan Sena. Sejak tadi, kalau bergulat saja melalui handphone untuk mengajak Sena datang ke ruangan Mister Jo tidak akan mempan, maka paling benar menjemput Sena dibantu oleh pawangnya. Aruna seorang.

Aruna yang terlihat di ambang pintu kelas Sena langsung membuat cowok berambut gondrong gaya mullet itu semangat lahir dan batin. Senyum sudah pasti ada di wajah Sena ketika menghampiri sang pujaan hati, begitu juga dengan Aruna yang benar-benar bingung mengapa harus menjemput Sena kalau bukan dimintai tolong Raja.

“Aruna ngapain ke kelas Sena? Biarin Sena jemput aja nanti kita makan siang bareng.” sapa Sena yang sangat semangat melihat Arunanya berdiri manis menjemputnya. Namun seketika senyum Sena pun hilang setelah Raja keluar dari balik tiang didepan kelas sebagai tempat persembunyiaannya.

“Kalau gue gak minta bantuan Aruna gak mau keluar kan lo?!”

“Akal-akalan lo ya?!”

“Iyalah monyet!” seru Raja langsung menarik tangan Sena untuk ikut dengannya menuju tempat yang Mister Jo katakan. “Lo kira gue sabar apa diem diomelin Mister Jo sendirian gara-gara lo?!”

“Sabar anjir, pamit Aruna bentar!” Sena langsung melepaskan tarikan tangan Raja dan berbalik ke arah Aruna yang masih mematung di depan kelasnya. “Aruna, Sena mau ikut Raja dulu ya, walaupun gak tau mau kemana dan ngapain tapi Aruna jangan khawatir. Oke? Nanti siang kita makan bareng, Sena jemputin ke kelas ya. Yuk?” sekarang Sena yang malah menarik tangan Aruna secara sepihak.

“Mau kemana?” tanya Aruna heran.

“Anter Aruna dulu balik ke kelas, abis itu Sena mau ikut Raja.”

“Tapi Aruna juga dipanggil Mister Jo, disuruh ke GSG.”

“Oh ya udah kalau gitu kita langsung aja.” tanpa melepaskan tangan Aruna yang sejak tadi Sena pegang sangat erat, keduanya melenggang pergi menuju tempat yang Mister Jo katakan yaitu GSG Sekolah yang ada tepat di depan lapangan upacara.

Raja yang sekarang malah ditinggal oleh dua pasangan muda-mudi itu hanya bisa mengelus dada walaupun sulut emosi sudah naik secara drastis dalam tubuhnya.

“GUE YANG MANGGIL TAPI GUE YANG DITINGGAL?!” jerit Raja sekenanya dan langsung dihadiahi tawa iseng oleh Sena.

Sesampainya di GSG Sekolah, mereka disambut oleh banyak murid yang tengah sibuk membuat banyak properti. Ada yang membuat pohon-pohonan dari kayu triplek, ada yang membuat garland cantik dengan bentuk bunga, sampai ada yang sedang mengecat bagian backdrop dengan sangat apik menggunakan cat yang diyakini merknya adalah Dulux.

“Raja!” itu Mister Jo yang memanggil Raja, tanpa pikir panjang Raja langsung mengajak Sena dan Aruna menemui Mister Jo yang sedang berdiri mengobrol dengan Ibu Vega.

“Loh Aruna juga udah sampe?” sapa Ibu Vega yang memang ikut juga memanggil Aruna untuk datang siang itu ke GSG. “Aruna tahun kemarin jadi bagian properti Drama Musikal kan, Nak?”

“Iya bener Bu.”

“Ya udah sini ikut Ibu, kita liat progres kerja adik-adiknya.”

Aruna yang merasa harus ikut Ibu Vega pun menurut. Karena memang benar-benar bingung harus apa, Sena pun memilih ikut Aruna.

“Heh semprul mau kemana?” panggil Mister Jo ke arah Sena.

“Mau ikut Aruna Mister!”

“Tugas kamu disini sama saya, jangan ikut Ibu Vega!” sekali lagi Sena benar-benar bingung. Sebenarnya dia ini sedang disuruh apa sih?

“Bego lu ngapain ikut Aruna.”

“Lah emang gue mau ngapain sih, Ja?”

“Raja emang belum kasih tau Sena toh, kesini mau ngapain?”

Raja menggeleng. “Belum Mister.”

“Dijelasin dulu biar dia gak mumet aja kepalanya celingak-celinguk mulu daritadi.” ledek Mister Jo dan Sena hanya ber-haha-hihi ria.

“Jadi gini Nyet,” Mister Jo melotot seketika ke arah Raja, “Eh astaghfirullah, maaf Mister, suka begitu saya ngobrol ke Sena. Jadi gini Sen, lo sama gue dapet hukuman dari Mister Jo, walaupun ini usulan Bu Endah yang kayaknya masih rada gedeg sama kita berdua.”

“Mau ngapain lagi sih anjir?!” Mister Jo melotot lagi tapi kini ke arah Sena yang ucapannya tidak sengaja sangat blak-blakan. “Maaf Mister, maksud saya, emang kita berdua mau ngapain lagi sih Raja, sayang?” ada penekanan dikata 'sayang' yang membuat Mister Jo sedikit melemah walapun Raja yang dipanggil sayang merasa jijik.

“Lo sama gue jadi pemeran utama Drama Musikal tahun ini.”

“YANG BENER AJA SIH ANJINGG!”

Kesabaran Mister Jo kini benar-benar diuji, tapi rupanya sudah tidak bisa ditahan lagi maka satu ketokan di kepala Sena pun mendarat.

Benar-benar minggu yang buruk bagi Sena. Sial-sial.

Boys Talk

“Gue bener-bener gak habis fikir sih,” Kaisan menggantung ucapannya agar dapat duduk terlebih dahulu di samping Raja yang sejak tadi masam raut wajahnya. “Temen sekelas lo berdua tuh solid banget anjir! Jadi ngiri gue.”

Sena yang duduk jauh dipojok dekat lemari berisikan alat musik tradisional menghembuskan nafasnya berat. Ekspresi wajahnya tidak kalah masam dari Raja. Ketiganya kini sedang berada di rumus (ruang musik) yang memang sudah menjadi tempat ngumpul paling asyik di Sekolah. Selain kantin pastinya.

Hari ini menjadi hari yang tidak menyenangkan bagi 12 IPA 3 terutama Raja dan Sena. Bagaimana tidak, teman sejoli satu kelas dan satu bangku sejak kelas 10 ini baru saja mengalami hari yang buruk. Wali murid Raja dan Sena dipanggil Bu Endah selaku guru BK yang memang menjadi penanggung jawab perilaku dan konseling murid di Bakti Pertiwi.

Semua ini bermula ketika Pak Budi yang menangkap basah seluruh murid 12 IPA 3 yang tengah asyik bernyanyi bersama diiringi irama gitar yang sangat apik Sena tunjukkan. Bak konser gratisan ditengah siang bolong, murid 12 IPA 3 benar-benar menikmati pertunjukkan iseng yang Sena dan Raja bawakan. Ada yang sampai naik ke atas meja, ada yang ikut bernyanyi hingga nafas terengah-engah hingga ada yang sampai pinjam peralatan sekolah teman sebangkunya untuk dijadikan properti konser. Satu kelas semua ambyar!

“Tapi kenapa Bu Endah tetap maunya lo berdua aja dah yang salah?” tanya Kaisan lagi ke Raja yang duduk paling dekat dengannya.

“Karena emang gue dan Sena yang mulai duluan. Sebenernya itu gak sengaja, Sena main gitar dan gue nyanyi pelan doang.”

“Nah tiba-tiba temen sekelas lo pada nyautin nyanyi?”

Raja mengangguk malas.

“Wajar anjir! Kita tuh emang udah takdirnya nyanyi dikit orang-orang latah ngikutin, di sekolah siapa yang gak pengen liat Magic tampil coba?”

Memang benar apa yang Kaisan ucapkan, kalau Magic yang tampil sudah pasti murid yang lain akan ikut bernyanyi. Karena Magic terbentuk untuk menghibur hati yang sedang gundah gulana. Asik.

“Ya udah gak usah pada cembetut gitu ah elah!” saran Kaisan yang lagi-lagi tetap tidak diperdulikan oleh Raja dan Sena.

“Raja, Sena! Lo berdua udah ngelewatin hal yang lebih parah dari hari ini, masih inget gak lo berdua? Waktu kak Keno dan kak Bima belum lulus, kita emang buronannya BK!”

Benar, cerita di masa lalu yang itu memang paling parah kalau diingat-ingat kembali. Jadi hal yang seperti ini memang bukan apa-apanya. Tapi tetap saja kalau sampai dipanggil Wali Murid itu parah juga kasusnya.

“Gue tetap kesel aja Kai, lo mau tau bu Endah ngomong apa?” Sena berbicara setelah berhasil bangkit dari duduknya yang lama dan kemudian berjalan mengarah kepada Kaisan dan Raja.

“Ngomong apaan emang?”

“Kalau mau ngamen di jalan aja, jangan dikelas!” Sena menirukan gaya bicara dan mimik bu Endah yang masih ia ingat sangat jelas.

“Di sekolah kita tuh, anak-anak yang tertarik ke seni kayak musik, tari, drama musikal bahkan sastra itu sangat di dukung. Tapi kenapa bu Endah selalu ngebuat gue berdosa dengan hanya megang si cakep!” protes Sena lagi sambil menjelaskan bahwa si ‘cakep’ yang ia maksud adalah gitar akustik kesayangannya dibagi dua setelah si ‘ganteng’ gitar elektrik hijau kado ulangtahunnya kemarin.

“Iya juga ya, kita kelas 10 dipaksa tampil drama musikal padahal mah gak ada bakat-bakatnya.” Kaisan setuju dengan apa yang Sena ucapkan tadi.

Berbeda dengan Raja yang sedikit mengoreksi arah jalan fikiran temannya. “Masalahnya kita nyanyi emang beneran berisik nyet, berasa ngegigs. Mana kelas IPA 2 dan IPA 4 pada ada guru.”

Benar. Hal yang akhirnya menyadarkan mereka diucapkan juga oleh Raja. Kasus selesai kalau begini caranya, hal yang harus mereka salahkan adalah pengambilan situasi bukan kebahagiaan dengan menyanyi diiringi alunan gitar.

“Iya juga ya.” Kaisan mengangguk.

“Ya tapi gue tetap kesal! Kesannya kita kayak abis ketahuan pesta sabu dikelas.” Sena kembali protes.

“Nah ini, iya juga.” Lagi dan lagi Kaisan mengangguk setuju.

Kemudian mereka bertiga membiarkan waktu berjalan dengan bermain alat musik yang mereka pegang secara asal. Berharap hari ini akan cepat berlalu.

Jam tangan berwarna hitam melingkar dengan manis di pergelangan tangan sebelah kiri Aruna. Diliriknya sedikit, jarum jam yang paling pendek masih bercengkrama di angka sebelas sedangkan jarum jam paling panjang sudah melaju ke angka 5. Setengah jam lagi dalam benak Aruna untuk selesai dari mata pelajaran Bu Indah siang ini.

Mata teduh Aruna akhirnya kembali menyusuri susunan kalimat-kalimat di buku yang ada dihadapannya sekarang. Memang sudah jenuh, tiba-tiba lapar mengganggu. Seharusnya sekarang adalah jam makan siang untuk Aruna yang sarapan lebih pagi dari biasanya, tapi masih harus bersabar setengah jam lagi. Kalau ada Sena disana sudah pasti kata 'sabar ya' atau 'semangat Aruna' akan diucapkan cowok itu.

“Ada lagi yang mau ditanya?” satu pertanyaan terlontar oleh Ibu Indah ke anak murid yang kini sudah terlihat lesu.

Seisi kelas hening menimbang-nimbang apakah lebih baik bertanya saja karena memang daritadi tidak paham atau diam saja pura-pura sudah mengerti hingga ke soal yang paling susah sekalipun.

Ada harapan di benak murid kelas 12 IPA 1, semoga saja tidak ada yang bertanya agar cepat selesai, cepat salam ke guru dan cepat ngacir ke kantin buat serbu somay mang Meli. Aruna ikut memperhatikan satu-persatu raut wajah teman satu kelasnya, dimulai dari barisan belakang yang tampak tidak perduli dengan pertanyaan bu Indah, kemudian dibarisan tengah yang pura-pura menulis atau membaca buku di depannya, hingga yang paling menyebalkan dibarisan paling depan sudah ada Yulia —murid paling pintar, mengangkat jarinya tinggi-tinggi untuk bertanya ke Ibu Indah.

Jelas sekali kini raut wajah teman-teman Aruna dikelas sudah dongkol setengah lapar.

“Mulai dah carper mulu,” ini Nurul teman sebangku Aruna yang mengeluh ke Aruna langsung.

Aruna terkekeh kecil, senyumnya manis kalau sekarang Sena lihat. “Gak apa-apa, kan udah biasa begini.”

Nurul masih saja komat-kamit sendiri walapun Yulia tidak mendengar. Sudah tidak asing lagi memang kalau anak pintar itu selalu saja bertanya hal yang sebenarnya dia pahami.

“Nanti makan bekal, Na?” tanya Nurul setelah sesi ngedumel sendirinya selesai. “Gue bawa bekel juga nih, mie goreng , tapi kayaknya udah bentuk kotak deh.”

Aruna kembali tertawa sambil membayangkan mie goreng yang dimaksud Nurul. “Kok kotak sih?”

“Kelamaan dalem tupperware!” keduanya tertawa walaupun ada yang disebelah sana sedang berdiskusi perihal pertanyaan Yulia.

“Gue kira kenapa! Haha.”

“Makan bareng sama gue, Vira dan Derlian gak, Na?”

“Nggak, sorry ya, gue ke kantin janji nemenin Nicky.”

“Oh gitu, okay gapapaa.”

Waktu terkikis kian kemari, akhirnya yang ditunggu pun datang, bel berbunyi dua kali menandakan sudah saatnya ishoma —istirahat, sholat, dan makan.

Aruna bangkit dari duduknya setelah Ibu Indah melenggang pergi dari kelas mereka. Di ujung mulut pintu sudah dapat dilihat ada Nicky yang tidak sengaja bertemu Ibu Indah dan kemudian salim.

“Nungguin siapa disini Nicky?” Ibu Indah bertanya sembari memberikan tangannya agar Nicky dapat salim.

“Aruna, buk.”

“Ibu duluan ya.”

“Iya Bu, hati-hati Ibu.”

Aruna yang sudah hampir sampai ditempat Nicky berdiri sambil membawa totebag berisi bekal pun terkekeh kecil ke arah sahabatnya itu. “Padahal mau gue samperin Nick.”

“Kelas lo sok tertib, tadi pak Ato kecepetan masuk sekarang bu Indah pake lama banget salamnya.”

“Kayak gak tau kelas gue aja deh.”

Nicky meraih lengan Aruna untuk dirangkul dan keduanya pergi. “Iye-iye gue tau anak IPA 1 mah!”

Ruang lingkup kelas 12 berada dalam kerangkeng khusus, gunanya agar lebih intensif dalam belajar. Bila dideskripsikan bentuknya kotak dimulai dari kelas 12 IPA 1 – 4 dan 12 IPS 1 – 3. Ditengah kerangkeng tepatnya didepan kelas 12 ada taman, ide dari alumni 2 tahun lalu agar sesi diskusi bisa dilaksanakan dengan baik disana.

Baru saja beberapa langkah Aruna dan Nicky menapaki jalan untuk keluar dari kerangkeng dan menuju kantin, mata Aruna tidak sengaja melihat Sena berlari keluar dari kelasnya dikejar oleh salah satu temannya. Alasan mereka kejar-kejaran simpel, Sena ngumpetin sepatu Raja.

“Anak kecil banget hadehh.” batin Aruna.

Nicky yang paham dengan apa yang ada dipikiran Aruna ikut menggelengkan kepala. Tapi setelah itu keduanya tertawa.