indomilkavocado

“Lo Agrna kan?”

[Mark]

“There will always be a reason why you meet people. Either they will change your life, or you’re the one that will change theirs.”

Isi dari postingan instagram temen gue yang hari ini bener-bener ajib sekali, ternyata ampuh buat gue menyunggingkan senyum walaupun cuma sebentar. Banyak gaya kalau kata gue sih, tapi ya mungkin memang ada hal yang pingin dia sampein lewat postingan itu tadi.

Gue sih gak merasa itu relate ke gue ya, tapi kalau dipikir-pikir ada iya–nya juga meski gue masih ragu. Karena siang-siang bolong begini lagi males mikir panjang cuy, asli. Mending ngacir ke kantin bude buat beli satu gelas es teh manis atau makan dengan lauk paling enak di NCIT. Gak banyak anak NCIT yang tau kalau masakan bude itu luar biasa enaknya, tapi gak apa-apa biarkan saja anak MIPA yang menemukan harta karun ini. Kalau sudah dibangga-banggain begini sih, harusnya bude bisa angkat saya jadi anak, bayarannya makan gratis sampai tua juga gak apa-apa, de.

Tanpa pikir panjang deh, gue harus segera pergi ke kantin bude tercinta. Tapi, sebenarnya niat gue sejak pagi adalah ngerecokin anak-anak Dekdok biar ketemu si Agrna. Kocak yak, tapi gak bisa bohong kalau gue penasaran sama dia. Dengan niat yang masih saja goyah, akhirnya gue memilih untuk tetap ke bude saja dulu lah, urusan ketemu Agrna bisa dibicarakan nanti waktu gue sudah kembung minum es teh manis.

Selama dalam perjalanan yang sangat singkat ini memang gue gak banyak berdoa ke Tuhan agar diberikan kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan semua hal, tapi entah alam sedang mengatur rencana apa, tiba-tiba malaikat menaruh manusia setengah rupa bidadari tepat dalam jarak pandang gue yang –alhamdulillah, masih bagus dalam menangkap sosok yang cantik itu.

Gue yakin seratus persen kalau yang lagi duduk sendirian di kantin bude itu adalah Agrna yang gue kenal 2 hari lalu. Langkah kaki gue gak berubah temponya walaupun jantung gue tiba-tiba berdebar dengan sangat cepat.

Anjrit, gue kenapa sih.

Agrna yang makan sambil menunduk gak melihat ke arah gue sama sekali dan itu sukses buat gue makin kelimpungan. Gue takut hal pertama yang dia lakuin adalah siram gue pake air mineral yang ada didepannya.

“Halo gue Mark.” dengan sepenuh hati gue memberanikan diri untuk menyapa dia sebelum pada akhirnya duduk juga di depannya.

Agrna diam, mimik wajahnya murung, dari cara dia natap gue juga seakan malas untuk meladeni. Apalagi dari cara makannya yang malas itu, wah sudah pasti ada yang ganggu pikirannya nih.

“Harusnya kalau lo kesini harus cobain urap bude, enak banget.” basa-basi gue yang ternyata kelewat basi, tapi gue gak nyesel buat ajak dia ngobrol, siapa tau dia memang lagi butuh seseorang untuk nemenin makan.

“Lo makan pake apasih itu? Ayam kecap ya? Enak sih, tapi opor bude lebih edan rasanya.” Agrna memilih untuk tetap diem gak jawab gue sama sekali, bukannya malu atau cengo gue malah gemes pengen suapin dia makan. “Wah pake sambel, enak kan rasanya?” dia diem lagi. Ya sudahlah, setidaknya gue memang pingin ketemu dia dan ajak ngobrol anaknya yg lagi kusut ini. Gimana dia respon ke gue mungkin emang lagi males ngomong.

“Gue pesen makan ya, duduk disini gak apa-apa kan?” gue di diemin untuk kesekian kalinya. Buat gue, di diemin gini juga gak apa-apa sih. Mungkin bagi dia gue adalah stranger yang aneh tiba-tiba duduk di mejanya dan ajakin ngobrol gitu aja, jadi ya, gak apa-apa deh asal gue ketemu anaknya dulu aja.

“Diem tandanya ‘iya’, oke bentar ya gue pesen makan dulu.” selagi gue milih menu lauk makan siang, pandangan gue gak lepas dari Agrna yang masih diam dan malas makan disana. Jangan tanya gue gue penasaran apa nggak, sejak tadi gue pingin nanya dia lagi kenapa atau lo lagi sakit ya? Tapi gue rasa itu bakalan ganggu dia, jadi gue mengurungkan niat gue dalam-dalam.

Setelah kelar milih lauk, gue duduk lagi ditempat tadi. Di depannya Agrna yang masih diam. “Lo beneran harus cobain ini,” tadi waktu ambil lauk urap emang sengaja gue agak banyakin biar Agrna ikut coba juga.

Gak banyak babibu, Agrna beneran cobain urap yang gue kasih. “Iya, enak.” komentar Agrna tiba-tiba. Gue pingin loncat saat itu juga rasanya. Akhirnya dengar suara dia walaupun cuma singkat. Pengaruh lo besar juga ya di hidup gue, gue jadi dangdut gini anjir.

“Nah, gitu dong dijawab! Diem mulu daritadi kayak lagi mikirin cicilan.” Agrna gak merespon lagi dan lanjut makan. Sedikit berbeda dari cara makan dia yang tadi, sekarang sudah mulai ada semangat dalam tiap suapan. Gue ikut lega liatnya.

Dalam agenda makan siang dadakan ini, gue tiba-tiba jadi orang paling cerewet dengan banyak cerita yang gue kasih ke Agrna. Entah itu tentang Himpunan, acara BEM, bahkan hal random kayak suku apa yang mengalir dalam darah tukang parkir yang lagi bekerja di depan kantin Bude.

“Lo bisa tebak gak suku abang parkir itu apa?”

Agrna menggeleng.

“Sunda ada campuran Belandanya.”

Agrna melotot dan kemudian ketawa.

“Lo kalau gak percaya tanya aja deh.”

“Serius gak sih?”

“Ya bohong lah neng, gue aja gak tau nama abangnya siapa masa iya tiba-tiba tau sukunya.”

Agrna mendengus sebal tapi masih ada senyum di wajah murungnya. Masih gak apa-apa karena gue kesini emang mau ketemu dan ajak ngobrol anaknya, syukur-syukur dia bisa happy lagi karena ada gue. Walaupun gak mungkin banget tapi gak ada salahnya buat percaya diri.

“Lo sehari digigit nyamuk berapa kali?”

Agrna lagi-lagi dibuat melotot sekaligus ketawa sama pertanyaan gue yang random tapi beneran penesaran ini. Ketawa dia ini khas, gue suka dengernya. Dan Agrna ini termasuk perempuan yang mudah dibuat ketawa walaupun ada respon galaknya dulu di awal. Lucu lo Agrna.

Selesai makan, memang niat gue adalah bayarin dia juga. Karena sebagai cowok yang tiba-tiba join di mejanya sudah seharusnya gue yang traktir. Tapi ternyata rencana gue gagal, gue lupa ambil uang cash. Malu bray.

“Woy, gawat.” kata gue tiba-tiba dan ngebuat Agrna melihat ke arah gue kaget.

“Kenapa?”

“Gue lupa bawa dompet. Lo bayarin gue dulu bisa gak?” bohong, sebenernya dompet gue bawa tapi duitnya yang gak ada. Lupa ambil dulu tadi.

“Iya gue bayarin.”

“Nanti gue ganti ya kalau makan siang bareng lagi.” iseng aja nawarin biar bisa makan lagi berdua walaupun gak tau kapan.

“Gak usah.”

“Gak apa-apa, nanti gue ganti.” harus gue paksa biar terealisasikan nanti.

“Ya terserah lo aja, Mark.”

“Asyik itu tadi maksudnya gue mau ngajak lo makan bareng lagi kapan-kapan.” yes ini jawaban yang gue mau.

“Iya.”

“Lo beneran mau?” niat gue mastiin aja biar semuanya jelas.

“Dibilangin iya!”

“Oke nanti gue whatsapp aja ya.”

“Iya. Ya udah gue duluan balik ke pusat acara.”

“Hayu sama gue, gue juga mau kesana.” pinta Mark dan gue cuma bisa iya-iya karena kalau nolak juga bakalan dipaksa.

Agrna, kalau gue tau lo ternyata anaknya secantik ini dari dulu akan gue cari walaupun kantin bude tujuan pertamanya.

“Halo gue Mark.”

[Agrna]

“There will always be a reason why you meet people. Either they will change your life, or you’re the one that will change theirs.”

Ada yang sudah pernah mendengar atau membaca sebuah quotes seperti yang tertulis diatas? Kalau iya, bagaimana reaksi kalian? Lebih tepatnya jawaban cepat kalian setelah selesai membaca dan menemukan titik temu dari quotes tersebut?

Jujur, ini bicara menurut gue yang tadi gak sengaja scrolling timeline instagram dan menemukan salah satu temen yang merepost quotes ini. Hal pertama yang gue rasain setelah selesai baca quotes ini memang diam dulu sebentar, tidak mengiyakan dan tidak pula lanjut scroll. Karena memang setelah baca sebentar quotes itu tadi, pikiran gue langsung mengarah pada beberapa nama yang bahkan akal gue gak nyampe untuk mikir ke sana kecuali memang alam bawah sadar yang lagi eror siang bolong begini.

Nama yang pertama terlintas dipikiran gue adalah Nathaniel Wijaya, si Wije laki-laki pendiam tapi manis yang sangat gue idam-idamkan dalam satu bulan terakhir ini. Kalau ditanya dia tipe gue apa bukan, mungkin jawaban gue akan ‘iya’ untuk sekarang. Wije sudah menangin hati gue karena selain tampan rupanya, dia juga orang yang baik, penyabar, hebat dalam fotografi, dan yang paling penting dia orang yang manis kalau lawan bicaranya adalah perempuan. Gue gak tau pasti kenapa Wije bisa sangat gentle seperti itu ke gue misalnya, tapi gue yakin kalau Wije pasti dibesarkan dengan prinsip bahwa perempuan itu harusnya dijaga dan disayang sebaik mungkin.

Buat Mamanya Wije yang belum pernah gue temui, terimakasih ya Tante, Wijenya sudah dibesarkan menjadi anak yang sangat baik pekertinya.

Untuk nama yang kedua terlintas dipikiran gue kini sangatlah out of the box, bahkan gue sempat merinding sebentar setelah sadar kenapa harus nama itu yang masuk ke dalam pilihan orang yang gue nantikan cerita panjangnya dalam hidup ini.

“MARK LEO NUGRAHA! Gak ada mardun-mardunnya!” penjelasan Mark lewat pesan singkat kemarin masih terngiang begitu nyaring di pikiran gue sekarang. Meskipun gue baru kenal dia 2 hari, tapi kenapa gue sekarang harus penasaran juga sih sama dia? Padahal untuk ketemu secara langsung saja belum.

Tapi kalau dilihat dari foto profil Whatsapp yang Mark pakai, dia terlihat seperti laki-laki biasa pada umumnya. Tidak ada yang spesial. Kecuali banyolan Mark yang kelewat gak jelasnya itu. Selain itu, menurut gue Mark juga kuno karena hari gini masih aja percaya ramalan zodiak yang berujung musyrik. Kalau begitu, harusnya Mark tidak termasuk ke dalam tipe yang gue mau.

Ah, sudahlah, kalau pikiran cuma tentang siapa yang bertahan lama dan memberikan pelajaran dalam hidup ini, gak akan selesai dan gue gak mau ribet untuk sekarang. Hal penting dalam detik ini adalah mengisi perut setelah hampir 3 jam rapat koordinator terakhir dihadiri oleh Kating yang katanya dulu paling pakar dalam urusan acara BEM. Padahal, dalam setiap saran yang diberi bukannya membangun malah terkesan menyalahkan. Capek dengernya.

Kantin terenak di MIPA memang cuma kantin bude, selain rasa sambalnya yang khas disini juga ada es kopi dalgona yang dulu sempat viral. Gue suka kopi dalgona yang bude buat karena kalau gue yang buat sendiri dirumah sering gagalnya.

“Ra, lauk apa?” tanya Elida yang siang ini gue tarik paksa buat temenin makan siang.

“Pake ayam kecap gue ya, sama mintain sambal dikit.”

Elida mengangguk sembari menuliskan menu makanan yang gue mau untuk siang ini. Harusnya sih ini kantin prasmanan yang bisa di ambil sendiri lauknya, tapi karena bude tau gue anaknya mager ngambil lauk makan sendiri jadi memang paling enak tulis saja nanti tinggal diantar.

“Minum pake apa, Ra?”

“Es kopi dalgona satu, aqua dingin satu.”

“Oke gue juga mau coba deh dalgonanya kata lo enak banget kan ya?”

“Beneran enak, gue gak bohong. Lo harus coba El!”

Kemudian Elida beranjak dari duduknya dan mengantarkan catatan pesanan makan siang yang kami pilih tadi. Tidak banyak bicara, gue dan Elida sama-sama diam. Di jurusan sendiri, gue termasuk yang gak punya banyak teman tapi sebisa mungkin untuk berbaur dengan semuanya. Tapi setelah ikut serta dalam kepengurusan BEM, gue jadi tau kalau ada perempuan baik yang bisa gue jadikan teman meski beda Prodi. Iya, Elida. Dia sebenarnya termasuk orang baru juga dalam hidup gue yang mana kehadirannya mengajarkan gue kalau ternyata perempuan cantik seperti bidadari itu ada nyantanya. Senyum Elida itu manis dan sikapnya juga gak kalah manis, walaupun ada aja kelakuan polosnya tapi itu gak mengurangi penilaian orang-orang buat Elida.

“Loh itu Wije, Ra.” tunjuk Elida ke arah belakang punggung gue. “Je, sini!” tanpa pikir panjang, mata gue langsung mengekor ke arah yang Elida tunjuk. Benar disana ada Wije yang berjalan ke arah kemari.

Masih sama kayak Wije yang biasa, ganteng dan jalannya yang tegap. Gue suka itu. Anehnya, sekarang Wije gak sendiri seperti biasanya, ada orang yang ikut asyik mengobrol disebelahnya. Itu Tiffany, anggota Dekdok juga dari jurusan Matematika.

Mata gue seakan otomatis ikut kemana arah Wije, apalagi bibir gue ikut senyum tiba-tiba karena tenyata Wije menghampiri meja tempat gue dan Elida duduk.

“Udah pada makan siang?”

“Belum, gue baru pesen tuh. Lo mau makan Je?” mata gue sedikit melirik ke arah Tiffany yang ternyata bingung kenapa gak ikut ditanya.

“Lo gak makan, El?” bukannya menjawab pertanyaan gue, Wije malah balik nanya ke Elida. Saat itu juga hati gue langsung ngerasa ada yang gak beres.

Elida menggeleng. “Nggak, gue cuma pesen minum aja.”

“Oh ya udah El, minta dibungkus aja minumnya ya, lo temenin gue ke JCloud ambil spanduk acara yang ketinggalan.” Wije langsung ajak Elida gitu aja tanpa nanya ke gue dulu dan gue tiba-tiba kesel. Gue tau ngambil spanduk sekarang ini adalah hal yang penting, tapi kenapa gak ngajak gue aja sih?

“Loh kenapa gak ajak gue, Je?” pertanyaan bodoh itu langsung terucap gitu aja. Dan semua mata sekarang mengarah ke gue. Sial.

“Lo makan aja dulu, Ra, kasian tadi abis rakoor kan? Kata kak Joey tadi pas ketemu gue, rakoor mau lanjut lagi, gue gak mungkin ajakin lo.”

Alasan yang masuk akal, Je, tapi gue tetep gak suka dengernya.

“Masa gue ditinggal sendiri? Nanti aja dong perginya kelarin gue makan dulu.” pinta gue yang sebenarnya ketara banget buat tetap maksa Wije ada disini.

“Lo ditemenin Tiffany aja dulu ya Ra, Elida ikut gue sebentar.”

Sialan. Gue beneran kesel tapi bisa apa selain mengiyakan.

Elida yang tau kalau gue langsung badmood seketika, minta maaf hampir tiga kali karena gak enak ninggalin gitu aja. Tapi tetap pergi ikut Wije.

“Ra,” sapa Tiffany yang daritadi gue diemin. “Gue kayaknya gak ikut makan disini deh, dicari nih sama yang di pusat acara. Gue balik duluan gak apa-apa ya, Ra?”

Lagi. Gue ditinggal lagi.

Gue cuma bisa senyum dan iyain aja karena emang kalau harus nahan Tiffany disini, dia bakalan gue cuekin juga karena mood yang jelek. Gak lama setelah Tiffany pergi, makanan yang gue pesan di bude rasanya gak enak untuk ditelan. Gue kesel beneran jadinya.

Entah alam sedang mengatur rencana apa, tiba-tiba malaikat mengirim manusia untuk datang ke gue detik ini juga tanpa kata nanti.

“Halo gue Mark.” salam orang itu dan duduk gitu aja dihadapan gue.

“Lo Agrna kan? Sekoor dekdok yang dari kemarin gue hubungin? Ini gue Mark. Gue boleh duduk disini?”

Mark, daritadi, di hidup gue sudah banyak orang yang datang dan pergi, kalau lo mau pergi juga kayak yang lain mending gak usah dateng sama sekali deh. Ingatan gue langsung berlari ke nama yang gue inget tapi belum pernah temui secara langsung, oh jadi ini yang namanya Mark itu. Kalau bener lo orangnya, ‘Halo juga gue Agrna yang lagi badmood banget sekarang. Boleh, silahkan aja duduk.’

“Lo makan sendiri?” gue gak jawab pertanyaan dia.

“Harusnya kalau lo kesini harus cobain urap bude, enak banget.” gue masih diem.

“Lo makan pake apasih itu? Ayam kecap ya? Enak sih, tapi opor bude lebih edan rasanya.” gue diemin lagi dia. “Wah pake sambel, enak kan rasanya?” mata gue masih fokus ke nasi yang ada dihadapan gue dan tentu saja Mark gue cuekin.

“Gue pesen makan ya, duduk disini gak apa-apa kan?” lagi dan lagi gue diam tapi mata gue seolah berkata lain, gue mau biar Mark tetap ada disini. Temenin gue makan dulu sebentar, jangan kayak yang lain pergi gitu aja.

“Diem tandanya ‘iya’, oke bentar ya gue pesen makan dulu.”

Tidak butuh waktu lama untuk Mark beneran balik dan duduk juga dihadapan gue. Dalam piring nasi yang dia bawa, disana ada beragam macam lauk yang kalau dilihat dari porsinya itu kayak orang yang gak makan 2 hari. Alias banyak bener.

“Lo beneran harus cobain ini,” Mark meberikan gue sedikit lauk urap yang dia ambil tadi, gue masih diem gak menolak juga. “Enak itu, di makan.”

Gue ngangguk dan beneran cobain. Ternyata Mark gak bohong, urapnya beneran enak. Dan indera perasa di lidah gue sekarang mendadak bekerja setelah cobain urap dari Mark.

“Iya, enak.”

“Nah, gitu dong dijawab! Diem mulu daritadi kayak lagi mikirin cicilan.”

Dalam agenda makan siang dadakan itu, Mark banyak cerita. Entah itu tentang Himpunan, acara BEM, bahkan hal random kayak suku apa yang mengalir dalam darah tukang parkir yang lagi bekerja di depan kantin Bude. Gue berperan sebagai pendengar saja daritadi, cerita Mark seru dan sukses bikin gue ketawa. Yah, setidaknya gue sedikit lupa sama hal yang nyebelin tadi.

“Woy, gawat.” kata Mark tiba-tiba ketika hendak membayar makanan yang ia pesan.

“Kenapa?”

“Gue lupa bawa dompet. Lo bayarin gue dulu bisa gak?”

Hadeh.

“Iya gue bayarin.”

“Nanti gue ganti ya kalau makan siang bareng lagi.”

“Gak usah.”

“Gak apa-apa, nanti gue ganti.”

“Ya terserah lo aja, Mark.”

“Asyik itu tadi maksudnya gue mau ngajak lo makan bareng lagi kapan-kapan.”

“Iya.”

“Lo beneran mau?”

“Dibilangin iya!”

“Oke nanti gue whatsapp aja ya.”

“Iya. Ya udah gue duluan balik ke pusat acara.”

“Hayu sama gue, gue juga mau kesana.” pinta Mark dan gue cuma bisa iya-iya karena kalau nolak juga bakalan dipaksa.

Mark makasih ya buat hari ini, setidaknya gue udah gak badmood lagi karena cerita random lo. Dan berkat lo juga makan gue gak berasa hambar.

QNA SENA & ARUNA

Video QNA kali ini dibagi menjadi 2 sesi dengan pemandu yg berbeda. Pertama Kaisan yang iseng main ke Sena dan tiba-tiba kasih beberapa pertanyaan dan dijawab Sena sambil direkam. Kedua adalah Nicky yang memang lagi main ke Aruna dan ikut iseng tanya-tanya sambil direkam.

Bukan Kaisan namanya kalau gak manfaatin kisah asmara teman yang lagi hot untuk kepentingan YouTube barunya. Mari kita support saja karena memang banyak yang kepo dengan awal mula jalinan kasih antara Sena dan Aruna.

[This gonna be (very2222) long ‘QNA’ session, so please use your imagination!<3]

Kaisan: wets ma bro!! [tos ke sena]

Sena: [clueless] [tapi tos ajalah hayu]

Kaisan: selamat ya sudah resmi berpacaran. gak jomblo lagi yah, alhamdulillah cinta tidak bertepuk sebelah tangan

Sena: [ketawa] alhamdulillah ya. gw mah percaya diri aja orangnya brow

Kaisan: awal mula suka aruna?

Sena: lah lo kan tau gimana ceritanya

Kaisan: cerita lagi lah susah amat tinggal ngomong doang

Sena: [males tpi tetep cerita juga] awalnya tuh pas kelas 11 gak sih? atau 10 ya? [mikir lama] oh iya bener kelas 11 waktu aruna kepilih jadi pembawa baki pengibaran bendera 17an di sekolah. aruna kan tinggi tuh ya, gw sampe terkesima aja sama dia waktu itu tapi karena gw gak kenal dia lebih dalam akhirnya gw pendem perasaan gw. gak lama dari itu ada pemilihan duta sekolah, aruna kepilih jadi perwakilan kelasnya dan dia cantik banget waktu itu. nah disitu lah awal gw suka sama dia walaupun gw pendem lama dan baru berani deketin bulan november kemarin.

Kaisan: lo bukannya pernah foto sama dia?

Sena: iya, pas dia menang jadi duta sekolah. aruna kalau gak gw kasih tau kemarin, pasti gak ngeh itu gw yg ajakin foto. karena emang yg ajak dia foto juga banyak sih.

Kaisan: oh gitu oke [ngangguk] kenapa bisa suka aruna gitu bro?

Sena: kenapa ya? karena memang aruna gak pernah buat gw bingung soal perasaannya dia, gw percaya dia nyambut gayung yg gw kasih selama ini. love languages gw kan acts of service dan quality time sih ya sedangkan dia words of affirmation juga acts of service. dari segi begitunya aja emang udah keliatan kalau hubungan kita bakalan berhasil.

Kaisan: [terkesima] [ngangguk2 sama jawaban Sena]

Sena: soal love languages yg gw bilang berhasil apa ngganya di hubungan gw itu ngarang anjing. percaya lagi lo

Kaisan: setan

Sena: [ketawa] tapi beneran deh gw yg selalu bilang kalau gw sayang dia sebelum akhirnya matiin telpon malem2 dan dia yg peduli juga sama kesehatan gw sampe rela masakin mulu tiap hari, itu ada korelasinya sama love languages gw dan dia. gw rasa sih ya, gw dan aruna bisa bangun rumah tangga ke depannya [PEDE]

Kaisan: [capek] [iyain aja] oke oke gw bantu doa semoga sampe pelaminan deh bro

Sena: aamiin aamiin [ketawa]

Kaisan: sebenarnya gw masi rada kurang puas sama jawaban lo tadi. bisa gak lo kasih alasan deh kenapa harus aruna?

Sena: ada yg pernah bilang tapi gw lupa siapa, katanya kalau lo dikasih pertanyaan kayak begini dan lo masih bisa ngejawab pake alasan, artinya lo gak tulus. tapi gw disini pingin ngasih beberapa alasan yg memang dari hal itu lah ngebuat gw bener2 sayang ke aruna.

Kaisan: alasan pertama apaan tuh

Sena: alasan pertama, gw yakin sih orang2 yg sedang kasmaran begini juga. kalau gw nih ya lgi di dekat aruna gak pernah ngerasa ada tekanan dalam diri gw buat ngelakuin hal2 bodoh. salah tingkah misalnya.

Kaisan: hah? berarti lo gak pernah deg-degan sampe mampus gitu?

Sena: beda monyong. kalau deg-degan gitu mah emang sering sampe sekarang. nih ya kalau dikasih aruna di depan muka gw, gw jamin bakalan degdegan di tempat. tapi gw gak akan ngelakuin hal bodoh kayak caper jijik kayak anak2 tongkrongan gitu. paham gak?

Kaisan: [geleng]

Sena: ya pokoknya gw ke dia kayak jadi diri sendiri aja, tulusnya gw, perlakuan gw ke dia semuanya pure memang gw lakuin itu karena gw mau nunjukin gw sayang dia. gak lebih kayak gw yg tengil pingin buat suatu nilai plus ke dia padahal sebenarnya itu freak. yah gitu lah, intinya alasan pertama adalah aruna ngebuat gw jadi diri gw sendiri.

Kaisan: oke gw terima dah. alasan kedua apalagi

Sena: yg kedua adalah senyumnya. asik. [pause of laugh] lagu lama banget yak tapi beneran ini asli, senyum aruna yg kalau lagi merah pipinya itu adiktif banget buat gw. karena emang hukum sebab-akibat masih berlaku dalam hidup gw, jadi kalau penyebabnya adalah senyum aruna yg manis gw rinduin malam2 akibatnya gw bakalan kangen dan cuma bisa liat foto dia aja. terus kalau sudah bangun besok paginya, gw telpon dan minta buat janji ketemu biar bisa gw lebur rindu yg semalaman gw tahan.

Kaisan: sedep bener sih anjing

Sena: kayak gak pernah suka2an sma cewek aja lo

Kaisan: wets jangan bahas gw, bahaya

Sena: [ketawa] [tapi sekarang senyum2 sendiri] [mikirin aruna kyknya ya]

Kaisan: alasan ketiga apalagi bro

Sena: dia pinter. semoga itu jadi alasan yg orang2 gak perlu raguin lagi. siapa sih yg gak demen sama cewek pinter dan berwawasan luas? [senyum bangga]

Kaisan: lo senyum bisa biasa aja gak sih? mesum lo klo begitu

Sena: bangke. tapi nih ya lo mau tau fakta gak?

Kaisan: boleh. apaan tuh?

Sena: gw pacar pertamanya Aruna.

Kaisan: idih alig??! yg suka dia banyak gak sih??

Sena: iya banyak tapi pada minder dan nyerah ditengah jalan karena gak dikasih lampu hijau sama aruna. gw doang emang yg beruntung.

Kaisan: yee itumah sebenarnya lo dikasih lampu merah, tapi nerobos kan lo maksa aruna biar nerima lo

Sena: [kesel] gak anjir beneran sayang dia ke gw, makanya gw diterima

Kaisan: jijik sumpah

Sena: [ketawa]

Kaisan: lo pernah mau berenti tengah jalan gak dulu waktu masa pdkt-an?

Sena: [ketawa lagi]

Kaisan: dari roma2 ketawa begini kyknya pernah sih ya bos

Sena: gak kepikiran mau berenti sih, tapi ya gitu awalnya kan aruna cuek. chat gw jarang di bales seringnya di read aja, tapi ternyata dia anaknya tuh asyik kalau ketemu langsung dan gw tau dia kalau chat cuma gitu2 doang balesnya ‘iya sena’ ‘oke sena’ ‘hahaha’ ‘iya senaa’

Kaisan: [ketawa] oh pantes kelar belajar bareng di go yg pertama kali lo ajakin dia, lo kyknya percaya diri aja gitu ya

Sena: iya anjir, semuanya berjalan lancar dari setelah go itu. gw jadi tau aruna anaknya grumpy dah kalau ketemu lgsg dibanding chat. tapi sekarang udah nggak cuek sih chatnya, dia mulai nyenyenye juga. sena nanti ini ya, sena nanti itu jangan lupa hahaha [senyum lagi] [beneran mikirin aruna]

Kaisan: lo ini baru juga jadian udah sesumringah ini jir gimana kalau beneran nikahin aruna besok?

Sena: gw bakalan jadi laki-laki yang paling bahagia kalau aruna istrinya. wah gak kebayang sebahagia apa hidup aruna dapetin suami yg ganteng, baik, pengertian, dan ganteng kayak gw gini.

Kaisan: dua kali gitu lo bilang gantengnya

Sena: ya emang ganteng gimana bro?

Kaisan: anjing

Sena: [ketawa]

Vidoe berhenti sebentar, kemudian berganti tokoh menjadi Nicky dan Aruna yang sedang tiduran telungkup didepan laptopnya. Seperti hari libur biasa, mereka pasti sedang memilih drama korea untuk ditonton bersama sekarang. Sedangkan kamera handphone Nicky yang di letakkan di samping laptop tengah serius merekam percakapan keduanya.

Nicky: na

Aruna: hm?

Nicky: senyum dongg, itu gw rekam kita berdua lagi santai begini

Aruna: [clueless] [tapi tetap senyum cantik] haii hp nya nicky

Nicky: [ketawa] gw sekalian nanya2 ya na?

Aruna: nanya apa? [sambil serius nonton drakor]

Nicky: yaahhh apa aja kek. cerita lo dan sena misalnya

Aruna: [giggles] haduh jadi gosip

Nicky: gak apa2 lah ya gw juga kadang pingin denger cerita walaupun sebenarnya tau cerita lo dan sena hahaha [ketawa]

[aruna masih terkekeh sambil nonton drakor dilaptopnya]

Nicky: awal mula lo kenal Sena gimana na?

Aruna: kalau dari yg gw inget sih emang dari dompet gw yg ilang terus dia selipin nomor whatsapp. tapi kalau kata sena, kita pernah kenalan dulu waktu pemilihan duta sekolah.

Nicky: pas kita kelas 11 kan? ih ko gw baru tau ini??!!

Aruna: gw juga baru tau dari sena kemarin nick. gw kan lupa. gak lupa sih, tpi gw emang gak tau sena itu yg mana dulu tuh

Nicky: oh iya bener. lo secuek itu anaknya sih

Aruna: [ketawa] [sekarang udah gak fokus ke drama lagi]

Nicky: na dari awal lo kenal sena sampe sekarang nih udah jadian, dulu tuh apa yg ngebuat lo yakin banget dia gak cuma mainin lo doang?

Aruna: [senyum cantik banget T_T] sena gak pernah ngasih gw mixed feelings dan sena selalu straight up to his point. gw suka orang yg begitu, jadinya yaudah lama2 gw luluh juga walaupun awalnya gw gak mau ladenin dia sih ya. [ketawa] tapi beneran deh gw awalnya gak nyangka aja dia mau pdkt, tapi karena dia selalu jelasin niat dia gimana jadi yaudah sebelum pacaran aja udah sama2 sayang.

Nicky: [hngg T___T] gemes banget na, lo berarti gak pernah ngerasain friendzone kayak gw ya? [ups keceplosan]

Aruna: sabar ya nick [ketawa] jujur ya, gw awalnya ngerasa sena nih udh sering bilang sayang tapi kok gak nembak2 sih? apa gw cuma di friendzone aja? tapi ternyata sena bilang ke gw, nunggu waktu yg tepat itu emang butuh waktu yg lama biar semuanya kerasa. entah itu rasa manis2nya perlakuan sena atau rasa gurih dikit karena dia pernah cemburu sama redo [pause of laugh] tapi semua itu worth it to wait. waktu gw gak sia2 kalau sena alasannya.

Nicky: [hnggg T___T] sumpah ya gemes banget.

Aruna: gemes ya? [ketawa] gw juga sering gemes kalau inget2 sena tuh gmna ke gw.

Nicky: terus2 gw penasaran deh apasih nilai lebih dari sena yg pada akhirnya ngebuat lo jadi sayang ke dia? secara gitu kan dia duluan yg punya perasaan ke lo??

Aruna: [giggles] [malu-malu sambil senyum ngebayanginnya] sena wangii!! gw suka cowok wangi, tapi sena tuh apa ya, hm, gw suka aja sama parfumnya. ah tapi aroma tubuh sena kalau abis mandi juga bikin nyaman sih [>_<] selain itu ya emang sena baik. walaupun orang tau ‘baik’ itu konteksnya relatif, tapi baiknya sena bukan cuma kata2 manis aja biar gw mau ke dia. menurut gw, ‘baik’-nya sena ada dari perlakuan kecil dia yg setiap hari mau bawain helm lebih biar bisa anter gw pulang misalnya, rela cape beliin gw minum tiap habis upacara padahal gw bawa botol minum sendiri dari rumah, bahkan buatin gw lagu yg liriknya bener2 buat gw terbang ke langit

Nicky: [baper] [T_T]

Aruna: hal yg kyk dia selalu titip2 minta jagain gw ke temen2nya itu juga baik namanya. lebihnya sena juga, dia mau baik ke nenek gw, bawain nenek buah, makanan bahkan ikut masak sama ibunya buat nenek yg waktu itu sakit. ke adara apalagi, mereka sering videocall kalau sena mampir ke rumah gw, wah itu kalau beneran ketemu kyknya sena gak dibolehin pulang. harus main terus.

Nicky: [ikutan gemes] [baper fiks] aakkkk bener2 ya lu sen. gemes banget dah ahh beda sama temen lu yg kaisan namanya

Aruna: [ketawa lagi] jangan gitu, kai juga baik kok

Nicky: hadeh ya deh baik kaisan mah. oke lanjut lagi ke pertanyaan selanjutnya..

Aruna: ini beneran mau wawancarain gw ya nick?

Nicky: [ketawa] lah iyaa-!! soalnya lo dan sena tuh lucu. jdinya si kaisan minta tolong rekam percakapan gw sama lo buat konten youtube dia terbaru [keceplosan lagi ya Allah T_T]

Aruna: [melotot] lo kok gak izin duluu???

Nicky: sorry ya na T_T

Aruna: [gak tega] [ketawa] yaudah gak apa2 gw juga tau lo pasti gak enak ke gw, gak enak ke kaisan juga kan?

Nicky: [ngangguk] T_T

Aruna: hahahan jangan sedih ah, gw gak apa2 asal gak dilanjut lagi aja wawancaranya

Nicky: 2 pertanyaan lagi dong na?

Aruna: [melotot lagi]

Nicky: [ketawa] oke oke yaudah nggakkk! kita selesai sampe disini aja ya sesi tanya jawabnya. bye guyss. [senggol aruna]

Aruna: [ikutan dadah cantik ke kamera] daahhh semuanyaaaa

SELESAAAIIIII >_<

YOU ARE MINE

Menu makan malam Sena dan Aruna hari ini tidak jauh berbeda dari malam-malam kemarin. Pecel lele Pak Gendut sudah menjadi andalan kalau memang sudah kelaparan setengah hidup begini.

Aruna berjanji malam ini kalau sekarang gilirannya traktir Sena sebagai bentuk selebrasi dari selesainya semua rangkaian kegiatan yang Sena ikuti. Hampir setengah bulan Sena lelah hati, fisik dan fikiran untuk segala pertunjukkan hari ini. Dan alhamdulillah-nya semua berjalan lancar.

Tapi tidak bagi Sena, pertunjukkan Pensi tadi pagi masih ada yang kurang karena Lagu untuk Aruna gagal ia bawakan. Masalah ini sih pribadi sebenarnya, Aruna tidak tau apa-apa soal lagu yang akan Sena bawakan. Jadi bagi Aruna semuanya sudah berjalan sesuai rencana.

“Abis makan ini kita pergi dulu, ya? Sena mau ajak Aruna ke suatu tempat.”

Aruna mengangguk setuju karena baginya hari ini cukup panjang dan harus semua cerita didalamnya ada Sena. “Yuk, mau kemana?”

“Sena waktu itu ketemu cafè temanya sky lounge gitu dekat rumah Aruna.”

“Ini udah jam 10 emang masih buka?”

“Buka untuk umum kok.”

“Okay Aruna ikut aja.”

Perjalanan di atas motor vespa berdua dengan Sena menjadi alternatif lain dari pelepas penat. Kedua tangan Aruna melingkar manis memeluk Sena yang tengah mengendarai motor dan tidak jarang sesekali Sena mengusap lembut punggung tangan Arunanya.

Malam minggu berdua dengan kekasih katanya menjadi kegiatan rutin insan yang tengah kasmaran. Dan itu adalah hal yang benar kalau menurut Sena, malam minggu menjadi malam yang paling indah kalau berdua dengan Aruna. Cerita yang kalau dibagikan dengan orang lain akan terasa hambar tapi kalau Aruna sebagai tempat berbaginya maka diri yang lelah terasa disambut untuk pulang dalam dekapan paling hangat.

Sena suka dipeluk Aruna begini, walaupun alasannya cuma, “Pegangan ya, nanti jatuh.” tapi ada rasa senang yang lain kalau yang dibonceng itu adalah pujaan hati yang paling indah untuk dipuji.

Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai ditempat yang Sena maksud. Aruna sebenarnya tau tempat ini dari cerita Nicky yang waktu itu pernah mampir kesini cuma buat melihat indahnya lampu kota. Motor vespa matic Sena sudah diparkirkan dengan rapih, Aruna juga sudah turun dari duduknya. Sebelum akhirnya ikut Sena naik ke atas tempat cafè, Aruna membenarkan letak si cakep (gitar akustik Sena) yang sejak tadi ia gendong. Kalau sedang dimotor, tugas yang menggendong cakep memang Aruna.

Aruna cukup terkaget melihat pemandangan indah yang barusaja matanya tangkap itu. Semilir angin malam yang walaupun dingin mencekik, tidak terasa sedingin itu kalau sekarang tangannya sedang digenggam Sena. Mereka berdua duduk di salah satu bangku kayu paling dekat dengan pagar besi, Sena sengaja memilih duduk disana agar pemandangan mereka bersih menghadap kota bukan orang lain yang sedang berduaan lainnya.

“Kayaknya tempat ini gak bakalan bagus dikunjungi siang-siang deh. Iya, kan Sen?” Aruna bertanya kepada Sena yang sejak tadi diam dan ketika matanya langsung beralih ke Sena, dilihatnya cowok itu tengah tersenyum manis kearahnya. Aruna pernah bilang kalau Sena itu punya cara sendiri dalam tersenyum, tapi entah kenapa senyum malam ini terasa yang paling indah untuk dinikmati sendirian.

“Kenapa liatin gitu?”

“Cantik. Aruna selalu cantik.” itu bukan sekedar pujian biasa karena sekarang Sena sedang mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Aruna malam ini cantik walaupun rambutnya dikuncir secara asal dengan menggunakan karet rambut yang diminta tadi di warung Pecel Lele Pak Gendut. Pipinya yang memerah secara alami walaupun tidak ada terik matahari itu sangat menggemaskan. Kalau boleh Sena request kekuatan super, sudah pasti dia ingin punya kekuatan untuk memberhentikan waktu. Biar dalam detik ini juga, pipi merah gemas milik Aruna itu dicium olehnya walaupun satu kali.

“Sena juga keren banget tau gak?” Aruna memecah hening diantara keduanya. “Banyak banget yang puji Sena, yah walaupun ada aja yang ledekin kayak si Furqon atau Kaisan gitu, tapi Sena tetap keren.”

“Buat Aruna Sena keren?”

Aruna mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah Sena.

Kemudian diam lagi setelah Sena izin pergi memesan dua gelas cokelat panas untuk dinikmati berdua malam ini. Sena mengeluarkan si cakep dari dalam tas sarung hitamnya dan langsung memainkan satu lagu asal walapun tidak ada nyanyiin yang ikut.

Kalau tidak salah, lagu yang Sena bawakan itu milik One Direction yang berjudul, ‘I want to write you a song.’ Lagu yang rilis ditahun 2016 itu menjadi salah satu kesukaan Sena dari album Made in The A.M. Aruna sedikit tau lirik lagu itu walaupun tidak hapal seluruhnya.

I want to write you a song One to make your heart remember me So any time I'm gone You can listen to my voice and sing along I want to write you a song I want to write you a song

Satu lagu dadakan yang Sena bawakan pun selesai, keduanya tersenyum puas meski cuma mereka yang punya acara nyanyi. Sena tersenyum lagi dan sedikit mendekatkan tubuhnya ke Aruna.

“Sena hari ini seneng banget. Walaupun ada kecewanya sedikit.”

“Kecewa kenapa?”

“Harusnya hari ini, di pensi tadi, Sena berhasil bawain lagu untuk Aruna. Di depan semua orang. Tapi gagal.”

Aruna terdiam dan lagi-lagi kaget dengan perkataan Sena. Ternyata, rencana yang waktu itu hampir Kaisan bocorin adalah tentang ini. Tentang Sena yang mau tampil membawakan lagu ciptaannya untuk Aruna.

“Sena masih kesel sebenarnya sekarang. Tapi gak tau kenapa tiap liat Aruna rasa kesalnya berubah jadi rasa menyesal. Sena udah latihan sama anak-anak Magic biar dapetin cara paling keren buat bawain lagunya. Tapi gagal gitu aja. Rencana Sena sia-sia. Hari ini kayak bener-bener buat Sena gak puas sama hasilnya.”

“Hey, Sena gak boleh gitu. Gak apa-apa kok, Aruna tetap bangga dan nikmatin semua pertunjukkan Sena. Banyak hal yang udah Sena jalanin, jadi gak boleh ada rasa kurang.”

“Nih dengerin Aruna,” sekarang sudah Aruna yang benar-benar duduk menghadap ke Sena yang tengah gundah itu. “Kalau alasan Sena untuk gak ‘puas’ sama apa yang Sena kasih hari ini, Sena harus inget selalu ada Aruna disampingnya Sena. Kalau Sena gak ngehargain diri sendiri, sama aja Sena gak ngehargain Aruna yang ikut berjuang walapun cuma bagian kasih semangat dan bekal nasi. Jadiii, Sena harus bangga sama diri sendiri. Okay?”

Sena tersenyum senang sekarang. Ucapan Aruna memang paling ampuh dalam mengobati bagian-bagian yang kurang yakin dalam dirinya itu. Benar juga apa yang Aruna katakan, kalau ada Aruna disetiap cerita dihidupnya kemarin-kemarin kenapa masih ada rasa kesal ya? Padahal momen romantis bukan cuma nyanyi bawain lagu untuk Aruna disaat pensi aja, ternyata sekarang juga bisa menjadi momen yang pas kalau begini caranya.

“Okay. Sena paling seneng kalau dengar Aruna ngomong begini. Adem.”

Aruna terkekeh senang.

“Sena bawain lagu untuk Arunanya sekarang boleh?”

“Boleh kok.” jawab Aruna yang tidak disangka-sangka sangat antusias.

Sena kembali memainkan alunan melodi gitar yang ia punya. Pertunjukkan untuk Aruna melalui lagu yang ia ciptakan kemarin-kemarin harus sukses sekarang juga. Itu tekad Sena sekarang.

Salam kasih Jiwamu yang merindukan malam Berlapiskan raga yang menawan Kau tepat seperti saat fajar

Cahaya fajar menyambut hariku Ada harapan baru karnanya Kasih kau begitu nyata bagiku Hadirmu adalah anugerah baru

Kasihku kau sempurna Rona di wajahmu itu indah Paling cantik bagiku Rona merahmu, itu duniaku

Aruna diam tidak memberikan respon apa-apa dan ternyata membuat Sena salah tingkah. Sena takut rupanya kalau suaranya sumbang atau mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk menggombal lewat sebuah lagu roman yang dia bumbui sedikit dengan picisan. Tapi rupanya Sena salah, diamnya Aruna itu adalah salah satu bentuk dari respon perempuan pada umumnya yang baru saja digoda melalui satu lagu paling diksi yang pernah ia dengar.

Aruna sedang terdiam menahan air mata yang lambat laun terkumpul dan menggemang.

“Ih kok jadi nangis ya?” tanya Aruna seketika memalingkan wajahnya dari Sena yang ikut diam.

“Jelek ya suara Sena?”

“Bukan! Aruna tuh terharu, lagunya bagus.”

“Sampe nangis gitu?”

“Iya.”

“Kalau gitu Sena beruntung. Kata Ibu, kalau ada orang menangis bahagia karena kita artinya dia tulus dari hati. Gak usah Sena tanya lagi karena sudah pasti Aruna tulus ke Sena.”

Aruna mengangguk dengan sedikit terkekeh. Sena itu memang paling tau lemahnya Aruna ada dimana, kalau diberikan kata-kata yang membuat kupu-kupu diperut pasti langsung memerah pipinya. Tapi sekarang sudah bukan itu efek samping dari lagu ciptaan Sena, airmata haru dari rasa syukur mengapa bisa dicintai sebegitunya oleh Sena lah yang menjadi alasan utama airmata Aruna terjatuh.

“Aruna suka malam.” cerita Aruna tiba-tiba dan Sena langsung siap dengan kedua telinganya mendengarkan secara seksama. “Malam itu jujur, bahkan paling jujur. Malam gak perlu jadi yang lain supaya manusia tetap terjaga untuk menghabiskan waktu di dalamnya, karena malam tau kalau sebenarnya bintang, bulan bahkan matahari pun akan selalu ada disisinya.”

Sena mengerti maksud Aruna dan masih mencoba untuk diam tidak merespon sampai cerita Aruna tentang perspektifnya ke malam ini selesai.

“Walau dipenuhi kegelapan, tapi malam itu menenangkan. Makanya kalau lagi malam jarang dengar klakson mobil orang yang siang-siang macet buat makan siang, gak perlu buru-buru ke sekolah kalau telat bangun, pokoknya malam iyu waktu yang paling pas untuk sendirian. Evaluasi diri seharian ngapain aja, bahkan di malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk susun rencana masa depan.”

Aruna menggantung lagi ucapannya untuk melihat ke arah Sena. Takut kalau misalnya Sena bosan mendengar cerita sepihak yang Aruna berikan sejak tadi. Tapi rupanya Sena menikmatinya.

“Dan setelah ada Sena, Aruna rasa malam gak cuma dimulai sejak pukul 18.00 aja deh.”

“Kenapa?” Sena bertanya karena penasaran.

“Karena Sena itu persis kayak malam. Jujur, menenangkan dan selalu jadi dirinya sendiri.”

Sena setuju-setuju saja dengan apa yang Aruna katakan. Karena ia rasa itu semua ada benarnya. “Terpenting lagi, karena Aruna suka Sena, kan?”

Aruna tertawa geli karena pertanyaan Sena. “Haha iya itu bisa jadi sih.”

“Kita pacaran yuk?” ajak Sena tanpa ba-bi-bu. Aruna yang tadi tertawa lepas kini terdiam secara tiba-tiba. “Sena rasa ini jadi waktu yang paling pas untuk kita. Untuk Sena ngungkapin perasaan yang selama ini Sena punya ke Aruna. Ya, walaupun ada aja tingkah aneh Sena tapi Sena tulus selama ini.”

Aruna masih diam.

“Aruna mau jadi pacar Sena?”

Kalau ditanya apakah mau atau tidak mau menjadi pacar seorang Antasena Syailendra, pasti jawaban Aruna mau. Tapi kalau jawab langsung ditungguin begini, panik dan malu sudah pasti menyerang sejak tadi.

“Malu jawabnya.” ucap Aruna lirih tanpa melihat ke arah Sena yang sekarang gemas bukan main.

“Jawab aja, Sena merem nih.”

Aruna menggeleng. “Ulang tadi Sena ngajak pacarannya gimana.”

“Okey Sena ulang pake bahasa yang lebih romantis menurut Sena ya. Aruna Valensia Sasti yang sekarang gak tau kenapa gemesin banget pipinya merah begitu, mau gak jadi alasan Sena senang jadi diri sendiri selama kenal Aruna? Mau gak jadi yang pertama Sena sapa dipagi hari lewat telpon, selain Tuhan lewat doa lima waktu? Dan yang terpenting, mau gak selalu jadi alasan dari terciptanya lagu-lagu yang Sena rangkai tiap baitnya? Sena mau ada Aruna terus di cerita hariannya Sena dan biar Sena happy terus ngejalanin hidup. Intinya, Aruna mau gak jadi jawaban dari beberapa alasan yang Sena sebutin tadi? Kalai bahasa kerennya sih, Aruna mau gak jadi pacar Sena?”

Sejak Sena membuka ucapan tentang alasan-alasan diatas, Aruna hampir copot jantungnya. Sena kelewar romantis untuk ukuran orang yang berani nembak secara langsung. Rasa senang menyelimuti diri Aruna dan tidak sedikit rasa canggung untuk menjawab pertanyaan Sena tadi.

Ya Tuhan Sena, kamu kenapa harus sesempurna itu…

Maka setelah satu atau dua hembusan nafas berat yang Aruna lakukan sejak tadi, ada senyum yang ia hadiahkan ke Sena yang was-was sekarang.

“Mau, Sena.” jawab Aruna perlahan tapi masih bisa Sena dengar.

“Asyik, lega!”

Setelah malam ini habis, besok pagi akan ada gelar baru untuk keduanya. Aruna sudah tidak lagi berada dalam zona friendzone seperti yang ia dan Nicky khawatirkan. Ketidakjelasan hubungan sudah menjadi pasti sekarang dan semuanya memang pas diproklamirkan sekarang juga.

“Aruna,” panggil Sena malu-malu.

“Iya?”

“Nanti kalau kita sudah pulang dan Aruna udah mau tidur, ganti nama Sena di hp Aruna ya.”

“Maksudnya?”

“Kan sekarang nama Sena di hp Aruna masih ‘Sena’, nanti diganti ya.”

“Mau diganti jadi apa?”

“Yang gak pernah ngecewain.”

DRAMA MUSIKAL

Hilir mudik warga sekolah SMA Bakti Pertiwi kini mengisi gelapnya malam. Tidak biasanya ramai begini kalau bukan karena memang sedang ada acara pentas seni sejak pagi tadi hingga sekarang.

Agenda sejak pukul 7 pagi memang sudah diisi dengan acara Baper Run (Bakti Pertiwi Color Run) yang katanya sangat kekinian. Kemudian siangnya pondokan dekat lapangan upacara dipenuhi dengan booth-booth ekskul dan jajanan dari UMKM sekitar. Dan yang menjadi agenda penghujung acara adalah Drama Musikal.

Kalau urusan pentas seni sekolah yang bergengsi, Bakti Pertiwi memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Acara setiap tahunnya selalu beken dan meninggalkan kesan yang baik. Maka dari itu segala bentuk kegiatan siswa-siswi selalu didukung penuh oleh Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan.

Sekarang jam yang berdenting tepat di layar jam tangan Aruna sudah menunjukkan pukul 7 malam. Penonton drama musikal kini sedang mengantri untuk menukarkan tiket yang mereka beli dengan snack yang disediakan oleh panitia. Tahun ini dibuatkan dresscode untuk para penonton drama musikal, gunanya agar senada dengan tema drama yang dibawakan. Dresscode drama musikal malam ini adalah hitam casual, pilihan khusus dari Mister Jo selaku pembina ekstrakulikuler Drama Musikal. Berbeda dari tahun lalu yang mana dresscode para penonton adalah Maroon.

Aruna yang menjadi paling pusing kalau soal pakaian ditentukan temanya, karena menurutnya semua pakaian yang ia punya selalu tidak sesuai. Tapi tidak juga tuh, Aruna malam ini rupanya menjadi yang paling cantik untuk Sena walau hanya menggunakan minidress hitam dibalutkan kemeja oversize warna senada. Apalagi sepatu converse high hitam-putih yang ia punya, itu menjadi pelengkap paling mantap kalau Sena yang berkementar.

Terdengar aba-aba dari arah dalam panggung GSG Sekolah, kalau dari dialek dan cara bicaranya Aruna yakin itu pasti Mister Jo si dalang dari acara malam ini. Kata beliau, semua penonton harus sudah bergegas menuju kursi masing-masing karena dalam waktu 15 menit pintu GSG akan ditutup dan acara akan dimulai.

Benar kata Sena, Bakti Pertiwi tidak pernah main-main dalam hal menjual nama sekolah yang beken di bidang non-akademik, dinilai dari tingkat niatnya saja mempersiapkan acara drama malam ini sudah pasti akumulatifnya mencapai langit. GSG Sekolah benar-benar disulap menjadi panggung drama theater tingkat internasional kalau begini bentuknya. Kita tinjau dari yang paling awal adalah balutan kain hijau terang menjuntai seolah-olah menjadi penyambut tamu ke dalam dunia Neverland meski itu hanya fiksi karangan Mister Jo, kemudian sebelah kanan dan kiri GSG dipenuhi dengan segala bentuk pepohonan berwarna putih seperti salju lengkap dengan beberapa daun keringnya. Sedangkan diatas panggung sudah tertata rapih sebuah gambaran dari Istana Neverland yang menjadi plot drama malam ini.

Belum sampai 15 menit dari yang diperhitungkan pihak acara drama, seluruh penonton sudah siap duduk di kursinya masing-masing. Cahaya lampu kini semakin meredup hingga menyisakan sorot lampu yang tajam ke arah panggung. Tidak lama setelahnya, Mister Jo yang kini terlihat lebih keren dibandingkan Perdana Mentri kerajaan Neverland, menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai bentuk dimulainya acara malam ini.

“Baik.” ucap Mister Jo setelah sigap berdiri di logo X atas panggung. “Selamat malam semuanya.”

“Malam.” jawaban dari seluruh penonton drama malam ini kompak. Dan langsung membuat Aruna merinding. Ini bukan pertama kalinya Aruna menonton drama musikal, tapi entah kenapa ada perasaan lain yang menyerangnya. Oh ternyata jawabannya adalah karena yang duduk di kursi sebelah kiri Aruna adalah Ibunya Sena.

Ibu Sena ternyata cantik dan anggun meskipun tidak menggunakan dress seperti penonton lain, tapi Ibu Sena tetap terlihat elegan dengan Cardigan hitam yang dipasangkan dengan celana dasar abu-abu. Dan di sebelah kiri Ibu Sena adalah seorang laki-laki paruh baya yang sukses membuat para penonton terkaget-kaget karena ketampanannya. Sekarang Aruna benar-benar paham darimana asal ketampanan Sena yang bisa dibilang tidak ada burik-buriknya itu. Gen yang ada dalam diri Sena adalah yang terbaik kalau Ibu dan Ayahnya saja sudah sesempurna ini.

Aruna tidak banyak bicara sejak bersalaman dengan Ayah dan Ibu Sena. Begitu juga dengan Ibu Sena yang kini hanya diam meski ada juga waktunya yang ikut diam-diam memperhatikan cantiknya Aruna. Kalau kata Ibu Sena yang bisik-bisik ke Ayah, Aruna itu cantik seperti gadis-gadis anggun dalam film Pride and Prejudice, walaupun dengan gaya yang sedikit casual tapi dari cara Aruna berbicara dan meneguk minumnya itu sudah ada penilaian manis dari Ibu. Dan menurut Ibu, kalau yang di mau Sena adalah Aruna maka tidak ada penolakan. Toh Ibu dan Ayah Sena sudah setuju dari melihat senyum Aruna.

“Selamat Malam para penonton Drama Musikal Siswa Bakti Pertiwi, baik Bapak-Ibu yang terhormat, Siswa-Siswi yang saya cintai dan juga para Wali Murid yang turut saya panjatkan kebahagiaannya di setiap waktu. Terimakasih karena sudah menyempatkan hadir dalam acara pada malam ini.” Mister Jo menggantung ucapannya kemudian maju satu langkah lagi ke depan panggung diikuti lampu sorot yang sejak tadi mengikutinya.

“Satu malam yang kalau dibiarkan berlalu begitu saja, akan meninggalkan banyak sekali kekosongan didalamnya. Berbeda dengan satu jam di malam hari yang akan kami pandu dengan ringannya pentas drama musikal malam ini, sebuah janji yang sudah saya torehkan diatas kertas dan dipentaskan langsung oleh murid-murid saya, akan menjadi janji yang tidak akan pernah disesali. Maka dari itu, saya Johan Suryadi, selaku pembina ekstrakulikuler drama musikal malam ini berjanji bahwa Pentas Drama Musikal yang kami bawakan akan menjadi mimpi paling indah dari penonton di malam yang kosong ini.”

Tepuk tangan riuh mengisi luasnya GSG Sekolah, ada rasa tidak sabar dari dalam diri penonton setelah sambutan singkat yang Mister Jo bawakan.

“Kami persembahkan. A-dice in Neverland.” tuntun Mister Jo yang menjadi pertanda bahwa drama musikal malam ini akan dimulai.

GSG kini menjadi sangat gelap kecuali lampu-lampu LED yang berkedip menghiasi pohon disekitar kanan dan kiri. Suara burung Elang tiba-tiba menerjang telinga para penonton, dari atas sana terlihat burung Elang besar terbang dan mendarat sempurna di atas panggung.

Cahaya lampu panggung semakin terang, sedikit demi sedikit tirai merah dan besar yang tadi menutupi sebagian panggung pun ditarik oleh panitia. Dari yang terlihat disana terdapat sebuah istana dengan nama ‘Neverland’ di atasnya serta ada sebuah coretan ‘-ing’ di samping tulisan tersebut. ‘Neverlanding’ adalah sebuah pesan yang rupanya ingin Mister Jo sampaikan kepada para penonton.

Tak lama setelah sang Elang mendarat, ada suara merdu nyanyiian dari seorang Putri Neverland, Princess Nurmala namanya.

“Ayah… Andaikan aku burung, agar terbang jua raga ini ke angkasa.” “Ayah… Tak bisa kah sekali saja aku menjadi burung agar tidak pernah lagi ku pijakkan kaki di negri ini.” Princess Nurmala bernyanyi kesana kemari diikuti oleh para penari latar yang telah menggunakan kostum burung pipit yang cantik.

“Ayah, mengapa aku hanya seorang Putri dari negri yang tidak pernah berhenti jatuh? Aku sudah muak!” dialog pertama sang Princess Nurmala terlihat sangat alami, ada rasa kecewa di dalam ucapannya.

Tak lama kemudian sorak penonton pun memuncah ketika sosok Raja keluar dari dalam istana Neverland. Peran Raja malam ini adalah sebagai Ayah dari Princess Nurmala, Raja Neverland(-ing) itu sendiri.

“Putri ku sayang…” satu kalimat dari nyanyiin Raja sudah penuh dengan jeritan para penonton yang ikut terkesima atas kehadirannya. Raja itu sudah tampan, suaranya pun bagus! Wajar saja Mister Jo menunjuknya sebagai salah satu pemeran utama dari Drama Musikal malam ini.

“Ada beberapa alasan mengapa kau tidak dilahirkan menjadi burung.” “Dari semua alasan itu yang paling penting adalah karena Doa yang ku berikan kepada Tuhan agar kau menjadi anakku. Bukan anak burung.”

Suara penonton kemudian semakin riuh karena merdunya suara Raja. Selain itu, acting Raja juga sangat mumpuni untuk diberikan satu teriakan kalimat, “RAJA LO KEREN BANGET ANJIRR!”

Dari sinopsis yang kemarin sempat Aruna baca dari skrip naskah Sena, ‘A-dice in Neverland’ merupakan sebuah cerita dari sudut pandang seorang pangeran ‘A-dice’ (dadu) yang memiliki ketakutan dihidupnya. Yang kemudian sang pangeran tersesat dalam mimpinya paling buruk hingga terjebak di dalam negri ‘Neverland(-ing)’. Negri Neverland sendiri merupakan negri fantasi yang menjadi sebuah tempat terkutuk bagi siapa saja yang terjebak di dalamnya.

Meskipun hanya negri fantasi, tapi pangeran A-dice (dadu) mengalami banyak hal ajaib didalamnya. Sebagai contohnya adalah jatuh cinta dengan Princess Nurmala.

Tak lama setelah plot cerita berjalan, akhirnya yang paling Aruna tunggu pun datang. Pangeran A-dice yang diperankan Sena akhirnya menampakkan diri setelah jatuh di negri Neverland yang berasal dari mimpi buruknya.

“Aku ada dimana?” monolog awal Sena yang ampuh membuat penonton berjerit kegirangan.

“Bukankah tadi aku sedang makan malam dengan Ayah dan Ibu Tiriku? Nafasku sesak tadi, tapi mengapa aku baik-baik saja sekarang?”

Plot acara pun menjadi sebuah rewind sekarang, diatas panggung sudah terlihat Pangeran A-dice sedang menikmati makan malam dengan sang Ayah dan Ibu Tirinya. Hingga kemudian ia pingsan setelah memakan satu suap sup kacang merah beracun.

Pangeran A-dice sedang terjatuh didalam negri fantasi antara hidup dan matinya sendiri.

“Apakah ada orang?”

Princess Nurmala yang sejak tadi bermain dengan para burung pipit dekat istana pun menghampiri asal suara yang ia dengar samar. Ditemukannya Pangeran A-dice yang tampak linglung.

“Siapa kau?” tanya Princess Nurmala dengan berbalas lagu kepada Pangeran A-dice.

“Aku adalah Pangeran A-dice, pemegang takhta selanjutnya dari negri sebrang.” A-dice memperkenalkan dirinya dan mendekat kepada Nurmala.

“Jangan mendekat!”

“Kau ini siapa?”

“Princess Nurmala!”

“Baik, Princess Nurmala, apakah ini mimpi? Atau ini adalah hal lain yang menjadi alasan dari pertemuan kita setelah aku yang terjatuh sangat jauh dari atas sana,” A-dice menunjuk tepat kepada langit yang hampa dan diikuti Nurmala yang memperhatikan A-dice terheran-heran sejak tadi. “Kalau begitu biar ku sebut pertemuan kita ini adalah takdir.”

“Takdir apanya?”

“Tuan Putri adalah ciptaan Dewa yang paling indah dari hewan-hewan cantik yang pernah aku temui.” A-dice memuji Nurmala hingga terdengar sorak penuh godaan dari arah penonton.

“Apakah kalian setuju duhai para penonton?” tanya A-dice langsung kepada penonton yang sejak tadi gemas melihat tingkahnya.

“IYAA BENARRR!”

Aruna yang sejak tadi diam tersipu akhirnya ikut terkekeh. Sena sangat pintar memainkan perannya sebagai Pangeran A-dice. Raut wajah bangga bukan hanya Aruna yang berikan malam ini, tidak jarang Aruna sedikit melirik ke arah Ayah dan Ibu Sena yang sejak tadi bangganya bukan main.

Nicky dan Kaisan yang diduduk disebelah kanan Aruna juga menjadi penonton paling berisik daritadi. Setiap langkah dan dialog yang Raja dan Sena sampaikan dari atas panggung selalu dibalas jahil oleh Kaisan. Memang begitu sih hukumnya kalau ada teman sedang tampil dan teman lain yang sebagai penonton bakalan ledek-ledekin walau dalam hatinya bangga setengah haru.

Pertunjukkan drama malam ini berlangsung sekitar satu setengah jam. Di akhiri dengan cerita yang cukup tragis bagi para penikmat happy ending. Para penonton dibuat menangis ketika Pangeran A-dice terbangun dari tidurnya dan menemukan bahwa negri ‘Neverland’ adalah negri ciptaannya sendiri selama koma dari racun yang mematikan. Setelah benar-benar sadar dan pulih, Pangeran A-dice paham bahwa negri ‘Neverland’ kini sudah sepenuhnya mendarat walaupun tidak dengan sempurna.

Tahun-tahun berlanjut, Pangeran kini telah menjadi pribadi yang dewasa dan A-dice akan menjalani upacara pengangkatan diri sebagai Raja yang baru. Meninggalkan kenangannya dengan negri ‘Neverland’ dan tentu saja sang Princess Nurmala.

“Kalau menjadi bagian dari hidupmu adalah sebuah ‘jatuh tanpa henti’ maka biarkan aku terus terjatuh di dalamnya. Karena jatuh dalam negri ‘Neverland’ tidak pernah membekas, tapi sakitnya terasa di dada seperti aku yang tidak bisa melupakan lembutnya kulitmu, Nurmala..” Monolog akhir Sena sebagai Pangeran A-dice pun selesai. Drama Musikal malam ini sukses membuat para penonton terharu dan sangat menikmatinya.

Entah itu dari dialog yang para pemain sampaikan atau bahkan plot cerita yang diberikan, semuanya sempurna. Mister Jo sukses malam ini mengacak-acak hari pentonton karena tidak jarang penonton menangis.

Akhir dari Drama Musikal pun ditutup oleh Pangeran A-dice bernanyi sendirian. Menyisakan luka disetiap kata yang terucap dan kenangan yang manis ternyata adalah refleksi dari kenangan paling pahit.

Mister Jo naik ke atas panggung mengisyaratkan bahwa drama musikal malam ini telah selesai. Satu persatu pemain juga ikut naik ke atas panggung dan semuanya membungkuk sebagai salam tanda perpisahan. Dari semua perpisahan yang ada, happy ending merupakan suatu hal yang orang-orang idamkan. Tapi sad ending memberikan pesan bahwa hidup harus realistis dan dari drama musikal malam ini para penonton belajar bahwa sepahit apapun kenyataan, itu adalah obat yang paling manjur untuk semua jenis penyakit.

“Sampai jumpa di drama musikal tahun depan!” salam terakhir dari Mister Jo dan tirai merah besar diatas panggung pun tertutup rapat. Lampu-lampu dihidupkan secara bertahap, para penonton kini sudah dibiarkan untuk pulang meski masih ada rasa haru setelah menonton drama musikal malam ini.

“Aruna pulang bareng Ibu?” belum ada lima menit setelah drama musikal selesai, Ibu Sena menawarkan diri untuk mengantar Aruna pulang. Aruna yang tiba-tiba kena serangan panik pun akhirnya menolak dengan halus.

“Maaf Tante..”

“Ibu aja.” pintu Ibu Sena langsung.

“Hehe iya, maaf Ibu, Aruna pulang sama temen aja gak apa-apa.”

“Oh gitu, ya udah, mau pulang sama Sena kan pasti ya? Ibu titip Sena, nanti diajakin makan dulu dia.”

“Iya tan-, maksudnya Ibu.”

“Ibu sama Ayahnya Sena pulang duluan ya.” sebelum akhirnya bangkit dan pergi dari GSG, Ibu Sena membelai lembut lengan kiri Aruna. Ada kehangatan didalamnya dan Aruna suka itu.

“Kaisan, Ibu pulang duluan.” pamit Ibu Sena ke Kaisan.

“Iya Ibu, hati-hati dijalan bilang Ayah bu.”

“Iya.”

Dada kiri Aruna yang sejak tadi berdebar sangat kencang kini semakin meluluh. Ibu dan Ayah Sena baik sekali untuknya dan itu melegakan. Aruna melirik ke arah jam yang ada di handphone-nya, sekarang sudah pukul 20.56 WIB. dan pertunjukkan drama musikal tadi adalah yang terbaik.

TODAY IS MAGIC

Suara gemuruh riuh penonton diluar lapangan sana kini semakin memanas. Panasnya bukan hanya dirasakan oleh euphoria yang diciptakan, rupanya yang punya jadwal tampil setelah ini dalam dadanya ikut panas bukan main. Biasa, ini pertama kali Magic tampil sebagai band full anggota setelah satu tahun meliburkan diri dulu dengan alasan jarak antara anggota yang jauh itu.

Raja yang sejak tadi asyik bersenandung sengaja mengalihkan kenyataan kini menjadi yang paling panik. Takut kalau-kalau ada suara yang crack nanti atau fals pas lagi yahut-yahutnya bernyanyi. Berbeda dengan Kaisan yang sejak pagi memang sudah mengomel karena lupa bawa kameranya yang baru padahal sudah siap untuk konten YouTube dibalik panggung pensi hari ini. Jadilah akhirnya sejak tadi rekam-rekam kejadian dibelakang panggung menggunakan handphone yang lupa di charge.

Dua kakak kuliah yang dulunya senior Magic, siapa lagi kalau bukan Bima dan Keno sekarang malah menjadi yang paling anteng meski sudah lama juga tidak tampil sebagai Magic lagi. Penantian panjang sebagai Mahasiswa Baru pun datang, hari ini mereka akan lupa status itu dulu dan memakai gelar yang sangat mereka sukai 'anak band yang banyak penggemarnya.' Sebenarnya sih, ini berdua memang banyak yang gemar tapi berbeda rasanya dengan penggemar dari band Magic. Lebih hidup rasanya.

Sedangkan Antasena memilih untuk menyamankan dirinya dengan memeluk si ganteng, gitar elektrik berwarna hijau kado ulang tahunnya yang ke-17 dari Ayah bulan Maret kemarin. Ada Aruna disampingnya yang ternyata dibawa juga ke dunia Sena, meskipun tidak ikut bersenandung tapi Aruna menikmati penampilan singkat Sena. Seruan agar Sena manggung nanti tetap semangat telah Aruna berikan sejak tadi dan jangan ditanya sudah pasti Sena semangatnya sekarang ditingkat yang paling atas dekat langit ketujuh kalau Aruna alasannya.

“Kak, Magic main 7 menit lagi. Siap-siap ya, Kak!” Adik kelas yang apabila dilihat dari nametag kepanitiannya adalah Bunga masuk begitu saja sambil mengarahkan anggota Magic untuk bersiap-siap. Karena waktu 7 menit lagi itu sudah tidak lama lagi.

“Dek, gue titip Aruna ya, bawa ke dalam pagar bagian Panitia jaga. Jangan dibagian peserta nanti kena dorong dia.” ini Sena yang tiba-tiba menitipkan Arunanya ke Bunga. Sebenarnya sih sesi titip-menitip Aruna sudah dia sampaikan ke Bunga sejak kemarin, tapi sekarang adalah waktunya tampil jadi harus direalisasikan sekarang juga.

“Oke, siap Kak.”

“Nanti Nicky gimana? Dia kan ikut dibarisan peserta.”

“Udah, itu urusan Kaisan, nanti Nicky yang nyusulin Aruna ke bagian panitia. Aman ya Aruna tinggal beres aja.”

“Yuk, kak.”

Aruna mengangguk dan kemudian ikut mengekor Bunga yang sekarang merangkul lengan kirinya. Mata Sena masih menatap Aruna dengan senyum yang sejak tadi ada di ujung bibirnya.

“Sena semangat!” satu seruan lagi yang Aruna sampaikan sebelum akhirnya punggung cantik itu hilang dibalik pintu menuju atas panggung. Bagi Sena, ucapan semangat Aruna bukan cuma kata basa-basi saja, tapi mantra paling ampuh kalau deg-degan manggung adalah penyakitnya.

Diatas panggung, MC acara yang ditunjuk dari Selebgram lokal, sudah memandu acara sedemikian rupa agar berjalan dengan baik. Magic menunggu di ujung anak tangga sebelum pada akhirnya dipanggil ke atas panggung.

“Sekarang adalah penampilan yang paling ditunggu-tunggu, selain guest star kita! Ada yang tau siapa?” Selebgram lokal yang kalau dilihat dari followers instagram akunnya mencapai 200ribu pengikut itu memberikan suatu kode kepada peserta yang ada didepannya.

“MAGICCCC!!!!” Peserta yang katanya mencapai 1000 orang, beramai-ramai menjawab pertanyaan sang MC.

“Benar! Wah ini beneran kangen kayaknya ya. Ya udah gak usah pake lama lagi kita sambut, MAGIC!”

Sorak peserta pensi Bakti Pertiwi kini semakin meledak setelah Keno yang pertama naik ke atas panggung dengan menggendong bass hitam miliknya, disusul Bima dengan stick drum yang ikut menyapa penonton pagi ini. Sena, Raja dan Kaisan menjadi yang terakhir naik dan langsung mengisi bagian diposisi masing-masing.

Hari ini tema mereka adalah Putih-Blue Jeans, Bima yang punya ide soal dresscode karena hari ini adalah hari tabur power maka atasan baju yang paling benar adalah yang berwarna putih.

“Pagi semuanya.” sapa Raja pelan sekalian test sound dari mic yang ia gunakan.

“PAGEEEE!!!!” Jawab penonton penampilan Magic yang sudah sangat antusias. Kali ini euphoria-nya benar-benar gila padahal satu lagu belum Magic mulai.

“Waduh semangat bener ya rupanya.” Ledek Keno ke penonton menggunakan mic yang ada didepannya. Karena posis di Magic, selain Raja sebagai vokalis utama, keempat member yang lain juga menjadi backing vokal. Maka dari itu di depan seluruh anggota Magic terdapat microphone dan stand micnya.

“Mau dimulai gak nih?” tanya Kaisan ikut menggoda padahal Bima sejak tadi sudah tidak sabar menggebuk snare drum yang ada dalam kuasanya.

“MULAIIIII!!!”

“LAMAAA WAKTU BERJALAN INII!”

“KANGEN MAGIC! BURUAN MAIN!”

“GUE BALIK NIH KALAU LAMA!”

“GAK JADIII! GAK MAU PULANG SEBELUM MAGIC TAMPIL!”

Penonton Magic pagi ini ganas-ganas kalau kata Bima, pada gak sabaran dan yang pasti teriakan ini yang paling mereka rindukan.

“Sabar, ini kita lagi check sound woy!” protes Bima yang bersuara melalui mic yang terpasang di drumnya. “Lo semua sekarang mending siapin handphone-nya siap-siap rekam kita ya. Karena setelah ini, Magic lama manggung lagi. Apalagi ini tiga krucil udah lulus tahun depan. Simpan kenangan paling baik kalian dengan kami, lu pada kan sering lupa ingatan setidaknya punya memori di handphone! Share story di instagram biar makin hits!”

“IYA BIMA LO BURUAN DUDUK ANJIR, UDAH GAK SABAR GUE!!!”

Seluruh anggota band tertawa tatkala ucapan dari salah satu penonton yang ganas itu. Yang ada didepan mereka sekarang adalah lautan manusia dengan kaos putih yang dibeli dari tiket pensi Bakti Pertiwi. Para penonton kini bukannya tidak sabar ditabur powder oleh panitia, malah tidak sabar jamming bersama Magic.

“Lagu pertama kita ada yang tau?” tanya Sena setelah semuanya benar-benar siap memulai pertunjukkan pertama.

“GHOSTINGG!!!”

Jawaban penonton kompak menjawab satu lagu milik mereka yang sangat terkenal dikalangan muda-mudi itu, apalagi di Bakti Pertiwi sendiri lagu itu adalah andalan Magic kalau sedang iseng latihan di rumus, ruang musik.

“Benar! Sekarang dimulai lagu pertama dari Magic, Ghosting!”

Raja mengangkat jempolnya ke langit menandakan agar Bima sudah bisa memulai permainan drumnya sebagai awal dari penampilan mereka. Di susul Sena yang sangat apik dan lihay memainkan melodi gitar yang ia kuasai.

Merinding sudah pasti menjadi respon pertama penonton sebelum pada akhirnya berteriak kegirangan.

“Lagu ghosting, ini kita bawain untuk lo semua korban ghosting.” Sekarang Kaisan yang meledek, niatnya sih untuk penonton yang lain tapi tidak tau kenapa matanya malah menuju ke Nicky yang berada di barisan paling depan dekat panitia dan Aruna.

[Raja & Keno] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Raja & Kai] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Sena] Second floors of Gelael was a good place for us, I wander alone all the time I’m like a ghost [Kai] Like a ghost

[Raja & Bima] Messages filled with square screens We were Gelael’s buddy, didn’t we? Oh baby, I really, don’t get it

[Raja & Keno] Something is strange for me It’s been a week already The only, number, greets me, just 88

[Raja] Look at me now, a lonely window on the right side vaguely raise my eyes They’re roll around through my story I’m getting more and more anxious [Sena] All day All day All day All day

[Raja & Sena] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Sena] I ask it in the empty void, what am I supposed to do?

[Raja & Kai] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Sena] Second floors of Gelael was a good place for us, I wander alone all the time [Kai] I’m like a ghost

[Raja & Keno] Looking blankly at your new post There are your pictures with the hashtag “TheSkyisBeautifulToday” [Raja & Kai] I can’t believe it, I already know now That you have logged out of my world, baby

[Raja & Bima] Stay up all night again for today like a zombie I’m looking for a signs of a breakup in our conversations [Raja] I don’t know it yet [Sena] All day All day All day All day

[Raja & Sena] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Sena] I ask it in the empty void, what am I supposed to do?

[Raja & Kai] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Sena] Second floors of Gelael was a good place for us, I wander alone all the time [Kai] I’m like a ghost

[Raja & Kai] Actually, I know, “no answer” is the answer [Raja & Sena] I don’t get used to it, now I’m being alone

[Raja & Keno] Just like us in the old picture We have to go back again [Sena] I’m still here ([Kai] I’m still here) I’m still here ([Kai] I’m still here)

[Raja & Bima] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Bima] I ask it in the empty void, what am I supposed to do?

[Raja & Sena] You disappeared for a moment, you disappeared Like a faint ghost, now you are gone [Keno] Second floors of Gelael was a good place for us, I wander alone all the time [Kai] I’m like a ghost

Lagu pertama selesai. Yang seharusnya lagu memiliki makna dan pesan menyentuh hati yang sedih kini berubah menjadi lagu yang asyik dibawa lompat-lompat. Meskipun penonton ikut bernyanyi sambil ambyar, tapi gak tau kenapa jamming pagi ini jadi kontes adu nasib. Galau pisan etah mah ya.

“Lanjut lagu kedua?” tanya Raja sekali lagi.

“LANJOOOTTTTTT!!!”

“Oke, lagu kedua kita adalah Cat and Dog!” Sorak penonton semakin menjadi-jadi, pasalnya lagu ini sangat cocok untuk dinyanyikan dalam situasi yang menyenangkan seperti sekarang.

“SUKA GUE NIH KALAU BEGINII LAGUNYAA!!”

“MAINKAN AKANG SENAAA!!”

Lagu kedua dimulai dengan Sena yang memainkan melodi gitar sesuai dengan intro yang penonton sukai. Kemudian disusul oleh Kaisan dengan instrumen keyboardnya yang sangat rapih. Penonton dibuat semakin menggila ketika Bima memulai atraksinya dengan drum dan disusul Keno juga bass-nya.

[Raja & Kai] Turn me from a Cat to a Dog Now, I want you to take me on a walk [Raja & Keno] Watch me be the loyalest of all Okay, baby, here’s the leash [Penonton] BRR BRR BRR

[Raja & Sena] I don’t wanna be just friends It’s no coincidence, it’s kitty-incidence They be testing out your patience, but I’m here for it Girl, I’m promise (Girl, I’m promise) So get used to it

[Raja & Bima] Ain’t no stopping me when you walk it Got me acting up all crazy, lemme be your pet Baby make a lil’ room, let me get next to ya I was messin’ (I was messin’) Now I’m thanking ya I learn my lesson [Penonton] BRR BRR BRR

[Raja & Kai] Baby baby you give me a halo [Penonton] YEAH YEAH YEAH YEAH [Raja & Kai] I was far from cute before Now I’m an angel [Penonton] YEAH YEAH YEAH YEAH

[Raja & Sena] So make room for me I hope you don’t let go [Penonton] YEAH YEAH YEAH YEAH [Raja & Sena] Cause I’ve been such a good boy I hope you don’t say no [Penonton] MEOOWWWW

[Raja & Keno] (But) Oh my god, what is this new emotion? (You) Now I’m such a puppy when you hold me (You) Feed me love, it’s perfect and you know it Follow you in circles and no that is not a joke, babe

[Penonton] OOOHHH OHHHH [Raja] I’ll walk over the obstacles And be there til’ the bitter end [Penonton] OOOHHH OHHHH [Raja] I just hope you undestand [Penonton] BRR BRR BRR

[Raja & Sena] I don’t wanna be just friends It’s no coincidence, it’s kitty-incidence They be testing out your patience, but I’m here for it Girl, I’m promise (Girl, I’m promise) So get used to it

[Raja & Bima] Ain’t no stopping me when you walk it Got me acting up all crazy, lemme be your pet Baby make a lil’ room, let me get next to ya I was messin’ (I was messin’) Now I’m thanking ya I learn my lesson [Penonton] BRR BRR BRR

[Raja & Keno] Let’s play forever I just wanna be your dog [Penonton] GUK GUK GUK GUUKKK

[Raja & Kai] I just wanna be your dog [Penonton] GUK GUK GUK GUUKKK

[Raja & Sena] Let’s play forever I just wanna be your dog [Penonton] GUK GUK GUK GUUKKK

[Raja & Bima] I just wanna be your dog [Penonton] GUK GUK GUK GUUKKK

[Raja & Penonton] MEOWW

Lagu kedua selesai. Dijamin sekarang penonton sudah luar biasa haus karena ikut menggonggong dan mengeong sesuai lagu yang Magic bawakan. Tapi gak apa, karena serunya bukan main. Jadi walaupun lelah dan haus langsung sirna begitu saja. “Wah, kalian semua jadi binatang ya?” lagi-lagi Sena meledek penonton yang sangat antusias dihadapannya itu. Dari raut wajah mereka sangat senang dengan pertunjukkan Magic.

“Oke, lagu terakhir Magic untuk hari ini.” Kata Raja cepat ketika sudah meneguk habis satu botol aqua yang panitia berikan.

“MINUM AJA GANTENG ANJIIINGGGGGG!!” Jerit salah satu penonton bereaksi kepada Raja.

“Siapa anjing?” tanya Raja.

“GUE ANJINGNYAA!!!” Jawab penonton yang tadi.

Gelak tawa diikuti semuaorang yang ada disana tanpa terkecuali panitia dan polisi penjaga keamanan sekitar. Selagi Magic beristirahat selama beberapa menit, panitia sudah berbaris di anak tangga nomor 3 sisi kanan dan kiri penonton pensi sekaligus peserta jalan sehat pagi ini. Terhitung ada 22 panitia yang masing-masing memegang powder bom ditangannya, di lagu terakhir yang Magic bawakan para peserta belum dibolehkan menabur powdernya sendiri karena rundown sekarang adalah bagian panitia yang menembakkan powder.

“Yuk lanjuttt~” Bima memberi aba-aba dengan menggebrak drumnya sebagai tanda lagu ketiga dimulai.

“ANJIRRR INI LAGU MAGIC!!”

[Raja & Bima] Remember how I used to be so Stuck in one place, so cold? Feeling like my heart just froze Nowhere to go with no one, nobody

[Raja] Suddenly, you came through Making me make a move Nobody got it like you I can't look away, I can't ‘cause baby

[Raja & Kai] 'Cause baby, you're a real one, real one Teaching me to feel something so strong (strong)

[Sena] We could reach out and grab it [Raja & Keno] Oh, it's just like magic Feeling your touch, oh, it's a rush No one else has it It's just like magic (just like magic) Oh, it's just like magic Holding me tight, giving me life

[Sena]Oh-oh, it's magic (magic) [Kai] Oh-oh, it's magic (oh, it's just like magic) [Bima] Oh-oh, it's magic, oh-oh, it's magic [Raja] (Just like magic) Oh-oh, it's magic Magic [Raja & Kai] Used to be so afraid Afraid of all the games we played Waited around all day Nowhere to go with no one, nobody

[Raja & Bima] Hoping someone would save me 'Til you called out my name Something in me just changed Got me awake, got me [Raja & Keno] Baby, you're a real one, real one Teaching me to feel something so strong (strong)

[Sena] We could reach out and grab it [Raja & Sena] Oh, it's just like magic Feeling your touch, oh, it's a rush No one else has it It's just like magic (just like magic)

[Raja & Keno] Oh, it's just like magic Holding me tight, giving me life Oh-oh, it's magic (magic) Oh-oh, it's magic (oh, it's just like magic)

“SEMUANYA ANGKAT TANGAN DI ATAS.” Perintah Bima dan semua penonton ikut mengangkat tangannya.

Satu Dua Tiga

Panitia langsung menembakkan powder bom ke langit dan tepat di atas kepala para penonton yang sejak tadi lompat-lompatan. Suasana menjadi sangat menyenangkan dan heboh ketika powder jatuh di tubuh mereka.

[All member] Everybody, clap your hands (no, no, no) If you've got a broken heart, just take a chance (oh, oh, no, no, no) I say everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance (magic, magic) Everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance (chance)

Dan musik yang Magic bawakan berhenti, digantikan dengan tepukan tangan yang seirama. Semua penonton ikut menepuk kedua tangan mereka meskipun powder warna-warni berterbangan dari tadi disekitarnya.

[All member] I say everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance (ooh) I say everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance (chance) I say everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance, say

Penonton semakin kegirangan ketika Magic mulai memainkan kembali melodi lagu yang mereka punya. Hari ini benar-benar pecah suasananya karena siapa lagi kalau bukan Magic!

[All member] Oh, it's just like magic (just like magic, yeah, eh) Feeling your touch, oh, it's a rush No one else has it It's just like magic (just like magic) Oh, it's just like magic (just like magic) Holding me tight, giving me life (oh) Oh-oh, it's magic (magic) Oh-oh, it's magic (oh, it's just like magic) Everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance, say I say everybody, clap your hands If you've got a broken heart, just take a chance, say (magic)

Lagu ketiga selesai. Bom powder yang panitia tembakkan juga sudah habis. Penonton lelah tapi bahagianya juga ada. Benar-benar luar biasa Magic!

“UUWWOOWWWW”

“KEREN BANGET ANJINGGGGG!”

“PECAH SEMUANYA PECAAHHHH.”

“THANKYOU MAGIC SEE YOU NEXT TIME!!”

Satu persatu penonton mengirimkan ucapan dari rasa terimakasihnya kepada Magic, yang walaupun sudah segala rupa memakai dresscode tetapi tidak ada satupun member yang terkena powder. Baju putih mereka tetap bersih dan tidak kotor sedikitpun.

“Kalian semua gelo.” Tunjuk Sena ke arah penonton di depannya.

“Muka lo pada cemong!!! Ngaca dulu ngacaaa.” Ledek Kaisan lagi dan lagi.

“BODO AMAT CEMONG YANG PENTING HAPPY!” suara penonton yang satu itu Sena hapal ternyata benar, itu adalah teman satu kelasnya yang bernama Furqon.

“Lo paling jelek Fur!” tunjuk Sena langsung ke Furqon langsung sambil tertawa menang.

“GUE LEMPAR POWDER TERUS LO BENGEK GAK TANGGUNG JAWAB YA GUE SEN.” Balas Furqon meledek Sena.

“Sialan lo.”

Maka setelah sesi saling ejek teman satu kelas itu, Magic turun dari atas panggung sedangkan panitia yang lain sedang mengejar waktu 10 menit untuk membagikan powder kepada seluruh peserta untuk tabur powdernya sendiri-sendiri.

Sena yang seharusnya turun lewat tangga samping panggung malah memutar ke depan panggung, menjemput Arunanya yang masih terbawa euphoria Magic tadi.

“Sena keren, gak?”

“Selalu keren.” Jawab Aruna dengan sangat bangga.

“Yuk, pulang.” Ajak Sena kemudian meraih pergelangan tangan kanan Aruna.

Ada dua hal yang Sena ingin genggam untuk selamanya. Pertama adalah si ganteng, gitar kebanggaannya dan juga Aruna yang satu tiada duanya ini.

AYAHKU PAHLAWANKU

Udara dingin dari angin malam ini dibiarkan masuk dan menyibak kasar rambut Sena yang sangat panjang. Sama halnya dengan sang Ayah yang berada tepat di sampingnya, jari telunjuk yang sarat akan perjuangan dalam mencari nafkah keluarga itu tengah asyik mengetuk pada stir mobil sesuai dengan ketukan irama lagu dari radio. Malam ini dj radio kesayangan tengah menyiarkan lagu dari penyanyi legendaris asal Inggris yaitu Queen dengan lagu Radio Ga Ga.

Keduanya menikmati gelap malam dengan caranya masing-masing, seakan terbentuk suatu jarak diantara keduanya yang sudah pasti Sena yang bangun. Karena sebenarnya Sena hapal dengan lagu Queen yang satu itu tapi sedang malas bernyanyi lepas dan membuat Ayahnya juga ikut malas bersenandung.

Mau kemana mereka pergi, Sena pun tidak tau, Ayah hanya mengajaknya keluar tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Dan Sena hanya mengiyakan meskipun ada sedikit rasa ingin tau. Tapi dia tahan, sejak tadi hal yang ia pikirkan hanya bagaimana cara memulai percakapan dengan sang Ayah? Ini bukan kali pertama sang Ayah pergi bekerja dengan rentang waktu yang lama baginya, tapi mengapa dinding antara keduanya sudah tercipta sangat tebal? Kalau begitu cuma Sena yang punya alasan.

“Kita mau kemana, Yah?” akhirnya Sena memukul satu kali dinding yang tidak sengaja ia bangun dnegan satu pertanyaan. Tapi Ayah hanya diam. Mungkin menurut Ayah, sudah ikut saja nanti juga Sena tau.

Tidak lama kemudian mobil yang mereka kendarai menepi pada salah satu tempat makan nasi uduk terkenal di daerah Antasari, Nasi Uduk Toha namanya. Itu adalah makanan kesukaan keluarga mereka, oh jadi alasan Ayah kesini adalah melebur rindu dengan nasi uduk dan ayam goreng yang enak disini.

“Kita makan nasi uduk ya? Makan di mobil aja, di dalam pasti ramai Ayah malas nunggu orang selesai makan.”

“Iya, Ayah.”

Kemudian sang Ayah turun dari mobil memesan makan untuk mereka berdua melalui salah seorang pelayan yang rupanya sudah hapal dengan Ayah. Selama memesan makan, Ayah sedikit melirik ke arah Sena yang duduk di dalam mobil dan tersenyum sedikit. Sena tidak membalas apa-apa hanya diam.

“Ayah kangen makan disini.”

Sena mengangguk kemudian diam lagi.

Malam ini adalah malam minggu jadi sudah wajar tempat makan ini ramai oleh pengunjung. Entah itu keluarga yang sengaja makan malam disini atau sepasang kekasih yang mencoba menu makan malam baru selain hanya roti bakar ala cafe terkenal.

“Sena lagi sibuk apa, sekarang?”

“Biasa, Sena masih ngeband.”

“Sekolah Sena lancar?”

Sena kembali mengangguk dan seketika menghadap ke arah Ayahnya yang tengah menatap Sena dalam-dalam. “Lancar, Yah. Ayah kerjanya gimana? Capek?”

Ayah terkekeh, lucu menurutnya pertanyaan yang Sena lontarkan. “Bukan kerja namanya kalau gak capek.”

“Hehe iya sih.”

“Tapi Ayah senang, soalnya Ayah pulang masih sehat dan bisa lihat Sena senyum kayak sekarang. Sena ingat dulu waktu masih umur 8 tahun makan disini pesan ayam goreng sampai 5 potong?”

“Lupa Yah. Sena makan selalu banyak.”

Di usap oleh Ayah rambut hitam dan panjang milik Sena, rambut Sena yang halus dan agak tipis itu persis seperti sang Ibu yang beda hanya aroma sampo yang dipakai. “Iya, Sena paling banyak makan beda sama Abangnya. Abang kalau makan gak habis yang omelin bukan Ayah atau Ibu lagi tapi Sena.”

“Haha iya, terus yang abisin nasi Abang juga Sena kan, Yah?”

“Iya, Sena yang makan nasi Abang. Sena sehat ya, Dek, Ayah senang lihat Sena sama abang sehat dan akur sampai besar. Sena tau kemarin Ayah kena badai besar ditengah laut Jawa?”

Sena menggeleng cepat dan berubah posisi menjadi menghadap sang Ayah seolah meminta penjelasan lebih lanjut. “Baru-baru ini?”

“Iya kemarin.”

“Cerita, Yah.”

“Itu tengah malam, sekitar pukul berapa Ayah kurang tau karena Ayah lagi dapat bagian tidur dan kru kapal lain yang jaga. Sebelum malam datang, memang sudah angin kencang dan langit menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Tapi hujan turun sekitar 5 atau 6 jam setelah itu, pas sekali itu Ayah kebagian jam tidur. Kemudian Ayah tiba-tiba mimpi Sena. Ada adek dalam mimpi Ayah, Sena masih kecil dan minta antar makan ke sini, Ayah jelas tolak karena Ayah ngantuk dan minta tidur dulu sebentar tapi Sena gak mau, harus makan nasi uduk toha sekarang. Dan kemudian Ayah dibangunkan oleh kenyataan bahwa kapal Ayah lagi diserang hujan badai. Serem, dek, Sena gak akan kuat kalau ikut di kapal Ayah malam itu. Mabok adek pasti.”

“Terus, Yah?”

“Terus Ayah berdoa ke Allah, pikiran Ayah udah gak paham lagi dek. Minta ampun pokoknya kalaupun itu hari terakhir Ayah bisa tidur nyenyak, tapi Ayah dijamin bakal menyesal seumur hidup karena gak bisa telpon Ibu dulu ucapin selamat tinggal. Gak ada sinyal disana.”

“Ayah jangan ngomong kayak gitu, serem!”

“Namanya Ayah panik. Dan Sena tau, saat itu nama yang Ayah sebut pertama siapa?”

“Nama Ibu, kan! Mau romantis-romantis nih pasti.”

“Bukan. Ayah udah cerita ini kemarin ke Ibu, gak ada niat mau romantis ini cerita jujur.”

“Haha Sena kira. Jadi Ayah panggil nama siapa? Oh Sena tau! Nama Allah kan? Ayah minta ampun katanya.”

“Bukan, adek salah. Nama yang Ayah sebut itu Sena. Antasena Syailendra, anak bungsu Ayah. Dada Ayah malam itu sesak gak tau kenapa, Ayah kepikiran mimpi yang Sena ajak makan kesini. Ayah jadi pingin tau saat itu juga Sena lagi ngapain, tidur enak kah atau mimpi indah kah, eh ternyata kata Ibu malam itu Sena kambuh ya Dek, asmanya?”

Dari raut wajah Ayah menunjukkan kekhawatiran yang amat dalam. Sena yang menafsirkan itu langsung berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja.

“Cuma kambuh biasa, Yah. Setelah itu Sena tidur nyenyak kok. Tanya ke Abang kalau gak percaya.”

“Percaya, Ayah juga udah tanya ke Abang. Sena itu dapat asma dari alm. Datuk, makanya Ayah was-was pas tau Sena kambuh lagi. Setelah malam itu Sena kapan kambuh lagi, dek?”

“Gak ada, cuma itu aja.”

“Sena sehat, kan?”

“Sehat, Ayah.”

“Sena kalau lagi banyak pikiran atau kegiatan, harus pinter-pinter bagi waktu, ya. Gimana kalau lagi sakit tapi Ayah lagi jauh di tengah laut? Itu kapalnya Ayah gak bisa langsung puter balik ke rumah, Dek.”

Keduanya terkekeh dan saling adu pandang haru setelah beberapa percakapan. Dan semoga setelah ini Sena tidak canggung lagi dengan sang Ayah walaupun jarang bertemu di rumah. Lewat mimpi pun keduanya bisa saling menyampaikan pesan meskipun secara gamblang.

Sudah hampir 15 menit tapi pesanan nasi uduk keduanya tak kunjung datang, Sena hampir protes ke dalam tapi ditahan dengan alasan wajar saja lama karena memang sedang ramai-ramainya. Maka dari itu Ayah kembali mengingatkan kembali perihal pesanan mereka melalui tukang parkir yang ada disana.

“Ayah kapan balik layar lagi?”

“Ayah sekarang libur satu bulan. Habis tahun baru balik lagi, tapi ini jadi lebih lama dek, Ayah pergi berlayar sekitar 3 bulan. Jadi mungkin Maret Ayah udah pulang.”

“Lamat amat, Yah?”

“Sebelum Sena ulang tahun Ayah janji udah dirumah. Ayah pulang.”

“Ayah jangan janji gitu nanti jadi beban di Ayah. Sena juga paham kalau Ayah kerja itu gak nentu kapan jadwal pulangnya.”

“Sena janji ya, dek, selama Ayah pergi tetap belajar yang benar. Ayah dukung Sena ngeband, apapun Sena mau Ayah coba turutin asal Sena jaga kesehatan.”

“Sena sehat, Ayah, kemarin aja lagi sial gak tau kenapa malah kambuh. Dan itu juga cuma sebentar gak lama Sena tidur lagi.”

“Iya, selagi Ayah disini, Ayah yang pantau Sena.”

“Hehe gak apa-apa, Yah, Sena seneng jadinya.”

Tak lama setelah itu pesanan nasi uduk pun datang lengkap dengan lauk ayam goreng yang Sena sangat sukai.

“Sena kata Ibu kemarin minta beliin motor? Vespa hijau yang digarasi itu yang Ibu belikan, kan?”

Sena berhenti menyuapi mulutnya yang tiba-tiba lapar itu. “Iya, Yah.”

“Tumben biasanya minta antar jemput Abang.”

“Kasian Abang udah semester akhir masa pusing antar jemput Sena mulu, Sena juga udah sering pulang malam karena tambahan GO terus, Yah. Jadi mending bawa motor aja.”

“Bagus. Sena udah dewasa pemikirannya, tapi heran motornya kok minta yang mahal ya, dek?”

Sena tertawa seketika, benar sih, harga motor vespa matic baru yang dia minta itu 2kali dari motor yang biasa Abang Arka gunakan sehari-hari. Tapi mau bagaimana lagi, motornya sudah ada dirumah dan kepemilikan surat atas nama Sena.

“Lagi zaman motor kayak gitu, Yah.”

“Abang mau ganti motor gak ya?”

“Gak usah Ayah! Mending uangnya buat yang lain.”

“Sena ada perlu uang gak dek?”

“Hm..” Sena menggantung ucapannya dan menimbang-nimbang barang apa ya kira-kira ia perlukan dalam waktu dekat ini.

“Jangan tiba-tiba diadain ya dek. Kalau gak ada ya udah uangnya Ayah kasih Ibu buat keperluan mendadak kalian ke depan waktu Ayah gak ada.”

“Ih, Ayah ngomongnya kayak gitu mulu!”

“Ayah sering gak ada dirumahnya, jadi banyak yang harus Ayah kasih ke Ibu buat kalian.”

“Ibu beruntung ya, punya suami kayak Ayah. Banyak duit.”

“Ayah yang beruntung punya Ibu, karena nikah sama Ibu, Ayah jadi punya anak yang ganteng-ganteng, gak banyak tingkahnya kayak Abang dan Sena. Liat aja ini wallpaper hp Ayah foto Abang sama Sena waktu masih kecil, kru kapal kalau liat minta dijodohin ke anaknya padahal anaknya masih SD semua!”

“Idih, Sena gak mau sama bocil, Yah. Lagian Sena udah punya calon pacar, cantik. Kayak Ibu deh cantiknya.”

“Oh iya? Siapa namanya?”

“Ini, Yah, Aruna namanya.” Sena menyodorkan foto Aruna yang ia ambil secara diam-diam waktu sedang berduaan di rumah Aruna malam itu. “Cantik, kan?”

“Cantikan ini, Dek. Kalah Ibu.”

“Iya kan? Sena juga mikir kalau Aruna lebih cantik dari Ibu.”

“Tapi ini rahasia kita aja, depan Ibu jangan bahas-bahas soal siapa paling cantik nanti cemburu.”

“Hahaha iya, Ayah!”

“Dikenalin dek Arunanya ke Ayah.”

“Jangan dulu, Yah, dia pemalu.”

“Kalau yang ini gak mirip kayak Ibu, Ibu dulu gak malu-malu. Yang tembak duluan kan Ibu, Ayah mah terima-terima aja karena cantik. Kasian ditolak nanti apa kata orang-orang.”

“Tapi kok sampe nikah?”

“Lama-lama cinta, dek. Ibu itu banyak kelakuannya, Ayah takjub bukan main. Tapi setelah lahiran Abang jadi berubah anggun sampai sekarang, Ayah kira Ibu kenapa ternyata katanya biar anaknya gak kayak dia pas muda.”

“HAHAHA KOK JADI IBU YANG BANYAK TINGKAH?”

“Iya, Ibu itu ajaib. Mirip Sena kelakuannya dulu, jahil banget. Ayah dari yang awalnya heran ini perempuan kenapa ya, sampe ke yang gak bisa heran karena udah maklum. Tapi pas beranak satu malah terheran-heran kenapa berubah 180 derajat dari Ibu yang Ayah kenal dari zaman sekolah dulu. Ibu jadi pintar masak, jadi pintar dandan, pintar jaga diri. Ayah jadi makin cinta.”

“Ya Allah lucu amat Ibu. Pulang nanti Sena mau peluk Ibu, deh.”

“Iya gak apa-apa dipeluk Ibunya asal Sena gak bilang kalau Ayah cerita kayak gini ya.”

“Hahaha iya Ayah, siap!”

Setelah malam ini, tidur Sena dipastikan akan nyenyak karena sudah tidak canggung lagi dengan sang Ayah. Perlahan, melalui beberapa cerita yang keduanya bagikan, tembok yang berjudul kecanggungan pun sirna. Tanpa tersisa. Menyisakan rasa rindu paling dalam hingga harus dibayarkan dengan satu pelukan hangat.

“Ayah, nanti sebelum Sena tidur, peluk dulu ya?”

“Boleh. Ayah juga punya permintaan, sebelum Sena tidur janji malam ini kalau bangun pagi besok sehat ya, dek. Sehat terus sama Ayah, Ibu dan Abang yang walaupun cuek tapi sayang sekali ke Sena itu.”

“Iya, Ayah. Sena janji walaupun Sena gak tau kapan tiba-tiba sakit.”

“Sena sakit, ada Ayah disamping Sena.”

“Ada Sena juga buat diri Sena!”

SENA ITU SEBENARNYA

“Malem, Pak! Pecel ayamnya satu dan pecel lele juga satu, ya.” Sena yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap langsung menuju ke arah Pak Gendut selaku pemilik kedai pecel lele favoritnya itu.

“Eh, Sena, oke. Minumnya kayak biasa?”

“Iya, es jeruk dugan Pak, dua.”

Pak Gendut hanya mengacungkan jempolnya sekali menandakan bahwa ia paham dengan pesanan Sena seperti biasa kalau sedang malam-malam lapar dan mampir untuk mengisi perut. Biasanya yang dibawa kemari itu Raja atau Kaisan, tapi akhir-akhir ini berbeda. Ada penumpang baru yang namanya kalian pasti sudah tau. Iya, Aruna. Penumpang baru nan setia di vespa hijaunya Sena.

Sebenarnya, Sena itu tidak biasa mengendarai motor ke Sekolah, tapi mengantar pulang Aruna kini menjadi kebiasan yang menyenangkan baginya setiap hari. Sena pernah bilang, kalau hari ini sedang menghabiskan waktu dengan Aruna, waktu harus dinikmati setiap detiknya jangan sampai mubazir karena ngobrol dengan Aruna secara langsung itu seru, berbeda dengan dichat yang terkesan cuek. Dan kalau sudah terpisah dikamar masing-masing, Sena berusaha cepat-cepat tidur agar besok bangun pagi yang disapa pertama selain Tuhan lewat doa, adalah Aruna lewat telpon.

“Aruna mau pesan kol goreng?”

Aruna mengangguk karena terlalu sulit untuk menjawab 'iya' ketika sedang mengunyah sempol ayam yang dibeli tadi dijualan mang Ipul.

“Pak, sekalian kol gorengnya satu porsi!”

“Oke, Sena.”

Sena duduk di depan Aruna, sengaja mengambil lesehan agar lebih santai makannya dan bisa sender ke tembok yang ada dibelakang kalau memang nanti kekenyangan. Kalau sedang asyik makan jajanan begini, bagi Sena, Aruna itu sangat menggemaskan. Ya, walaupun ngapain aja bikin gemas tapi ini menjadi momen 'gemas' yang harus Sena rekam sendiri diingatannya.

Tanpa menunggu lama, pesanan mereka datang dan langsung diserbu keduanya. Sena yang pimpin doa makan malam ini. Karena biasanya mereka doa masing-masing.

“Kalau mau pesan air mineral, bilang Sena ya.”

“Iya, Sena.” kata Aruna sambil pelan-pelan meniup ayam gorengnya.

Sesekali Sena senyum lebar meskipun Aruna bilang berhenti melihat ke arahnya. Jangan, jangan berhenti dulu karena yang gemas-gemas begini memang paling benar responnya adalah senyuman paling ikhlas.

“Dimakan, Sena!” tukas Aruna cepat-cepat karena takut wajahnya memerah. “Jangan diliatin mulu, Aruna malu.”

Sena mengangguk dan kemudian melanjutkan makannya. Aruna kamu harus tau, kalau makannya didepan kamu begini, Sena mana bisa pangling, sih? Tapi sebisa mungkin Sena bersikap keren dengan memandang Aruna diam-diam saja dibalik kegiatan makan lelenya yang enak dan garing itu.

“Nama Aruna, emang paling pas untuk Aruna, tau gak?” ucap Sena setelah Aruna menelan habis es jeruk yang dipesan tadi.

Sesi makan malam berdua kini sudah selesai walaupun sekarang masih jam 8 malam. Sebelum pulang Sena ingin mengobrol seperti janjinya ke Aruna tadi pagi, yaitu cerita tentang apa yang terjadi ke Sena sampai harus izin dari sekolah dan menuju rumah sakit. Walaupun memang terlihat sehat-sehat saja, pasti ada cerita didalam diri Sena yang bahkan dimulai darimana Aruna pun tidak tau.

“Kenapa?” tanya Aruna penasaran.

“Iya, jadi Sena pernah searching gitu di Google, katanya disana nama Aruna dalam bahasa sanskerta berarti, 'bersinar kemerah-merahan.' Kayak sekarang,—” Sena menggantung ucapannya. “Tuh, tuh kan! Merah pipinya.” tunjuk Sena girang sedangkan Aruna malah menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang sudah dicuci bersih tadi setelah makan.

“Pipi Aruna kenapa gitu deh?”

“Gak tau. Ini tuh tiba-tiba.”

“Hahaha gemesin banget, Sena cubit sekali boleh?” tawar Sena yang kemudian ditolak mentah-mental si Aruna yang punya pipi.

“Gak boleh! Cuci tangan dulu bau sambel terasi!”

Sena terkekeh kemudian oke jawabannya, lebih baik cuci tangan dulu daripada kena omel Aruna.

“Sekarang Aruna mau tagih janji Sena!” serang Aruna langsung ketika Sena sudah duduk kembali dihadapannya. “Cerita, tadi pagi kenapa?”

“Oh itu, hm...” Sena terdiam, bingung harus mulai cerita darimana.

“Ngapain ke rumah sakit?”

“Sena tebus obat sama Ibu, sekalian Ibu juga beli-beli vitamin.”

“Terus?”

“Sena sarapan bubur sama Ibu, eh nggak, Sena sarapan bubur dulu yang bener baru ke rumah sakit.”

“Obat buat apa?”

“Sena sakit.” ada banyak pertimbangan dalam benak Sena, apakah cerita ke Aruna semuanya atau seperlunya. Bukan karena Sena tidak percaya ke Arunanya, tapi Sena tidak mau kalau cewek cantik dihadapannya ini khawatir.

Aruna masih diam dan menunggu penjelasan panjang dari Sena.

“Sena ada asma. Tapi gak parah, kemarin aja lagi sial sampai harus kambuh tengah malem. Sena sebenarnya gak mau cerita ke siapa-siapa, tapi Abang udah keburu cerita ke Ibu. Hm, ya tau aja Ibu-ibu tuh ya kalau udah khawatir ada-ada aja mintanya. Minta langsung berobatlah, minta jangan sekolahlah, dan lucunya malah minta jangan sakit. Sena juga gak mau sakit sejujurnya, tapi ini keturunan, Ayah Sena yang ada asma.”

Pandangan Sena sekarang sudah berada di mata teduh Aruna, semakin diperhatikan bulir-bulir airmata dipelupuk sana semakin ramai. Hanya dengan sekali kedip, Sena yakin akan ada tetesan airmata pertama dari Aruna untuknya.

Memori tentang orang terkasih yang kini sudah tiada langsung lewat begitu saja dihadapan Aruna. Dan entah kenapa, sosok itu malah harus diwakili Sena. Ini tidak adil kalau kenyataannya begini. Sena itu sudah Aruna andaikan sebagai sosok baru, tapi mengapa semesta harus menjadikannya refleksi dari Mama melalui kesamaan hal yang paling dibenci. Yaitu asma.

“Hey, Aruna kenapa?” cepat-cepat Sena menyeka airmata yang mengalir di pipi merah Aruna.

Dada keduanya sesak, namun berbeda alasan. Sena tidak suka kalau ada yang harus menangis dan alasannya itu adalah dirinya, sedangkan Aruna menangis karena tidak tau kalau Sena ternyata punya penyakit yang cukup jahat bagi siapun penderitanya.

“Maaf, Aruna cengeng tapi sedih dengernya, Mama Aruna juga dulu punya asma, tapi Mama udah sehat di Surga.” tak perlu waktu lama, Aruna mengubah raut wajahnya dengan senyum paksa dan Sena yang melihatnya bisa tau kalau Aruna berpura-pura. “Sena pasti malam itu gak enak banget ya nafasnya? Badannya berasa kaku dalam beberapa detik ya, Sen? Ada siapa disamping Sena waktu itu? Aruna gak bisa bayangin, karena Mama waktu itu juga beneran tersiksa.”

Sena menggeleng. “Sena juga minta maaf buat nangis gini, ya? Udah, jangan sedih-sedih Aruna, Sena gak bisa liatnya. Alasan kenapa Sena gak mau cerita karena gak mau buat Aruna khawatir, liat Aruna nangis kayak gini udah bener-bener ngancurin Sena.” tangan hangat Sena kini menggenggam tangan Aruna yang terbilang dingin, ada harapan dalam hati Sena agar dengan berpengan tangan begini keduanya bisa saling menguatkan.

“Aruna jangan nangis kalau alasannya adalah Sena.” pinta Sena yang malah terdengar seperti perintah.

“Hey dengerin, Sena sakit gak separah itu. Jadi gak bakalan kenapa-kenapa, okay?”

“Tapi sama aja, kita gak bisa nyepelein penyakit, Sena. Denger kabar Sena sampai harus izin sekolah buat ke rumah sakit aja, Aruna bingung kok bisa panik segitunya karena yang rasain sakit itu Sena bukan Aruna. Sena mungkin bisa aja bohong bilang gak kenapa-kenapa tapi sebenernya lagi nahan, kan?”

“Sena emang gak bisa jamin bakalan sehat terus karena penyakit ini selalu tiba-tiba, bukannya sok kuat tapi Sena bisa ngatasinnya dan yakinin Aruna, kalau Sena akan baik-baik aja. Janji, ya Aruna jangan nangis lagi.”

“Aruna janji.” jawab Aruna perlahan. “Sena harus janji juga untuk jaga kesehatan ya, harus tau sampai mana batasan sehat tubuh Sena, semuanya jangan dipaksa 'bisa' kalau memang harus gak bisa. Kesehatan itu nomor satu.”

“Sena janji. Untuk Aruna dan banyak rencana yang harus kita laksanain setiap harinya walaupun cuma makan pecel lele biasa begini atau belajar bareng di GO, Sena harus janji untuk itu semua.” Aruna mengangguk setuju walaupun masih belum puas hatinya.

“Sekarang kita pulang ya Aruna, Sena anterin. Juga ada satu hal yang Sena minta malam ini jangan ditolak tapi?”

“Apa?”

“Nanti diatas motor dan kita udah dijalan, Aruna peluk Sena dari belakang. Walaupun gak pake ngobrol, tapi Sena mau kita saling menguatkan, ya?”

Aruna mengangguk tanpa menolak. “Iya, Sena.”

QNA TER-CHAOS

Yang kepo sini lo. Yang gak kepo ya udah ditonton aja kali sombong amat. Diharapkan menonton dengan bijaksana, tidak perlu menggunakan headset/earphone/headphone karena video ini akan mengganggu emosi lahir dan batin kalian. Menonton sendiri lebih baik karena kalau bareng keluarga, nanti dicoret nama lo dari KK. Like, comment, subscribe jangan lupa!

Oke selamat menonton.

Sena: cuma buat qna ini gue rela pake seragam lengkap, mana besok dipake upacara anjir

Kaisan: sebentar aja sen, gak sampe 2 jam jugaan. kamar lo idup ac gini

Sena: gak ngehargain ibu gue apa udah capek2 gosok!

Raja: serius dulu lo berdua itu kamera udah idup daritadi

Kaisan: gak ada yg gue edit ya, semua yg ke rekam gue upload

Raja: oke.

[kemudian diam ada mungkin 30 detik]

Raja: dimulai anjing!

[KETAWA] [BARU NGEH GAK MULAI-MULAIII]

Kaisan: oke assalamualaikum semuanya!

Sena: macem ikut lomba adzan aja lo

Kaisan: [KETAWA] kan islam kita bos

Raja: waalaikumsalam. gue jawab aja dah ah biar cepet kelar

Sena: hai guys

Kaisan: balik lagi di channel Kaisan ganteng diantara bertiga ini [pose ganteng tapi bisa dibilang sok ganteng]

Sena: orang-orang juga tau kali gantengan gue

Raja: biarin aja guys orang jelek berantem, yg ganteng beneran kayak gue mah diem aja.

Sena: dih. komen juga lu tapi

[KETAWA LAGI] [TAPI SAMBIL SALING LEDEK]

[pada rebutan takhta siapa yg paling ganteng]

[lama kelarnya kalau gini]

2000 years later....

Kaisan: oke! kita langsung aja ya QnA nya. [cek handphone]

Sena: kok malah main hp sih monyet

Kaisan: pertanyaannya ada di ig gue, kemarin gue buka question box

Raja: yok lanjut

[kaisan masih asik scroll pertanyaan] [milih yang paling menarik]

Kaisan: nah ini, pertanyaan pertama dari @bini_soobin [ketawa] untung kagak ubin dah

[ketawa lagi]

Kaisan: pertanyaannya, “kaisan raja dan sena temenan sejak kapan? kok kayaknya kalian deket banget sih? kalian pernah ribut gak? keliatannya akur”

[KETAWA AMPE NGIK NGIK]

Raja: gue rasa selain pecinta ubin, ni orang juga matanya rabun waktu nonton vlog masak kemarin. [pause of laugh] LO GAK LIAT APA KITA BERTIGA KEMARIN HAMPIR ADU OTOT DI RUMAH ORANGGG

Sena: untung baru adu congor nih ya sekarang, ending ntar gak tau dah berantem beneran kayaknya.

Kaisan: aduh gak kuat gue baru pertanyaan pertama [ketawa lagi] jawab serius ah, jawab ja

Raja: jadi, nih ya gue ceritain dari sudut pandang gue. kalau gue, yg pertama kenal itu gue sama Sena karena emang sekelas dari kelas 10, pas mpls dan mos juga kita sekelompok jadi yaudah temenan sama setan dah gue hampir 3 tahun

Sena: anak babi

[KETAWA LAGI] [KAISAN BAGIAN CAPEK KETAWA]

Raja: nah kalau kaisan karena emang pas kelas 11 kita join band magic, jadi temenan. nyambung gue sama dia

Kaisan: kalau lo sen gimana

Sena: sebelum kenal raja, gue kenal kaisan duluan. kai ini temen les musik gue di ecayo, pas smp kan ya san? [kaisan ngangguk sambil acung jempol ke kamera] terus sma gue dapet temen senasib ya raja doang, udah itu udah. oh iya gue sama raja sekelas di ipa 3, kaisan kelas ipa 4. gak ada yg spesial njir, flat aja cerita ketemunya.

Kaisan: oke, kalau gue awal kenal sena dulu pas smp, terus sma nya gue satu semester di global nusantara terus pindah ke bakti pertiwi kelas 10 semester 2. kalau raja kenal karena emang kita satu band, bahas musik emang nyambung sama sena tapi kalau ke raja lebih dapet aja feel-nya

[sena dan raja bales idih-idih]

Kaisan: lanjut pertanyaan kedua [kai scroll kolom komen cari pertanyaan lagi]

Sena: gue gak abis fikir sama life hack si kaisan [sena nunjuk ke arah kamera]

Sena: itu bisa-bisanya kamera ditarok diatas tumpukan bantal sama buku sbm, kalau jatoh gimana jir. bukannya sewa tripod dulu dah

Kaisan: gak ada waktu

Raja: gue doain setan lewat sih, biar jatoh sekalian kameranya

Kaisan: wetss jangan brader kamera baru itu!

[lama nunggu kaisan pilih pertanyaan] [padahal baru pertanyaan kedua] [durasi anjer]

Sena: WAKTU INI JALAN YA KAI

Raja: entah lama bener, udah sini kasih ke gue lah biar gue pilih

[kaisan kasih hp ke raja]

Raja: pertanyaan dari @korbansidarling “kalian bertiga kalau lulus sekolah mau lanjut kuliah atau fokus ngeband aja?”

Kaisan: kuliah sih gue, band masih bisa jalan walaupun sibuk kuliah. jangan kebalik!

Sena: gue sama kuliah, doain ya guys snmptn buat gue di UI

Raja dan Kaisan: aamiin!

Sena: WOY KALAU BANTU DOA ITU MIKIR JUGA KALI, GUE CUMA BERCANDA. MASA IYA GUE BISA SNM ANYING

[ketawa] [baru sadar]

Kaisan: doain aja dulu, kan gak ada yang tau

Sena: oh iya bener, ya udah aamiin

Raja: kalau gue sama, kuliah dulu. buat kak Keno dan kak Bima tunggu gue di ITB

[SEMUANYA KOMPAK AAMIIN]

Raja: pertanyaan ketiga, dari @solomonitunasib “kalian bertiga udah punya pacar belum?” [raja smirk sok ganteng] jawab lo berdua

Sena: gue sih masih belum jadian tapi udah ada calonnya [mulut sena megap-megap ngomong nama aruna gak bersuara] [kaisan berisik cie-ciein aja]

Kaisan: gue single sih.

Raja: sama gue juga

Sena: raja maho, belum mau speak up aja

Raja: anjing

[KETAWA LAGI HEBOH] [RAJA PANIK]

Raja: gue open minded, tapi masih straight guys. jadi jangan salah paham

Kaisan: plot twist, raja selama ini demen ke sena

[RAJA BANGUN DARI DUDUK MUKUL KAISAN GAK PAKE AMPUN] [CHAOS PISAN PADA NGAKAK INI] [pusing-pusing karena masih ngakak]

Sena: dah dah tenang lo semua sakit rahang gue ngakak

Kaisan: sama anjir

Raja: jadi lo sama nicky ini gimana, kai?

[NGAKAK LAGIII] [kaisan keluar dari frame] [malu dia]

Sena: kaisan mah gak punya nyali, potong aja itunya

Kaisan: APANYA ANJIRRR?!??!?!

Sena: rasa malunya, heboh amat lu

Raja: lagian ambigu

[KETAWA LAGI] [yang nonton video kali ini sabar ya] [mending kalian nonton mereka lagi ngeband aja deh yg masih waras, kalau yg ini emosi!!!]

Raja: pertanyaan keempat dari @apaloliatliat, daritadi username gak ada yang bener anjing

Kaisan: WOY BAHASA LO

Sena: daritadi udah gak bener bahasa yg dipake

Kaisan: oh iya juga [ketawa]

Raja: “ada rencana buat lagu baru lagi gak? nanti upload di soundcloud ya jangan lupa.”

Kaisan: kita lagi kerjain lagu baru guys, sena yang tulis liriknya gue sama raja bagian bantu melodinya

Raja: bucin lo bermanfaat juga ya sen

Sena: [pose keren] oh iya jelas, lagu untuk aruna!

Raja: gue pilih pertanyaan terakhir lah ya, udah hampir satu jam anjir capek

Kaisan: iya iya

Raja: sabar scroll dulu

Sena: gue aja gak sih, daritadi gue belum milih

Raja: oke [kasih handphone kaisan ke sena]

[tiba-tiba hp kaisan jatoh] [KETAWA LAGI]

Kaisan: itu 12 juta anjing

[LAGI LAGI KETAWA]

Sena: aduh capek gue ngakak, sorry ya gak sengaja jatoh

Kaisan: hm

Sena: pertanyaan terakhir dari @tomatituenak, ada banyak makanan yang bisa lo kelompokkan ke dalam geng makanan enak, tapi kenapa harus tomat sih monyet?!?!? [sena benci tomat]

[raja bagian geleng-geleng kepala] [kaisan ngakak hampir jatoh dari kursinya] [NGAKAK EKSPRESI NGAMUKNYA SENA WKWKWK]

Raja: yg pnya akun itu tolong abis ini lo ganti username daripada lo di report + block si sena

Sena: gue cari lo ya yg pnya ni akun, gue cekokin saos tomat busuk ampe modyar lo

Raja: idih jahat amat

[kaisan masih ketawa] [sena juga masih asem bener mukanya]

Sena: canda-candaaa, hak lo mau pake username apapun, tapi gue saranin pake @duabeha10ribu aja sih

Kaisan: YA KOK ITU ANJING

[ngakak lagi cjzbadbsjbf jand awuerbw] [chaos beneran] [cape]

Sena: pertanyaan terakhir, “kalian terakhir kali makan apa?”

[diem]

Kaisan: makan nasi padang si gue

Sena: HEH TOMATTT! udah uname lo gue gak suka, pertanyaan lo gak berbobot. gue skip bodoamat

[KETAWA LAGI] [WKWKWK JAHAT BENER SENA] [GUE JUGA NGAKAK] [AJHSJDBUW JAHBHUWU]

Raja: fix lahir batin si sena benci sma si tomat

Sena: iya anjir gak penting amat pertanyaan lo, mending tobat deh daripada jadi tomat beneran lo

Kaisan: [masih ketawa] udah lanjut pertanyaan lain anjir gak kuat gue

Sena: pertanyaan dari @alsxxe “apa rencana kalian dalam waktu dekat ini? anyway semangat terus ya, gue selalu nunggu karya2 dari magic!” nah kalau gini kan agak penting ya, boleh masuk ke video kali ini.

Kaisan: [masih ketawa T____T]

Raja: kalau gue sih cuma jaga suara buat pensi sama drama musikal karena itu asli tampilnya di hari yang sama, tanggal 14 desember

Sena: OH IYAA! jangan lupa ya lo pada nonton kitaaa manggung pagi acara pensi, malemnya drama musikal.

Kaisan: cara nontonnya gimana tuh kak?

Sena: tiket pensi sama drama musikal bisa lo beli di anak OSIS/MPK bakti pertiwi, cek aja ig @OSIS_BAKTIPERTIWI

Raja: betul, jangan sampe ketinggalan!

Kaisan: gue gak ikut drama musikal, fyi ajaaa. ikutan nonton tapi, dukung dua piaraan gue ini

Raja dan Sena: anjing

[KETAWA LAGI -_____–]

Kaisan: udah?

Sena: ya udah lah anjir lo mau kita lanjut ampe besok?!

Kaisan: [ketawa]

Raja: oke, mungkin segitu dulu video qna dari kita di channel youtube nya si kaisan. kalau ada waktu nanti kita buat qna chaos part yang selanjutnya, bisa bareng kak Keno atau kak Bima sekalian biar magic full member

Kaisan: nah bener itu!

Sena: udah segitu dulu aja ya people! thanks udah setia nonton sampe abis walaupun ini 80% isinya kaisan ketawa, 10% berantem dan 10% jawab pertanyaan. jangan bosen-bosen liat muka kita yang ganteng ini [pause of laugh] pokoknya ya udah segitu dulu.

Raja: jangan ada hate comment, kalau emang gak suka dm aja ke kaisan, krna gw orangnya sering scroll comment

Kaisan: oke jangan lupa like, comment and subscribe ya guys biar gue bisa nafkahin dua monyet ini

[RAJA DAN SENA GEDEG] [LANGSUNG HANTAM KAISAN]

Kaisan: OKE UDAHAN DULU YA BYE GUYSSS

Video ditutup dengan adegan adu jotos dari ketiganya. Bener-bener chaos. Capek gue.

Bukan masalah apalagi salah.

“Jadi, gimana?” sasar Raja langsung kepada Sena yang baru saja sampai ke dalam kelas. Bahkan mendaratkan duduk di atas kursi kebanggaannya saja belum, tapi Raja sudah sepenasaran itu.

“Gak ada.” jawab Sena sekenanya.

Raja mengernyit, ini aneh kalau gak ada kenapa-kenapa. Alasan penting apa yang membuat Maam Sasa repot memanggil Sena ke sekretariat OSIS.

“Dibilangin gak ada apa-apa!”

“Tapi kenapa sampe dipanggil ke sekret, bahlul!”

“Minta tolong doang.”

“Tolong apaan?” tanya Raja lagi masih penasaran. “Kalau ada masalah baru lagi dari pihak OSIS, kabarin gue lah, gue pasti bantu lo kok.”

“Aman, anak OSIS cuma minta kejelasan Magic doang, bakalan manggung pensi ntar atau nggak.”

“Oh.” Raja mengangguk dan rasa penasarannya sirna seketika.

Sena mendecak pelan. “Kan udah gue bilang, bukan masalah apalagi salah.”

“Iya!” seru Raja dan keduanya kemudian hanyut dalam dunia masing-masing. Tentu saja dunia yang dimaksud adalah handphone, Sena asyik membuka linimasa aplikasi twitter sedangkan Raja kembali hanyut dalam alunan lagu yang terputar.

“Oh, iya Ja!” panggil Sena tiba-tiba sambil sekali menepuk lengan kanan teman sebangkunya itu.

“Hm.” jawab Raja malas karena masih mendengarkan lagu.

“Gue udah bilang Kaisan kita gak latihan band dulu malam ini.”

“Bagus.”

“Alasannya karena nenek lo sakit.”

Raja terbelalak, “Nenek gue udah meninggal, nyet!”

Sena terkekeh kecil, alasan yang ia katakan tadi hanya bercanda. “Bercanda! Gue bilang alasannya karena kita reading pertama buat drama musikal.”

“Ya atur.” tanpa memerdulikan Sena yang masih terkekeh, Raja lanjut mendengarkan lagu yang ia hentikan tadi. Satu lagu dari Ardhito Pramono, berjudul Bittersweet yang menemani Raja sekarang.

“Kaisan nyusul katanya.”

“Kemana?” tanya Raja lagi walaupun fokusnya hanya ke handphone.

“GSG.”

“Lah buat apa?”

“Pan solid kita, kumpul semua walaupun gak ngeband.”

“Solad-solid. Muka lo gak jelas.”

“Kok ngamuk, Ja?”

Raja tidak menghiraukan Sena, dibesarkannya volume lagu yang ia dengarkan dengan headset karena malas meladeni Sena.

Sedangkan Sena masih saja usil mengajak Raja ngobrol, walaupun sang Raja sengaja mengabaikan.