About Us
“Kita gak pernah bahas tentang ini sebelumnya?” gadis itu bersuara, memecah hening yang sejak tadi menyelimuti keduanya. Mark yang semula serius berkutat dengan buku gambar yang ia warnai, kini menelusuri perubahan wajah gadisnya, Agrna.
“Tentang apa?” tanya Mark segera karena sudah diburu rasa penasaran.
“Tentang cita-cita kamu.”
“Keliling dunia maksudnya?” tanyanya kembali dan kemudian menggeleng. “Ra, itu mimpi aku waktu masih umur 5 tahun, sekarang udah nggak begitu lagi mimpinya.”
Dalam detik itu juga, Agrna bangun dari posisi telungkupnya dan duduk sejajar disamping Mark yang masih saja mewarnai buku gambar yang mereka beli kemarin di salah satu toko buku dekat restoran klasik. “Loh, kenapa? Mimpi kamu kan gak salah, kenapa diganti?” Agrna menyingkirkan buku gambar miliknya dan pensil warna yang Mark pegang kini sudah dalam kuasanya. Mereka berdua sejak satu jam yang lalu asyik mewarnai buku gambar ditemani beberapa lagu yang masuk ke dalam playlist yang sengaja mereka buat untuk berdua.
Pertanyaan dari Agrna ternyata ampuh membuat sekujur tubuh Mark merinding. ”...mimpi kamu kan gak salah, kenapa diganti?” katanya. Memang benar, tidak ada yang salah tapi kalau sudah sekarang, sudah seumur segini, sudah tau bagaimana cara berfikir yang logis untuk menentukan cita-cita, bukan itu lagi maunya.
“Emang gak ada yang salah sama cita-citaku, Ra, cuma.. Aku kayaknya keburu tua kalau harus beneran keliling dunia mulainya dari umur segini. Lagian dapet dana darimana coba? Aku gak dapat endorse buat keliling dunia kayak Raffi Ahmad dan keluarganya, emang aku siapa.” Mark menjelaskan tanpa merubah arah pandangannya dari mata teduh dan sedikit mengantuk milik Agrna. Gadisnya itu terlihat mengangguk dua kali tanda paham walaupun hatinya masih belum setuju.
“Kenapa cemberut, Ra?”
“Nggak, aku kemarin sebelum tidur udah ngebayangin kalau kita beneran keliling dunia, gimana ya? Pasti seru.”
Mark tidak menjawab dan kemudian tertawa. Diambilnya kembali pensil warna yang tadi Agrna rebut untuk diletakkan diatas meja. Lalu, digenggamnya tangan Agrna yang dingin dan sedikit basah karena terlalu lama memegang pensil warna.
“Masa kamu udah gak mau keliling dunia lagi, sih?” tanya Agrna lagi dan sedikit ada rengekan.
“Buat apa? Kamu, 'kan duniaku.”
Pernyataan Mark itu membuat Agrna diam. Pipinya sedikit memanas walaupun belum tergambar jelas rona merah yang paling Mark suka. Pandangan Agrna beralih dari Mark menuju buku-buku gambar yang berserakan di atas maupun di bawah meja. Hatinya meracau sekarang karena satu nama, Mark.
“Kamu kenapa jadi malu-malu gini sih, Ra?”
“Aku udah gak mood ngewarnain lagi ah,” katanya kemudian duduk menyender di kaki sofa belakang mereka. Mark mengikuti tanpa melepaskan genggamannya. “..kita ngobrol aja yuk?”
“Boleh. Kamu mau ngobrolin apa, Ra?”
“Kamu.”
“Aku?” tunjuk Mark ke dirinya sendiri dan Agrna mengiyakan. “Oke, aku kenapa?”
“Kamu populer ternyata, aku tau dari Aubrey kemarin cerita. Hehe. Dia bilang kamu baik, sering bantu temen-temen di kelas kalau lagi susah sama semuanya.. kayak tugas, praktikum, pertanyaan dosen yang random banget. Itu semua, kamu gak sungkan bantu mereka. Makanya kamu populer ya.” Mark menikmati cerita Agrna tentang dirinya itu, lalu Agrna menambahkan. “Aku cemburu deh. Hehehehe.” katanya terlihat sedikit kecewa.
Mark mengernyit masih belum mengerti kenapa Agrna harus cemburu. “Cemburu kenapa?”
“Hehehe.”
Mendengar nada tawa Agrna yang sedikit tidak beres, Mark tersenyum gemas. “Kenapa?” tanyanya lagi,
“Yaa... gitu.” katanya malas.
Mark masih menunggu Agrna untuk bercerita kembali. Agrna membuang muka cepat-cepat dan meraih ponselnya yang sejak tadi didiamkan sendiri di atas meja.
“Nggak mau dilanjut?”
Agrna masih diam dengan jarinya yang sibuk membuka applikasi twitter hanya untuk melihat postingan terbaru dari teman-temannya.
“Ra..”
“Oke.” Agrna meletakkan ponselnya kembali.
“Cerita. Sok. Aku dengerin, sayang.”
Agrna melirik Mark sebelum pada akhirnya berubah posisi untuk menghadap ke sang pacar seutuhnya. Tatapan keduanya kemudian semakin mengerat seperti ada ikatan untuk membentuk telepati agar informasi di kepala Agrna pindah ke Mark. Tapi ternyata tidak bisa. Agrna menyerah dan kemudian bersuara lagi.
”...yaaa. Aku cemburu kenapa harus orang lain yang paling tau cerita kamu. Kenapa harus orang lain yang lihat seberapa kerennya kamu waktu berbaik hati bantu teman-temannya kamu itu. Aku juga cemburu kenapa harus jadi pendengar cerita tentang kamu, harusnya kan Aubrey yang tau cerita tentang kamu dari aku, bukan kebalik.”
Senyum kembali mengembang di bibir Mark, ada rasa senang yang terselibut dihatinya setelah mendengar perkataan Agrna tadi. Gadisnya itu adalah perempuan dengan gengsi tinggi, tapi kalau sudah berani bercerita seperti tadi rasanya dunia sudah benar-benar dikuasanya. Rasanya seperti, apalagi yang harus ia kelilingi kalau Agrna sudah disisinya.
“Oh begitu.”
“Iya..” rutuk Agrna sedikit cemberut.
“Tapi, menurutku sih mereka, orang-orang itu, yang harus punya rasa cemburu paling besar.”
Agrna menautkan kedua alisnya dan sedikit kebingungan. “Kenapa gitu?”
“Kamu kan punya aku. Aku punyanya kamu, mereka cuma sekedar dibantu, tapi kamu? Aku buat kamu mah nggak apa-apa kali. Kamu harusnya yang paling keren sekarang ini. Iya, 'kan?”
Dengan sedikit rasa malu, Agrna mendorong Mark. Mereka berdua terkekeh sebelum akhirnya Mark menarik Agrna kedalam dekapannya. Mereka berdua harusnya sama-sama kedinginan sejak tadi, tapi untung saja Papi Agrna menyalakan perapian di ruang tengah agar suhu ruangan mereka terjaga. Dengan gerakan lambat dan penuh kehangatan, Mark mengusap rambut Agrna yang sangat ia sukai aromanya.
“Ra..” panggilnya pelan. Agrna hanya berdeham.
“Makasih ya, Ra, aku kira kamu dan aku gak akan buat semuanya menjadi kita. Maaf karena sempat pesimis waktu itu, maaf aku sempat hilang dalam beberapa waktu karena kesalahanku yang gak bisa bagi waktu antara Vancouver dan kamu. Maaf ninggalin kamu sendirian kemarin-kemarin dan.. Maaf juga sempat menghilang tanpa kabar karen aku benar-benar lelah. Maaf.”
Agrna bisa merasakan detak jantung Mark, ada debaran yang sama seperti miliknya. Tidak lama Agrna melepaskan pelukan itu.
“Mark, aku kan pernah bilang ke kamu, if we're dating, I want to be your second priority. I want your first priority to be you, your ambitions, your goals and your life. Don't let me be your distraction. Let me be your motivation. Jujur, aku nggak apa-apa kamu hilang gak ada kabar atau semedi sebentar kayak kemarin sebelum aku ikut kesini. Asal kamu tau tempat pulang, asal kamu tau ada aku sebagai rumah yang selalu kamu rindu, itu aku nggak apa-apa asal tau kamu jelas kemana. Aku gak mau kamu jadiin sebagai tekanan untuk 24/7 kabarin. Zzzzz... Aku gak mau terlihat sangat mengekang kamu, tapi kalau urusan cemburu tentang kamu yang keren itu atau cemburu salah paham ke Aubrey itu mohon di wajari ya, karena sometimes, aku memang butuh penjelasan.”
“Hehehe, aduh maaf aku kebanyakan ngomong. Aku cuma nyampein apa yang terlintas di dalam kepalaku, maaf isi kepalaku itu selalu penuh.” tambahnya lagi.
Agrna berusaha membaca ekspresi wajah Mark. Tapi ternyata disana hanya ada senyuman dan raut wajah orang yang sedang bahagia. Dan, Mark terlihat sangat damai.
“Agrna, thank you for being by my side through it all. Terimakasih.” katanya.
Tanpa harus bersuara, Agrna membalas rasa terimakasih Mark dalam hatinya. “Sama-sama!”
“Ra,” panggilnya lagi untuk kesekian kali.
“Iyaaa.” jawab Agrna dengan senang.
“Agrna Leony. Let's grow up together. Me and you.” he said.
Agrna mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya yang sejak tadi merekah.
“And our next 'leorian', maybe?” she's smiling and reach her man to give a single kiss on his lips.
-aleeya, '21